Rabu, 31 Desember 2008

Tahun Baru, Apalagi yang Baru?

Hari ini aku mendengar banyak bunyi terompet ditiup. Semakin malam, semakin sering. Wajar saja. Orang-orang sedang merayakan pergantian tahun.

Menjelang pergantian tahun ini aku mendadak punya sebuah pikiran yang tak pernah terlintas di benakku sebelumnya. Dan sebagian di antaranya akan kubagikan pada kalian yang ingin ikut berpikir bersamaku.

Pergantian tahun ada karena adanya kalender, sedangkan kalender adalah sebuah produk manusia. Jika kalender tidak ada maka apa yang akan terjadi? Dan pikiranku itu langsung berakar menjadi bermacam-macam ide, filosofi, khayalan, gagasan, lamunan, ataupun guyonan.

*
Aku membayangkan masa-masa awal berdirinya manusia di muka bumi ini. Aku tidak bilang ini cerita tentang Nabi Adam, tapi ini lebih ke arah cerita tentang manusia-manusia purbakala yang sering diceritakan di buku sejarah sebagai "nenek moyang" manusia modern. Mereka belum mengenal tulisan atau aksara. Mereka makan dengan berburu. Tempat tinggal mereka selalu berpindah-pindah (karena hewan buruan mereka lama kelamaan akan habis). Dan mereka masih hidup dalam komunitas kecil. Setidaknya itu yang diceritakan oleh buku-buku sejarah dan guru sejarahku.

Bisa dibayangkan kehidupan mereka pada saat itu. Tidak ada hukum yang mengikat. Tidak ada aparat yang menindak. Kehidupan mereka masih sangat bebas pada saat itu. Norma, adat, atau ketentuan-ketentuan lainnya tidak mereka kenal. Kecuali mungkin nurani. Jadi tidaklah aneh jika pada saat itu hari demi hari mereka lalui tanpa perjuangan keras demi menggapai apa yang mereka inginkan. Jika ada yang menghalangi apa yang mereka inginkan, jalan keras bisa mereka pergunakan. Ingat, ketiadaan hukum pada saat itu membuat pembunuhan dan tindak kekerasan lainnya menjadi sesuatu yang wajar pada saat itu. Tak perlu belajar keras atau mengasah bakat untuk mendapatkan pasangan hidup atau mencari makan (ini adalah dua tujuan terbesar manusia pada umumnya dalam kehidupan ini, bahkan hingga saat ini). Apalagi volume otak mereka belum sebesar volume otak manusia modern.

Ditambah lagi dengan fakta belum adanya kalender dan penunjuk waktu apapun pada saat itu (kecuali matahari, tentu saja mereka sudah bisa membedakan siang dan malam) membuat wajar jika mereka tidak menyadari berjalannya waktu layaknya kita. Mereka melewati hari demi hari, hingga tanpa disadari mereka menjadi semakin tua dan pada saat terakhir mereka mati. Itu saja.

*
Aku mengajak kalian semua untuk loncat ke masa di mana manusia sudah lebih modern. Namun belum mengenal sistem kalender.

Di masa ini penunjuk waktu yang berlaku masih belum berubah, hanya matahari yang membawa perubahan antara siang dan malam. Tapi di masa ini mungkin mereka sudah mengenal jam.

Tapi keadaan tidak akan banyak berubah. Siang berganti malam. Mereka tidur lalu bangun lagi. Menjalani siang yang akan kembali berganti menjadi malam. Lalu tidur dan bangun. Kembali beraktivitas di siang hari yang akan kembali berjumpa dengan malam. Begitu seterusnya sampai mereka meninggal. Sulit mencari waktu-waktu yang dapat mereka jadikan sebagai momen untuk menetapkan target-target tertentu. Mereka hanya melihat kekuatan fisik sebagai patokan. Mereka mulai bekerja ketika otot-otot mereka membesar. Mereka akan menjadi "ketua suku" atau semacamnya ketika yang tua sudah terlalu lemah dan merasa tak mampu lagi. Dan lama kelamaan mereka juga akan merasa tua dan lemah. Akhirnya jabatan "ketua suku" itu akan mereka wariskan kepada yang lebih muda. Lalu mereka berhenti bekerja karena mulai sakit-sakitan. Hingga akhirnya mereka menemui kematian.

Hari demi hari masih dilalui dengan sama. Nyaris konstan.

*
Kali ini dunia kedatangan nama besar seorang Julius Caesar. Seorang pemimpin militer sekaligus politikus Romawi pada saat itu. Ialah orang yang menyebarluaskan pemakaian kalander Julian, yang nantinya akan berkembang hingga menjadi kalender Masehi yang banyak digunakan di seluruh dunia, hingga saat ini.

Sedikit atau banyak. Dimanipulasi atau tidak. Namanya tercatat di sejarah sebagai orang yang berperan besar dalam penggunaan kalender di dunia.

Kalender sama saja menerjemahkan "bergulirnya waktu" ke dalam bahasa yang dimengerti manusia. Ini membuat manusia menjadi mudah untuk melihat atau memperkirakan kapan mereka menikah, kapan mereka menjadi raja, kapan mereka pensiun, atau kapan mereka akan dihukum mati. Manusia menjadi lebih terbuka dengan waktu.

*
Di sebuah ruangan pribadi seorang direktur perusahaan percetakan di Oslo. Ketika sang direktur menerima sebuah surat di mejanya, ia lantas bertanya kepada asistennya, "Sejak kapan surat ini sampai di mejaku?" Kebetulan sang direktur baru saja pulang setelah pergi untuk kunjungan bisnis ke sebuah daerah di pelosok Norwegia.

"Itu sudah ada di sana sejak lima hari yang lalu, Pak," jawab si asisten.

Direktur itu mengernyitkan dahinya dan kembali bertanya, "Lima hari yang lalu? Kapan itu?"

"Hari Sabtu, tanggal 23."

"Oh, oke, oke. Itu memang waktunya surat ini sampai," ujar sang direktur. "Coba kau baca ini." Sang direktur menyodorkan surat itu kepada asistennya.

Si asisten membaca sejenak isi surat tersebut. "Surat ini meminta anda untuk memberi balasan paling lambat tanggal 8 bulan depan."

"Oke, terima kasih."

Dan berakhirlah percakapan singkat itu.

*
Dialog di atas telah menyadarkan kita betapa berartinya sistem penanggalan pada saat ini. Orang-orang berjanjian, menanyakan waktu, dan memberi instruksi berdasarkan penanggalan tersebut. Tanpa penanggalan yang bisa dilakukan manusia adalah membuat janji "seribu hari lagi" tanpa dapat mengira-ngira dengan pasti kapan sebenarnya "seribu hari lagi". Kau hanya akan bisa menerawang (bahwa seribu hari selama satu hari dikali seribu), tanpa bisa mengetahui pasti bahwa seribu hari lagi akan jatuh pada saat ini, musim ini, dan bertepatan dengan ulang tahun si anu.

Detik berganti detik, menit berganti menit. Jam berganti. Hari. Bulan. Tahun. Tahun baru. Orang biasa merayakan pergantian tahun. Entah hanya bertujuan untuk berhura-hura atau untuk menjadikan tahun baru sebagai ajang untuk menginstrospeksi diri, dan menyambut tahun yang baru sebagai awal yang baru.

Kadang sistem kalender memang berjalan efektif, tapi kadang juga tidak. Tapi ini merupakan salah satu fasilitas. Masalah kita memanfaatkan fasilitas ini atau tidak, itu adalah urusan kita.

Hidup memang selalu mengenai pilihan. Iya atau tidak, ini atau itu, ambil atau tolak.

2008 berganti 2009. Sebuah awal yang baru untuk kita semua. Selamat tahun baru.

Sabtu, 15 November 2008

Dunia Ini

Hari ini aku berada pada dunia penuh keajaiban, peraturan, dan kebetulan. Satu demi satu, perlahan-lahan, semuanya mulai mendatangiku, mengetuk pintu jiwaku sambil mengucapkan salam dengan santunnya. Aku senang kedatangan tamu.

Di negara tempatku dibesarkan ada sebuah kepercayaan aneh: jika kupu-kupu masuk ke rumah kita, itu adalah pertanda bahwa rumah kita akan kedatngan seorang tamu. Jika logika ingin dipermainkan di sini, tentu kebenaran kepercayaan ini tidak dapat sama sekali dipertanggung jawabkan. Kepercayaan ini mungkin hanyalah sebuah kotoran hidung di mata logika. Tak penting dan hanya mengganggu saja. Tapi keberadaannya benar-benar ada. Dan kita tidak bisa mengabaikannnya.

Mungkin beberapa kepercayaan kuno timbul karena keajaiban, peraturan, atau kebetulan. Seperti hal-hal yang mendatangiku pada hari, secara bertubi-tubi.

Keajaiban, peraturan, atau kebetulan. Adakah relasi di antara ketiganya?

Aku mulai tersadar akan suatu hal yang sebenarnya sangat sederhana: kita semua hidup di dunia yang penuh dengan kesederhanaan. Peraturannya jelas, jika ingin teratur, hiduplah secara teratur. Ikuti norma-norma yang berlaku, dan jangan mencoba untuk menyimpang walaupun untuk sekali. Cukup jadilah anak SD yang akan menurut jika disuruh untuk duduk dengan manis.

Tapi kemudian timbul "peraturan" yang lain. Di mana mendobrak peraturan menjadi kunci menuju "jalan yang lebih baik". Jangan ikuti peraturan, jadilah dirimu sendiri dalam pengertian yang sebebas-bebasnya. Jangan batasi kreativitasmu hanya karena itu bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Dan seketika bermunculanlah gerakan-gerakan penentang peraturan yang ini dan yang itu. Dan timbullah kekacauan di mana-mana.

Alhasil, terbentuklah dua peraturan yang sama sekali bertolak belakang: ikuti peraturannya dan jangan ikuti peraturannya. Sebuah permainan negasi. Maka wajar jika timbul kekacauan karenanya.

Mungkin setalah itu kita hanya dapat berharap kepada keajaiban yang memunculkan kebetulan setelahnya. Seraya berdoa kepada Yang Maha Kuasa.

Dan hujan pun turun lagi.

Hari ini aku berada pada dunia penuh keajaiban, peraturan, dan kebetulan. Aku pun masih mencari-cari kunci menuju masa depanku yang terasa semakin mendekat.

Aku harap kunci itu dapat segera kutemukan.

Minggu, 19 Oktober 2008

Lukisan Langit Malam


Malam ini adalah malam bulan purnama, dan aku melihatnya tepat ketika tengah malam.

Bulan purnama begitu bulat, nyaris sempurna. Keanggunannya membangkitkan rasa pesona yang luar biasa, membuat siapapun menjadi terpikat.

Sudah lama aku tertarik dengan melihat bulan purnama, tapi malam ini adalah bulan purnama terindah yang pernah kulihat. Sinarnya berpijar terang, membuat "bingkai" di sekelilingnya menjadi ikut berpendar.

Langit malam itu tampak seperti lukisan. Lukisan yang benar-benar riil. Lukisan yang benar-benar indah.

Tapi lukisan mana yang dapat menjadi lebih baik dari benda aslinya? Seindah-indahnya kuas digoreskan kepada sebidang kanvas putih, hasilnya tak mungkin menyerupai benda aslinya. Hasilnya tak mungkin hidup. Dan seketika itu membuatku berpikir, "Ini adalah mahakarya."

Lukisan alam memang selalu lebih baik. Lukisan alam memang selalu lebih memikat.

Dan tanda-tanda itu selalu ada di sekitar kita.

Malam ini adalah malam bulan purnama. Mungkinkah ada suatu pertanda yang sedang ditujukan kepadaku sekarang?

Aku tak pandai membaca pertanda, makanya aku banyak diajarkan dan diingatkan. Terutama tentang kompleksnya kehidupan.

Malam ini aku mendapatkan kembali para kurcaci-kurcaci kerdilku yang sudah lama menghilang. Mereka semua muncul di hadapan sang bulang purnama. Sang bulan purnama yang mengembalikan mereka.

Kini aku merasa lega sekarang. Seperti bulatnya bulan purnama. Yang menyinari sekitarnya untuk mempercantik keindahan langit malam. Untuk membuat elok dunia malam, yang ternyata tak melulu soal kejahatan atau kesuraman.

Lukisan langit malam ini tampak begitu elok.

Selasa, 30 September 2008

Ketupat Penuh Makna


Tak terasa, tiba-tiba Ramadhan ini sudah mau berakhir saja. Cepat sekali.

Seringkali kita meninggalkan berbagai macam momen yang sebenarnya sangat berharga untuk kita jalani, tapi karena kesalahan kita momen tersebut tidak dapat kita nikmati. Suatu kerugian yang sangat besar.

Ketika kita meninggalkan Ramadhan, kita selalu bertemu dengan Syawal, di mana hari pertama di bulan Syawal merupakan hari raya Idul Fitri, hari lebaran.

Di Indonesia, lebaran selalu khas dengan tradisi ketupat, hampir tiap rumah -atau memang setiap rumah- di Indonesia "wajib" menyediakan ketupat di saat hari lebaran. Aku sendiri tidak mengetahui dari mana tradisi ini berasal. Tapi satu hal yang jelas, tradisi ketupat melibatkan interaksi dari banyak kalangan masyarakat. Kenapa bisa begitu?

Proses pembuatan ketupat tidaklah sama dengan proses pembuatan nasi biasa. Dalam membuat ketupat diperlukan waktu yang lama untuk mencari janur kuning, memotong-motongnya hingga ukurannya pas, sampai menganyamnya. Proses ini biasanya dilakukan secara bersama-sama sehingga semangat gotong-royong khas Indonesia benar-benar terlihat.

Ini jelas sangat penting. Di masa sekarang ini suasana gotong-royong sudah sangat jarang terlihat. Sayang sekali, padahal ini adalah karakter bangsa Indonesia yang merupakan warisan dari nenek moyang kita dulu.

****

Ketika kita meninggalkan Ramadhan tentu kita akan bertemu dengan lebaran, hari kemenangan. Tapi apakah kita sudah benar-benar menang dalam perang hawa nafsu yang kita alami selama sebulan ini? Sudahkah kita dapat mengendalikan hawa nafsu kita dengan sepenuhnya?

Ramadhan boleh saja meninggalkan kita, tapi seharusnya bekas-bekasnya harus tetap melekat pada diri kita. Karena sebenarnya Ramadhan adalah proses pelatihan diri kita untuk menghadapi bulan-bulan berikutnya.

****

Ketupat lebaran mungkin akan menjadi sangat dinanti-nanti di lebaran nanti. Ketupat lebaran memang selalu berbeda dengan ketupat-ketupat biasanya.

Ketupat lebaran menyimpan beribu makna, beribu pesan. Pesan kemenangan, pesan untuk saling memaafkan.

Ketupat lebaran, walau bukan itu yang utama. Ah, aku rindu Ramadhan berikutnya.

Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin.

Senin, 29 September 2008

Langkah Pertama di Negeri Senja


"BRAK!" Terdengar suara pintu menjeblak terbuka, akhirnya pinta gerbong kereta api itu menganga juga. Setelah sekian lama diam membisu, para penumpang yang lain pun menjadi penasaran ingin tahu siapa yang membuka pintu tersebut.

Kini suasana dalam kereta api itu menjadi bertambah dingin, pengaruh dari udara Negeri Senja (yang ternyata dingin bukan main) yang masuk karena pintu membuka. Setiap orang berlindung di lapisan selimut wol yang tebal, beberapa yang tidak mempunyai selimut langsung mencari segala cara untuk menghangatkan diri dengan melapisi baju mereka dengan baju-baju lain yang mereka bawa.

Aku penasaran kepada keadaan di luar, juga kepada siapa yang membuka pintu. Tak seorang pun penumpang di gerbong itu yang melihat orang yang membuka pintu tersebut. Semuanya tidak menyadari hal itu sampai pintu benar-benar terbuka.

Akhirnya beberapa orang mencoba untuk turun, aku termasuk salah satunya. Sebagian turun karena sudah tidak tahan lagi dengan kondisi kereta yang kian terasa membeku, sebagian lagi turun karena sudah terlalu bosan berada di dalam kereta.

"Negeri Senja ternyata hanya begini-begini saja," ujar salah seorang penumpang yang ikut turun. Dari tampangnya terlihat jelas campuran raut kecewa sekaligus puas.

Akhirnya semua penumpang turun. Dan kami semua membentuk sebuah lingkaran besar, tidak disengaja, ini semua terjadi secara naluriah.

Negeri Senja tampak begitu sepi sekaligus indah, begitu mempesona sekaligus menyeramkan, begitu cantik sekaligus angkuh. Negeri Senja terlihat sangat penuh rahasia.

Tapi kami semua akhirnya bisa juga menjejakkan kaki kami ke Negeri Senja, penyebabnya tentu saja pintu yang tiba-tiba saja membuka dengan misterius, tanpa seorang pun tahu siapa yang membukanya. Andai pintu itu tidak membuka secara tiba-tiba, tampaknya tak seorang pun dari kami berani untuk membukanya.

Kadang banyak kejadian-kejadian ganjil yang terjadi di sekitar kita justru malah mengantarkan kita ke kejadian-kejadian lain yang lebih ganjil lagi. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Selanjutnya kami semua berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan makanan di Negeri Senja.

Sabtu, 20 September 2008

Pengamen Bertopeng


Malam ini udara tidak sedingin biasanya di kota Bandung. Akhir-akhir ini Bandung memang panas.

Aku berjalan menyusuri jalanan kota Bandung. Melintasi toko demi toko, warung demi warung, dan pengemis demi pengemis. Semuanya dilalui tanpa ada perasaan apapun, bagaikan melewatkan sebuah tayangan televisi yang tak pernah kutonton. Jalan-jalan disinari berbagai lampu penerangan karena cahaya bulan dan bintang sudah dianggap tidak mampu lagi memberi sinar yang cukup untuk segala aktivitas malam masyarakat kota yang makin lama makin gila ini. Kota ini sedang menuju taraf kegilaan yang semakin parah, sama seperti kota-kota lainnya di Indonesia, atau kota-kota lainnya di dunia yang sudah menjadi gila terlebih dahulu.

Satu toko kutengok. Aku ada urusan di sana. Menemani seorang teman.

Urusanku tidaklah lama, hanya beberapa menit saja.

Dan dari kejauhan terlihat seorang pengamen bertopeng, memakai pakaian layaknya ondel-ondel, menari-nari mengikuti irama musik yang bersumber dari mesin pemutar kaset kuno yang tergantung di lehernya. Pakaiannya membuat ukuran tubuhnya terlihat dua kali lebih besar. Topengnya membuat anak kecil manapun akan takut ketika melihatnya. Alih-alih membuat orang terhibur, segala dandanannya hanya akan membuat orang segan untuk mendekatinya.

Si pengamen bertopeng mendekati toko yang berada jalanan tersebut satu per satu. Dan semua toko memberinya recehan. Tujuannya jelas bukan untuk menghargai apresiasi seni yang telah ditunjukkan pengamen bertopeng itu, hanya sekedar untuk mengusirnya. Memang dandanan pengamen bertopeng itu membuat siapapun akan berpikir dua kali ketika ingin mengunjungi toko yang sedang "kedatangan" si pengamen bertopeng.

Akhirnya toko demi toko ia lewati, receh demi receh ia dapatkan. Entah sudah berapa banyak, dan sampailah dia kepada toko yang sedang kukunjungi.

Dia menari-nari di depan sana seperti orang sedang menahan kencing, tidak ada gerakan-gerakan yang mampu membuat orang lain terpukau. Hanya gerakan menggerakkan badan ke kanan atau ke kiri yang seharusnya bisa dilakukan oleh semua orang.

Dan seketika aku berpikir, siapa yang jahat? Si pengamen bertopeng atau keadaan yang memang memaksa?

Si pengamen bertopeng membuat pemilik toko manapun akan "terpaksa" merogoh koceknya untuk memberinya sedikit receh untuk "mengusirnya". Atau tidak tokonya tidak akan laku dikunjungi orang.

Maka seharusnya si pengamen bertopeng bisa dikatakan jahat. Karena dia mencari cara agar setiap orang "harus" memberikan uang kepadanya.

Tapi sesaat aku berpikir kembali. Di sisi lain ini adalah ide yang brilian untuk mendapatkan uang. Sebuah inovasi, di luar etika, yang sangat ampuh untuk dunia pengamenan.

Atau paling tidak bukan si pengamen bertopeng yang jahat, tapi memang keadaannya memaksa demikian. Dia sudah tidak punya cara lain untuk mendapatkan uang, jadi ini adalah satu-satunya cara. Dan ini lebih baik dibandingkan menjadi pengemis yang hanya bisa duduk terdiam sambil menunggu belas kasihan orang lain menyelematkannya.

Dunia memang semakin kejam.

****

Banyak masalah baru yang kutemui akhir-akhir ini. Beberapa darinya lebih kompleks dari masalah-masalah yang pernah kutemui sebelumnya. Aku jadi semakin mengerti akan kompleksnya hidup, walau masih belum se-"ahli" orang-orang yang lebih dewasa dariku.

Dan kasus si pengamen bertopeng mungkin adalah salah satu contoh betapa kompleksnya masalah hidup, di mana masalah tersebut juga tidak dapat dihindari.

Si pengamen salah atau tidak, dia membuat orang lain kesal atau tidak, yang jelas itu adalah masalah mereka masing-masing. Tidak ada kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah terencana, semuanya sudah tertulis.

Ternyata selain semakin gila, dunia ini juga semakin kejam saja.

Minggu, 14 September 2008

Belajar Menulis


Sudah lama aku mempertanyakan ini, kenapa tulisanku selalu kaku?

Ketika aku melihat buku tamu aku malu untuk mengisinya. Bukan karena aku tidak mengerti cara mengisinya, tapi karena tulisanku selalu menjadi yang terkaku dari semua orang yang mengisi buku tamu pada halaman itu.

Aku jadi iri kepada para dokter, mereka dapat menulis dengan begitu lugas dan tanpa beban, walau sebagian besar orang justru menganggap tulisan mereka jelek dan tidak bisa dibaca.

Makanya hari ini aku mengulang pelajaran menulisku yang telah kudapatkan ketika masih berada di Taman Kanak-kanak. Untuk menemukan jawaban dari pertanyaan: apa yang salah?

****

Pertama aku melihat daftar tulisan orang-orang lain. Semuanya ditulis dengan lancar dan lugas. Seharusnya ini tidaklah aneh karena mereka semua yang mengisi daftar tulisan tersebut sudah lebih dari lima belas tahun mahir menulis. Jadi jika menulis adalah permainan catur, mungkin seharusnya mereka sudah menyandang gelar Grand Master.

Lalu aku menambah daftar tulisan itu dengan tulisan milikku sendiri. Hasilnya langsung terlihat, tulisanku benar-benar terbanting oleh tulisan yang lain. Benar-benar kaku, seakan-akan ditulis dengan penuh beban. Padahal pada saat itu aku tidak sedang memikirkan wanita atau kalkulus. Yang kupikirkan hanyalah tentang bagaimana caranya agar aku bisa menulis dengan selugas mungkin.

Lalu aku bertanya pada salah seorang saudara sepupuku yang juga mengisi daftar tulisan tersebut tentang bagaimana caranya menulis dengan selugas itu.

Ia tidak menjawab, ia hanya mencontohkan bagaimana ia menulis. Benar-benar indah, pena menggores kertas dengan begitu lembut, goresannya sedikit menimbulkan bunyi yang renyah didengar telinga. Aku suka dengan tulisan yang ditulis melalui hati.

Aku mencoba menirukannya, percobaan pertama gagal.

Lagi kucoba menirukannya, yang kedua lebih baik, tapi aku masih menganggapnya gagal.

Lalu kulihat lagi bagaimana caranya ia menggoreskan penanya pada kertas. Benar-benar lembut. Jika kertas tersebut diibaratkan dengan kulit seorang wanita sedangkan pena tersebut adalah pedang, mungkin menulis seharusnya layaknya menggoreskan luka pada kulit wanita dengan pedang tanpa harus membuat wanita tersebut kesakitan.

Bekas yang ditinggalkan tanpa jejak. Begitu misterius. Begitu indah.

Aku terus latihan malam ini juga, sampai suatu saat aku akhirnya merasa menemukan jawabannya.

Aku menekan penaku dengan terlalu bertenaga, padahal kekuatan tidak selalu ditunjukkan melalui tenaga, tapi bisa juga disalurkan melalui kelembutan yang kadang lebih mematikan.

Aku sadar bahwa aku tidak perlu untuk menjadi terlalu kuat.

Mungkin kepribadianku terlalu keras kepala selama ini, mungkin aku terlalu merasa bahwa hanya pendirianku saja yang benar.

Aku sadar bahwa aku juga perlu kritik. Aku juga perlu dukungan, aku juga perlu masukan.

Yang jelas aku perlu kalian semua.

****

Sekarang aku merasa tulisanku sudah lebih baik, kapan-kapan kalau ada kesempatan aku ingin menunjukkannya kepada kalian semua.

Sabtu, 13 September 2008

Ramadhan yang Lain


Akhir-akhir ini tampaknya hari demi hari terasa lebih panjang dari biasanya. Dan terasa lebih padat. Walau begitu beberapa di antaranya terasa begitu rapuh.

Sekali lagi peran waktu terasa begitu angkuh, akhir-akhir ini aku merasa benar-benar tertekan.

Kereta api sudah sampai ke Negeri Senja, tapi kabut di sana masih belum saja mereda. Suasana masih mencekam dan membuat siapapun ragu untuk turun dari kereta. Kami semua, hingga saat ini, masih diam dalam kereta, menunggu salah seorang turun dan menyaksikan apa yang terjadi padanya sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan langkah selanjutnya. Kami semua memang harus ekstra hati-hati di sini.

****

Saat ini bulan Ramadhan, bulan yang dianggap suci oleh umat Muslim seluruh dunia. Begitu pun juga dengan aku. Dan Ramadhan kali ini kujalani dengan begitu berbeda. Aku rasakan satu hal: Ramadhan kali ini begitu "berisi".

Mungkin Ramadhan kali ini tidak kujalani dengan begitu taat seperti ketika kujalani empat-lima tahun yang lalu. Ketika aku masih merasakan begitu nikmatnya menjadi Muslim yang taat. Aku tahu aku benar-benar rindu suasana Ramadhan seperti itu, tapi sulit sekali untuk kembali ke masa itu. Segalanya berubah, walau aku sedang berusaha mencoba mengembalikan beberapa hal kepada tempatnya yang semula.

Seringkali Ramadhan diumpamakan sebagai fase kepompong oleh ustad-ustad yang sering memberikan ceramah pengantar ibadah tarawih. Dan aku menganggap perumpamaan itu begitu tepat, Ramadhan memang fase kepompong. Dan kita harus melewatinya dan keluar dari sana sebagai "kupu-kupu yang cantik". Sayang sekali bagi mereka yang memilih untuk merusak kepompong mereka dan gagal keluar sebagai kupu-kupu. Memangnya sampai kapan mereka memilih untuk menjadi ulat yang begitu gemuk dan menjijikkan itu?

Segala fasilitas sudah disediakan untuk berubah, maka seharusnya berubah menjadi mudah.

Tetapi banyak rintangan yang masih tetap menghadang.

Segala ujian harus dilalui dengan tabah, itu juga yang sedang kucoba lakukan, walau terasa begitu sulit.

Aku rindu melewati Ramadhan sebagai Muslim yang taat.

****

Segarusnya aku sudah dewasa sekarang, makanya aku berusaha mengatur segala sesuatu dengan begitu terorganisasi. Aku tak mau membuat blunder sekecil apapun.

Aku sudah mencoba untuk kembali ke arah yang begitu kurindukan, sebagai Muslim yang taat -bukan- sebagai Muslim yang mencoba untuk menjadi taat.

Menikmati segalanya dengan begitu harmonis.

Segalanya memang harus benar-benar direncanakan. Dan aku sudah mempunyai sebuah rencana. Rencana untuk masa depan yang sampai saat ini masih kurahasiakan.

Sabtu, 30 Agustus 2008

Sudah Sampai atau Belum?


Kenapa selalu ada semacam ketakutan ketika kita akan memulai sesuatu yang baru?

Hidup tidaklah mungkin lepas dari perubahan. Perubahan pasti akan datang, jadi tidak ada gunanya untuk menghindar. Dan perubahan pasti akan menghasilkan sesuatu yang baru.

Tiap-tiap dari kita akan menjumpai perubahan tersebut seperti "naik ke tingkat selanjutnya". Bagaikan permainan gim yang punya tingkat kesulitan mulai dari yang termudah sampai yang tersulit, tentu setiap yang akan naik tingkat akan bertemu dengan "raja" yang akan mencegah kita untuk naik tingkat.

Mungkin dalam kehidupan "raja" tersebut adalah ketakutan yang bisa saja menggagalkan niat kita untuk berubah.

Satu hal yang pasti: berubah tidaklah mudah.

Kebanyakan dari kita biasanya sudah merasa nyaman dengan kondisi kita yang saat ini, walaupun sebenarnya kita sedang berada dalam kondisi yang amat terpuruk. Tapi kebanyakan dari kita justru menghindar untuk berubah karena takut terpuruk lebih dalam.

Jelas saja keberanian merupakan salah satu hal yang terpenting di dunia ini.

Karena keberanian memegang kunci dari segalanya di sini. Kunci gembok yang akan mengantarkan kita ke kehidupan baru ada pada keberanian kita sendiri, dan keberanian tidak akan muncul dengan sendirinya.

Sepenting itukah keberanian?

Aku tak tahu. Tapi kalau berdasarkan insting dan perasaanku, keduanya justru mengatakan keberanian jauh lebih penting daripada hal itu. Keberanian memegang peranan yang sangat besar di kehidupan ini.

****

Seharusnya aku sudah memasuki fase baru dalam hidupku di mana banyak bagian dari hidupku yang berubah dan tak berjalan seperti biasanya lagi. Tapi anehnya aku masih merasa perubahan ini tak sebesar yang kukira sebelumnya.

Ketika aku memutuskan untuk naik kereta menuju Negeri Senja, aku sudah siap untuk menanggung segala risiko, tapi ini jauh dari yang kupikirkan sebelumnya.

Negeri Senja ini masih benar-benar misterius.

Aku bahkan tak tahu bahwa aku sudah sampai ke sana atau belum. Mungkin saja keretanya masih terus melaju, tapi getarannya sudah tak terasa lagi, dan aku masih berada di dalam gerbong, takut untuk keluar.

Dari jendela yang bisa kulihat hanyalah sebuah kabut tebal yang benar-benar membuat mata buta akan keadaan di luar. Namun tampaknya di luar sedang ada badai yang sangat besar.

Negeri Senja ini masih misterius, entah sampai kapan aku akan tetap diam dalam gerbong kereta di sini, menunggu untuk turun karena tahu bahwa aku benar-benar sudah sampai di Negeri Senja.

Negeri Senja mungkin saja masih jauh, walau terasa sudah dekat, atau bahkan terasa sudah sampai di sana.

Ah, tampaknya aku masih harus meneruskan perjalananku.

Siapa?

Yang lama seharusnya sudah usang, tapi masih saja tidak pantas untuk dibuang.

Lembaran baru mungkin sudah harus dibuka, tapi aku masih ragu dalam melangkah.

Hanya satu pertanyaan: siapa?

Dua puluh empat jam dikali ribuan, menghasilkan angka dengan jumlah yang selalu membuat mataku melotot sesaat. Dua puluh empat jam ini masih bisa terus bertambah.

Siapa?

Pintu hatiku masih tertutup. Tertutup karena tidak dibuka. Belum dibuka.

Tok, tok, tok.

Seseorang mengetuk pintu hatiku. Aku tak tahu siapa dia. Kulayangkan satu pertanyaan. Hanya satu pertanyaan: siapa?

Siapa kamu yang mengetuk? Mengusikku di tengah kedamaian dalam suasana sunyi nan tenang ini. Pantaskah itu?

Siapa?

Sungguh aku bertanya dan sungguh dia tak menjawab. Tentu saja, karena aku bertanya dalam hati. Tentu dia tidak bisa telepati. Aku juga tidak.

Siapa?

Coba kuulik semuanya dan yang kudapat hanyalah sebuah nama.

Apa artinya sebuah nama, jika nama itu tak menunjukkan makna. Lebih baik kutunggu angin mengantarkanku ke stasiun berikutnya.

Senin, 25 Agustus 2008

Pertanda Alam

Hari ini datang lagi, pastilah kusambut. Aku bagaikan kesurupan karenanya.

Detak jantung yang tak secepat cahaya, kedipan mata yang tak setangkas sayap lalat. Tatapan mata yang tak setajam milik elang, terlebih lagi aku harus menggunakan alat bantu berupa kaca mata. Selalu saja ada yang lebih tinggi, tapi ia tak selalu di atas.

Pendengaran yang hanya bisa digunakan dengan berkonsentrasi penuh, jika tidak suaramu akan kalah dengan derum mesin komputer ini.

Ah, selalu saja ada yang lebih.

Hari ini datang lagi. Jadwalnya memang hari ini.

Pagi datang membawa sisa-sisa angin malam yang menusuk paru-paru. Membuat siapapun akan menggigil kedinginan karenanya. Angin malam yang angkuh, ia seolah berkata, "Wahai manusia, kalian bukanlah beruang kutub."

Aku bertanya pada alam dan berharap ada yang menjawab.

Aku bertanya pada alam, penting sekali karena aku benar-benar bertanya.

Pertanda-pertanda menyiratkan jawaban, tapi tidak untuk yang bodoh. Untuk menemukan jawabannya, aku harus jadi pintar terlebih dahulu. Dan aku seharusnya adalah makhluk yang pintar. Setidaknya jika dibandingkan dengan tapir atau onta.

Alam telah berbicara. Mereka telah menunjukkan pertanda-pertanda milik keagungan-Nya.

"Masihkah kalian mau sombong?"

Minggu, 24 Agustus 2008

Raungan Pujangga Kesepian

Ke mana perginya para pujangga-pujangga kecilku? Yang senandungnya selalu memenuhi telingaku di kala sepi. Membangunkanku dari suasana yang sunyi nyaris mati.

Pulanglah kalian. Aku rindu kalian.

Tak peduli berapa mili liter air mata harus kuteteskan lagi. Atau kubayar saja dengan keringat bau pesing pertanda pengorbanan tak berujung?

Ke mana perginya kalian? Kenapa kalian menjauh?

Aku seperti sebuah kotak. Bukan kotak korek api, bukan pula kotak kado dari sinterklas. Aku hanyalah kotak peti mati. Kosong. Entah apa yang seharusnya mengisinya.

Sedang apa kalian selama ini wahai pujangga-pujangga kecilku? Maukah kalian kembali lagi ke sini? Menari-nari lagi di dalam tempurung otakku, sambil membisikkanku dengan nyanyian-nyanyian paling merdu yang pernah kudengar.

Kalian pergi, aku sepi. Kalian menjauh, aku hanya bisa mengeluh. Membilas apa yang seharusnya kubasuh, untuk mendapatkan kembali kalian, yang akan mengantarkanku ke jalan untuk bertemu dengannya.

Sadarkah aku? Atau sadarkah kalian?

Selama ini kalianlah yang mengantarkanku ke tempat ini, dan sekarang kalian pergi. Meninggalkanku sendiri. Jadinya aku hanya bisa meratapi sambil menangis. Aku ditinggal pergi.

Aku jadi tersesat di belantara penuh binatang buas ini wahai pujangga-pujangga kecilku! Bawa aku lari dari sini! Selamatkan aku!

Satu, satu, dan satu. Seharusnya kita bersatu. Kalian tak pernah meninggalkan aku, ternyata kalian selalu bersamaku.

Dan aku baru saja sadar.

Selama ini aku sendiri.

Dan akulah yang selama ini memilih untuk mati. Hingga tiba waktunya untuk bangkit kembali.

Kini, dengan senang hati aku menyambut kalian lagi. Selamat datang kembali.

Kamis, 07 Agustus 2008

Saat Maut Begitu Dekat

Udara Bandung memang dingin, tapi aku tak pernah menyangka semuanya akan menjadi dingin juga.

Kejadiannya beruntut, dan aku baru sadar di saat paling akhir. Ketika maut berada begitu dekat denganku.

Pertama tiba di kota ini aku langsung disambut dengan pilek yang datang menyerangku. Belum sembuh pilek ini datanglah penyakit lain. Dan dalam beberapa waktu aku merasa begitu terpencil.

Dan kemarin aku nyaris mati. Dan hanya diselamatkan oleh sebuah helm pinjaman.

Untung hari ini aku masih hidup, aku jadi masih bisa memikirkan segalanya.

Benar kalau orang bilang hidup itu misteri, karena misteri yang ini begitu tersembunyi.

Sekarang saatnya aku akan menatap ke depan dan mencoba melupakan tragedi kemarin.

Senin, 28 Juli 2008

Kejutan Untuk Hari Ini

Hari-hariku menjelma menjadi sebuah kotak kado ulang tahun, penuh dengan kejutan yang begitu tak terduga. Semuanya berlalu begitu saja. Seacuh para selebritis, sejanggal salju di negara tropis.

Beberapa hari yang lalu aku memberi senyum kepada orang yang baru pertama kali kutemui. Aku tak tahu siapa dia, jangankan nama, bertemu saja baru pertama kali. Dan tanpa sadar bibirku melebar dan menghadiahinya dengan sebuah senyum yang bersahabat. Beruntung dia membalasnya. Aku sadar bahwa dunia ini harus diisi dengan lebih banyak senyum.

Tapi kejadian kali ini seribu kali lebih aneh, sejuta kali lebih ganjil. Sebuah tonjokan dilayangkan ke arah daguku oleh orang yang tak kukenal!

Dunia ini makin aneh, tapi aku tak pernah menyangka bakal seaneh ini. Di saat zaman membuat hubungan antar sesama manusia semakin menjauh. Menimbulkan jarak yang begitu terbentang lebar. Mengajak orang lain berkenalan secara tiba-tiba pada zaman sekarang ini pun sudah bisa menimbulkan bermacam-macam pikiran dan praduga. Entah kita akan disangka tukang hipnotis atau malah dikira penculik.

Tapi tak pernah kukira bakal seaneh ini.

Aku baru bertemu dengannya. Dan aku tak merasa pernah melihatnya sebelumnya. Dan pertemuanku diawali dengan bersarangnya kepalannya tepat di dagu kananku. Dan kenapa dia melakukannya?

Apakah aku pernah berbuat salah kepadanya? Apakah aku pernah tidak sengaja menghardiknya? Apakah aku pernah membuat dia kehilangan salah seorang anggota keluarganya? Sepertinya tidak.

Dan seketika pikiranku kembali bercabang.

Mungkinkah di antara kepalannya terselip jarum yang sudah terinfeksi HIV? Ataukah maksud dia menonjokku adalah untuk mengusir nyamuk yang sedang bersantai sambil mengisap darahku? Ataukah aku adalah seorang agen rahasia yang baru kehilangan ingatannya dan dia adalah mantan mitraku?

Ah, banyak sekali kemungkinan, tapi aku malas untuk memikirkannya lebih jauh. Untuk hari ini kurasa cukup kejutannya. Yang ini sudah membuatku cukup kaget dan shok.

Kemungkinan yang paling masuk akal adalah bahwa dia sudah gila, makanya dia menonjok orang lain tanpa memedulikan fakta bahwa orang itu baru dia temui hari ini. Dan mungkin juga aku sudah sama gilanya seperti dia, karena sempat terlintas di pikiranku untuk membalasnya.

Yah, dunia memang semakin gila.

Minggu, 27 Juli 2008

Kenapa Tidak Boleh Menengok?

Aku tahu peraturannya, dan aku sadar akan apa yang dipertaruhkan olehnya.

Jalan lurus ke depan dan jangan sekali-kali menengok.

Aku ingat peraturannya. Jalan lurus dan jangan menengok. Cukup jalan lurus. Jangan menengok. Hanya jalan lurus.

Dan aku akan mematuhi peraturannya karena di ujung jalan itu telah menunggu seorang bidadari yang siap menyambutku dengan segala keanggunannya, segala kecantikannya.

Aturannya ada dua. Jalan lurus dan jangan menengok. Lalu kenapa ini menjadi sulit? Aku terbiasa jalan lurus sambil hanya fokus menatap ke depan. Tanpa menengok. Lalu kenapa ini menjadi sulit?

Tapi kenapa harus ada peraturan jangan menengok? Memang ada apa di samping kiri dan kananku? Apakah di sana sedang berdiri bidadari lain yang lebih anggun dan lebih cantik? Atau di sana terdapat sebuah perang besar sehingga bantuanku akan sangat berarti untuk menolong para korban tak bersalah?

Kenapa aku tidak boleh menengok?

Apa salahnya dengan hanya menengok? Menengok tak akan membuat sebuah bom waktu menjadi meledak atau membunuh siapa pun juga. Dan aku hanya ingin menengok saat ini. Lalu apa salahnya dengan menengok?

Ini yang membuatku tidak senang. Aku digantungkan dengan sebuah peraturan yang tidak jelas gunanya untuk apa.

Kenapa aku tidak boleh menengok?

Andai saja peraturannya hanyalah jalan lurus, tentu aku akan menjalaninya tanpa menengok, walaupun menengok diperbolehkan. Tapi larangan membuat rasa ingin tahuku terusik. Ia meraung-raung ingin mencari jawaban dari pertanyaan kenapa. Seperti tikus tanah yang terus menggali-gali mencari jalan cahaya.

Dan kenapa aku tidak boleh menengok? Leherku seperti terkena encok rasanya.

Jumat, 25 Juli 2008

Penanti Perubahan

Tubuh ini tak punya tujuan. Bergerak ke sana kemari, hanya mengikuti arah angin malam. Atau angin siang. Hanya berpindah jika ada rangsangan, bagaikan makhluk bersel satu.

Yang sekarang juga tak ada bedanya. Masih sama seperti yang dulu-dulu. Masih tetap tak punya tujuan. Masih bingung menentukan arah, masih tak tahu mau ke mana. Masih mengikuti arah angin, seperti nyiur yang melambai-lambai. Tubuh ini masih tetap tak punya tujuan.

Yang kubutuhkan hanya tujuan. Hanya tujuan. Dan yang tidak ada sekarang juga hanya tujuan, hanya tujuan.

Dan hari ini juga sama. Aku dan ketidakpastianku. Bercengkrama berdua, tidak menyisakan ruang untuk siapa pun.

Ah, tolong aku. Lepaskan aku dari jerat yang maha tidak jelas ini! Selamatkan aku darinya, agar aku bisa kembali bebas lagi.

Berikan aku yang kubutuhkan. Berikan aku tujuan.

Berikan aku yang kubutuhkan. Berikan aku yang kuinginkan. Berikan aku segala yang ada di dalam impian.

Berikan aku makna untuk hidup. Walau makna hidup itu masih abstrak, samar, dan melayang-layang. Tak apa, sekalian aku belajar terbang.

Yang sekarang pun masih tetap sama. Masih mengikuti arah matahari terbit. Lalu bingung di kala sang mentari tenggelam. Lalu datanglah hari yang baru, dan di kala itulah waktuku untuk menyambut segalanya yang benar-benar beda. Untuk membuat perubahan. Untuk memberi kemajuan.

Aku tidak mau terus seperti ini. Hari ini harus berbeda.

Dan akulah yang akan membuat perubahan itu sendiri. Makanya panggil aku "sang pembuat perubahan" pada tiap hari baru. Karena itulah aku.

Setidaknya itu yang berada dalam niat. Menunggu untuk secepatnya dikukuhkan.

Selasa, 22 Juli 2008

Cinta Murni dari Stadion

Ahad, 20 Juli 2008. Stadion Siliwangi, Bandung.

Hari itu suasana stadion penuh sesak. Sangat penuh dan sangat sesak. Tertulis di koran-koran bahwa kapasitas stadion tersebut hanya 22.000 orang, tapi aku tak terlalu yakin dengan jumlah tersebut begitu melihat penuhnya isi stadion. Kursi stadion mungkin hanya mampu menampung 22.000 orang, tapi banyak orang yang rela menonton tanpa perlu kursi. Mereka berdiri sepanjang pertandingan yang lamanya mencapai dua jam lebih. Bahkan ada yang sudah mengisi stadion sejak enam jam sebelumnya.

"Mungkin ini bisa mencapai 25.000, atau lebih," pikirku tanpa didasari perhitungan terukur.

Dan dari 25.000 orang tersebut, aku hanyalah satu di antaranya. Benar-benar tidak ada apa-apanya. Sesaat aku merasa begitu kecil. Makanya aku pantas malu di hadapan Yang Maha Besar.

****

Hari itu adalah pertarungan antara Persib dan Persija, duel yang dianggap sebagai salah satu yang terpanas di Indonesia. Bukan hanya karena keduanya merupakan tim papan atas, tapi juga karena unsur permusuhan tingkat tinggi yang diusung kedua kelompok suporter masing-masing. Maung dan macan. Keduanya sebenarnya hewan yang sama, tapi tak ada yang menganggapnya begitu. Permusuhan yang begitu mendarah daging.

Tak ada baju oranye hari itu, kecuali bagi mereka yang membawanya untuk dibakar. Dan yel-yel terkeras yang mereka teriakan adalah yel-yel untuk mengejek (atau mungkin lebih tepat disebut mengutuk) kelompok suporter ibukota itu.

Dan pertandingan pun dimulai setelah tiga jam aku menunggu.

Peluit ditiup dan para penonton berteriak histeris. Yel-yel terus diteriakkan, ejekan terus dilontarkan terhadap tim lawan. Semuanya untuk menyemangati tim kesayangan mereka.

Sayang pertandingan harus berakhir rusuh. Tidak puasnya beberapa oknum suporter akan keputusan wasit membuat mereka berbuat anarkis. Tempat duduk dibakar, pagar pembatas dirusak, dan pintu dijebol. Wasitkah yang salah?

Sesaat aku tidak habis pikir dengan para perusak tersebut, kenapa mereka berbuat anarkis? Bukankah hasil pertandingan tak akan berubah walaupun seluruh suporter di sana mengamuk? Apa yang mereka pikirkan?

Gerombolan orang-orang bodoh, tak berpendidikan, atau otak udang. Mereka adalah salah satu darinya. Setidaknya itulah yang kupikirkan pada saat itu.

****

Tapi ternyata masalahnya tidak sesederhana itu. Atau justru masalahnya sangat sederhana. Entah yang mana.

Ini adalah wujud kecintaan tulus, yang tanpa pamrih, dan hanya mengharap balasan. Walaupun kadang balasan itu tidak berupa balasan yang baik.

Ini adalah wujud dari cinta yang begitu sederhana. Suporter mencintai klub, lalu klub menyuguhkan permainan untuk mereka, dan suporter membalasnya dengan memberi dukungan.

Cinta yang saling membalas. Seperti hari itu.

Hari itu Persib kalah. Dan banyak yang mengutuk hasil tersebut. Tapi mereka pun kembali pulang ke rumah dan melupakan hal itu. Minggu depannya ketika Persib kembali bermain, mereka akan kembali menonton dan memberi dukungan lagi seperti biasanya.

Cinta tak selalu berbalas dengan baik. Kadang balasannya kurang bisa kita terima, atau bahkan kejam. Seperti para suporter sepak bola yang memberi dukungan maksimal kepada tim kesayangan mereka, namun ternyata tim kesayangan mereka tetap kalah dan menampilkan permainan yang buruk.

Bukankah ini yang didambakan setiap orang? Ketika kita mencintai dengan sepenuh hati dan tidak peduli akan balasan yang akan kita terima. Ketika cinta sejati muncul, entah cinta itu berbalas atau tidak. Cinta yang benar-benar tulus, yang sekarang sudah menjadi barang yang paling langka di dunia yang penuh dengan tuntutan balas budi ini.

Hari itu di stadion Siliwangi. Aku masih merenungi hal tersebut, sekaligus mendamba-dambakannya.

Cinta yang begitu tulus. Cinta yang begitu murni.

Aku pulang dari stadion dengan membawa pelajaran yang berharga. Dan terus memikirkannya sambil berjalan pulang dengan tertatih-tatih karena tulang ekorku sakit luar biasa akibat lima jam lebih duduk di kursi semen.

Rabu, 16 Juli 2008

Bagaikan Burung Dalam Sangkar

Banyak yang menumpuk di pikiran akhir-akhir ini, memaksaku menyisakan tempat untuk mereka yang kejelasannya saja masih dalam tanda tanya. Tapi tetap saja mereka telah mengusik pikiran-pikiranku dengan sejumput khayalan, kenangan, atau hanya sekedar omong kosong. Dan di saat kusadar, aku telah terbenam terlalu dalam.

Kalau hidup ini adalah permainan catur, maka aku ibarat sedang melawan Gary Kasparov. Langkah yang harus kuambil kini sangatlah sulit. Benar-benar rumit. Aku bahkan tidak yakin bahwa inilah yang dinamakan "langkah". Karena semuanya berlalu bagaikan angin malam atau angin siang.

Dari jendela kamarku aku dapat melihat seekor burung poksai dalam sangkar, peliharaan keluarga kami. Pernah kulihat burung itu menggigil kedinginan karena saat itu hujan deras. Burung kedinginan?

Burung itu tak punya pilihan selain tetap pasrah dalam keadaan menggigil. Ia tidak bisa kabur dan mencari tempat yang lebih hangat karena sangkar itu tertutup rapat. Sementara burung-burung lain mencoba bermigrasi ke tempat yang lebih hangat di kala musim penghujan tiba, ia hanya dapat diam di sangkar. Bertengger pada batang kayu yang ada di sana, terus bersiul-siul dengan indahnya. Entah apa yang dipikirkannya.

Apakah arti dari siulan itu? Iramanya begitu merdu dan nyaman di dengar di telinga. Tapi malang bagi burung itu telah memiliki suara seindah itu, suaranya menjadikannya alasan utama bagi para manusia untuk mendengarkannya lebih banyak. Dalam sangkar, bukan alam bebas.

Aku tak bisa bahasa burung, tentu saja, kau juga tidak bisa. Tapi adakah yang mengerti rasa perih yang tersirat dalam siulannya? Aku tidak mengerti.

Kalau burung itu sedang merana sekarang, ia pantas merasakan hal yang demikian. Terkurung dan tak bisa keluar. Aku pernah merasakannya, dan aku sedang merasakannya.

Akhir-akhir ini aku banyak berpikir tentang hal-hal yang ini dan itu. Tentang masalah yang bahkan permasalahannya saja belum jelas kuketahui. Tentang yang ada, atau tentang yang tiada. Tentang segalanya.

Terbelenggunya aku akhir-akhir ini tidak sama dengan terkurungnya si burung poksai dalam sangkarnya. Aku yang memilih terbelenggu, tapi burung poksai itu tak pernah memilih untuk dikurung. Tapi aku dan si burung poksai juga punya sedikit kesamaan. Kami sama-sama tak berdaya melawan nasib.

Ini terlalu menyita waktu. Menyita pikiran. Menyita segalanya.

Kalau aku bank, aku pasti sudah bangkrut. Kalau aku penjara, aku pasti sudah penuh.

Minggu, 13 Juli 2008

Inspirasi yang Membunuh


"Setiap ada foto Chairil Anwar, pasti dia sedang merokok," kata ibuku. Entah perkataannya benar atau tidak.

Tapi yang jelas Chairil Anwar memang seorang perokok berat. Dan banyak orang mengatakan ini wajar, dia kan seorang seniman. Memang apa hubungannya seorang seniman dengan kebiasaan merokok?

Kemarin aku pergi ke sebuah toko buku yang banyak menjual buku-buku import. Di sana ada beberapa buku karya Pramoedya Ananta Toer (entah kenapa aku selalu menemukan buku-buku Pram di toko buku import, dan sangat sulit mencarinya di toko buku lokal, bukankah dia orang Indonesia?) dan kulihat foto Pram dengan gaya khasnya: sedang merokok. Ternyata seniman yang satu ini juga pecandu nikotin.

****

Aku mencoba menelusuri hubungan yang tepat antara rokok dan seniman. Dan semakin aku mencari, aku semakin menemukan bahwa bukan hanya seorang seniman yang sering dihubung-hubungkan dengan rokok. Detektif, koboi, kepala polisi, dan sesekali agen rahasia. Hampir tiap tokoh yang dianggap misterius di setiap komik Jepang selalu diceritakan bahwa dia adalah seorang perokok berat. Koboi pun sama, bahkan untuk cerita anak-anak seperti Lucky Luke.

Mungkin untuk sebagian orang rokok merupakan sarana untuk mengasingkan diri dari dunianya selama sesaat. Makanya banyak orang yang berkata bahwa rokok menghilangkan stres, rokok membuat tenang, rokok menjernihkan pikiran, dan seterusnya. Dengan kata lain rokok adalah alat tepat untuk melamun, kendaraan yang dapat membawa kita ke dunia imajinasi yang hanya kita sendiri yang mengerti akannya. Pantas banyak seniman yang menyukai ini.

Fungsi rokok hampir mirip dengan kopi, cermin, mandi, atau sikat gigi. Atau benda apa saja yang biasa kita jadikan "teman" di kala kita asik melamun dan berimajinasi. Benda-benda itu membawa kita ke alam imajinasi dan membantu kita menemukan inspirasi. Dua hal yang sangat dibutuhkan oleh seorang seniman.

****

Aku bercita-cita untuk menjadi seorang seniman, namun aku tak pernah bercita-cita untuk merokok. Walaupun aku sangat membutuhkan sarana untuk mengasingkan diri sejenak dari duniaku.

Banyak yang bilang rokok mempercepat kematian, tapi bukan itu alasanku untuk tidak merokok. Bagiku tidak masalah aku mati hari ini atau besok, atau tahun depan, atau bahkan seratus tahun lagi. Tidak merokok pun aku masih tetap menghirup asap rokok dari orang-orang yang merokok di sekitarku. Lagipula usia manusia tidak bisa ditentukan hanya oleh sebatang rokok saja. Seseorang bisa saja mati muda walaupun tidak merokok dan selalu bergaya hidup sehat.

Jika nanti aku tidak merokok dan aku telah menjadi seorang seniman besar, tren "seniman adalah perokok" yang marak sekarang ini bisa saja runtuh. Dan kalau tren itu runtuh maka aku berarti punya andil dalam menghilangkan rokok dari dunia ini. Dan jika itu berhasil maka aku punya cita-cita untuk mengganti kebiasaan merokok dengan kebiasaan menyikat gigi. Bukankah ini lebih baik?

Sabtu, 12 Juli 2008

Kembali Ke Belakang Sejenak dan Masih Itu-itu Saja

Sudah menjadi kodrat dari setiap manusia untuk berpikir. Oleh karena aku juga manusia maka sudah seharusnya jika aku juga berpikir.

Hari-hariku akhir-akhir ini membawaku kepada kebosanan yang teramat sangat. Libur yang sangat panjang ternyata juga berarti hilangnya sebuah rutinitas yang biasa kujalani sehari-hari, yang pada awalnya juga kuanggap sebagai sebuah kegiatan konstan yang dapat membunuhku secara perlahan-lahan dalam kebosanan. Kini setelah lepas dari rutinitas yang membosankan itu ternyata aku justru merasakan kebosanan dalam bentuk yang lain. Liburan panjang kali ini membuatku miskin inspirasi.

Hari ini juga sama. Aku seperti mencari-cari kegiatan untuk dilakukan tapi tidak menemukan sesuatu yang benar-benar menarik. Hingga akhirnya tersirat sebuah pertanyaan yang ingin sekali kudengar jawabannya: apakah hidup manusia memang selalu berada di dekat kebosanan?

Tapi aku bukan tipe orang yang menyerah pada keadaan begitu saja. Selama masih ada fasilitas yang dapat kugunakan untuk menciptakan kreasi, aku tetap akan berjuang terus untuk menciptakan warna-warna baru dalam hidupku. Warna-warna yang akan selalu menghiasi hidupku dengan kebahagiaan. Warna-warna yang akan membantuku menemukan jawaban akan kehidupan yang sejati.

****

Aku coba mulai dengan mengevaluasi hidupku yang sudah berlangsung lumayan lama ini. Dimulai dari saat pertama kali aku berkenalan dengan apa yang membuat setiap manusia punya arti hidup, yaitu impian.

Aku ingat impian pertamaku adalah menjadi seorang pembalap mobil. Rasanya siapapun yang menjadi pembalap mobil akan terlihat gagah. Tak peduli jika wajahmu sangat jelek sekalipun, karena kau akan memakai helm yang akan menutupinya. Belum lagi kau akan memakai seragam dengan banyak iklan dari sponsor (entah kenapa aku selalu menganggap iklan menambah daya tarik dari baju si pembalap), walau sekarang aku tak bisa membayangkan kegerahan yang dirasakan si pembalap dalam baju ekstratebal itu, pasti keringat deras sudah membanjiri baju dalam mereka.

Setelah lepas dari impian pertamaku, aku mulai mencari impian-impianku yang lain. Presiden, pembalap motor, komikus, penulis, dan superhero. Seringkali aku berganti-ganti impian kala itu, sebanyak aku berganti-ganti acara televisi yang kutonton. Tapi aku tidak pernah sama sekali berkeinginan menjadi dokter. Apa menariknya menggeluti suatu profesi yang semua orang menginginkannya?

Aku melewati masa kecilku senormal yang kuinginkan. Aku sekolah di sebuah SD negeri yang fasiltasnya selalu pas-pasan. Berteman dengan anak penjaga warung, anak supir taksi, anak tukang becak, keponakan seorang narapidana, dan masih banyak lagi macamnya. Walau kadang ada juga yang mengaku bahwa dia adalah anak seorang direktur, entah itu benar atau tidak yang jelas pada saat itu aku ragu. Tapi aku tak peduli akan semua itu. Yang penting aku nyaman berteman dengan mereka lalu apa masalahnya? Pentingkah aku menanyakan status sosial mereka satu per satu saat berkenalan? Tentu saja tidak.

Selama SD aku belum bisa mengatur hidupku dengan sebaik-baiknya. Kehidupanku masih dibimbing sepenuhnya oleh kedua orang tuaku. Jika mereka suruh aku belajar maka yang kulakukan pada menit berikutnya adalah belajar. Jika mereka suruh aku makan maka yang kulakukan di menit berikutnya adalah makan. Mungkin pada saat itu aku seperti robot yang punya hati.

Di SD negeri tempatku bersekolah kau akan menemukan berbagai macam guru. Mereka akan mengajarkan kita lagu Hymne Guru untuk menunjukkan kekuasaan mereka di kelas dan betapa berjasanya mereka. Seorang guru mengajarkan sebuah lagu untuk menyanjung guru?

Aku bisa dibilang berprestasi cukup baik selama masih SD. Aku selalu berhasil meraih peringkat tiga besar dalam kelas. Walau saat kelas satu dan kelas dua aku tidak pernah berhasil sekalipun untuk menjadi yang pertama. Sedikit membuatku putus asa saat itu karena aku selalu kalah peringkat dari anak seorang guru. Hingga akhirnya aku mampu meraihnya di kelas tiga.

Mungkin prestasiku yang cukup baik ini yang membuatku selalu ingin punya pendapat sendiri. Dan hasilnya aku menjadi sedikit pemberontak di kelas. Aku pernah berdebat yang sangat panjang dengan seorang guru dan baru bisa dihentikan oleh bel pertanda kelas selesai hanya karena merasa tak setuju dengan jawaban yang beliau berikan. Aku pernah merasa lebih pintar dari salah seorang guru padahal ketika itu aku baru kelas lima SD! Tapi bagaimanapun juga aku tak pernah sampai ke arah yang terlalu melenceng, paling tidak prestasiku di sekolah selalu kujaga.

Dari SD lanjut ke SMP. SMP-ku berbeda jauh dengan SD-ku. Kini aku bersekolah di sebuah SMP swasta yang berlabel Islam. Menanamkan banyak dasar-dasar agama dalam kehidupanku. Tapi aku tak pernah jadi terlalu fanatik. Hanya saja prestasiku di SMP sangatlah labil. Aku tidak bisa menjaga prestasiku seperti ketika di SD. Sifat pemberontak yang sudah ada pada diriku timbul lagi bahkan semakin menjadi-jadi. Tapi akhirnya aku bisa lulus dengan cukup baik.

Aku belum mau berhenti sekolah, atau tepatnya aku tidak akan diizinkan oleh kedua orang tuaku untuk berhenti sekolah. Jadilah aku melanjutkan pendidikanku ke jenjang SMA, masih dalam label yang sama: swasta Islam.

Di SMA aku mulai belajar untuk berpacu pada target. Dan ternyata ini sangat berat. Bukan main perjuanganku untuk mencapai target masuk jurusan IPA saat itu. Bahkan tadinya kukira targetku tak akan tercapai lantaran nilai fisikaku yang tak memenuhi syarat. Dan entah keajaiban apa yang menyelamatkanku, nilai fisikaku disulap menjadi naik beberapa poin. Akhirnya target pertama tercapai.

Akhirnya tiga tahun juga sudah terlewati lagi. Dan aku lulus kembali. Meninggalkan masa SMA yang penuh dengan kesusahpayahan, kesedihan, kebahagiaan, penderitaan, pengharapan, dan cinta. Tiga tahun yang merupakan awal perkenalanku dengan seseorang yang membuat hidupku terjungkir-balik. Yang jelas tiga tahun ini adalah tiga tahun yang paling berkesan untukku sampai saat ini. Entah bagaimana dengan tahun-tahun berikutnya.

****

Hari ini aku berniat mandi di kamar mandi milik orang tuaku. Suatu hal yang biasa akhir-akhir ini mengingat aku mulai menyadari kamar mandi di sana lebih besar dan lebih nyaman, walau aku lebih suka desain kamar mandiku sendiri.

Tapi aku tidak jadi mandi di sana setelah melihat seekor kecoak tergeletak terlentang di sana. Mati.

Aku baru ingat pagi tadi adalah jadwal penyemprotan untuk memberantas nyamuk demam berdarah. Dan sasarannya tidak selalu tepat. Kadang kecoak juga ikut mati walau ia bukan sasaran sebenarnya.

Akhirnya aku mandi di kamar mandiku sendiri. Mungkin sudah seharusnya begitu. Sebenarnya aku bisa saja mengambil bangkai kecoak tersebut dan membuangnya ke tempat sampah, lalu aku bisa mandi dengan tenang. Hanya saja aku malas melakukannya. Dan akhirnya aku terpaksa untuk mengganti niatku.

Seekor kecoak mati ternyata bisa merubah kehidupanku, secuil kehidupanku, tapi kecoak itu tetap punya arti dalam hidupku.

Hal sekecil apapun bisa saja terjadi dalam hidupmu, dan yang mana saja bisa merubah hidupmu. Hidup ini kan tak selalu konstan.

Aku masih berpikir. Memikirkan segalanya, untuk mencoba mencari jawaban. Dan jika saat ini ada orang yang datang padaku dan bertanya, "Sedang di mana kamu? Sedang apa?", aku akan langsung menjawab dengan tegas, "Aku masih di sini, masih terdiam sambil memikirkan jawaban dari pertanyaan yang itu-itu saja."

Rabu, 09 Juli 2008

Yang Ada Pada Akhirnya

Hal-hal terkompleks dalam hidupku baru saja kulewati secara bertubi-tubi. Entah berapa banyak lagi yang akan datang untuk kembali menyerang. Makin banyakkah? Atau malah makin sedikit?

Impian ada untuk memberi manusia tujuan. Agar manusia dapat menjalani hidup sesuai dengan arahan. Impian ada agar manusia bisa hidup sebagaimana mestinya. Impian ada untuk menciptakan warna dalam kehidupan manusia. Impian ada untuk memberi kehidupan dalam diri tiap insan manusia.

Manusia tanpa impian adalah mati. Sementara impian hanya bisa digapai dengan perjuangan. Jadi inti kehidupan hanyalah sebuah perjuangan. Bergulat. Bersaing. Menang atau kalah. Mati.

Setiap insan punya tujuan. Yang tertekan dalam hati tiap-tiap mereka.

Aku sungguh terkesan. Tidak ada yang patut santai di muka bumi ini. Tidak juga siapapun.

Akhir-akhir ini cinta mulai kembali bersemi. Tapi yang paling terakhir, cinta menguncup kembali. Aku tak tahu cintaku sedang dalam musim apa.

Cintaku masih tak terang ada di mana. Cintaku masih di persimpangan. Butuh rambu yang lebih banyak untuk menuntunnya ke jalan yang benar.

Yang ini membuatku terjatuh kembali. Jatuh dengan sebenar-benarnya jatuh. Jatuh yang telak. Yang menimbulkan kesakitan, tapi juga memberi kita pelajaran.

Aku jatuh cinta. Dengan sedalam-dalamnya jatuh. Dengan sedalam-dalamnya cinta.

Kedai Kopi Hari Itu


Beberapa hari yang lalu aku pergi ke sebuah kedai kopi. Meskipun aku bukanlah pecandu kafein. Makanya aku jarang pergi ke kedai kopi. Minum kopi instan kemasan sachet di rumah saja jarang.

Kedai kopi belakangan ini memang banyak sekali bermunculan di mana-mana. Dan itu menambah satu pertanyaan lagi untukku: memang apa bedanya minum kopi di rumah dan di kedai kopi?

Mungkin dari seluruh pengunjung kedai kopi di sana pada hari itu hanya aku saja yang tidak mengerti akan kenikmatan meminum kopi. Bagiku kopi itu pekat dan pahit. Kalaupun kita temukan kopi yang rasanya manis dan sangat nikmat, yang membuatnya demikian adalah campuran susu dan gulanya. Kopinya sendiri hanya mendonasikan rasa pahit.

Tapi di kedai kopi itu aku sadar. Kopi yang kupesan hari itu sangat nikmat. Memang yang membuatnya nikmat masih susu dan gulanya. Hanya saja tidak mungkin minuman itu akan jadi senikmat itu kalau hanya terdiri dari campuran susu dan gula. Itu sama saja dengan meminum segelas susu panas. Dan susu panas tak pernah senikmat kopi.

Aku tersadar akan pentingnya peranan kopi dalam membuat minuman tersebut jadi nikmat. Kopilah yang memberikan karakter dalam minuman tersebut. Rasa pahit yang diberikan membuat kau tidak hanya merasakan manis yang berlebihan. Dan kombinasinya, jika dicampur oleh profesional, akan menyuguhkan sebuah minuman dalam kemasan yang sangat unik.

Kopi yang paling nikmat bukan kopi yang paling manis. Tapi juga bukan yang paling pahit.

Layaknya kehidupan kopi juga menggambarkan keseimbangan. Terkadang kau merasakan manisnya, namun kau juga tak pernah luput dari rasa pahitnya. Dan rasa pahitnya itu ditimbulkan oleh kafein, yang katanya dapat meningkatkan konsentrasi jika dikonsumsi tidak berlebihan. Sama seperti kehidupan, di mana kau bisa mendapatkan pelajaran setelah merasakan pengalaman pahit.

Hidup memang tak selalu manis. Hidup memang tak selalu pahit. Cobalah untuk mengambil pelajaran dari keduanya.

Kopi itu telah menyadarkanku. Akan manis pahitnya kehidupan. Yang tak pernah selalu konstan. Justru karena ini kita harus berjuang. Karena hidup tanpa perjuangan sama saja mati.

Jumat, 27 Juni 2008

Permen Mint


Hari ini aku mendapatkan pelajaran berharga. Gurunya adalah permen mint.

Tiga orang berada dalam mobil itu. Ada tiga permen mint di sana. Dan kami bertiga langsung memakannya, masing-masing orang mendapat satu permen.

Aku kurang begitu suka dengan permen mint, walau aku sangat suka dengan permen. Tapi hari ini aku memutuskan untuk memakan permen itu.

Yang kurasakan pada saat permen itu pertama kali menyentuh permukaan lidahku adalah rasa manisnya. Sama seperti permen-permen lainnya, permen ini juga manis karena setiap permen harus manis. Pernah kujumpai permen rasa asam, tapi lidah tetap tidak bisa dibohongi, rasa manisnya tetap mendominasi.

Rasa mint memang selalu menjadi favorit di industri makanan. Berbagai produk es krim, permen, biskuit, selai, dan berbagai hal lainnya pernah mengeluarkan versi mint mereka masing-masing, walau kepopuleran mint masih kalah jauh dengan strawberi, vanila, dan cokelat yang lebih diminati.

Setelah cukup lama mengemut permen mint tersebut langsung kurasakan kelegaan yang membebaskan. Layaknya orang baru sembuh dari pilek, aku langsung bisa menghirup udara penuh dengan benar-benar lancar. Rasanya bagaikan surga baru pindah dari telapak kaki ibu ke tenggorokanku.

Tapi tidak dengan hidungku. Ia justru menderita.

Inilah kenapa aku kurang begitu suka dengan permen mint. Rasanya melegakan, tapi juga menyakitkan. Aliran udara yang masuk ke dalam tubuhku serasa mengalir sambil mengiris sesuatu -entah apa itu- dalam hidungku. Dan udara dingin kota Bandung membuatnya semakin bertambah parah. Ditambah dengan fakta bahwa aku sedang berada dalam mobil kecil yang menggunakan air conditioner, memaksaku menghisap entah berapa mili udara kering yang sangat menyiksa.

Tapi tetap saja sensasi lega yang diberikan permen mint, bukan mint, pada tenggorokanku mengalahkan rasa tak nyaman pada hidungku. Inilah keadilan. Inilah keseimbangan. Imbalan dan ganjaran.

Dan segalanya terjadi di muka bumi ini. Pada kehidupan ini.

Permen mint telah mengajariku cara untuk lebih memaknai hidup ini. Entah kenapa permen mint yang tadi. Padahal ini bukanlah hari pertamaku memakan permen mint.

Manis yang diberikan permen mint pada kecapan pertama di lidahmu sama saja dengan segala kenikmatan yang ada di kehidupan ini. Semuanya menggoda, tapi jangan selalu terbuai. Karena itu semua hanyalah kenikmatan artifisial.

Yang aslinya ada di suatu tempat. Di mana Tuhanmu juga berada di situ.

Minggu, 22 Juni 2008

Kereta Api dan Takdir


Kereta api adalah kendaraan unik. Dia tidak bisa jalan seenaknya. Dia terikat pada arah yang ditentukan oleh relnya.

Dari dulu aku suka kereta api. Menaikinya serasa jadi pengelana yang mau berpergian jauh. Entah ke mana, mungkin ke negeri antah berantah.

Sayang nasib kereta api dewasa ini tak terlalu baik. Seakan-akan menghilang ditelan peradaban yang memberi terlalu banyak ruang untuk berkembangnya alat transportasi lain seperti mobil, pesawat terbang, dan motor. Padahal kereta api adalah kendaraan paling merakyat. Sekali jalan, dia bisa mengangkut ribuan orang. Gerbongnya pun bisa dibuat jadi banyak. Tapi ada satu kelemahan kereta api yang mengganjalnya untuk bersaing lebih ketat dengan pesawat terbang dan kapal laut. Dan kelemahan ini adalah faktor utama penyebab tersingkirnya kereta api dalam kompetisi ini.

Kelemahan kereta api adalah dia tidak bisa menghasilkan banyak uang.

****

Dulu stasiun selalu penuh sesak. Sekarang keadaannya bagaikan orang lagi terdesak.

Banyak yang ingin kutanyakan tentang stasiun ini. Mengapa catnya hijau? Mengapa orang-orang hanya makan di restoran Jepang dan toko donat yang itu-itu saja? Mengapa kalau Lebaran tiba orang-orang jadi banyak yang datang?

Tapi tidak kutanyakan. Bukannya tidak mau, tapi kepada siapa aku harus menanyakannya?

****

"Aku mau pergi ke tempat yang jika aku pergi ke sana aku tidak akan bisa kembali lagi," ujarku pada penjaga loket.

Si penjaga loket terdiam sejenak. "Maksud adik?"

"Aku ingin ke Negeri Senja."

Orang-orang di sekitarku menertawaiku terbahak-bahak. Aku senang-senang saja. Berarti lawakanku dianggap lucu.

"Maaf. Tapi aku tidak jadi ke Negeri Senja karena stasiunnya bukan di sini. Aku ingin membeli tiket ke Bali saja."

"Tapi kita tidak menjual tiket untuk ke Bali, dik."

"Kenapa begitu?"

"Karena Bali dan Jakarta dipisahkan oleh laut yang membentang luas. Kereta api tidak bisa melewati laut."

"Omong kosong. Di Jepang ada kereta api yang melewati bawah laut. Aku baca itu di buku."

Si penjaga loket terdiam lagi, lalu menghembuskan sebuah napas berat. "Mungkin orang-orang Jepang mampu membuat yang seperti itu. Tapi sampai saat ini kereta api di Indonesia belum bisa seperti itu."

Dan aku pun terdiam. Bingung ingin menyalahkan siapa. Orang Jepang yang sudah terlampau pintar, orang Indonesia yang tidak berusaha untuk menjadi sepintar orang Jepang, atau si penjaga loket yang tidak membantuku berpikir.

****

Kereta api memang membutuhkan rel untuk bisa terus jalan. Dan kadang relnya tidak mencapai ke tempat-tempat yang ingin kita jangkau, sehingga kita harus mengubur impian kita untuk pergi ke tempat-tempat tersebut dengan kereta api.

Rel kereta api bagaikan takdir. Dan kereta apinya adalah usaha. Tujuan tidak bisa digapai jika relnya belum dibuat. Dan jika relnya sudah jadi, itu akan menjadi percuma kalau kereta apinya tidak memadai.

Manusia memang harus selalu berjuang untuk menggapai segala apa yang mereka cita-citakan, tapi kadang takdir berkata lain. Sehingga nasib mereka pun menjadi berbeda dari yang ada di impian.

Makanya cobalah untuk pasrah dalam segala keadaan.

Karena tak semua yang kita mau bakal terwujud jadi nyata.

****

Makanya aku bilang kereta api adalah kendaraan unik. Tidak ada duanya. Dan mungkin saja lima puluh tahun lagi kendaraan tersebut akan punah.

Koran hari itu menunjukkan bahwa harga terbang dengan salah satu maskapai penerbangan milik negara tetangga dari Medan ke negeri jiran hanya Rp. 3.000,00 saja. Entah benar atau ada unsur penipuan di dalamnya. Yang jelas jika informasi ini benar harga tiket pesawat terbang lintas negara menjadi sama saja dengan ongkos naik ojek dengan jarak paling jauh 500 meter saja.

Pantas saja. Kereta api tidak segila itu dan tampaknya tidak akan pernah. Dia bahkan tak pernah memasang iklan di koran, bukannya tak mau, tapi tak sanggup. Kasihan benar si kumpulan gerbong yang unik.

Kereta api adalah usaha, dengan relnya sebagai takdir. Mungkin sudah takdir kereta api untuk kalah bersaing dengan pesawat terbang kini, namun tidak untuk mundur sepenuhnya. Kereta api masih bisa bangkit, dan bergelut kembali dalam kompetisi memperebutkan tahta alat transportasi yang paling diminati.

Layaknya takdirku untuk berpikir kembali akan segalanya. Tentang dia.

Kamis, 19 Juni 2008

Perjalanan ke Negeri Senja


Malam itu aku berada di stasiun Gambir, mengantar kepergian dua orang temanku yang mau berkelana ke luar kota untuk menuntut ilmu di sana.

Sudah lama aku tidak ke stasiun Gambir, tapi keadaannya masih begitu-begitu saja. Tidak banyak yang berubah, bahkan warna catnya pun masih tetap sama.

Memandang stasiun aku jadi teringat akan salah satu cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang menceritakan tentang kereta api misterius yang menuju ke sebuah tempat bernama Negeri Senja, sebuah negeri yang tidak seorang pun tahu seperti apa negeri itu.

Negeri Senja digambarkan sebagai negeri yang sangat misterius. Setiap orang yang pergi ke sana tidak akan bisa kembali lagi. Tidak ada yang tahu sedikit informasi pun tentang kondisi Negeri Senja, bahkan lokasinya pun tak ada yang tahu. Setiap orang yang mau pergi ke sana tidak perlu membayar uang sepeser pun, mereka hanya butuh membubuhkan tanda tangan mereka di lembar yang menyatakan persetujuan mereka untuk pergi ke Negeri senja dan bersedia untuk tidak kembali lagi. Makanya setiap orang yang terlihat akan berangkat ke Negeri Senja tampangnya selalu terlihat murung dan tidak bahagia.

Di Gambir tidak ada kereta api yang menuju ke Negeri Senja, tentu saja, Negeri Senja hanyalah fiksi. Namun bagaimana jika seandainya Negeri Senja benar-benar ada?

Aku tentu akan membayangkan perasaan orang-orang yang akan berangkat ke sana. Apa yang mereka rasakan? Sedihkah, atau justru gembira? Pasrah, atau malah berharap?

Negeri Senja sama saja dengan pertaruhan di dunia nyata. Kita tidak tahu apa yang bakal terjadi kelak, tapi kita dituntut untuk memilih: pergi atau tidak.

Kita tidak tahu seperti apa Negeri Senja itu. Bisa jadi Negeri Senja adalah negeri yang sangat indah, jauh lebih indah dari tempat yang selama ini kita tinggali. Atau ternyata negeri itu sangat gersang, di mana tidak ada makhluk hidup yang mampu bertahan hidup di sana untuk waktu yang lama, dan kita hanya sendirian.


****


Hari ini aku diwisuda. Berbagai rasa bercampur aduk dalam hatiku. Gembira sekaligus sedih. Bangga sekaligus malu. Ah, benar-benar kompleks.

Yang jelas wisuda ini menyatakan satu hal: kami semua tidak akan berkumpul seperti ini lagi setiap hari. Banyak di antara kami yang akan berpisah karena kami sekarang akan mulai bergerak ke arah yang telah ditentukan oleh masing-masing dari kami.

Bagiku pilihan yang telah kami tetapkan masing-masing sama saja dengan Negeri Senja. Tiap-tiap dari kami tidak tahu apakah pilihan tersebut memang yang terbaik untuk kami atau tidak. Segalanya masih misteri. Karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok.

Kami semua yang diwisuda pada hari itu mulai bergerak ke peron masing-masing, mencari-cari kereta yang menuju ke Negeri Senja. Tak ada yang kami tahu tentang Negeri Senja, kami hanya tahu sedikit gambaran akan kemisteriusannya. Tapi masing-masing dari kami punya keyakinan bahwa kami akan berhasil di sana.

Biarlah kami tidak bisa kembali ke tempat asal kami. Kembali ke SMA mungkin terasa manis, tapi waktu pasti akan terus bergulir. Dan kami tidak mungkin diam di tempat sementara yang lain terus bergerak.

Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kami memang harus pergi ke Negeri Senja. Yang bisa kami lakukan sekarang adalah menyiapkan perbekalan yang cukup.

Kurasa perbekalanku sudah cukup. Aku siap berangkat.


****


Sekarang aku berada di kereta api yang menuju Negeri Senja. Namun tampaknya perjalanan masih jauh. Bahkan ujung Negeri Senja pun belum terlihat. Segalanya masih tertutup kabut yang begitu tebal dan semua orang di kereta yang sama denganku hanya bisa meraba-raba saja tentang Negeri Senja.

Air muka orang-orang yang berada dalam kereta yang sama denganku berbeda-beda. Itu justru membuat keadaan Negeri Senja makin sulit ditebak. Perjalanan masih panjang, padahal aku tak suka menunggu yang tidak pasti.

Negeri Senja memang begitu misterius. Aku jadi semakin penasaran dengannya.

Selasa, 17 Juni 2008

Misteri Cinta

Kau datang bersama cinta. Membelenggu aku dalam keterikatan. Kau datang membawa rasa. Mengembang bagai adonan roti yang diberi fermipan.

Kenapa dibalik cinta ada derita. Benih yang tak kujaga hanya dapat busuknya saja.

Siapa suruh aku cinta kamu? Tidak ada. Memang tidak ada. Lantas jika itu membuatmu tak tenang, kenapa kau masih tetap cinta.

Ah, kurasa ini terlalu rumit. Tidak cukup hanya sekedar berkelit. Harus kabur dengan benar-benar pamit.

Kenapa kau tak balas saja pernyataan cintaku?
Bagaimana aku bisa balas kalau kau saja tak menanyakan.

Kenapa kau membiarkan aku terus berharap?
Mungkin itu yang masih menyelamatkanmu hingga kini. Dari lubang kehancuran.

Kenapa aku benar-benar harus berdiri sendiri?
Kau yang memilih begitu. Sekarang rasakan ganjaran dari pilihanmu itu.

Mungkinkah esok akan membuat keadaan jadi lebih baik?
Segalanya masih misteri, tapi pilihan masih di tanganmu.

Benarkah cintaku adalah kamu? Atau ternyata adalah dia? Sungguh aku bingung. Belum lagi kalau nanti muncul orang lain yang mencuri segenap jiwaku lagi.
Lebih pantas jika aku diam.

Yang ada masih di persimpangan. Dan aku tersesat di dalamnya. Tolong aku.

Minggu, 15 Juni 2008

Putih Abu yang Terakhir


Masa itu akan berakhir. Tidak ada yang menginginkannya. Tidak ada pula yang mampu menghentikannya. Masa itu pasti berakhir.

Kenapa seragam SMA berwarna putih abu? Haruskah aku mematuhinya dengan suasana hati yang mengadu. Tidak setuju akan warnanya yang terlalu syahdu.

Putih abu. Kelabu yang bertengger di bawah putih. Hati yang peluh, namun suci. Pantas. Terlalu berat menahan beban, akhirnya keluar sebagai pembangkang.

Sanggupkah aku terbang tinggi meninggalkan masa ini? Bukankah sayapku telah patah? Hancur? Akankah sayapku tumbuh kembali?

Masa putih abu yang akan berakhir. Meninggalkan kita yang bergerak menuju kedewasaan. Pastinya akan sangat menyakitkan.

Untuk yang terakhir kali, aku ingin mengenakan seragam ini kembali. Seraya mengenang masa-masa awalku yang bangga memperlihatkan seragamnya dan berkata, "Aku anak SMA!"

Ah, berakhir juga. Kukira masa ini akan selalu kukenang. Pasti akan selalu kukenang.

Cinta Gila

Kenapa segalanya jadi begini? Sedalam lautan mengemis cinta, yang kudapat hanyalah derita. Sia-siakah segala usaha selama ini?

Untuk yang satu kulakukan seribu. Dan ternyata masih belum cukup. Terhalang oleh keinginan yang menggebu. Atau justru dia yang terlalu menutup?

Ku terbuai dalam segala angan dan impian. Berenang ke sana kemari, hanya mendapat lelah. Aku tenggelam dalam apa yang selalu ada di muka bumi setiap masa, setiap saat.

Ketika Icarus terjatuh. Ketika kulit mulus Cleopatra hancur dikoyak ular berbisa. Ketika Columbus menjejakkan kaki di benua baru. Ketika dua menara kembar hancur lebur dihantam dua burung besi.

Cinta datang bersama derita. Tidak untuk sekedar mencerca, tapi hanya untuk meminta. Dan yang dicari adalah pengorbanan untuk yang paling dirasa, yang paling dijaga.

Kulakukan seribu untuk yang satu. Kuketuk pintu rumahmu, kumohon, bukalah itu.

Tak kau buka pintu itu. Bukan, tapi belum, ujarku optimis. Dan aku terjaga di depan pintu rumahmu, yang selalu tertutup. Menunggu sampai pintu itu terbuka sepenuhnya, dengan kau menyambutku bagai seorang puteri bertemu dengan pangerannya. Sungguh kutunggu masa itu.

Orang bilang aku gila. Aku memang tergila-gila padamu.

Sabtu, 14 Juni 2008

Ketika 13 dan 4 Kehilangan Daya Magisnya

Hampir semua orang di seluruh dunia menghindari angka 13, angka yang dianggap bakal membawa kesialan. Makanya jarang ada hotel yang menyediakan lantai 13 atau kamar 13. Sungguh ironis. Di zaman modern seperti sekarang ini ternyata masih banyak orang yang percaya takhayul.

Beda lagi di Jepang dan Cina. Di sini angka yang paling dihindari justru adalah angka 4. Alasannya pun cukup menggelikan. Di Jepang, 4 dilafalkan sebagai "shi" yang bisa juga berarti mati. Sama juga di Cina. Bahasa Cina untuk angka 4 adalah "se" yang juga berarti mati. Kalau alasan ini bisa diterima logika berarti aku harus sering-sering menghindari kata "untung" karena aku takut dengan binatang melata. Laba-laba.

Atas nama logika dan kecerdasan berpikir yang seharusnya dimiliki oleh semua manusia di muka bumi ini. Dengan segenap kecemasanku terhadap pengaturan pola pikir macam ini yang hanya akan membodoh-bodohi bangsa. Tolong, stop penyebaran takhayul.

13 dan 4 bukan angka sial.

Lihat saja nomor peserta Ujian Nasional-ku.


04-044-013-4.

Dan aku lulus. Ah, aku memang tak pernah percaya takhayul.

Alhamdulillahi robbil 'alamiin. Hanya syukur yang pantas kuucapkan. Tapi bukan syukur karena telah terlepas dari jerat kesialan angka 13 dan 4. 13 dan 4 sama sekali bukan angka sial. 13 dan 4 justru adalah angka mujur, jika kau menganggapnya demikian.

Jumat, 13 Juni 2008

Ketika Kenangan Mengusik

Hal terjauh dari kita adalah masa lalu. Karena kita tidak akan pernah bisa pergi kembali ke sana, walau dengan kendaraan apapun.

Sementara setiap memori, ingatan, dan kenangan akan selalu lekat pada kita. Dan itu membuat kita dapat menengok ke masa lalu, tapi tidak untuk kembali sepenuhnya.

Rintangan hidup bagaikan sebuah permainan. Di mana tiap-tiap langkah mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Dan yang kurasakan tingkat kesulitan itu akan selalu bertambah. Seakan-akan hidup ini tidak akan pernah memberi kesempatan pada kehidupan untuk berleha-leha.

Dan kita tidak punya pilihan lain. Kita harus mengikut arus hidup itu untuk bertahan di dunia.

Tidak ada gunanya untuk mencoba lari dari masalah. Siapa yang bisa jamin tidak akan datang masalah baru? Bahkan bisa saja masalah baru itu datang dengan bentuk yang lebih rumit.

Menghindar bukan jalan yang terbaik. Yang bisa kita, atau aku, lakukan adalah mengikuti arus, dan terhanyut di tempat yang sudah ditentukan takdir.

Kau punya banyak pilihan dalam hidup ini. Takdirmu tidak akan terwujud jika kau sendiri tidak berusaha mewujudkannya. Takdir bukanlah hadiah, tapi jaminan.

Dan tidak ada yang bisa kulakukan kini. Aku hanya bisa berlari, dan terus berlari.


Seperti itu. Seperti aku. Seperti dulu.

Pelajaran dari Semut

Pagi ini aku banyak menemukan kekerabatan. Bukan antarmanusia, tapi antarsemut.

Kerumunan semut itu kulihat di berbagai tempat. Ada yang berada di lidah sendok yang masih berlumuran madu, di remahan makanan yang berserakan di lantai, di keramik-keramik, dan berbagai tempat lainnya yang sangat tersembunyi. Sangat banyak.

Aku tahu semut merupakan salah satu hewan yang hidup dengan berkoloni. Tapi koloni macam apa? Apakah mereka menyebut tiap koloni sebagai "negara"? Adakah satu koloni dengan koloni yang lainnya saling bersahabat? Atau justru saling bermusuhan? Apakah tiap koloni dipinpim oleh satu semut yang menjabat sebagai presiden? Yang membimbing mereka menuju jalan terbaik, dan bukannya malah sekedar mengendalikan?

Ada sebuah studi yang meneliti tentang kecerdasan kerumunan. Di mana mereka yang merupakan "anggota" kerumunan sangat bergantung pada populasinya karena sebagai individu mereka sangatlah rapuh. Seperti yang bisa dilihat pada semut.

Jika kau melihat gerombolan semut yang berjalan, mereka akan terlihat sangat cerdas. Mereka tahu mana jalan yang harus ditempuh untuk mencapai makanan. Mereka tahu mana tempat yang aman untuk membangun sarang. Mereka tahu daerah mana yang tidak boleh didekati karena berbahaya. Mungkin ini terjadi karena dorongan insting, dan uniknya insting itu hanya bekerja jika semut-semut itu bergerombol layaknya satu individu utuh yang terdiri dari berjuta-juta sel.

Sebagai koloni, semut adalah jenius, namun sebagai individu semut hanyalah musuh paling rapuh. Cukup satu jari, kau sudah bisa menghabisinya, atau memain-mainkannya terlebih dahulu.

Perlu diketahui, dalam koloni semut tidak ada yang memimpin. Kecerdasan koloni semut terjadi karena interaksi, bukan bimbingan. Dan interaksi semut hanya berupa sentuhan dan bau. Sangat sederhana.

Inilah yang dinamakan kecerdasan kelompok. Yang timbul dari makhluk sederhana dengan aturan yang sangat sederhana. Dan ini berjalan, bahkan dengan sangat efektif, jauh lebih efektif dari yang dilakukan kita sebagai manusia.

Makhluk yang lebih kompleks dengan aturan-aturan yang sangat kompleks tidak mampu menghasilkan kecerdasan kelompok seefektif makhluk sederhana dengan aturan-aturan yang sangat sederhana.

Apakah yang membuat segala kekacauan dan ketidaksesuaian ini justru karena aturan yang terlampau kompleks tersebut? Tidak bisakah kita untuk lebih menyederhanakan aturan tersebut? Dengan mencontoh apa yang dilakukan oleh semut?

Sebenarnya sumber dari segala aturan di dunia hanya satu. Nurani. Tapi manusia yang punya akal tidak ingin hanya nurani yang bertindak, setidaknya akal juga harus ambil bagian. Sedangkan semut tidak punya akal, jadi wajar jika mereka hanya mengandalkan nurani hewani yang bernama insting.

Dan semut mampu hidup rukun, setidaknya selama mereka berada di meja makan atau tempat gula, dengan hanya mengandalkan insting. Jadi apakah akal manusia yang salah? Atau manusia sekarang terlalu mengandalkan akalnya tanpa memperdulikan nurani lagi?

Kurasa jawaban ini musti kita renungi bersama.