Jumat, 16 Desember 2011

Terlanjur

Sejak awal, aku tidak mengharapkan hari ulang tahunku bakal menjadi hari yang istimewa. Justru, dengan menjadi hari yang biasa-biasa saja, aku bisa menangkap momen-momen membahagiakan yang memang selalu menyertaiku di waktu-waktuku selama ini. Dan lagi, kebetulan, hanya ada satu hal buatku yang bisa menjadikan sebuah hari menjadi istimewa.

Sebutlah satu hal ini adalah impian. Dan aku sama sekali tidak punya bayangan akan dekat atau jauh impian ini dari gapaianku, seperti mimpi Gadjah Mada untuk mempersatukan Nusantara atau mimpi John Lennon tentang ketiadaan surga.

Impian ini pernah terasa begitu dekat. Ketika itu, aku merasa ada dukungan dari alam semesta dalam membantuku untuk memperjuangkan impianku sehingga impian tersebut terasa mudah untuk digapai. Meskipun, pada faktanya, dengan bantuan semesta pun proses penggapaian yang harus kulalui tetap tidak semudah itu.

Lalu ada sesuatu yang aneh, dan cukup tiba-tiba. Seakan-akan semesta berbalik memalingkan mukanya dariku, menjauhkan langkahnya dariku, dan menolak untuk membantuku lebih jauh. Jika ditanya alasannya, tentu saja aku tak tahu. Justru, jika aku tahu, mungkin itu adalah satu-satunya hal yang benar-benar butuh untuk kuketahui. Atau mungkin juga tidak. Yang jelas, perubahan sikap semesta ini cukup ganjil.

Ketika alam semesta seakan-akan meninggalkanku, yang kurasakan adalah kehilangan yang amat sangat. Seakan sebuah impian yang benar-benar kudambakan (dan memang tidak bisa lagi aku lepas, mungkin dengan alasan apapun) menjadi sirna karena ketidakjelasan. Dan jika ada satu pertanyaan yang hendak kuajukan, kerongkongan ini tertahan untuk menyampaikan setiap kata. Seolah-olah kata-kata tidak lagi berfungsi sebagai penyampai pesan. Seolah-olah kata-kata hanyalah menjadi media pelampiasan kepada hasrat yang tak terpenuhi. Bagaimanapun juga, rasa ini tidak bisa hilang begitu saja. Mungkin rasa ini bakal tetap tinggal selamanya. Sejauh pengalamanku dalam jatuh cinta, rasa itu tidak pernah benar-benar hilang.

Sekarang keadaannya bertambah rumit. Dan aku pun pusing menanggapinya bagaimana. Yang dulu, entah kenapa sangat kusayangkan hilang begitu saja. Tapi ada satu yang ingin kusampaikan: rasa ini masih tetap ada. Mungkin bakal selalu ada. Karena aku telah terlanjur jatuh cinta. Dan, iya, impian ini memang tentang cinta.

Yang jelas, aku rindu saat-saat yang telah berlalu dan masih berharap agar saat-saat tersebut kembali berulang. Jika sudah berulang, yang kuharapkan selanjutnya adalah bertahan hingga selama-lamanya.

Jumat, 07 Oktober 2011

Mimpi yang Sama

Malam terlalu sunyi, makanya aku memutar Mogwai. Mereka bisa membuat keadaan sedikit lebih berisik.

Bukannya aku tak nyaman dengan kesunyian. Dulu, aku adalah pengagum kesunyian, namun, sekali lagi, itu dulu. Sekarang, kesunyian justru lebih banyak menyiksaku. Agaknya kesunyian telah bertransformasi menjadi ketidakmampuan untuk tidak merasa sendiri. Dan ketidakmampuan, kata itu, sungguh menyiksaku.

Letters to the Metro milik Mogwai mulai menggaung, menabrak-nabrak dinding kamarku, menjadi sebuah kombinasi yang disebut nada. Lagu yang kalem, menjadikan suasana berisik yang kudambakan tak sepenuhnya terpenuhi.

Hal-hal banyak terlihat sederhana, namun sesungguhnya tidak. Mereka saling berkait satu sama lain, membentuk simpul berbelit yang hanya bisa dilepas oleh seorang yang ahli, layaknya Pramuka yang mahir membuat tandu dari tambang dan dua bambu.

Lantas, ahli macam apa yang bisa membantuku dalam membuka simpul berpilin yang serbaruwet ini? Nah, ini juga menimbulkan masalah baru. Sang Ahli bukanlah seperti dukun beranak yang bisa ditemui kapan saja ketika istrimu hendak melahirkan. Sang Ahli lebih seperti kebetulan. Dia tak bisa dipanggil, juga tak bisa dibuat janji bertemu. Dia datang tiba-tiba seakan-akan muncul karena kuasa alam. Padahal, ada yang mengaturnya. Dialah yang disebut Sang Ahli. Sang Ahli ini sering disebut manusia sebagai Tuhan.

Karena serumit apapun masalah yang dihadapi manusia, seharusnya itu semua adalah wajar untuk dilalui. Manusia lebih sering membesar-besarkan masalah daripada mencoba untuk mengatasinya. Jadi, jangan salahkan siapa-siapa jika banyak urusan terbengkalai. Terlalu banyak sesi untuk meratap, merenung, atau menangis. Emosi memang harus diberi porsi, namun dia juga tidak boleh makan terlalu banyak. Bahaya jika dia menjadi kegendutan. Rakus bukanlah pertanda yang baik.

Dan pada akhirnya, aku bisa saja sadar. Lalu, ketika momen semacam ini datang lagi, aku bisa saja kembali lupa. Manusia memang makhluk yang pelupa. Dan mungkin beruntung manusia diciptakan seperti itu. Melupakan membuat manusia bisa bahagia kembali setelah ditimpa musibah kemarin sorenya.

Daripada mempermasalahkan emosi manusia yang tidak stabil (atau otak manusia yang terlalu banyak lupa), lebih baik manusia menggantungkan harapannya kepada Tuhan (yang katanya akan mendengar setiap doa). Siapa tahu, jalan yang sudah nyaris tertutup bisa terbuka lagi. Membuat seberkas cahaya muncul kembali dan menerangi harapan. Lalu, ketika itu terjadi, dunia seakan terlahir baru ... dan manusia merasa senang untuk kembali bermimpi. Walau untuk mimpi yang sama.

Minggu, 21 Agustus 2011

Asumsi

Di dunia yang penuh dengan tabir misteri ini, tidak semua rahasia dapat kita singkap di balik gelambirnya. Tak ada yang benar-benar tahu, mekanisme apa sebenarnya yang berada di balik ini-itu. Tuhan saja yang bermain monopoli atas semua ilmu pengetahuan. Selebihnya, manusia hanya bisa bermain asumsi.

Seharusnya, asumsi muncul karena keterbatasan daya jangkau. Namun, muncul kecenderungan ganjil: manusia seakan hebat jika mampu membuat asumsi.

Kala asumsi dibuat, kekosongan akan ilmu yang tadinya bolong-bolong seakan terisi. Membuat yang seharusnya nihil menjadi tak muskil.

Sekarang, manusia itu seakan tahu segalanya.

Tapi, tahu segalanya belum tentu lebih baik. Karena bagaimanapun juga, asumsi tetaplah lahir dari ketidaktahuan: asalnya hanya dari sebuah ketiadaan. Kelemahan coba disulap menjadi sebuah kedigdayaan.

Padahal seharusnya manusia lemah ketika terlalu banyak bermain asumsi.

Dan ketika semua hanya diterka-terka, dikira-kira; yang tersisa hanyalah ketidakpastian. Karena yang pasti hanya digenggam oleh Tuhan. Maka, pada genggaman Tuhan itulah hidup kita bergantung. Termasuk tentang perihal cinta.

Rabu, 17 Agustus 2011

Atas Nama

66 tahun yang lalu, beberapa orang dengan gagah berani menyatakan sikap. Sebuah pernyataan sikap yang tidak hanya melibatkan diri sendiri, tapi juga ikut menyeret nama orang-orang lain—yang padahal tidak ikut serta merumuskan pernyataan sikap tersebut. Mereka mengambil asumsi nekat bahwa bangsa sudah sepakat: menjadi orang-orang jajahan adalah menyedihkan, makanya jalur kemerdekaan harus diraih. Lalu ditulislah di atas dokumen resmi pernyataan sikap tersebut: "Atas nama bangsa Indonesia"—seakan-akan satu persatu orang di negara ini pernah ditanyai pendapatnya.

Lantas kita yang berada di sini—di negara yang dibangun atas asumsi hebat 66 tahun yang lalu—berada pada posisi terombang-ambing: terjebak atau tidak. Mungkin wajar jika banyak anak muda menjadi bingung ketika dituntut untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan bangsa ini (sementara belum tentu ada kata sepakat), walaupun pernyataan sikap dibuat "Atas nama bangsa Indonesia".

Kemerdekaan bangsa ini jelas adalah permainan dari segelintir orang, dan memang mustahil negara ini dibangun atas kesepakatan seluruh rakyat—tidak ada gedung yang muat menampung seluruh rakyat negara ini untuk menggelar rapat bersama. Namun, "sikap" selanjutnya setelah "pernyataan sikap yang mengatasnamakan mereka yang belum tentu setuju" justru adalah yang terpenting. Karena kemerdekaan adalah proses, begitupun juga dengan negara. Negara bukan seperti orok yang lahir karena embrio telah matang dan siap menjadi makhluk hidup. Negara adalah sebuah istana pasir yang dibangun bersama-sama: jika ada yang berniat untuk menghancurkan istana pasir tersebut, maka hancurlah istana pasir tersebut.

Lalu 66 tahun telah dilalui negara ini. Melihat angka 66, rasanya cukup adil jika ada yang berpendapat bahwa negara ini tidak lagi berdiri karena proses yang prematur. Peristiwa demi peristiwa turut membangun jiwa besar republik. Begitu juga dengan pemikiran. Yang bermula dari pemikiran seorang, bisa berkembang jadi pemikiran satu negara. Tidak perlu pernyataan tertulis "Atas nama bangsa Indonesia". Legitimasi bisa terepresentasi melalui karakter, dan karakter bangsa tecermin melalui karakter rakyat-rakyatnya.

66 tahun sudah, dan bangsa ini masih terus tumbuh. Ditempa oleh setiap hantaman godam peristiwa dan pemikiran, menjadikannya semakin dewasa saat bangsa ini terpuruk maupun bangkit setelah memetik pelajaran. Dan dengan melihat angka 66, seharusnya cukup adil jika bangsa ini disebut tidak lagi dibentuk melalui proses yang prematur.

Kemerdekaan seharusnya bukan melulu soal teks proklamasi yang penuh dengan kesederhanaan sekaligus ketidakjelasan. Penentuan nasib negara kepada naskah yang isi intinya hanya terdiri dari dua paragraf bukan mengartikan bahwa negara ini dibangun asal-asalan. Proklamasi hanyalah momentum, dan kemerdekaan yang sesungguhnya seharusnya adalah proses setelahnya.

Terjebak atau tidak, semoga kita dengan sukarela siap bergabung dalam pernyataan "Atas nama bangsa Indonesia". Dengan demikian, bapak-bapak bangsa kita yang awalnya hanya bermain asumsi bisa membuktikan bahwa mereka benar: bangsa ini butuh merdeka.

Sabtu, 09 Juli 2011

Gulita

Malam menjelma kelam. Menutupi terang dari kepastian harapan. Menampakkan hanya yang tak tampak. Menjalari rasa yang tak menentu pada hati yang gundah gulana.

Malam itu tadinya penuh harapan, layaknya bunga-bunga yang baru saja berkembang. Tumbuh menjadi sesuatu yang terus bercabang dan jumlah yang semakin tak terbilang. Namun satu menjadikannya layu, walau tidak pupus seutuhnya.

Gulita memenjara hati dan indera: seakan-akan tembok tinggi dan tebal langsung menghadang di sekeliling, membuat yang ada di dalamnya terjebak tidak bisa keluar. Buat hati, itu adalah rasa yang begitu pedih.

Dan rasa itu muncul ketika gelap berada di tengah malam! Padahal tengah malam adalah waktu yang paling menyendiri. Saat ketika sepi menguasai singgasana kalbu.

Malam itu, gulita kembali menyelimuti. Lebih pekat daripada yang biasanya tampak. Terlalu gelap, terlalu gelap.

Malam itu, gulita terlalu berkuasa. Tidak hanya pada sekeliling (yang membuat indera tidak bisa banyak berbuat), namun juga buat hati.

Seharusnya, malam itu satu cahaya harapan bisa tumbuh. Namun ada yang meniup cahaya itu, membuat gulita kembali berkuasa.

Setelah cahaya itu lenyap, yang kulakukan hanyalah duduk terdiam sambil menunggu terang kembali.

Selasa, 21 Juni 2011

Memori dan Peluang

Aku bahkan lupa bagaimana aku bisa sampai jatuh hati padamu.

Diawali dengan perkenalan, sebuah perkenalan biasa (di hari yang biasa pula), kemudian berlanjut ke fase berikutnya: saat begitu banyak detik dilalui dengan memikirkanmu. Membuat banyak kegiatanku yang lain tertunda, atau tidak dapat tuntas dengan maksimal, karena prioritasku bergeser. Dan itu gara-gara kamu seorang!

Namun, bukannya aku mau mengumpat. Aku tidak sedang menyalahkanmu karenanya. Semua itu jelas bukan salahmu. Bahkan aku pun tak tahu: ini salah siapa? Karena pikiran ini yang sering meloncat tiba-tiba, memunculkan memori-memori yang terkenang tentangmu. Tidak banyak memori detail, tapi gambaran umum saja sudah cukup banyak membuka rasa. Aku bagai diperbudak oleh memori.

Dan aku sendirilah yang menciptakan memori tersebut! Atau bukan (karena tidak dapat disebut begitu). Tuhanlah yang menciptakan memori, aku hanya terlibat di dalamnya. Aku dan kamu. Membuat hari-hariku lebih berwarna, atau malah jadi tambah suram. Benar, tidak selalu memori membawa kebahagiaan.

Lalu kenapa kamu yang muncul? Bukankah dalam pikiran ini, tersimpan jutaan memori lain tentang apapun itu, tidak melulu itu tentang kamu, tapi kenapa yang muncul selalu kamu?

Lagi-lagi, aku tidak bermaksud mengumpat. Aku hanya ingin meluapkan kegelisahan ini karena hanya memori yang selalu terungkap. Padahal, aku berharap untuk dapat menciptakan peluang untuk membuat sesuatu lain yang nyata sehingga nantinya itu dapat menambah daftar memori yang telah terekam di pikiran ini tanpa pernah mati. Setidaknya, selama otak ini masih sehat.

Lalu, muncul pertanyaan: hal-hal semacam apakah peluang itu? Sejujurnya, aku pun tak tahu. Aku belum tahu.

Minggu, 05 Juni 2011

Bayangan di Resepsi Pernikahan

Kemarin aku menghadiri acara resepsi pernikahan seorang anak dari kerabat ayahku. Aku tidak mengenal kedua mempelai, namun aku turut berbahagia untuk mereka berdua. Semoga pernikahan mereka dapat bertahan terus hingga maut memisahkan, dan darinya dapat terbentuk sebuah keharmonisan keluarga yang sakinah.

Sempat kulihat foto mereka saat melaksanakan akad pernikahan. Wajah mereka berdua berseri. Tentu saja, itu adalah hari yang bahagia untuk mereka berdua.

Seketika pula—entah karena alasan apa—sempat terlintas bayangan seorang perempuan dengan baju pengantin. Seorang perempuan yang kukenal. Dia juga tampak berseri—dalam alam khayalku.

Aku senang membayangkannya demikian. Sampai—lagi-lagi seketika—muncul pertanyaan dalam benakku: Siapa yang bakal jadi pengantin prianya?

Setelah itu, aku tidak mau meneruskan khayalanku.

Jumat, 03 Juni 2011

Hanya Sebagian, tapi Sudah Beda

Lelaki : Bahkan aku belum lagi tahu namamu.
Perempuan : Tapi aku tahu namamu. Benarkah kau tidak tahu namaku?
Lelaki : Hanya sebagian yang kutahu.
Perempuan : Kau tahu namaku hanya sebagian, tapi kau sudah membedakan aku dari yang lain.

Kudengar pada pementasan teater "Visa", Teater Salihara, Jumat (3 Juni 2011). Dialog ini ditulis dengan hanya mengandalkan ingatan, jadi sangat mungkin terdapat perbedaan (kecil) dari naskah aslinya.

Entah kenapa, aku merasa adegan ini seperti dibuat untukku. Kisahnya mirip dengan satu momen yang pernah kualami.

Minggu, 29 Mei 2011

Tumpah!

Ada rasa yang ingin menyeruak keluar! Dari tempatnya yang tadinya tertutup rapat. Menyembur karena tekanan yang terlalu tinggi dari dalam. Dan selubung yang menghalangi tak lagi cukup kuat untuk menghadang.

Rasa itu meletup begitu saja! Tak lagi bisa dikontrol. Bagai peluru kendali yang kehilangan pilot, atau bom waktu yang kehilangan detonator.

Tumpah! Berhamburan ke mana-mana. Akibat rasa yang sudah begitu penuh. Diisi oleh harapan, kebahagiaan, dan tanggapan.

Sekarang aku sedang menata kembali rasa ini. Agar yang sudah berantakan bisa kembali tertata.

Karena terlalu bahagia bisa membuat kita lupa.

Dan hidup harus selalu diisi dengan waspada. Jangan sampai yang positif malah membuat kita lupa diri.

Senin, 04 April 2011

Anggadya Ramadhan

Mungkin kalian yang membaca tulisan ini mengenalinya, atau juga tidak. Dia adalah teman dan salah satu teman terbaikku selama ini.

Pagi ini, 4 April 2011, Tuhan memanggilnya kembali. Meninggalkan banyak manusia yang sayang kepadanya. Tepat sehari setelah hari ulang tahunnya tanggal 3 April.

Kebanyakan teman memanggilnya Angga. Namun, aku memanggilnya dengan panggilan lain: Gadya. Ada dua alasan untuk ini: (1) karena akhiran -dya pada namanya adalah sesuatu yang unik dan baru sekali kutemukan; (2) agar panggilannya diawali huruf G, sama sepertiku. Tidak cukup beralasan memang, tapi dia tidak pernah protes kupanggil demikian. Malahan, panggilan ini menjadi populer di kemudian hari.

Kami menempuh studi di SMA yang sama, dan ditempatkan selama dua tahun di kelas yang sama. Rumah kami cukup dekat, menjadikannya alasan kuat untuk pulang bersama hampir setiap hari.

Selepas SMA, kami berdua mempunyai minat yang sama akan jurusan yang diambil ketika kuliah: Teknik Sipil. Sayangnya, kami harus terpisah institusi. Aku di ITB, Bandung; sementara dia di ITS, Surabaya.

Walau sudah terpisah sekolah, banyak kenangan masih tertinggal. Salah satu yang paling membekas: kenangan menonton bareng di stadion, apapun itu cabangnya. Bisa sepak bola, voli, atau bulu tangkis. Kami berdua gila akan menonton langsung pertandingan olah raga di stadion. Entah berapa pertandingan kami saksikan, mulai dari partai yang rusuh sampai yang garing, dari pertandingan kelas internasional hingga kelas lokal.

Yang tak mungkin terlupa tentangnya adalah sosoknya yang cerdik dan cerkas. Pernah suatu ketika kami dan teman-teman yang lain pergi ke masjid untuk salat Jumat, dia melarang yang lain untuk membeli koran eceran yang dijual untuk dijadikan sebagai alas salat. Melihat kondisi masjid yang sudah penuh, kami tentu bingung, tidak ada yang bawa sajadah. Dia menyuruh yang lain untuk membeli koran nasional terbaru. Harganya memang lebih mahal sedikit, namun lembarnya puluhan kali lebih banyak. Lagipula, beritanya masih layak dibaca.

Dia juga selalu berhasil menjadi penunjuk jalan yang baik. Ketika tersesat, dia selalu dapat diandalkan untuk mencari jalan keluar. Dan bagiku dia seperti selalu tahu akan rute bus, di manapun itu berada.

Selain itu, aku belum lupa akan insting pengambilan keputusannya. Suatu hari, kami sedang menaiki sebuah bus. Di bilangan Kebayoran Lama, naiklah sekelompok penumpang yang menunjukkan gelagat aneh: mereka menawari jasa pijat dengan agak memaksa. Aku dan teman yang lain yang sudah terpojok posisinya oleh mereka, langsung dikomandoi dia untuk turun. Untung saja, setelah itu banyak kasus pencurian di kendaraan umum dengan modus pijat untuk menciptakan mati rasa pada saraf.

Terakhir kali aku bertemu dengannya pada hari Sabtu tanggal 6 November 2010. Pada hari itu, kami berdua sedang mendukung perguruan tinggi kami masing-masing dalam kompetisi pembuatan jembatan tingkat nasional yang diselenggarakan di sebuah institusi pendidikan di Jakarta. Setelah itu, aku belum pernah lagi bertemu dengannya.

Dan kemarin, di hari ulang tahunnya, aku lupa memberinya selamat. Jangankan memberi selamat, tanggal ulang tahunnya saja aku lupa.

Terlalu banyak cerita yang bisa ditulis tentangnya, dan tak mungkin kutulis semuanya di sini. Setidaknya, ada beberapa yang bisa kubagikan kepada kalian sehingga kenangan tentangnya tak akan sepenuhnya hilang. Terkikis oleh zaman yang selalu bergulir.

Di pagi ini, banyak orang pasti sedang mengenangnya. Mengenang tawanya, kepribadiannya, atau sekedar tingkah jahilnya. Yang jelas kami semua menyayanginya.

Selamat tinggal, Kawan. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik.

Jumat, 04 Maret 2011

Mei dan Minke

Ang San Mei : Mengapa kau pandangi aku sampai begitu?
Minke : Bukan salahku.
Ang San Mei : Aku yang salah?
Minke : Ya. Kau yang salah. Kau terlalu menarik.

(Diambil dari roman Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer.)

Kamis, 03 Februari 2011

Hujan, Pagi, dan Harapan

Hujan membuat pagi itu basah. Menjadikan jalan-jalan becek, mengotori celana dan rok para pejalan kaki karena cipratan airnya. Apalagi bagi mereka yang memakai sandal capit.

Hujan datang bukan tanpa alasan. Selalu ada penjelasan, namun manusia tak selalu harus tahu. Walau mereka selalu menuntut untuk tahu. Padahal belum tentu pengetahuan selalu merupakan hal yang baik.

Hujan datang membawa hoki. Hujan datang membawa berkah. Hujan itu sendiri sudah merupakan sebuah berkah.

Dan pagi masih terus berlanjut. Hari akan terus berjalan, dan pagi hanya mengisi sebagian darinya saja.

Hari ini, ribuan harapan tercurah. Meroket ke angkasa tinggi, terus dipanjat sampai gaya tarik tak lagi punya pengaruh.

Karena sesungguhnya, harapan tak punya bobot. Harapan (seharusnya) lebih ringan dari kapas, namun padat melebihi logam manapun di dunia.

Hari ini, seperti hari-hari yang lain, ribuan atau jutaan atau berapa banyakpun harapan kembali tercurah.

Harapan tersebut muncul dari berbagai penjuru: dari teras wihara yang baru saja disapu, dari trotoar jalan yang belum lagi kering, dan dari kamarku yang kebetulan tak (terlalu terasa) sepi pagi ini.

Dan kesemuanya menuju satu tujuan yang sama.

Senin, 17 Januari 2011

Kalut

Selemah ini raga jatuh tunduk
untuk rasa yang entah apa, tak jelas wujud bentuk

Serapuh ini diri dibuat goyah
atau mungkin hanya aku yang memang payah
seperti kebiasaan kalah akibat menyerah

Segalau ini hati merana
mencari-cari apa yang sebenarnya tak sirna
Terlanjur berhuni kepada yang belum sepenuhnya nyata

Sebesar ini angan berharap
seperti prajurit menanti dari posisi tiarap
tabah menunggu aba-aba dengan sigap

Sejauh ini jiwa melompat
merasakan hal-hal yang dulu tak sempat,
atau terlambat
Terkejut sambil banyak doa terus dipanjat

Seluas ini kesempatan terbuka
bagai main bola di lapangan desa:
Tendang sini, tendang sana
Gol! Teriakan mengudara:
Seperti haruku kepada keindahan dunia

Segelap ini misteri tertutup
Tersembunyi, bagai tersimpan dalam ruang yang mengatup
Tidak bebas berkeliaran layaknya udara yang kita hirup

Serapi ini Tuhan bercerita,
walaupun babak ini belum seberapa,
tapi tetap: Pilihan adalah hak penuh manusia

Sabtu, 15 Januari 2011

Mentari Masih Sendiri

I

Mentari masih sendiri
Tak punya kawan yang menemani

Mentari masih sendiri
Bertarung melawan sepi
Membinasakan kekosongan yang melanda
Menjaga agar diri tetap ada

Mentari masih sendiri
Sudah begitu sejak dahulu
Dengan jumawa, kokoh berdiri
Padahal hati selalu diiringi haru

Mentari masih sendiri
Mentari selalu sendiri

Angkasa dikuasainya
Semua gaya direnggut karena wujud yang raksasa
Benda langit mana yang tak tunduk pada kedigdayaannya?
Yang tak mampu ditandingi oleh siapa jua

Dan kini, angkasa bergetar,
mentari marah!

Mentari mencari kawan
yang selalu tak ada sejak bumi masih hanya dihuni hewan

II

Putra Adam tak kenal siapa dia
Bulat besar, terletak jauh di atas
Jelaslah, dia bukan teman

Putra Adam bertanya-tanya
Membuat asumsi karena tak tahu
Mempertontonkan kepada sesama untuk terlihat cerdas,
dengan teori yang sebenarnya tak lebih dari tipu

Putra Adam mengagungkannya
Menyembahnya atas sinar terang yang menyilaukan
Sebelum Nabi akhirnya datang membawa banyak cerita

Dan seketika mereka semua disuruh bertobat

"Maafkan kami, Yang Maha Agung!"

III

Mentari selalu menyala
Membagi hangat selagi ajal belum tiba
Si Besar Jumawa juga punya batas usia
Tapi waktu masih belum seberapa

"Oh, Yang Maha Agung! Engkau ciptakan aku sendiri,
adakah maksud itu untuk membuatku mandiri?
Oh, Yang Maha Agung! Engkau buat aku tak punya kawan,
tapi bolehkah aku melawan?"

Mentari masih sendiri
Sampai zaman mencapai batas keteraturan
Berharap pada Putra Adam lagi-lagi buat asumsi:
Setiap diri, punya kebalikan

Mentari masih sendiri
Mentari butuh teman berbagi

Jumat, 14 Januari 2011

Pagi

Segala puji bagi Tuhan yang telah menjadikan sosok pengawal hari dalam wujud pagi, sesuatu yang damai, tenteram, dan—seharusnya—tanpa pertumpahan darah.

Pagi selalu diisi dengan suara-suara dari burung yang berkicau. Menyanyi dengan indahnya, walau tak seorangpun tahu apa liriknya. Mengeluarkan senandung termerdu, lebih dari biduan manapun yang pernah ada di dunia ini. Jika ada kontes menyanyi dari seluruh makhluk Tuhan, aku yakin burung akan menjadi pemenangnya. Mutlak.

Mengawali harus dengan sesuatu yang baik. Karena awal biasanya menjadi kunci untuk seterusnya. Manusia cenderung lembam. Oleh karena itu, awal haruslah seagung mungkin. Dilakukan sambil berharap akhir bakal mengikuti, atau malah melebihi.

Tuhan menciptakan pagi bukan tanpa alasan. Tuhan membuat pagi bukan hanya untuk dilewati begitu saja. Di antara setiap waktu yang diciptakan-Nya, aku paling menikmati pagi.

Pagi memberi semangat untuk memulai, karena pagi adalah saat yang pas untuk mulai membuka mata. Pagi adalah saat yang cocok untuk mulai menggerakkan badan, menjemur diri di tengah siraman sinar matahari yang katanya punya banyak khasiat. Pagi juga merupakan saat yang tepat untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Udara segar bakal kaudapatkan, setelah kehidupan sempat berhenti sepanjang malam untuk alasan yang katanya dinamakan istirahat.

Pagi adalah awal. Terlebih lagi, pagi adalah awal yang sempurna. Namun, sayangnya, pagi sering diacuhkan.

Sungguh malang bagi mereka yang mengacuhkan pagi.

*

Di suatu pagi, aku sudah siap mengawali hari. Baru membuka mata, sudah terbayang satu bayangan di kepalaku. Dia. Tapi itu hanya ada di kepalaku. Entahlah. Apakah suatu saat nanti, dia bakal benar-benar mengisi pagiku sambil mengamatiku terbangun dari lelapku dengan gigi bertabur jigong dan mata berhias kotoran mata—keadaan paling berantakkan dari yang mungkin kutampakkan—atau tidak.

Kamis, 06 Januari 2011

Cantik

"Lihat. Ada wanita cantik di samping sana." Penasaran dengan bentuk rupanya, kutelusuri arah yang dimaksud si pembicara. Ketika wanita tersebut telah tertangkap oleh kedua bola mataku, aku hanya mendapatkan sesosok wanita yang biasa saja.

*

Sejak awal, aku sering punya pendapat yang berbeda dari orang kebanyakan tentang cantik. Orang kebanyakan memang biasanya punya "ukuran" cantik yang tidak jauh beda. Ukuran tersebut seakan menjadi standar dalam menentukan kualitas seorang wanita.

Jauh di lubuk hatiku, aku tidak sependapat dengan mereka.

Kenapa harus ada cantik yang disepakati jika setiap orang punya rasa? Haruskah seluruh dunia ini berkiblat pada satu mode yang sama? Memuja satu wanita yang sama padahal masih ada jutaan wanita lainnya yang juga siap untuk dibuahi untuk kemudian menghasilkan keturunan.

Mungkin sejak dulu kecantikan telah diperdagangkan. Nafsu manusia yang menggebu-gebu untuk melakukan seks telah mendorong mereka untuk berlomba-lomba dalam mencari yang "terbaik". Di sini, pria, yang biasanya memegang peran yang lebih tinggi sebagai penguasa atau orang yang lebih kuat, saling beradu. Mereka saling menunjukkan kekuatannya, kegagahannya, atau kecerdikannya untuk mendapatkan wanita yang terbaik. Tak jarang, perebutan wanita ini mengakibatkan perang pada akhirnya.

Ribuan nyawa melayang hanya untuk memperebutkan satu wanita.

*

Begitu istimewanya wanita sampai dia begitu diperebutkan dengan agung. Sebuah kerajaan terbesar sekalipun dapat hancur dalam sekejap hanya karena terbuai oleh pesona dari seorang wanita. Yang diceritakan dalam dongeng-dongeng itu benar, pria kuat dan kokoh bisa dibuat kalut sehingga menjadi lemah dan rapuh oleh seorang wanita.

Wanitalah yang memegang kunci dari pria, dengan segala pesona yang dia miliki. Seorang pria, pasti bergantung pada—minimal—seorang wanita.

Padahal seharusnya wanita dan pria adalah sepasang yang saling melengkapi. Bukankah Hawa diciptakan karena Adam mengeluh kesepian?

Dan jikalau setiap insan di dunia sudah mempunyai takdirnya masing-masing (termasuk pasangannya masing-masing), kenapa kita semua masih berlomba-lomba menuju arah yang sama? Menuju wanita yang sama?

*

Mungkin benar, setiap dari pria dan wanita telah diciptakan secara berpasang-pasangan, walau jumlah pria dan wanita di dunia ini tidaklah sama.

Aku sering bermimpi tentang hari pernikahanku. Entah bagaimana kelangsungannya nanti, tapi aku sungguh mendambakan kedamaian yang menyertaiku di hari itu.

Setiap wanita cantik dengan caranya masing-masing. Sayangnya, banyak wanita yang tertipu dengan kecantikan palsu yang dibawa oleh wanita-wanita lain. Mereka pikir, dengan menjadi seperti wanita lain, mereka bisa ikut menjadi cantik, padahal yang mereka dapatkan hanya kecantikan yang menipu. Mana yang lebih indah: emas asli atau emas imitasi?

Kecantikan dipersiapkan untuk setiap pasangannya (dan calon) yang telah menanti di dunia ini. Cepat atau lambat, mereka pasti akan menemuinya. Dengan mengganti kecantikan tersebut dengan yang palsu, bukankah sama saja dengan mengecewakan orang yang telah menunggunya di dunia?

*

Setiap manusia telah diciptakan berpasang-pasangan. Dan aku yakin, pasanganku telah menunggu, di suatu tempat.

Banyak orang bercakap tentang kecantikan seseorang, tapi aku punya rasa sendiri tentang cantik tersebut.

Mungkin dunia bilang seperti inilah cantik seharusnya, namun—bagiku—hanya seseorang yang kupandang cantik di mataku. Saat ini, kupanggil orang itu sebagai dia.

Rabu, 05 Januari 2011

Ceritaku

Dunia ini kaya dengan cerita, mulai dari cerita dongeng yang membuat seorang anak kecil bermimpi menunggangi seekor naga ganas sampai cerita fiksi yang mengisahkan seorang pembunuh berantai yang melakukannya hanya karena tidak mengetahui bahwa membunuh itu salah.

Dan semua cerita itu mengisahkan tentang cinta, dengan caranya masing-masing.

Dalam beberapa hari ini, aku banyak mendapatkan cerita baru. Masing-masing cerita punya karakter yang saling menunjukkan keunikannya. Yang terkadang bisa menampilkan sisi manis, lucu, atau menyebalkan. Namun, cinta selalu mengambil peran di sana, dalam wujudnya masing-masing, karena wujud cinta tergantung kepada sisi yang ditampilkannya.

Setiap cerita adalah indah dalam caranya masing-masing, dan kita tidak selalu harus menikmati keindahan dari masing-masing cerita itu. Karena setiap orang punya rasa, dan rasa itu personal.

Setiap cerita adalah indah dalam caranya masing-masing. Makanya tidak semua orang bilang cerita Shakespeare itu menakjubkan atau cerita percintaan antara vampir dan manusia itu buruk. Kita tidak perlu mempermasalahkan rasa, selama kita masih memilikinya masing-masing.

Dan rasa yang ada padaku, semakin menjadi. Menjelma ke dalam wujud yang begitu menenangkan sekaligus indah, dalam satu tempat.

*

Ada banyak penulis cerita yang hebat, lebih banyak lagi orang yang terpesona karenanya. Suka atau tidak, kita tidak perlu menyesuaikan rasa yang ada dengan rasa yang mereka punya. Dunia indah karena diciptakan beragam. Buat apa semua orang menjadi sama?

Di antara jutaan cerita cinta yang ada, ada satu yang istimewa, setidaknya bagi rasaku. Cerita itu mungkin masih belum tersebar.

Karena saat ini, aku sedang menjalani cerita itu. Inilah ceritaku.