Sabtu, 20 September 2008

Pengamen Bertopeng


Malam ini udara tidak sedingin biasanya di kota Bandung. Akhir-akhir ini Bandung memang panas.

Aku berjalan menyusuri jalanan kota Bandung. Melintasi toko demi toko, warung demi warung, dan pengemis demi pengemis. Semuanya dilalui tanpa ada perasaan apapun, bagaikan melewatkan sebuah tayangan televisi yang tak pernah kutonton. Jalan-jalan disinari berbagai lampu penerangan karena cahaya bulan dan bintang sudah dianggap tidak mampu lagi memberi sinar yang cukup untuk segala aktivitas malam masyarakat kota yang makin lama makin gila ini. Kota ini sedang menuju taraf kegilaan yang semakin parah, sama seperti kota-kota lainnya di Indonesia, atau kota-kota lainnya di dunia yang sudah menjadi gila terlebih dahulu.

Satu toko kutengok. Aku ada urusan di sana. Menemani seorang teman.

Urusanku tidaklah lama, hanya beberapa menit saja.

Dan dari kejauhan terlihat seorang pengamen bertopeng, memakai pakaian layaknya ondel-ondel, menari-nari mengikuti irama musik yang bersumber dari mesin pemutar kaset kuno yang tergantung di lehernya. Pakaiannya membuat ukuran tubuhnya terlihat dua kali lebih besar. Topengnya membuat anak kecil manapun akan takut ketika melihatnya. Alih-alih membuat orang terhibur, segala dandanannya hanya akan membuat orang segan untuk mendekatinya.

Si pengamen bertopeng mendekati toko yang berada jalanan tersebut satu per satu. Dan semua toko memberinya recehan. Tujuannya jelas bukan untuk menghargai apresiasi seni yang telah ditunjukkan pengamen bertopeng itu, hanya sekedar untuk mengusirnya. Memang dandanan pengamen bertopeng itu membuat siapapun akan berpikir dua kali ketika ingin mengunjungi toko yang sedang "kedatangan" si pengamen bertopeng.

Akhirnya toko demi toko ia lewati, receh demi receh ia dapatkan. Entah sudah berapa banyak, dan sampailah dia kepada toko yang sedang kukunjungi.

Dia menari-nari di depan sana seperti orang sedang menahan kencing, tidak ada gerakan-gerakan yang mampu membuat orang lain terpukau. Hanya gerakan menggerakkan badan ke kanan atau ke kiri yang seharusnya bisa dilakukan oleh semua orang.

Dan seketika aku berpikir, siapa yang jahat? Si pengamen bertopeng atau keadaan yang memang memaksa?

Si pengamen bertopeng membuat pemilik toko manapun akan "terpaksa" merogoh koceknya untuk memberinya sedikit receh untuk "mengusirnya". Atau tidak tokonya tidak akan laku dikunjungi orang.

Maka seharusnya si pengamen bertopeng bisa dikatakan jahat. Karena dia mencari cara agar setiap orang "harus" memberikan uang kepadanya.

Tapi sesaat aku berpikir kembali. Di sisi lain ini adalah ide yang brilian untuk mendapatkan uang. Sebuah inovasi, di luar etika, yang sangat ampuh untuk dunia pengamenan.

Atau paling tidak bukan si pengamen bertopeng yang jahat, tapi memang keadaannya memaksa demikian. Dia sudah tidak punya cara lain untuk mendapatkan uang, jadi ini adalah satu-satunya cara. Dan ini lebih baik dibandingkan menjadi pengemis yang hanya bisa duduk terdiam sambil menunggu belas kasihan orang lain menyelematkannya.

Dunia memang semakin kejam.

****

Banyak masalah baru yang kutemui akhir-akhir ini. Beberapa darinya lebih kompleks dari masalah-masalah yang pernah kutemui sebelumnya. Aku jadi semakin mengerti akan kompleksnya hidup, walau masih belum se-"ahli" orang-orang yang lebih dewasa dariku.

Dan kasus si pengamen bertopeng mungkin adalah salah satu contoh betapa kompleksnya masalah hidup, di mana masalah tersebut juga tidak dapat dihindari.

Si pengamen salah atau tidak, dia membuat orang lain kesal atau tidak, yang jelas itu adalah masalah mereka masing-masing. Tidak ada kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah terencana, semuanya sudah tertulis.

Ternyata selain semakin gila, dunia ini juga semakin kejam saja.

Tidak ada komentar: