Minggu, 13 Juli 2008

Inspirasi yang Membunuh


"Setiap ada foto Chairil Anwar, pasti dia sedang merokok," kata ibuku. Entah perkataannya benar atau tidak.

Tapi yang jelas Chairil Anwar memang seorang perokok berat. Dan banyak orang mengatakan ini wajar, dia kan seorang seniman. Memang apa hubungannya seorang seniman dengan kebiasaan merokok?

Kemarin aku pergi ke sebuah toko buku yang banyak menjual buku-buku import. Di sana ada beberapa buku karya Pramoedya Ananta Toer (entah kenapa aku selalu menemukan buku-buku Pram di toko buku import, dan sangat sulit mencarinya di toko buku lokal, bukankah dia orang Indonesia?) dan kulihat foto Pram dengan gaya khasnya: sedang merokok. Ternyata seniman yang satu ini juga pecandu nikotin.

****

Aku mencoba menelusuri hubungan yang tepat antara rokok dan seniman. Dan semakin aku mencari, aku semakin menemukan bahwa bukan hanya seorang seniman yang sering dihubung-hubungkan dengan rokok. Detektif, koboi, kepala polisi, dan sesekali agen rahasia. Hampir tiap tokoh yang dianggap misterius di setiap komik Jepang selalu diceritakan bahwa dia adalah seorang perokok berat. Koboi pun sama, bahkan untuk cerita anak-anak seperti Lucky Luke.

Mungkin untuk sebagian orang rokok merupakan sarana untuk mengasingkan diri dari dunianya selama sesaat. Makanya banyak orang yang berkata bahwa rokok menghilangkan stres, rokok membuat tenang, rokok menjernihkan pikiran, dan seterusnya. Dengan kata lain rokok adalah alat tepat untuk melamun, kendaraan yang dapat membawa kita ke dunia imajinasi yang hanya kita sendiri yang mengerti akannya. Pantas banyak seniman yang menyukai ini.

Fungsi rokok hampir mirip dengan kopi, cermin, mandi, atau sikat gigi. Atau benda apa saja yang biasa kita jadikan "teman" di kala kita asik melamun dan berimajinasi. Benda-benda itu membawa kita ke alam imajinasi dan membantu kita menemukan inspirasi. Dua hal yang sangat dibutuhkan oleh seorang seniman.

****

Aku bercita-cita untuk menjadi seorang seniman, namun aku tak pernah bercita-cita untuk merokok. Walaupun aku sangat membutuhkan sarana untuk mengasingkan diri sejenak dari duniaku.

Banyak yang bilang rokok mempercepat kematian, tapi bukan itu alasanku untuk tidak merokok. Bagiku tidak masalah aku mati hari ini atau besok, atau tahun depan, atau bahkan seratus tahun lagi. Tidak merokok pun aku masih tetap menghirup asap rokok dari orang-orang yang merokok di sekitarku. Lagipula usia manusia tidak bisa ditentukan hanya oleh sebatang rokok saja. Seseorang bisa saja mati muda walaupun tidak merokok dan selalu bergaya hidup sehat.

Jika nanti aku tidak merokok dan aku telah menjadi seorang seniman besar, tren "seniman adalah perokok" yang marak sekarang ini bisa saja runtuh. Dan kalau tren itu runtuh maka aku berarti punya andil dalam menghilangkan rokok dari dunia ini. Dan jika itu berhasil maka aku punya cita-cita untuk mengganti kebiasaan merokok dengan kebiasaan menyikat gigi. Bukankah ini lebih baik?

3 komentar:

Anonim mengatakan...

mati sekarang? uda siap ama smua perbuatan yang uda dilakukan di bumi?

adit mengatakan...

coba loe post waktu WNTD 31 Mei, kan pas bgt tuh.
http://www.who.int/tobacco/wntd/2008/en/index.html

dinda tegar jelita mengatakan...

mungkin gaz karena nikotin dlm rokok itu mempengaruhi neurotransmitter salh satunya kaya dopamin itu buat efek bahagia gt releks gt, trs ikatan nikotin dlm otak itu mempengaruhi ada satu titik d hipotalamus buat ningkatin daya konsentrasi byk dh nikotin itu tp kerugiannya kt jd kecanduan klo udh kecanduan y berarti tubuh kita udh g seimbang lg trs y udh byk penyakitnya dh ..haha gw ikt pelatihan ad roko"nya gt gaz