Senin, 28 Juli 2008

Kejutan Untuk Hari Ini

Hari-hariku menjelma menjadi sebuah kotak kado ulang tahun, penuh dengan kejutan yang begitu tak terduga. Semuanya berlalu begitu saja. Seacuh para selebritis, sejanggal salju di negara tropis.

Beberapa hari yang lalu aku memberi senyum kepada orang yang baru pertama kali kutemui. Aku tak tahu siapa dia, jangankan nama, bertemu saja baru pertama kali. Dan tanpa sadar bibirku melebar dan menghadiahinya dengan sebuah senyum yang bersahabat. Beruntung dia membalasnya. Aku sadar bahwa dunia ini harus diisi dengan lebih banyak senyum.

Tapi kejadian kali ini seribu kali lebih aneh, sejuta kali lebih ganjil. Sebuah tonjokan dilayangkan ke arah daguku oleh orang yang tak kukenal!

Dunia ini makin aneh, tapi aku tak pernah menyangka bakal seaneh ini. Di saat zaman membuat hubungan antar sesama manusia semakin menjauh. Menimbulkan jarak yang begitu terbentang lebar. Mengajak orang lain berkenalan secara tiba-tiba pada zaman sekarang ini pun sudah bisa menimbulkan bermacam-macam pikiran dan praduga. Entah kita akan disangka tukang hipnotis atau malah dikira penculik.

Tapi tak pernah kukira bakal seaneh ini.

Aku baru bertemu dengannya. Dan aku tak merasa pernah melihatnya sebelumnya. Dan pertemuanku diawali dengan bersarangnya kepalannya tepat di dagu kananku. Dan kenapa dia melakukannya?

Apakah aku pernah berbuat salah kepadanya? Apakah aku pernah tidak sengaja menghardiknya? Apakah aku pernah membuat dia kehilangan salah seorang anggota keluarganya? Sepertinya tidak.

Dan seketika pikiranku kembali bercabang.

Mungkinkah di antara kepalannya terselip jarum yang sudah terinfeksi HIV? Ataukah maksud dia menonjokku adalah untuk mengusir nyamuk yang sedang bersantai sambil mengisap darahku? Ataukah aku adalah seorang agen rahasia yang baru kehilangan ingatannya dan dia adalah mantan mitraku?

Ah, banyak sekali kemungkinan, tapi aku malas untuk memikirkannya lebih jauh. Untuk hari ini kurasa cukup kejutannya. Yang ini sudah membuatku cukup kaget dan shok.

Kemungkinan yang paling masuk akal adalah bahwa dia sudah gila, makanya dia menonjok orang lain tanpa memedulikan fakta bahwa orang itu baru dia temui hari ini. Dan mungkin juga aku sudah sama gilanya seperti dia, karena sempat terlintas di pikiranku untuk membalasnya.

Yah, dunia memang semakin gila.

Minggu, 27 Juli 2008

Kenapa Tidak Boleh Menengok?

Aku tahu peraturannya, dan aku sadar akan apa yang dipertaruhkan olehnya.

Jalan lurus ke depan dan jangan sekali-kali menengok.

Aku ingat peraturannya. Jalan lurus dan jangan menengok. Cukup jalan lurus. Jangan menengok. Hanya jalan lurus.

Dan aku akan mematuhi peraturannya karena di ujung jalan itu telah menunggu seorang bidadari yang siap menyambutku dengan segala keanggunannya, segala kecantikannya.

Aturannya ada dua. Jalan lurus dan jangan menengok. Lalu kenapa ini menjadi sulit? Aku terbiasa jalan lurus sambil hanya fokus menatap ke depan. Tanpa menengok. Lalu kenapa ini menjadi sulit?

Tapi kenapa harus ada peraturan jangan menengok? Memang ada apa di samping kiri dan kananku? Apakah di sana sedang berdiri bidadari lain yang lebih anggun dan lebih cantik? Atau di sana terdapat sebuah perang besar sehingga bantuanku akan sangat berarti untuk menolong para korban tak bersalah?

Kenapa aku tidak boleh menengok?

Apa salahnya dengan hanya menengok? Menengok tak akan membuat sebuah bom waktu menjadi meledak atau membunuh siapa pun juga. Dan aku hanya ingin menengok saat ini. Lalu apa salahnya dengan menengok?

Ini yang membuatku tidak senang. Aku digantungkan dengan sebuah peraturan yang tidak jelas gunanya untuk apa.

Kenapa aku tidak boleh menengok?

Andai saja peraturannya hanyalah jalan lurus, tentu aku akan menjalaninya tanpa menengok, walaupun menengok diperbolehkan. Tapi larangan membuat rasa ingin tahuku terusik. Ia meraung-raung ingin mencari jawaban dari pertanyaan kenapa. Seperti tikus tanah yang terus menggali-gali mencari jalan cahaya.

Dan kenapa aku tidak boleh menengok? Leherku seperti terkena encok rasanya.

Jumat, 25 Juli 2008

Penanti Perubahan

Tubuh ini tak punya tujuan. Bergerak ke sana kemari, hanya mengikuti arah angin malam. Atau angin siang. Hanya berpindah jika ada rangsangan, bagaikan makhluk bersel satu.

Yang sekarang juga tak ada bedanya. Masih sama seperti yang dulu-dulu. Masih tetap tak punya tujuan. Masih bingung menentukan arah, masih tak tahu mau ke mana. Masih mengikuti arah angin, seperti nyiur yang melambai-lambai. Tubuh ini masih tetap tak punya tujuan.

Yang kubutuhkan hanya tujuan. Hanya tujuan. Dan yang tidak ada sekarang juga hanya tujuan, hanya tujuan.

Dan hari ini juga sama. Aku dan ketidakpastianku. Bercengkrama berdua, tidak menyisakan ruang untuk siapa pun.

Ah, tolong aku. Lepaskan aku dari jerat yang maha tidak jelas ini! Selamatkan aku darinya, agar aku bisa kembali bebas lagi.

Berikan aku yang kubutuhkan. Berikan aku tujuan.

Berikan aku yang kubutuhkan. Berikan aku yang kuinginkan. Berikan aku segala yang ada di dalam impian.

Berikan aku makna untuk hidup. Walau makna hidup itu masih abstrak, samar, dan melayang-layang. Tak apa, sekalian aku belajar terbang.

Yang sekarang pun masih tetap sama. Masih mengikuti arah matahari terbit. Lalu bingung di kala sang mentari tenggelam. Lalu datanglah hari yang baru, dan di kala itulah waktuku untuk menyambut segalanya yang benar-benar beda. Untuk membuat perubahan. Untuk memberi kemajuan.

Aku tidak mau terus seperti ini. Hari ini harus berbeda.

Dan akulah yang akan membuat perubahan itu sendiri. Makanya panggil aku "sang pembuat perubahan" pada tiap hari baru. Karena itulah aku.

Setidaknya itu yang berada dalam niat. Menunggu untuk secepatnya dikukuhkan.

Selasa, 22 Juli 2008

Cinta Murni dari Stadion

Ahad, 20 Juli 2008. Stadion Siliwangi, Bandung.

Hari itu suasana stadion penuh sesak. Sangat penuh dan sangat sesak. Tertulis di koran-koran bahwa kapasitas stadion tersebut hanya 22.000 orang, tapi aku tak terlalu yakin dengan jumlah tersebut begitu melihat penuhnya isi stadion. Kursi stadion mungkin hanya mampu menampung 22.000 orang, tapi banyak orang yang rela menonton tanpa perlu kursi. Mereka berdiri sepanjang pertandingan yang lamanya mencapai dua jam lebih. Bahkan ada yang sudah mengisi stadion sejak enam jam sebelumnya.

"Mungkin ini bisa mencapai 25.000, atau lebih," pikirku tanpa didasari perhitungan terukur.

Dan dari 25.000 orang tersebut, aku hanyalah satu di antaranya. Benar-benar tidak ada apa-apanya. Sesaat aku merasa begitu kecil. Makanya aku pantas malu di hadapan Yang Maha Besar.

****

Hari itu adalah pertarungan antara Persib dan Persija, duel yang dianggap sebagai salah satu yang terpanas di Indonesia. Bukan hanya karena keduanya merupakan tim papan atas, tapi juga karena unsur permusuhan tingkat tinggi yang diusung kedua kelompok suporter masing-masing. Maung dan macan. Keduanya sebenarnya hewan yang sama, tapi tak ada yang menganggapnya begitu. Permusuhan yang begitu mendarah daging.

Tak ada baju oranye hari itu, kecuali bagi mereka yang membawanya untuk dibakar. Dan yel-yel terkeras yang mereka teriakan adalah yel-yel untuk mengejek (atau mungkin lebih tepat disebut mengutuk) kelompok suporter ibukota itu.

Dan pertandingan pun dimulai setelah tiga jam aku menunggu.

Peluit ditiup dan para penonton berteriak histeris. Yel-yel terus diteriakkan, ejekan terus dilontarkan terhadap tim lawan. Semuanya untuk menyemangati tim kesayangan mereka.

Sayang pertandingan harus berakhir rusuh. Tidak puasnya beberapa oknum suporter akan keputusan wasit membuat mereka berbuat anarkis. Tempat duduk dibakar, pagar pembatas dirusak, dan pintu dijebol. Wasitkah yang salah?

Sesaat aku tidak habis pikir dengan para perusak tersebut, kenapa mereka berbuat anarkis? Bukankah hasil pertandingan tak akan berubah walaupun seluruh suporter di sana mengamuk? Apa yang mereka pikirkan?

Gerombolan orang-orang bodoh, tak berpendidikan, atau otak udang. Mereka adalah salah satu darinya. Setidaknya itulah yang kupikirkan pada saat itu.

****

Tapi ternyata masalahnya tidak sesederhana itu. Atau justru masalahnya sangat sederhana. Entah yang mana.

Ini adalah wujud kecintaan tulus, yang tanpa pamrih, dan hanya mengharap balasan. Walaupun kadang balasan itu tidak berupa balasan yang baik.

Ini adalah wujud dari cinta yang begitu sederhana. Suporter mencintai klub, lalu klub menyuguhkan permainan untuk mereka, dan suporter membalasnya dengan memberi dukungan.

Cinta yang saling membalas. Seperti hari itu.

Hari itu Persib kalah. Dan banyak yang mengutuk hasil tersebut. Tapi mereka pun kembali pulang ke rumah dan melupakan hal itu. Minggu depannya ketika Persib kembali bermain, mereka akan kembali menonton dan memberi dukungan lagi seperti biasanya.

Cinta tak selalu berbalas dengan baik. Kadang balasannya kurang bisa kita terima, atau bahkan kejam. Seperti para suporter sepak bola yang memberi dukungan maksimal kepada tim kesayangan mereka, namun ternyata tim kesayangan mereka tetap kalah dan menampilkan permainan yang buruk.

Bukankah ini yang didambakan setiap orang? Ketika kita mencintai dengan sepenuh hati dan tidak peduli akan balasan yang akan kita terima. Ketika cinta sejati muncul, entah cinta itu berbalas atau tidak. Cinta yang benar-benar tulus, yang sekarang sudah menjadi barang yang paling langka di dunia yang penuh dengan tuntutan balas budi ini.

Hari itu di stadion Siliwangi. Aku masih merenungi hal tersebut, sekaligus mendamba-dambakannya.

Cinta yang begitu tulus. Cinta yang begitu murni.

Aku pulang dari stadion dengan membawa pelajaran yang berharga. Dan terus memikirkannya sambil berjalan pulang dengan tertatih-tatih karena tulang ekorku sakit luar biasa akibat lima jam lebih duduk di kursi semen.

Rabu, 16 Juli 2008

Bagaikan Burung Dalam Sangkar

Banyak yang menumpuk di pikiran akhir-akhir ini, memaksaku menyisakan tempat untuk mereka yang kejelasannya saja masih dalam tanda tanya. Tapi tetap saja mereka telah mengusik pikiran-pikiranku dengan sejumput khayalan, kenangan, atau hanya sekedar omong kosong. Dan di saat kusadar, aku telah terbenam terlalu dalam.

Kalau hidup ini adalah permainan catur, maka aku ibarat sedang melawan Gary Kasparov. Langkah yang harus kuambil kini sangatlah sulit. Benar-benar rumit. Aku bahkan tidak yakin bahwa inilah yang dinamakan "langkah". Karena semuanya berlalu bagaikan angin malam atau angin siang.

Dari jendela kamarku aku dapat melihat seekor burung poksai dalam sangkar, peliharaan keluarga kami. Pernah kulihat burung itu menggigil kedinginan karena saat itu hujan deras. Burung kedinginan?

Burung itu tak punya pilihan selain tetap pasrah dalam keadaan menggigil. Ia tidak bisa kabur dan mencari tempat yang lebih hangat karena sangkar itu tertutup rapat. Sementara burung-burung lain mencoba bermigrasi ke tempat yang lebih hangat di kala musim penghujan tiba, ia hanya dapat diam di sangkar. Bertengger pada batang kayu yang ada di sana, terus bersiul-siul dengan indahnya. Entah apa yang dipikirkannya.

Apakah arti dari siulan itu? Iramanya begitu merdu dan nyaman di dengar di telinga. Tapi malang bagi burung itu telah memiliki suara seindah itu, suaranya menjadikannya alasan utama bagi para manusia untuk mendengarkannya lebih banyak. Dalam sangkar, bukan alam bebas.

Aku tak bisa bahasa burung, tentu saja, kau juga tidak bisa. Tapi adakah yang mengerti rasa perih yang tersirat dalam siulannya? Aku tidak mengerti.

Kalau burung itu sedang merana sekarang, ia pantas merasakan hal yang demikian. Terkurung dan tak bisa keluar. Aku pernah merasakannya, dan aku sedang merasakannya.

Akhir-akhir ini aku banyak berpikir tentang hal-hal yang ini dan itu. Tentang masalah yang bahkan permasalahannya saja belum jelas kuketahui. Tentang yang ada, atau tentang yang tiada. Tentang segalanya.

Terbelenggunya aku akhir-akhir ini tidak sama dengan terkurungnya si burung poksai dalam sangkarnya. Aku yang memilih terbelenggu, tapi burung poksai itu tak pernah memilih untuk dikurung. Tapi aku dan si burung poksai juga punya sedikit kesamaan. Kami sama-sama tak berdaya melawan nasib.

Ini terlalu menyita waktu. Menyita pikiran. Menyita segalanya.

Kalau aku bank, aku pasti sudah bangkrut. Kalau aku penjara, aku pasti sudah penuh.

Minggu, 13 Juli 2008

Inspirasi yang Membunuh


"Setiap ada foto Chairil Anwar, pasti dia sedang merokok," kata ibuku. Entah perkataannya benar atau tidak.

Tapi yang jelas Chairil Anwar memang seorang perokok berat. Dan banyak orang mengatakan ini wajar, dia kan seorang seniman. Memang apa hubungannya seorang seniman dengan kebiasaan merokok?

Kemarin aku pergi ke sebuah toko buku yang banyak menjual buku-buku import. Di sana ada beberapa buku karya Pramoedya Ananta Toer (entah kenapa aku selalu menemukan buku-buku Pram di toko buku import, dan sangat sulit mencarinya di toko buku lokal, bukankah dia orang Indonesia?) dan kulihat foto Pram dengan gaya khasnya: sedang merokok. Ternyata seniman yang satu ini juga pecandu nikotin.

****

Aku mencoba menelusuri hubungan yang tepat antara rokok dan seniman. Dan semakin aku mencari, aku semakin menemukan bahwa bukan hanya seorang seniman yang sering dihubung-hubungkan dengan rokok. Detektif, koboi, kepala polisi, dan sesekali agen rahasia. Hampir tiap tokoh yang dianggap misterius di setiap komik Jepang selalu diceritakan bahwa dia adalah seorang perokok berat. Koboi pun sama, bahkan untuk cerita anak-anak seperti Lucky Luke.

Mungkin untuk sebagian orang rokok merupakan sarana untuk mengasingkan diri dari dunianya selama sesaat. Makanya banyak orang yang berkata bahwa rokok menghilangkan stres, rokok membuat tenang, rokok menjernihkan pikiran, dan seterusnya. Dengan kata lain rokok adalah alat tepat untuk melamun, kendaraan yang dapat membawa kita ke dunia imajinasi yang hanya kita sendiri yang mengerti akannya. Pantas banyak seniman yang menyukai ini.

Fungsi rokok hampir mirip dengan kopi, cermin, mandi, atau sikat gigi. Atau benda apa saja yang biasa kita jadikan "teman" di kala kita asik melamun dan berimajinasi. Benda-benda itu membawa kita ke alam imajinasi dan membantu kita menemukan inspirasi. Dua hal yang sangat dibutuhkan oleh seorang seniman.

****

Aku bercita-cita untuk menjadi seorang seniman, namun aku tak pernah bercita-cita untuk merokok. Walaupun aku sangat membutuhkan sarana untuk mengasingkan diri sejenak dari duniaku.

Banyak yang bilang rokok mempercepat kematian, tapi bukan itu alasanku untuk tidak merokok. Bagiku tidak masalah aku mati hari ini atau besok, atau tahun depan, atau bahkan seratus tahun lagi. Tidak merokok pun aku masih tetap menghirup asap rokok dari orang-orang yang merokok di sekitarku. Lagipula usia manusia tidak bisa ditentukan hanya oleh sebatang rokok saja. Seseorang bisa saja mati muda walaupun tidak merokok dan selalu bergaya hidup sehat.

Jika nanti aku tidak merokok dan aku telah menjadi seorang seniman besar, tren "seniman adalah perokok" yang marak sekarang ini bisa saja runtuh. Dan kalau tren itu runtuh maka aku berarti punya andil dalam menghilangkan rokok dari dunia ini. Dan jika itu berhasil maka aku punya cita-cita untuk mengganti kebiasaan merokok dengan kebiasaan menyikat gigi. Bukankah ini lebih baik?

Sabtu, 12 Juli 2008

Kembali Ke Belakang Sejenak dan Masih Itu-itu Saja

Sudah menjadi kodrat dari setiap manusia untuk berpikir. Oleh karena aku juga manusia maka sudah seharusnya jika aku juga berpikir.

Hari-hariku akhir-akhir ini membawaku kepada kebosanan yang teramat sangat. Libur yang sangat panjang ternyata juga berarti hilangnya sebuah rutinitas yang biasa kujalani sehari-hari, yang pada awalnya juga kuanggap sebagai sebuah kegiatan konstan yang dapat membunuhku secara perlahan-lahan dalam kebosanan. Kini setelah lepas dari rutinitas yang membosankan itu ternyata aku justru merasakan kebosanan dalam bentuk yang lain. Liburan panjang kali ini membuatku miskin inspirasi.

Hari ini juga sama. Aku seperti mencari-cari kegiatan untuk dilakukan tapi tidak menemukan sesuatu yang benar-benar menarik. Hingga akhirnya tersirat sebuah pertanyaan yang ingin sekali kudengar jawabannya: apakah hidup manusia memang selalu berada di dekat kebosanan?

Tapi aku bukan tipe orang yang menyerah pada keadaan begitu saja. Selama masih ada fasilitas yang dapat kugunakan untuk menciptakan kreasi, aku tetap akan berjuang terus untuk menciptakan warna-warna baru dalam hidupku. Warna-warna yang akan selalu menghiasi hidupku dengan kebahagiaan. Warna-warna yang akan membantuku menemukan jawaban akan kehidupan yang sejati.

****

Aku coba mulai dengan mengevaluasi hidupku yang sudah berlangsung lumayan lama ini. Dimulai dari saat pertama kali aku berkenalan dengan apa yang membuat setiap manusia punya arti hidup, yaitu impian.

Aku ingat impian pertamaku adalah menjadi seorang pembalap mobil. Rasanya siapapun yang menjadi pembalap mobil akan terlihat gagah. Tak peduli jika wajahmu sangat jelek sekalipun, karena kau akan memakai helm yang akan menutupinya. Belum lagi kau akan memakai seragam dengan banyak iklan dari sponsor (entah kenapa aku selalu menganggap iklan menambah daya tarik dari baju si pembalap), walau sekarang aku tak bisa membayangkan kegerahan yang dirasakan si pembalap dalam baju ekstratebal itu, pasti keringat deras sudah membanjiri baju dalam mereka.

Setelah lepas dari impian pertamaku, aku mulai mencari impian-impianku yang lain. Presiden, pembalap motor, komikus, penulis, dan superhero. Seringkali aku berganti-ganti impian kala itu, sebanyak aku berganti-ganti acara televisi yang kutonton. Tapi aku tidak pernah sama sekali berkeinginan menjadi dokter. Apa menariknya menggeluti suatu profesi yang semua orang menginginkannya?

Aku melewati masa kecilku senormal yang kuinginkan. Aku sekolah di sebuah SD negeri yang fasiltasnya selalu pas-pasan. Berteman dengan anak penjaga warung, anak supir taksi, anak tukang becak, keponakan seorang narapidana, dan masih banyak lagi macamnya. Walau kadang ada juga yang mengaku bahwa dia adalah anak seorang direktur, entah itu benar atau tidak yang jelas pada saat itu aku ragu. Tapi aku tak peduli akan semua itu. Yang penting aku nyaman berteman dengan mereka lalu apa masalahnya? Pentingkah aku menanyakan status sosial mereka satu per satu saat berkenalan? Tentu saja tidak.

Selama SD aku belum bisa mengatur hidupku dengan sebaik-baiknya. Kehidupanku masih dibimbing sepenuhnya oleh kedua orang tuaku. Jika mereka suruh aku belajar maka yang kulakukan pada menit berikutnya adalah belajar. Jika mereka suruh aku makan maka yang kulakukan di menit berikutnya adalah makan. Mungkin pada saat itu aku seperti robot yang punya hati.

Di SD negeri tempatku bersekolah kau akan menemukan berbagai macam guru. Mereka akan mengajarkan kita lagu Hymne Guru untuk menunjukkan kekuasaan mereka di kelas dan betapa berjasanya mereka. Seorang guru mengajarkan sebuah lagu untuk menyanjung guru?

Aku bisa dibilang berprestasi cukup baik selama masih SD. Aku selalu berhasil meraih peringkat tiga besar dalam kelas. Walau saat kelas satu dan kelas dua aku tidak pernah berhasil sekalipun untuk menjadi yang pertama. Sedikit membuatku putus asa saat itu karena aku selalu kalah peringkat dari anak seorang guru. Hingga akhirnya aku mampu meraihnya di kelas tiga.

Mungkin prestasiku yang cukup baik ini yang membuatku selalu ingin punya pendapat sendiri. Dan hasilnya aku menjadi sedikit pemberontak di kelas. Aku pernah berdebat yang sangat panjang dengan seorang guru dan baru bisa dihentikan oleh bel pertanda kelas selesai hanya karena merasa tak setuju dengan jawaban yang beliau berikan. Aku pernah merasa lebih pintar dari salah seorang guru padahal ketika itu aku baru kelas lima SD! Tapi bagaimanapun juga aku tak pernah sampai ke arah yang terlalu melenceng, paling tidak prestasiku di sekolah selalu kujaga.

Dari SD lanjut ke SMP. SMP-ku berbeda jauh dengan SD-ku. Kini aku bersekolah di sebuah SMP swasta yang berlabel Islam. Menanamkan banyak dasar-dasar agama dalam kehidupanku. Tapi aku tak pernah jadi terlalu fanatik. Hanya saja prestasiku di SMP sangatlah labil. Aku tidak bisa menjaga prestasiku seperti ketika di SD. Sifat pemberontak yang sudah ada pada diriku timbul lagi bahkan semakin menjadi-jadi. Tapi akhirnya aku bisa lulus dengan cukup baik.

Aku belum mau berhenti sekolah, atau tepatnya aku tidak akan diizinkan oleh kedua orang tuaku untuk berhenti sekolah. Jadilah aku melanjutkan pendidikanku ke jenjang SMA, masih dalam label yang sama: swasta Islam.

Di SMA aku mulai belajar untuk berpacu pada target. Dan ternyata ini sangat berat. Bukan main perjuanganku untuk mencapai target masuk jurusan IPA saat itu. Bahkan tadinya kukira targetku tak akan tercapai lantaran nilai fisikaku yang tak memenuhi syarat. Dan entah keajaiban apa yang menyelamatkanku, nilai fisikaku disulap menjadi naik beberapa poin. Akhirnya target pertama tercapai.

Akhirnya tiga tahun juga sudah terlewati lagi. Dan aku lulus kembali. Meninggalkan masa SMA yang penuh dengan kesusahpayahan, kesedihan, kebahagiaan, penderitaan, pengharapan, dan cinta. Tiga tahun yang merupakan awal perkenalanku dengan seseorang yang membuat hidupku terjungkir-balik. Yang jelas tiga tahun ini adalah tiga tahun yang paling berkesan untukku sampai saat ini. Entah bagaimana dengan tahun-tahun berikutnya.

****

Hari ini aku berniat mandi di kamar mandi milik orang tuaku. Suatu hal yang biasa akhir-akhir ini mengingat aku mulai menyadari kamar mandi di sana lebih besar dan lebih nyaman, walau aku lebih suka desain kamar mandiku sendiri.

Tapi aku tidak jadi mandi di sana setelah melihat seekor kecoak tergeletak terlentang di sana. Mati.

Aku baru ingat pagi tadi adalah jadwal penyemprotan untuk memberantas nyamuk demam berdarah. Dan sasarannya tidak selalu tepat. Kadang kecoak juga ikut mati walau ia bukan sasaran sebenarnya.

Akhirnya aku mandi di kamar mandiku sendiri. Mungkin sudah seharusnya begitu. Sebenarnya aku bisa saja mengambil bangkai kecoak tersebut dan membuangnya ke tempat sampah, lalu aku bisa mandi dengan tenang. Hanya saja aku malas melakukannya. Dan akhirnya aku terpaksa untuk mengganti niatku.

Seekor kecoak mati ternyata bisa merubah kehidupanku, secuil kehidupanku, tapi kecoak itu tetap punya arti dalam hidupku.

Hal sekecil apapun bisa saja terjadi dalam hidupmu, dan yang mana saja bisa merubah hidupmu. Hidup ini kan tak selalu konstan.

Aku masih berpikir. Memikirkan segalanya, untuk mencoba mencari jawaban. Dan jika saat ini ada orang yang datang padaku dan bertanya, "Sedang di mana kamu? Sedang apa?", aku akan langsung menjawab dengan tegas, "Aku masih di sini, masih terdiam sambil memikirkan jawaban dari pertanyaan yang itu-itu saja."

Rabu, 09 Juli 2008

Yang Ada Pada Akhirnya

Hal-hal terkompleks dalam hidupku baru saja kulewati secara bertubi-tubi. Entah berapa banyak lagi yang akan datang untuk kembali menyerang. Makin banyakkah? Atau malah makin sedikit?

Impian ada untuk memberi manusia tujuan. Agar manusia dapat menjalani hidup sesuai dengan arahan. Impian ada agar manusia bisa hidup sebagaimana mestinya. Impian ada untuk menciptakan warna dalam kehidupan manusia. Impian ada untuk memberi kehidupan dalam diri tiap insan manusia.

Manusia tanpa impian adalah mati. Sementara impian hanya bisa digapai dengan perjuangan. Jadi inti kehidupan hanyalah sebuah perjuangan. Bergulat. Bersaing. Menang atau kalah. Mati.

Setiap insan punya tujuan. Yang tertekan dalam hati tiap-tiap mereka.

Aku sungguh terkesan. Tidak ada yang patut santai di muka bumi ini. Tidak juga siapapun.

Akhir-akhir ini cinta mulai kembali bersemi. Tapi yang paling terakhir, cinta menguncup kembali. Aku tak tahu cintaku sedang dalam musim apa.

Cintaku masih tak terang ada di mana. Cintaku masih di persimpangan. Butuh rambu yang lebih banyak untuk menuntunnya ke jalan yang benar.

Yang ini membuatku terjatuh kembali. Jatuh dengan sebenar-benarnya jatuh. Jatuh yang telak. Yang menimbulkan kesakitan, tapi juga memberi kita pelajaran.

Aku jatuh cinta. Dengan sedalam-dalamnya jatuh. Dengan sedalam-dalamnya cinta.

Kedai Kopi Hari Itu


Beberapa hari yang lalu aku pergi ke sebuah kedai kopi. Meskipun aku bukanlah pecandu kafein. Makanya aku jarang pergi ke kedai kopi. Minum kopi instan kemasan sachet di rumah saja jarang.

Kedai kopi belakangan ini memang banyak sekali bermunculan di mana-mana. Dan itu menambah satu pertanyaan lagi untukku: memang apa bedanya minum kopi di rumah dan di kedai kopi?

Mungkin dari seluruh pengunjung kedai kopi di sana pada hari itu hanya aku saja yang tidak mengerti akan kenikmatan meminum kopi. Bagiku kopi itu pekat dan pahit. Kalaupun kita temukan kopi yang rasanya manis dan sangat nikmat, yang membuatnya demikian adalah campuran susu dan gulanya. Kopinya sendiri hanya mendonasikan rasa pahit.

Tapi di kedai kopi itu aku sadar. Kopi yang kupesan hari itu sangat nikmat. Memang yang membuatnya nikmat masih susu dan gulanya. Hanya saja tidak mungkin minuman itu akan jadi senikmat itu kalau hanya terdiri dari campuran susu dan gula. Itu sama saja dengan meminum segelas susu panas. Dan susu panas tak pernah senikmat kopi.

Aku tersadar akan pentingnya peranan kopi dalam membuat minuman tersebut jadi nikmat. Kopilah yang memberikan karakter dalam minuman tersebut. Rasa pahit yang diberikan membuat kau tidak hanya merasakan manis yang berlebihan. Dan kombinasinya, jika dicampur oleh profesional, akan menyuguhkan sebuah minuman dalam kemasan yang sangat unik.

Kopi yang paling nikmat bukan kopi yang paling manis. Tapi juga bukan yang paling pahit.

Layaknya kehidupan kopi juga menggambarkan keseimbangan. Terkadang kau merasakan manisnya, namun kau juga tak pernah luput dari rasa pahitnya. Dan rasa pahitnya itu ditimbulkan oleh kafein, yang katanya dapat meningkatkan konsentrasi jika dikonsumsi tidak berlebihan. Sama seperti kehidupan, di mana kau bisa mendapatkan pelajaran setelah merasakan pengalaman pahit.

Hidup memang tak selalu manis. Hidup memang tak selalu pahit. Cobalah untuk mengambil pelajaran dari keduanya.

Kopi itu telah menyadarkanku. Akan manis pahitnya kehidupan. Yang tak pernah selalu konstan. Justru karena ini kita harus berjuang. Karena hidup tanpa perjuangan sama saja mati.