Rabu, 31 Desember 2008

Tahun Baru, Apalagi yang Baru?

Hari ini aku mendengar banyak bunyi terompet ditiup. Semakin malam, semakin sering. Wajar saja. Orang-orang sedang merayakan pergantian tahun.

Menjelang pergantian tahun ini aku mendadak punya sebuah pikiran yang tak pernah terlintas di benakku sebelumnya. Dan sebagian di antaranya akan kubagikan pada kalian yang ingin ikut berpikir bersamaku.

Pergantian tahun ada karena adanya kalender, sedangkan kalender adalah sebuah produk manusia. Jika kalender tidak ada maka apa yang akan terjadi? Dan pikiranku itu langsung berakar menjadi bermacam-macam ide, filosofi, khayalan, gagasan, lamunan, ataupun guyonan.

*
Aku membayangkan masa-masa awal berdirinya manusia di muka bumi ini. Aku tidak bilang ini cerita tentang Nabi Adam, tapi ini lebih ke arah cerita tentang manusia-manusia purbakala yang sering diceritakan di buku sejarah sebagai "nenek moyang" manusia modern. Mereka belum mengenal tulisan atau aksara. Mereka makan dengan berburu. Tempat tinggal mereka selalu berpindah-pindah (karena hewan buruan mereka lama kelamaan akan habis). Dan mereka masih hidup dalam komunitas kecil. Setidaknya itu yang diceritakan oleh buku-buku sejarah dan guru sejarahku.

Bisa dibayangkan kehidupan mereka pada saat itu. Tidak ada hukum yang mengikat. Tidak ada aparat yang menindak. Kehidupan mereka masih sangat bebas pada saat itu. Norma, adat, atau ketentuan-ketentuan lainnya tidak mereka kenal. Kecuali mungkin nurani. Jadi tidaklah aneh jika pada saat itu hari demi hari mereka lalui tanpa perjuangan keras demi menggapai apa yang mereka inginkan. Jika ada yang menghalangi apa yang mereka inginkan, jalan keras bisa mereka pergunakan. Ingat, ketiadaan hukum pada saat itu membuat pembunuhan dan tindak kekerasan lainnya menjadi sesuatu yang wajar pada saat itu. Tak perlu belajar keras atau mengasah bakat untuk mendapatkan pasangan hidup atau mencari makan (ini adalah dua tujuan terbesar manusia pada umumnya dalam kehidupan ini, bahkan hingga saat ini). Apalagi volume otak mereka belum sebesar volume otak manusia modern.

Ditambah lagi dengan fakta belum adanya kalender dan penunjuk waktu apapun pada saat itu (kecuali matahari, tentu saja mereka sudah bisa membedakan siang dan malam) membuat wajar jika mereka tidak menyadari berjalannya waktu layaknya kita. Mereka melewati hari demi hari, hingga tanpa disadari mereka menjadi semakin tua dan pada saat terakhir mereka mati. Itu saja.

*
Aku mengajak kalian semua untuk loncat ke masa di mana manusia sudah lebih modern. Namun belum mengenal sistem kalender.

Di masa ini penunjuk waktu yang berlaku masih belum berubah, hanya matahari yang membawa perubahan antara siang dan malam. Tapi di masa ini mungkin mereka sudah mengenal jam.

Tapi keadaan tidak akan banyak berubah. Siang berganti malam. Mereka tidur lalu bangun lagi. Menjalani siang yang akan kembali berganti menjadi malam. Lalu tidur dan bangun. Kembali beraktivitas di siang hari yang akan kembali berjumpa dengan malam. Begitu seterusnya sampai mereka meninggal. Sulit mencari waktu-waktu yang dapat mereka jadikan sebagai momen untuk menetapkan target-target tertentu. Mereka hanya melihat kekuatan fisik sebagai patokan. Mereka mulai bekerja ketika otot-otot mereka membesar. Mereka akan menjadi "ketua suku" atau semacamnya ketika yang tua sudah terlalu lemah dan merasa tak mampu lagi. Dan lama kelamaan mereka juga akan merasa tua dan lemah. Akhirnya jabatan "ketua suku" itu akan mereka wariskan kepada yang lebih muda. Lalu mereka berhenti bekerja karena mulai sakit-sakitan. Hingga akhirnya mereka menemui kematian.

Hari demi hari masih dilalui dengan sama. Nyaris konstan.

*
Kali ini dunia kedatangan nama besar seorang Julius Caesar. Seorang pemimpin militer sekaligus politikus Romawi pada saat itu. Ialah orang yang menyebarluaskan pemakaian kalander Julian, yang nantinya akan berkembang hingga menjadi kalender Masehi yang banyak digunakan di seluruh dunia, hingga saat ini.

Sedikit atau banyak. Dimanipulasi atau tidak. Namanya tercatat di sejarah sebagai orang yang berperan besar dalam penggunaan kalender di dunia.

Kalender sama saja menerjemahkan "bergulirnya waktu" ke dalam bahasa yang dimengerti manusia. Ini membuat manusia menjadi mudah untuk melihat atau memperkirakan kapan mereka menikah, kapan mereka menjadi raja, kapan mereka pensiun, atau kapan mereka akan dihukum mati. Manusia menjadi lebih terbuka dengan waktu.

*
Di sebuah ruangan pribadi seorang direktur perusahaan percetakan di Oslo. Ketika sang direktur menerima sebuah surat di mejanya, ia lantas bertanya kepada asistennya, "Sejak kapan surat ini sampai di mejaku?" Kebetulan sang direktur baru saja pulang setelah pergi untuk kunjungan bisnis ke sebuah daerah di pelosok Norwegia.

"Itu sudah ada di sana sejak lima hari yang lalu, Pak," jawab si asisten.

Direktur itu mengernyitkan dahinya dan kembali bertanya, "Lima hari yang lalu? Kapan itu?"

"Hari Sabtu, tanggal 23."

"Oh, oke, oke. Itu memang waktunya surat ini sampai," ujar sang direktur. "Coba kau baca ini." Sang direktur menyodorkan surat itu kepada asistennya.

Si asisten membaca sejenak isi surat tersebut. "Surat ini meminta anda untuk memberi balasan paling lambat tanggal 8 bulan depan."

"Oke, terima kasih."

Dan berakhirlah percakapan singkat itu.

*
Dialog di atas telah menyadarkan kita betapa berartinya sistem penanggalan pada saat ini. Orang-orang berjanjian, menanyakan waktu, dan memberi instruksi berdasarkan penanggalan tersebut. Tanpa penanggalan yang bisa dilakukan manusia adalah membuat janji "seribu hari lagi" tanpa dapat mengira-ngira dengan pasti kapan sebenarnya "seribu hari lagi". Kau hanya akan bisa menerawang (bahwa seribu hari selama satu hari dikali seribu), tanpa bisa mengetahui pasti bahwa seribu hari lagi akan jatuh pada saat ini, musim ini, dan bertepatan dengan ulang tahun si anu.

Detik berganti detik, menit berganti menit. Jam berganti. Hari. Bulan. Tahun. Tahun baru. Orang biasa merayakan pergantian tahun. Entah hanya bertujuan untuk berhura-hura atau untuk menjadikan tahun baru sebagai ajang untuk menginstrospeksi diri, dan menyambut tahun yang baru sebagai awal yang baru.

Kadang sistem kalender memang berjalan efektif, tapi kadang juga tidak. Tapi ini merupakan salah satu fasilitas. Masalah kita memanfaatkan fasilitas ini atau tidak, itu adalah urusan kita.

Hidup memang selalu mengenai pilihan. Iya atau tidak, ini atau itu, ambil atau tolak.

2008 berganti 2009. Sebuah awal yang baru untuk kita semua. Selamat tahun baru.