Sabtu, 28 Maret 2009

Catatan Singkat dari Rumah Sakit

Rumah sakit berbeda dari tempat-tempat lainnya.

Kata dosenku, bangunan rumah sakit harus selalu lebih kokoh daripada bangunan lainnya. Karena jika terjadi bencana, rumah sakit harus tetap berdiri tegar agar tetap dapat melayani korban-korban yang pastinya akan banyak membutuhkan perawatan medis.

Rumah sakit bisa dianggap sebagai penolong. Atau rumah sakit adalah penyelamat dari maut. Tapi tolong pernyataan ini jangan disalahartikan.

Rumah sakit juga bisa jadi dewa kematian. Buktinya banyak yang mati di sini.

Suasananya pun seringkali mendukung. Sunyi. Sepi. Atau gelap. Kecuali rumah sakit mahal atau rumah sakit untuk orang-orang kaya.


*

Hari ini aku berada di rumah sakit dan merasakan suasana yang berbeda di sini. Rumah sakit memang berbeda.

Tapi aku menikmatinya.

Minggu, 15 Maret 2009

Catatan di Negeri Senja: Enam Bulan


Negeri Senja memang penuh dengan kejutan.

Sudah sekitar enam bulan kami bertahan di Negeri Senja. Makanan kami dapatkan dengan cara berburu. Akhir-akhir bahkan kami sudah mulai mencoba menanam ubi-ubian. Pohon di Negeri Senja cukup sedikit. Itu sempat menjadi masalah buat kami karena kami tidak bisa membangun tempat peristirahatan karenanya. Untungnya ada gua-gua besar yang terletak di pesisir yang letaknya membelakangi laut. Menjadikannya sedikit lebih aman karena ombak menjadi terhalang dan tidak bisa masuk.

Katanya kebutuhan primer manusia itu ada tiga: sandang, pangan, papan. Tinggal sandang yang belum kita bahas. Selama ini kita memang sedikit bermasalah dengan hal itu. Terkadang kami mencoba membuat pakaian dari kulit rusa yang kami buru. Tapi satu rusa hanya bisa menghasilkan dua pakaian saja. Terkadang tiga. Sedangkan jumlah kami cukup banyak. Dan rusa di Negeri Senja jarang sekali ditemukan. Kami juga pernah mencoba membuat pakaian dari dedaunan, cukup efektif walau sedikit rapuh. Akhirnya pakaian seadanya yang kita bawa itulah yang benar-benar menjadi pegangan kami.

Negeri Senja tidak seburuk yang kubayangkan. Memang di sini tidak bisa menonton televisi atau memakan makanan seenaknya. Tapi itu membuatmu lebih menikmati perjuangan dalam hidup.

Dan lama kelamaan--secara mengejutkan--aku merasa mulai mencintai Negeri Senja. Tidak. Aku memang sudah jatuh cinta dengan Negeri Senja.

Orang-orang yang ikut dengan kereta api ke Negeri Senja itu juga semuanya jauh lebih menyenangkan dari bayanganku sebelumnya. Awalnya aku mengira orang-orang yang pergi ke Negeri Senja itu adalah orang-orang yang sudah tidak punya semangat hidup sehingga mereka semua mencoba memalingkan diri dari kehidupan nyata dan beralih kepada kehidupan yang baru.

Total jumlah kami semua ada seratus enam orang. Penumpang lima gerbong kereta api menuju Negeri Senja. Hingga akhirnya benar-benar terdampar di Negeri Senja.

Di antara kami ada seorang pemimpin yang kami pilih secara aklamasi. Namanya Grot. Tapi itu bukan nama sebenarnya, nama aslinya Sigit. Memang banyak sekali orang yang memilih untuk mengganti nama mereka ketika di Negeri Senja. Alasan mereka bervariasi, tapi yang jelas semuanya seakan menunjukkan bahwa "ini adalah kehidupan baru kami, seharusnya kami juga meninggalkan segala sesuatu yang lama, termasuk nama". Aku sendiri memilih untuk menggunakan nama asliku.

Grot berasal dari daerah pinggiran ibukota. Rumahnya merupakan permukiman liar di pinggir suatu sungai. Dulu pekerjaannya adalah guru yang merangkap sekaligus sebagai tukang ojek dan tukang cukur rambut. Tiga pekerjaan ini dia ambil bukan karena dia gila bekerja atau karena dia mata duitan. Ini memang dilakukannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Maklumlah, dia punya delapan anak. Awalnya dia adalah seorang pria yang mencintai keluarganya dengan amat sangat. Tapi ketika istrinya ingin kawin lagi dan menuntut cerai semuanya menjadi berubah. Ia kecewa bukan main. Dan sialnya lagi hak asuh anaknya malah jatuh ke tangan mantan istrinya. Kasihan Grot. Makanya ia memutuskan untuk pergi ke Negeri Senja.

Grot badannya tinggi kekar. Tapi lemah di hadapan wanita. Sudah berkali-kali ia ditinggal wanita dan tidak berani melawan apa-apa. Tapi satu kelebihan utama dari Grot, ia adalah seorang pembaca situasi yang ulung. Hampir tiap keputusannya adalah memang jalan yang terbaik yang bisa dia ambil. Makanya kami semua merasa beruntung telah menjadikkannya sebagai pemimpin, atau Pengarah--begitu kami menyebutnya.

Grot selalu ramah kepada siapapun dan kenal baik dengan setiap orang. Ia juga punya satu kelebihan istimewa, ia dapat menghafal setiap detil kejadian dalam jangka waktu yang lama. Kemampuan ini diakuinya sudah dimilikinya sejak remaja.

Negeri Senja masih menyimpan banyak orang lagi, dengan keunikannya masing-masing. Dan mereka semua mencoba untuk bertahan hidup di alam ganas Negeri Senja.



*gambar diambil dari johnbokma.com

Sabtu, 14 Maret 2009

Cukup Tunjukkan Padaku

Tunjukkan padaku alasan mengapa membunuh itu salah. Atau jangan harap kau masih bisa menghisap cerutu itu sepuluh detik lagi. Aku hanya ingin tahu, dan katanya keingintahuan bukanlah dosa. Memang membunuh itu dosa, tapi kalau kau saja tak bisa memberikanku alasan kenapa itu menjadi dosa, aku bisa jadi ragu. Kau adalah kunci dari kehidupanmu sendiri.

Tunjukkan padaku alasan mengapa menolong itu benar. Aku tahu jawabannya, tapi aku hanya ingin tahu jawaban darimu.

Tunjukkan padaku alasan mengapa anak kecil tidak suka makan. Dan mengapa tanpa sadar mereka akan menjadikan makan sebagai tujuan utama mereka di setiap harinya ketika mereka sudah dewasa kelak? Apakah ini pengaruh orang tua yang sudah menjadi tradisi turun temurun? Apakah nurani manusia awalnya berkata bahwa makan itu salah, sebelum para orang tua mencekoki mereka dengan berbagai perintah bahwa makan itu harus? Sehingga makan menjadi kebutuhan manusia yang paling utama? Bahkan melebihi seks.

Tunjukkan padaku alasan mengapa menuntut ilmu itu perlu? Orang memang bisa membuat pesawat atau membangun jembatan setelah menuntut ilmu. Tetapi bukannya dengan menuntut ilmu mereka juga jadi bisa membuat bom atom dan tank untuk saling membunuh? Siapa yang bisa jamin setiap orang yang menuntut ilmu itu baik semua?

Tunjukkan padaku alasan mengapa kita semua diwajibkan ke dokter setelah sakit? Memangnya dokter tahu segalanya? Bukankah dokter biasanya bakal memberi obat kepada kita padahal sebenarnya obat itu adalah racun? Bagaimana kalau perkiraan si dokter itu salah? Tidak percayakah kita akan sistem kekebalan yang dimiliki tubuh kita?

Tunjukkan padaku alasan mengapa orang menciptakan pemanas selagi kayu bakar masih bisa dipergunakan. Mengapa orang menciptakan internet ketika dunia nyata saja masih terlalu luas untuk ditelusuri tiap tempatnya.

Tunjukkan padaku alasan mengapa orang menggunakan mobil ketika jarak yang ditempuhnya hanya sepanjang dua puluh tombak. Atau mengapa orang selalu menggunakan parfum padahal mereka tahu keringat akan menyamarkan bau parfum mereka itu nantinya.

Tujukkan padaku alasan mengapa cantik itu putih, tinggi, dan berambut panjang. Mengapa pula orang-orang memperdulikan itu.

Tunjukkan padaku alasan mengapa orang-orang berebut ingin menjadi presiden. Padahal pekerjaan itu hanya akan menguras banyak tenaga dengan taruhan tanggung jawab yang tinggi pula.

Tunjukkan padaku alasan mengapa menyendiri itu salah? Padahal banyak hal yang bisa ditemukan setelah menyendiri.

Tunjukkan padaku alasan mengapa orang-orang ingin pergi ke bulan. Aku juga ingin pergi ke bulan, tapi kalau tawaran itu datang padaku sekarang juga pasti akan kutolak.

Tunjukkan padaku alasan mengapa harimau itu buas dan ular itu berbahaya. Mereka hanya tidak tahu dan menganggapmu sebagai gangguan. Kalau kau membunuh mereka karena mereka menyerangmu seharusnya kau yang salah. Mereka punya otak, tapi tak punya akal. Kau punya keduanya.

Tunjukkan padaku alasan mengapa perang selalu terjadi di sana sini. Mengapa mereka tidak bosan-bosannya membunuh. Bahkan untuk alasan loyalitas pada negara. Sepenting itukah mengabdi kepada sesuatu yang hanya berbuat kerusakan?

Tunjukkan padaku alasan mengapa mencintai itu penting. Aku yakin bakal banyak jawaban dari pertanyaan ini.

Tunjukkan padaku isi hatimu. Agar aku tahu. Agar aku mengerti. Agar aku bisa turut merasa.

Aku ingin turut hadir di sana.