Sabtu, 12 Desember 2009

Tim

Ada perbedaan yang cukup tegas antara pemimpin dan penggerak. Mungkin ini hanya masalah penafsiran saja, tapi hal terburuk yang dapat ditimbulkan bahasa adalah kesalahan penafsiran.

Belum lama ini aku menonton film lama yang berjudul Gung Ho. Sebuah film yang menceritakan tentang perusahaan Jepang yang mengambil alih sebuah pabrik kosong di Amerika Serikat dan mengubahnya menjadi sebuah pabrik mobil dengan sistem kerja ala Jepang. Tak perlu waktu lama, langsung terlihatlah perbedaan yang sangat mendalam antara etos kerja, budaya, dan ideologi dari orang Jepang dan Amerika.

Di film itu digambarkan betapa orang Jepang sangat menghargai kerja sebagai tim, dan yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah tim yang kuat adalah loyalitas. Loyalitas ini juga berbentuk pengorbanan sampai batas-batas yang tak bisa ditalar oleh akal sehat orang Amerika, seperti mengorbankan keluarga demi perusahaan. Selain itu, hal lain yang juga dipegang teguh oleh orang Jepang adalah kedisiplinan. Dan orang Jepang juga sangat takut gagal karena jika mereka gagal, mereka harus menanggung rasa malu yang dapat membuat mereka sampai bunuh diri. Sebegitu tinggi etos kerja mereka.

Sedangkan orang Amerika digambarkan sebagai pribadi yang santai, target seadanya, dan cenderung mengutamakan diri sendiri daripada perusahaan dalam bekerja. Hal ini membuat mereka heran akan perlakuan-perlakuan yang dilakukan oleh orang Jepang. Mereka menertawakannya lalu memakinya.

Apa yang digambarkan di film memang bisa saja tidak sama persis dengan fakta sebenarnya karena film mengambil perbandingan untuk dua kondisi ekstrem dan tentu saja ada unsur komersialisasi yang wajib diperhitungkan. Tapi setidaknya kita dapat gambaran umum akan dua tipe pekerja tim, "Jepang" dan "Amerika".

Lain halnya dengan yang kualami di dunia nyata. Belakangan ini aku tergabung dalam dua tim yang berbeda. Di satu tim, aku bertindak sebagai penggerak utama walau tidak pernah dirundingkan untuk menjadi seperti itu. Di tim yang lain, aku hanya berperan sedikit saja mereka, bahkan cenderung nihil.

Kontribusi butuh pengorbanan, loyalitas apalagi. Masalahnya sejauh mana kita harus memberikan kontribusi dan loyalitas tersebut kepada tim kita?

Akhirnya banyak orang yang menggiring jawabannya ke arah prioritas. Sebuah jawaban yang justru akan membuatku semakin bertanya tentang dasar-dasar apa yang membuat kita menentukan prioritas.

Sejauh yang kutahu, hidup ini butuh tujuan, dan tujuan itulah yang membuat kita mau berbuat ini dan itu. Sejauh mana kau mau berikan kontribusimu adalah sejauh kontribusimu dapat membantu mencapai tujuanmu. Sejauh mana kau mau berikan loyalitasmu adalah sejauh loyalitasmu dapat membantu mencapai tujuanmu.

Banyak orang berpendapat seluas lautan, berkoar-koar tentang tim, tapi yang dilakukan nihil. Wajar saja. Mungkin itu tidak membantunya mencapai tujuannya.

Orang lain memang seringkali menjadi masalah ketika kita bekerja sebagai tim, tapi kita sering lupa kalau masalah tersebut bakal menjadi lebih besar lagi jika kita hanya bekerja sendiri.

Kontribusi atau loyalitas atau kotoran kambing apapun. Cukup hargai saja timmu. Berikan respek terhadap setiap anggota. Tak usah banyak berkoar-koar karena nasehat lebih efektif jika disampaikan tanpa ucapan.

Yang dibutuhkan tim hanyalah kesadaran untuk saling respek.

Jumat, 02 Oktober 2009

Media Galau: Musik dan Kopi

Kopi. Kafein dan begadang. Terjaga karena kondisi fisik yang dipaksa insomnia. Salah satu cara untuk menikmati kesunyian malam dan terlarut dalam kesendirian yang mendalam. Kopi yang juga bisa menumbuhkan inspirasi. Berbagai ide gila bisa bermunculan dari sana. Mulai dari membuat parasut dari sprei hotel sampai menggunakan obeng untuk membersihkan lubang hidung. Entah ide ini muncul karena pengaruh kafein pada kopi atau karena kondisi tidur-ayam yang sedang dialami. Kondisi tidur-ayam memang memungkinkan manusia untuk menjadi lebih terbuka dalam menemukan ide-ide brilian. Ataukah kondisi tidur-ayam ini disebabkan dari insomnia-yang-dipaksakan akibat kafein?

Kopi. Pahit dan rasa-rasa tambahan lainnya. Pahit harus ada dalam kopi. Kalau kopi tidak pahit, status kekopiannya perlu dipertanyakan. Pahit ini ada dalam berbagai macam kadar. Mulai dari yang cuma muncul sepersekian detik saja di lidah sampai pahit yang bisa membuat seekor tikus terkejut. Pahit ini muncul untuk mengingatkan, bahwa dunia ini punya bagian yang tidak mengenakkan. Dan kau harus merasakan itu. Mau-tidak-mau dan suka-tidak-suka. Kau harus merasakannya.

*

Musik. Aku mendengarkan Blur, kau mendengarkan Norah Jones. Aku ganti dengan U2, kau shuffle menjadi Kings of Convenience. Terakhir, kau minta Celine Dion untuk dimainkan. Aku protes. Kauganti permintaanmu menjadi Michael Jackson. Barulah kita bersenandung bersama.

Musik. Temanku bilang bahwa ada musik tertentu yang bisa membunuhmu. Sebegitu menghipnotisnya dia. Sesuatu yang membuat ketagihan sekaligus kecanduan. Dan kalau batas kecanduan sudah terlewati, tinggal tunggu dia untuk menghancurkanmu.

Musik. Gerbang ke dunia lain. Dunia kebebasanmu, sekaligus kamar penjaramu. Labirin pengantarmu, juga kereta penjemputmu. Jalan setapak menuju hutan hujan tropis yang lebat, dan jembatan kayu kecil untuk menyeberang sungai dengan aliran yang bisa membuat perahu kano terberat menjadi terguling.

Musik. Pelampias emosi. Penumpah rasa. Pengantar lamunan.

Musik. Prolog dunia. Karena dunia yang sebenarnya sudah menanti dari tadi.

*

Aku mau terbebas sejenak dari jeratan rutinitas duniaku yang kadang membuatku meraung-raung ini. Aku ingin keluar sebentar dari semua ini. Hanya sebentar. Benar-benar hanya sebentar. Kebetulan kopi dan musik bisa mengantarkanku ke gerbang keluarnya. Oh, tidak. Tidak perlu sebuah mariyuana atau lem aibon untuk keluar dari duniaku. Sekali lagi: cukup kopi dan atau musik.

Kopi. Musik.

Banyak pengantar lain yang mampu membawaku sampai ke gerbang keluar sementara dari duniaku ini, namun sayangnya kebanyakan dari mereka tidak menjemputku lagi sehingga aku bermain di luar terlalu lama.

Selasa, 02 Juni 2009

Lukisan Abstrak



Setiap benda di ruangan itu mahal tak ternilai. Membelinya sama saja dengan menyerahkan separuh dari seluruh harta kekayaanmu. Padahal benda-benda itu tidak punya fungsi apa-apa. Hanya saja sebagian orang menganggapnya indah.

"Yang ini menggambarkan kesedihan."

Kulihat gambarnya. Sebuah patung batu yang bentuknya menyerupai seorang manusia yang sedang meraung sambil berlutut. Mungkin pembuatnya menemukan barang ini dari kali di depan rumahnya.

"Kalau yang ini tentang kemurahhatian."

Kali ini sebuah lukisan. Isinya tentang seorang anak kecil yang membantu seorang nenek yang sedang sakit. Anak kecil itu adalah cucunya, justru kurang ajar namanya kalau cucu itu tidak menolong neneknya.

"Atau mungkin Anda tertarik dengan yang ini."

Lukisan lagi. Gambarnya tidak jelas. Mungkin ini yang disebut orang sebagai gambar abstrak yang katanya hanya bisa dimengerti oleh orang-orang tertentu saja. Lalu kenapa benda seperti ini diperlihatkan ke umum? Toh, yang bisa menikmatinya hanya kalangan tertentu saja!

"Memangnya ini gambar apa?"

"Ini namanya seni abstrak, Pak. Sebuah seni yang benar-benar mengutamakan kebebasan berkarya sehingga referensi yang dipakai di sana berbeda dengan referensi di dunia nyata."

"Oke, aku tahu itu. Namun apa artinya gambar ini?"

"Ini adalah gambar tentang sebuah kebahagiaan. Sebuah perasaan yang meluap-luap yang dinantikan oleh siapapun juga."

"Apa bentuk kebahagiaan itu?"

"Di dalam seni abstrak tidak dijelaskan hal yang seperti itu. Segalanya dipandang dengan cara yang sangat umum."

Aku mengangguk. "Oke, itu semua sudah cukup."

Kebahagiaan itu seharusnya tecermin dari gambar itu. Gambar dengan goresan goren tinta yang mengarah ke luar. Cukup menegaskan bahwa pembuatnya tidak punya niat menggambar sebuah bangunan.

Mungkin yang namanya kebahagiaan memanglah abstrak. Kalau yang lain bisa dicontohkan dari kondisi riil yang benar-benar ada di dunia ini.

Aku berjalan keluar dari pameran tersebut. Meninggalkan semua karya seni bernilai tinggi yang siap dibeli oleh jutawan-jutawan dari seantero dunia.

Lukisan itu betul. Kebahagiaan memang abstrak.


_
Sumber gambar: Barnett Newman, Onement1.

Selasa, 26 Mei 2009

Monopoli Kehidupan

Aku melangkah tiga petak. Sebuah "kesempatan". Lama aku berdiam diri seraya berdoa dalam hati agar "kesempatan" ini adalah sesuatu yang baik. Aku benar-benar butuh uang.

Terlalu lama aku membuat mereka menunggu. Sudah, kubuka saja kartu itu.

Entah kenapa tiba-tiba pandanganku buyar. Untuk sesaat aku tidak bisa melihat dengan jelas.

Ketika pandanganku pulih kembali, yang kulihat ialah sebuah tulisan "ONGKOS PERBAIKAN JALAN, BAYAR KE BANK $250". Hancur sudah segalanya.

Aku resmi bangkrut, lirihku dalam hati.

*

Ini adalah minggu berikutnya. Permainan dimulai kembali dari awal.

Aku harus menerapkan strategi yang berbeda, ujarku dalam hati. Kali ini akulah yang menang.

Dadu mulai digulirkan. Bidak mulai bergeser. Langkah demi langkah. Petak demi petak. Hingga semua orang terlarut dalam kebahagiaan yang dibawa oleh permainan klasik tersebut.

Nama permainan ini adalah Monopoli. Orang yang dianggap menang di sini adalah orang yang mampu memonopoli seluruh lahan yang ada dalam papan permainan.

Menjadi penguasa tunggal.

Dibutuhkan strategi ekstra untuk saling mengalahkan karena pada dasarnya setiap orang punya modal yang sama. Kecuali faktor luck. Yang satu itu memang sulit diperhitungkan.

Akan tetapi, terkadang faktor luck-lah justru yang menjadi penentu siapa yang menjadi pemenang.

Pemenang yang ditentukan dari keberuntungan. Penguasa tunggal yang beruntung.

Guliran dadu, setiap tindakan yang dipilih, isi dari setiap "kesempatan" yang didapatkan. Semuanya penentu kemenangan. Semuanya ditentukan oleh luck tersebut. Yang--sepertinya--segalanya telah tertulis dan tinggal menunggu untuk terjadi.

Andai saja kehidupan ini tidak serumit ini. Yang bisa diandalkan melalui luck saja.

Namun, bagaimana kalau ternyata kehidupan ditentukan oleh faktor luck saja? Apakah itu akan memberikan hasil yang lebih baik?

Tidak ada jerih payah, yang ada hanyalah judi dan tebak-tebakan. Taruhan menjadi lapangan pekerjaan bagi setiap orang dan pachinko adalah alternatif yang lain. Tidak ada lagi yang tertarik kuliah. Tidak ada lagi yang mau menjadi dokter.

Tidak ada dokter? Bagaimana dengan yang sakit?

Semua dari mereka disembuhkan dengan obat yang diramu dengan perhitungan asal-asalan. Kalau nasib baik sedang datang berarti orang itu sembuh. Nyawa juga bergantung keberuntungan.

Kehidupan ini menjadi semudah Gladstone Gander dalam berusaha, atau sesial Donal Bebek dalam segala aktivitas.

Pilihan dari segala sesuatu menjadi tinggal dua: mujur atau sial.

Anda dapat yang mana?

Yang mujur dan yang sial semuanya "telah tertulis".

"Maktub," ujarku sambil teringat kata-kata seorang pujangga.

Sabtu, 11 April 2009

Musisi Jazz

Aroma kopi, wangi parfum, dan bau keringat.

Ketiga elemen bebauan itu silih berganti terhirup oleh hidungku. Untung di ruangan ini tidak diperbolehkan merokok, jadi tak sedikitpun asap rokok terhirup di sini.

Kedai kopi ini terasa terlalu sempit, walaupun ini adalah kedai kopi terbesar di daerah sini. Pengunjungnya selalu membludak. Itulah penyebab kenapa ruangan yang besar ini menjadi terasa sekecil kandang ayam broiler.

Aku mengobrol dengan temanku. Topiknya masalah politik. Aku dan temanku suka dengan topik itu. Hanya pada topik ini kami bisa dengan suka hati mencela orang sepuas kami. Siapapun itu. Tak peduli kepada fakta bahwa dia adalah mantan presidenmu.

Di kedai kopi itu aku tidak memesan kopi sama sekali. Yang kupesan hanyalah sepotong croissant dan segelas air mineral. Aku tak suka kopi.

Kupanggil seorang pelayan muda, "Hei, Mas!"

"Dia minta kopi, Mas," ledek temanku.

"Enak saja," sahutku sambil terkekeh. "Aku minta croissant satu lagi. Tampaknya satu tak bisa menggenapi malam ini."

*

Senda gurau, gelak tawa, dan alunan musik.

Musik jazz.

Kedai kopi ini selalu menampilkan musisi-musisi jazz tua di hari Jumat mereka. Ini menjadi semacam magnet bagi mereka yang benar-benar pencinta jazz atau bagi mereka yang kangen akan masa muda mereka.

Aku tak begitu mengerti keindahan musik. Biasanya yang membuat aku menyukai sebuah lagu adalah liriknya, bukan musiknya yang mengalun dengan indah.

Tapi musik jazz selalu terdengar berbeda di telingaku.

*

Si pianis jazz tua baru saja menyelesaikan sebuah lagu yang langsung disudahi dengan riuh tepuk tangan penonton yang membahana di kedai kopi itu. Ia langsung menyambar microphone-nya dan berbicara beberapa patah kata. Suaranya serak, ternyata seraknya yang timbul di suaranya ketika bernyanyi itu tidak dibuat-buat.

"Piano ini bukan sembarang piano," ujarnya. "Piano ini punya nama."

Salah seorang dari penonton nekat menceletuk, "Ada akte kelahirannya tidak?"

Dan seketika seisi kedai menjadi penuh dengan gelak tawa. Si pianis tua tampak puas. Respon dari penonton memang selalu dia harapkan. Dia tak suka jika harus tampil di depan penonton yang hanya duduk manis tanpa memberi respon apa-apa. Suasana seperti ini memang sesuai dengan rencananya.

"Aktenya belum kuurus," canda si pianis tua, disambut dengan koor tawa susulan, "dan tentu saja tak akan kuurus. Piano ini tak butuh akte untuk mendaftar ke Perguruan Tinggi atau melamar kerja!"

Penonton makin terpingkal-pingkal dengan segala lelucon ini.

"Sudah berhenti dulu guyonannya, mari kembali ke topik nama piano ini," kata si pianis tua. "Aku yang memberikan piano ini sebuah nama. Namanya Ludwig, terinspirasi dari nama seorang legenda, Ludwig van Beethoven. Padahal Beethoven tidak bermain jazz."

Riuh tawa terdengar lagi.

"Ludwig hanya pernah dimainkan olehku selama masa hidupnya."

Sekarang kedai itu berubah menjadi senyap. Si pianis mulai berbicara serius.

"Dan hari ini, sejarah itu akan berubah. Seseorang--selain aku tentunya--akan memainkan Ludwig. Dan ini adalah pertama kalinya tuts-tuts seksi Ludwig bakal dijamahi oleh jemari-jemari manis yang bukan milikku."

Para penonton menyimak dengan sangat antusias. Tentunya orang yang akan ditunjukkan si pianis pasti adalah orang yang luar biasa.

"Langsung saja kita sambut pianis baru kita, Dik Hadi!"

Riuh tepuk tangan kembali meledak. Mereka semua penasaran dengan yang dinamakan Dik Hadi.

Dik Hadi naik ke panggung. Ia mengenakan celana kakhi abu-abu, kemeja putih, dan sepatu hitam yang tampak baru saja disemir. Rambutnya disisir klimis dan matanya hanya fokus pada satu arah, entah ke mana arah yang ia tatap. Dan--astaga--dia berjalan dipapah, ia buta!

Seketika setiap pengunjung di kedai kopi tersebut sadar akan kebutaan dari Dik Hadi tanpa perlu diberitahu. Dik Hadi langsung duduk di atas kursi Ludwig dan langsung mengelus-elus setiap bagian dari Ludwig.

Tiba-tiba musik dimulai. Komando benar-benar ada pada Dik Hadi. Drummer, saksofonis, bassis, serta gitaris itu benar-benar mencermati setiap alunan nada yang teruntai dari Ludwig.

Dan malam itu menjadi sangat luar biasa bagi setiap pengunjung kedai kopi itu. Semua merasa terhibur akan permainan jazz pimpinan Dik Hadi. Tak peduli apakah dia penikmat jazz atau bukan, setiap orang pasti setuju bahwa Dik Hadi bermain luar biasa malam itu. Atau malah mungkin di setiap malam.

*

Yang ada di pikiran setiap pengunjung kedai kopi itu setelah penampilan Dik Hadi hanyalah kekaguman. Dan semuanya pun menjadi berpikir tentang kebesaran Tuhan. Bagaimana seorang buta bisa menjadi seorang dewa jazz yang tak tertandingi.

Semua berpikir tentang segala usaha yang ditempuh Dik Hadi hingga sampai pada tahap ini. Pastilah itu sangat berat.

Dik Hadi memang luar biasa. Dan semua orang menjadi tersadar bahwa selama ini yang mereka lakukan belum ada apa-apanya. Mereka semua masih terlalu banyak mengeluh. Mereka semua hanya menuntut segala yang instan.

Mereka semua belum setegar Dik Hadi.

Dan Dik Hadi telah resmi mengubah tiap orang di kedai kopi tersebut sejak malam itu.

Sabtu, 28 Maret 2009

Catatan Singkat dari Rumah Sakit

Rumah sakit berbeda dari tempat-tempat lainnya.

Kata dosenku, bangunan rumah sakit harus selalu lebih kokoh daripada bangunan lainnya. Karena jika terjadi bencana, rumah sakit harus tetap berdiri tegar agar tetap dapat melayani korban-korban yang pastinya akan banyak membutuhkan perawatan medis.

Rumah sakit bisa dianggap sebagai penolong. Atau rumah sakit adalah penyelamat dari maut. Tapi tolong pernyataan ini jangan disalahartikan.

Rumah sakit juga bisa jadi dewa kematian. Buktinya banyak yang mati di sini.

Suasananya pun seringkali mendukung. Sunyi. Sepi. Atau gelap. Kecuali rumah sakit mahal atau rumah sakit untuk orang-orang kaya.


*

Hari ini aku berada di rumah sakit dan merasakan suasana yang berbeda di sini. Rumah sakit memang berbeda.

Tapi aku menikmatinya.

Minggu, 15 Maret 2009

Catatan di Negeri Senja: Enam Bulan


Negeri Senja memang penuh dengan kejutan.

Sudah sekitar enam bulan kami bertahan di Negeri Senja. Makanan kami dapatkan dengan cara berburu. Akhir-akhir bahkan kami sudah mulai mencoba menanam ubi-ubian. Pohon di Negeri Senja cukup sedikit. Itu sempat menjadi masalah buat kami karena kami tidak bisa membangun tempat peristirahatan karenanya. Untungnya ada gua-gua besar yang terletak di pesisir yang letaknya membelakangi laut. Menjadikannya sedikit lebih aman karena ombak menjadi terhalang dan tidak bisa masuk.

Katanya kebutuhan primer manusia itu ada tiga: sandang, pangan, papan. Tinggal sandang yang belum kita bahas. Selama ini kita memang sedikit bermasalah dengan hal itu. Terkadang kami mencoba membuat pakaian dari kulit rusa yang kami buru. Tapi satu rusa hanya bisa menghasilkan dua pakaian saja. Terkadang tiga. Sedangkan jumlah kami cukup banyak. Dan rusa di Negeri Senja jarang sekali ditemukan. Kami juga pernah mencoba membuat pakaian dari dedaunan, cukup efektif walau sedikit rapuh. Akhirnya pakaian seadanya yang kita bawa itulah yang benar-benar menjadi pegangan kami.

Negeri Senja tidak seburuk yang kubayangkan. Memang di sini tidak bisa menonton televisi atau memakan makanan seenaknya. Tapi itu membuatmu lebih menikmati perjuangan dalam hidup.

Dan lama kelamaan--secara mengejutkan--aku merasa mulai mencintai Negeri Senja. Tidak. Aku memang sudah jatuh cinta dengan Negeri Senja.

Orang-orang yang ikut dengan kereta api ke Negeri Senja itu juga semuanya jauh lebih menyenangkan dari bayanganku sebelumnya. Awalnya aku mengira orang-orang yang pergi ke Negeri Senja itu adalah orang-orang yang sudah tidak punya semangat hidup sehingga mereka semua mencoba memalingkan diri dari kehidupan nyata dan beralih kepada kehidupan yang baru.

Total jumlah kami semua ada seratus enam orang. Penumpang lima gerbong kereta api menuju Negeri Senja. Hingga akhirnya benar-benar terdampar di Negeri Senja.

Di antara kami ada seorang pemimpin yang kami pilih secara aklamasi. Namanya Grot. Tapi itu bukan nama sebenarnya, nama aslinya Sigit. Memang banyak sekali orang yang memilih untuk mengganti nama mereka ketika di Negeri Senja. Alasan mereka bervariasi, tapi yang jelas semuanya seakan menunjukkan bahwa "ini adalah kehidupan baru kami, seharusnya kami juga meninggalkan segala sesuatu yang lama, termasuk nama". Aku sendiri memilih untuk menggunakan nama asliku.

Grot berasal dari daerah pinggiran ibukota. Rumahnya merupakan permukiman liar di pinggir suatu sungai. Dulu pekerjaannya adalah guru yang merangkap sekaligus sebagai tukang ojek dan tukang cukur rambut. Tiga pekerjaan ini dia ambil bukan karena dia gila bekerja atau karena dia mata duitan. Ini memang dilakukannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Maklumlah, dia punya delapan anak. Awalnya dia adalah seorang pria yang mencintai keluarganya dengan amat sangat. Tapi ketika istrinya ingin kawin lagi dan menuntut cerai semuanya menjadi berubah. Ia kecewa bukan main. Dan sialnya lagi hak asuh anaknya malah jatuh ke tangan mantan istrinya. Kasihan Grot. Makanya ia memutuskan untuk pergi ke Negeri Senja.

Grot badannya tinggi kekar. Tapi lemah di hadapan wanita. Sudah berkali-kali ia ditinggal wanita dan tidak berani melawan apa-apa. Tapi satu kelebihan utama dari Grot, ia adalah seorang pembaca situasi yang ulung. Hampir tiap keputusannya adalah memang jalan yang terbaik yang bisa dia ambil. Makanya kami semua merasa beruntung telah menjadikkannya sebagai pemimpin, atau Pengarah--begitu kami menyebutnya.

Grot selalu ramah kepada siapapun dan kenal baik dengan setiap orang. Ia juga punya satu kelebihan istimewa, ia dapat menghafal setiap detil kejadian dalam jangka waktu yang lama. Kemampuan ini diakuinya sudah dimilikinya sejak remaja.

Negeri Senja masih menyimpan banyak orang lagi, dengan keunikannya masing-masing. Dan mereka semua mencoba untuk bertahan hidup di alam ganas Negeri Senja.



*gambar diambil dari johnbokma.com

Sabtu, 14 Maret 2009

Cukup Tunjukkan Padaku

Tunjukkan padaku alasan mengapa membunuh itu salah. Atau jangan harap kau masih bisa menghisap cerutu itu sepuluh detik lagi. Aku hanya ingin tahu, dan katanya keingintahuan bukanlah dosa. Memang membunuh itu dosa, tapi kalau kau saja tak bisa memberikanku alasan kenapa itu menjadi dosa, aku bisa jadi ragu. Kau adalah kunci dari kehidupanmu sendiri.

Tunjukkan padaku alasan mengapa menolong itu benar. Aku tahu jawabannya, tapi aku hanya ingin tahu jawaban darimu.

Tunjukkan padaku alasan mengapa anak kecil tidak suka makan. Dan mengapa tanpa sadar mereka akan menjadikan makan sebagai tujuan utama mereka di setiap harinya ketika mereka sudah dewasa kelak? Apakah ini pengaruh orang tua yang sudah menjadi tradisi turun temurun? Apakah nurani manusia awalnya berkata bahwa makan itu salah, sebelum para orang tua mencekoki mereka dengan berbagai perintah bahwa makan itu harus? Sehingga makan menjadi kebutuhan manusia yang paling utama? Bahkan melebihi seks.

Tunjukkan padaku alasan mengapa menuntut ilmu itu perlu? Orang memang bisa membuat pesawat atau membangun jembatan setelah menuntut ilmu. Tetapi bukannya dengan menuntut ilmu mereka juga jadi bisa membuat bom atom dan tank untuk saling membunuh? Siapa yang bisa jamin setiap orang yang menuntut ilmu itu baik semua?

Tunjukkan padaku alasan mengapa kita semua diwajibkan ke dokter setelah sakit? Memangnya dokter tahu segalanya? Bukankah dokter biasanya bakal memberi obat kepada kita padahal sebenarnya obat itu adalah racun? Bagaimana kalau perkiraan si dokter itu salah? Tidak percayakah kita akan sistem kekebalan yang dimiliki tubuh kita?

Tunjukkan padaku alasan mengapa orang menciptakan pemanas selagi kayu bakar masih bisa dipergunakan. Mengapa orang menciptakan internet ketika dunia nyata saja masih terlalu luas untuk ditelusuri tiap tempatnya.

Tunjukkan padaku alasan mengapa orang menggunakan mobil ketika jarak yang ditempuhnya hanya sepanjang dua puluh tombak. Atau mengapa orang selalu menggunakan parfum padahal mereka tahu keringat akan menyamarkan bau parfum mereka itu nantinya.

Tujukkan padaku alasan mengapa cantik itu putih, tinggi, dan berambut panjang. Mengapa pula orang-orang memperdulikan itu.

Tunjukkan padaku alasan mengapa orang-orang berebut ingin menjadi presiden. Padahal pekerjaan itu hanya akan menguras banyak tenaga dengan taruhan tanggung jawab yang tinggi pula.

Tunjukkan padaku alasan mengapa menyendiri itu salah? Padahal banyak hal yang bisa ditemukan setelah menyendiri.

Tunjukkan padaku alasan mengapa orang-orang ingin pergi ke bulan. Aku juga ingin pergi ke bulan, tapi kalau tawaran itu datang padaku sekarang juga pasti akan kutolak.

Tunjukkan padaku alasan mengapa harimau itu buas dan ular itu berbahaya. Mereka hanya tidak tahu dan menganggapmu sebagai gangguan. Kalau kau membunuh mereka karena mereka menyerangmu seharusnya kau yang salah. Mereka punya otak, tapi tak punya akal. Kau punya keduanya.

Tunjukkan padaku alasan mengapa perang selalu terjadi di sana sini. Mengapa mereka tidak bosan-bosannya membunuh. Bahkan untuk alasan loyalitas pada negara. Sepenting itukah mengabdi kepada sesuatu yang hanya berbuat kerusakan?

Tunjukkan padaku alasan mengapa mencintai itu penting. Aku yakin bakal banyak jawaban dari pertanyaan ini.

Tunjukkan padaku isi hatimu. Agar aku tahu. Agar aku mengerti. Agar aku bisa turut merasa.

Aku ingin turut hadir di sana.

Jumat, 13 Februari 2009

Tidur Total

Tidurku pulas sekali.

Malam ini aku tidur pulas sekali. Sudah lama aku tidak tidur layaknya malam ini. Malam ini aku tidur "hingga habis". Tidak ada bekas-bekas mimpi yang belum tuntas. Tidak ada sisa rasa kantuk yang terus merasuk. Tidak ada kelopak mata yang dibuka dengan paksa. Aku bangun secara suka rela.

Setiap homunculus di kepala berhenti bekerja, hanya cukup menayangkan secara asal setiap memori yang bisa terbuka di kepalaku. Hingga aku merasakan mimpi. Kilasan memori random. Seperti perintah shuffle.

Malam ini aku tidur pulas sekali. Sudah lama aku tidak tidur layaknya malam ini. Aku tidur tanpa beban. Bangun dengan kesiapan untuk memulai hari yang baru. Sebuah hari lain yang baru.

Malam ini aku tidur pulas sekali. Walaupun aku tidur hanya sebentar, tapi aku merasa itu sudah lebih dari semestinya. Sebuah tidur yang "bernilai".

Malam ini aku tidur pulas sekali. Sudah lama aku tidak bangun karena aku sudah selesai tidur. Belakangan ini aku selalu bangun karena deringan alarm yang memaksaku begitu. Hingga pagiku kuawali dengan gerutu.

Malam ini aku tidur pulas sekali. Dan itu bukan berarti tanpa konsekuensi sama sekali.

Aku nyaris telat Kelas Kimia hari ini.