Rabu, 28 Mei 2008

Kisah Manusia yang Terdampar


Tak ada yang tahu kapan kisah ini terjadi, dan karena apa. Tapi kisah ini bermula ketika seorang manusia terdampar di sebuah pantai yang luas. Sendirian.

Manusia itu lelaki. Ia sangat suka pantai, tapi ia tidak suka terdampar di atasnya.

Ia bingung akan apa yang harus ia lakukan.
Pertolongan tak kunjung datang, dan ia tak suka menunggu. Ia menjadi semakin tak suka terdampar di pantai. Lama-lama aku bisa tidak suka pantai juga, pikirnya.

Seketika ia merasakan dahaga yang teramat sangat. Ia butuh air. Sangat butuh. Di pantai hanya ada air laut, dan ia tak mungkin meminum air laut.

Aku bisa mati kehausan.

Ia hanya bisa pasrah pada akhirnya. Padahal dulu ia adalah lelaki yang sangat tangguh. Pasrah tak pernah ada dalam kamusnya. Tapi untuk saat ini tidak ada pilihan lain. Ia harus menyusun ulang kamus buatannya.

Lelaki itu berbaring di hamparan pasir putih itu. Bersiap-siap mati dalam sikap terhormat. Lebih baik begini, pikirnya. Aku akan tertidur pulas dan ketika terbangun aku sudah mati. Jadi aku tak perlu merasakan sakitnya mati.

Sial untuknya. Sinar matahari yang terlalu terik membuat lelaki itu sulit untuk tertidur. Aku butuh pohon untuk berlindung dari sinar matahari yang brengsek ini. Di pantai hanya ada pohon kelapa. Ah, daunnya terlalu sedikit.

Kenapa Tuhan malah menciptakan pohon kelapa di sini? Bukankah lebih baik Ia menciptakan pohon yang lebih rindang macam pohon mangga? Agar buahnya dapat kujadikan rujak sekalian?

Lelaki itu termenung cukup lama. Sambil menyesali keputusan Tuhan tentang pohon kelapa itu. Ya, itu memang benar-benar pohon kelapa.

Pohon kelapa. Ah. Tidak, Kaulah yang benar. Sungguh tepat Kau tempatkan pohon kelapa itu di sini. Daripada pohon mangga, aku tidak bisa membuat rujak. Dan kautahu itu, Tuhan.

Ini pastilah keajaiban. Setidaknya lelaki itu tidak jadi mati dalam dahaga. Mungkin ia akan mati kelaparan, dan menurutnya itu lebih baik.

Lelaki itu memanjat pohon kelapa itu dengan lincah. Dan mendapatkan buahnya. Puas bukan main melihat ia mampu mengambil lima buah kelapa yang ada di sana.

Aku tidak jadi mati. Akan kutenggak airnya sebanyak-banyaknya, aku sangat haus sekarang.

Lagi-lagi sial untuknya. Ia tak sadar bahwa kulit kelapa begitu keras.

Untuk apa Kau ciptakan pohon kelapa di sini jika Kau tak memberiku sebilah golok untuk membukanya? Haruskah kugunakan gigiku?

Si lelaki pun benar-benar tertunduk sekarang. Di sebuah tempat yang hanya ada pasir dan batu. Daratan dan lautan. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menembus kulit kelapa itu yang tebalnya paling hanya lima senti.

Lima senti yang berharga. Lima senti yang merupakan penentuan hidup atau mati.

Akhirnya si lelaki itu menyerah pada segalanya. Telah ia coba mulai dari batu karang sampai kuku-kukunya. Tak ada pengaruhnya. Justru kuku-kukunya yang patah. Dan rasa dahaganya tidak berkurang sama sekali. Malah bertambah di setiap sekon yang terasa sangat lambat.

Akhirnya, berakhirlah hidup lelaki itu. Karena ia tak mampu menembus kulit kelapa setebal lima senti itu. Karena lima senti itu.

Hidupmu juga bisa setipis lima senti. Kau harus berhati-hati karenanya.

Senin, 26 Mei 2008

Ukiran yang Tak Pernah Jadi

Kugunakan bolpoin biru itu. Warnanya sesuai dengan keadaan hatiku, yang semakin tak menentu.

Akan kutulis namamu dengan segenap jiwaku. Tulis. Tidak jadi. Aku berubah pikiran. Tulis. Coret. Tulis lagi. Coret lagi. Tulis lagi. Coret lagi. Tulis lagi. Tidak jadi. Kertasnya sudah penuh dengan coretan biru. Di mana namamu pernah tergores dengan tinta yang membuat hati menjadi pilu.

Kuganti dengan pensil kayu itu. Kucoret sedikit. Hitam kelam. Kadang terlihat jantan dan garang. Namun kini hanya terlihat gelap dan hampa.

Kutulis namamu. Tidak jadi. Kuhapus dengan karet itu. Butiran grafit yang pernah terangkai menjadi susunan namamu kini pindah ke karet lusuh itu. Kutulis lagi. Tidak jadi. Ini bodoh.

Lebih baik aku gunakan saja laptop yang sedang menganggur itu. Mungkin itu ide yang baik.

Kugunakan jenis hurufnya dengan yang terlembut sekaligus yang terkeras. Yang terindah sekaligus yang terjelek. Yang paling tegas sekaligus yang paling mudah terbawa. Kurasa Arial cocok. Tidak. Kuganti saja dengan Times New Roman.

Kuganti ukuran hurufnya dengan yang terbesar, sepanjang bidang cetaknya sanggup untuk menampungnya.

Kutebalkan. Agar lebih bermakna. Tidak kumiringkan. Namamu bukanlah nama ilmiah. Tidak kuberi garis bawah. Ini bukanlah bagian yang wajib dihafal dalam catatan biologi.

Kutulis. Tidak jadi. Aku masih tak sanggup.

Lebih baik kuukir namamu di sini. Di dalam hatiku. Agar kau dapat bersemayam di dalamnya, selamanya. Tanpa perlu wujud fisik.

Sabtu, 24 Mei 2008

Satu Lagi

Satu lagi takdir terlaksana. Dan memang pasti terlaksana.

Satu lagi bayi lahir. Satu lagi ibu melahirkan. Satu lagi keluarga yang berbahagia. Disertai dengan keluarga-keluarga lainnya yang memberi ucapan selamat.
Satu lagi serangan jantung. Satu lagi kecelakaan mobil. Satu lagi tabrakan motor. Satu lagi pesawat terbang yang jatuh. Banyak yang mati. Seketika.

Satu lagi perang untuk saling menguasai. Satu lagi pahlawan harus gugur. Satu lagi prajurit yang merasakan kemenangan. Satu lagi tembakan meletus. Satu lagi korban tak bersalah jatuh. Disusul dengan korban-korban lainnya. Satu lagi tangisan terdengar. Tangisan perih yang mengiris hati. Cukup, hentikan sudah.

Satu lagi penggembara berkelana. Satu lagi pelaut pergi berlayar. Satu lagi pilot mengudara. Satu lagi astronot ke angkasa luar.

Satu lagi rokok dibakar. Dihisap. Satu lagi orang yang bakal terkena kanker paru-paru.
Satu lagi cheeseburger. Dan itu sudah yang kedelapan kali. Pantas anak itu bakal terkena serangan jantung mendadak.

Satu lagi tokoh harus wafat. Meninggalkan orang-orang yang begitu mencintainya. Padahal orang-orang itu tidak mengenalnya. Hanya sekedar mengetahuinya. Namun pipi mereka semua berlinangan air mata.
Satu lagi penjahat mati. Puluhan yang mengutukinya.

Satu lagi angin berhembus. Satu lagi daun rontok dari dahannya. Satu lagi ombak berdesir. Satu lagi karang yang hancur terhantam ombak.

Satu lagi bunga yang mekar. Dan kuharap itu kamu.

Satu lagi cintaku padamu bertambah lagi. Ah, cintaku padamu bertambah terus.

Jumat, 23 Mei 2008

Posting Gila untuk Orang-orang Gila

"Di sisi lain ada Einstein yang mengatakan bahwa tidak ada waktu atau ruang, yang ada hanya kombinasi keduanya. Atau Columbus yang bersikukuh bahwa di sisi lain dunia terdapat benua, bukan jurang. Atau Edmund Hillary, yang yakin bahwa manusia bisa sampai ke puncak Everest. Atau the Beatles, yang menciptakan jenis musik yang sama sekali lain dan berpakaian seperti manusia dari masa yang berbeda. Orang-orang seperti itu - dan masih ada ribuan lagi - semuanya hidup dalam dunia mereka sendiri."
Zedka dalam "Veronika Memutuskan Mati" karya Paulo Coelho. Ketika mendefinisikan pengertian "gila".


Aku tersenyum berkali-kali sambil membaca kutipan itu. Menarik sekali definisi gila di sana. Lebih dari itu, gila sebenarnya adalah sinonim unik jika merujuk dari pengertian gila versi Zedka.

Orang gila memang punya dua pertaruhan. Menjadi panutan baru karena orang lain suka dengan gaya "gila"-nya itu atau justru jatuh tenggelam karena dikucilkan masyarakat. Kebanyakan menjadi seperti yang kedua.

Gila itu berarti berbeda. Orang dikatakan gila bukan karena ia salah. Sama sekali bukan begitu. Salah dan benar ditentukan oleh adat yang biasanya sudah disepakati oleh sebagian besar masyarakat di sana.

Lalu kenapa ada yang disebut normal? Bagiku ini adalah soal pengaruh. Jika si gila dapat memberi pengaruh kepada "orang-orang normal" di sekitarnya dan "orang-orang normal" itu suka akan pengaruh yang diberikan oleh si gila, maka "orang-orang normal" itu akan jadi gila juga. Dan kalau ini terjadi dalam skala luas, maka mereka yang tadinya disebut gila akan berganti meraih tahta sebagai yang "normal", sementara mereka yang menolak untuk menjadi ikut gila dan bersikukuh untuk tetap normal justru akan mendapat predikat sebagai "gila" yang baru. Terbalik jadinya.

Ini yang justru menjadi kecenderungan manusia. Mereka lebih memilih untuk menjadi normal. Tidak berani mengambil risiko "menjadi gila sejenak" untuk mengubah lingkungannya. Mengabaikan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin ia dapatkan jika ia berani mengambil risiko itu. Orang memang lebih suka mencari jalan teraman.

Padahal hampir semua tokoh dunia pernah mengecap pengalaman menjadi gila. Bahkan semuanya. Kita mungkin harus menyalin ulang semua dokumen jika Xerox tidak pernah berinisiatif menjadi perusahaan fotokopi pertama di dunia. Dan akan sangat disayangkan jika kita tidak pernah merasakan kesegaran Teh Botol di saat haus, untung saja Sosro melawan pendapat masyarakat kala itu yang menyatakan bahwa sebagian besar dari mereka tidak akan membeli teh dalam botol. Mengambil risiko menjadi gila.

Dunia tidak mungkin menunggumu untuk berubah. Ia bersifat sangat dinamis. Banyak orang lain yang mau berubah sehingga ia pasti akan kena imbasnya. Lalu kenapa kau tidak jadi yang pertama?

Sekali lagi, ini soal pilihan, dan akan selalu begitu. Kadang kau bisa menjadi sosok panutan dengan cara-cara yang tak kausadari. Atau kausadari, namun kauhindari itu.

Ini, pastilah, yang dinamakan roda kehidupan. Bergerak dan tak pernah konstan.

Tertarik untuk menjadi gila? Ah, kau juga sudah gila. Lihat judulnya.

Kamis, 22 Mei 2008

Hati yang Satu

Hati ini hanya satu. Dan pemiliknya hanya aku.

Jangan kaupaksa aku untuk membaginya. Tidak akan kau dapatkan apa-apa dariku. Walaupun hanya secuil. Kau tak akan mampu.

Kau boleh pukul aku, tampar aku, hina aku. Aku tak akan membalas. Toh, aku memang tak kuat. Hanya akan buang tenaga.

Untung superhero hanyalah tokoh khayalan. Untung telepati hanyalah bualan. Untung aku tak pernah bertemu Matt Parkman. Atau aku pasti sudah hancur berantakan.

Jangan bodoh begitu. Tentu telepati hanyalah bualan. Kau kira apa arti kata "rahasia"? Tentu kau butuh berbagi tanpa paksaan.

Hati ini hanya satu. Dan aku mau hati ini bisa padu denganmu.

Genggam tanganku. Mari kita berjalan bersama. Langkahku tak akan terlalu cepat. Kalau langkahku terlalu cepat, semakin cepat pula sampai ke tujuan, semakin sedikit waktuku bersamamu. Padahal aku ingin selamanya begini. Langkahmu juga tidak akan terlalu lambat. Kau selalu mau lebih dulu dari apa pun. Kecuali kereta api.

Hati ini hanya satu. Satu yang benar-benar satu. Tidak bisa dibagi atau pun diberi. Tapi bisa untuk diselaraskan dengan hatimu.

Untung hati ini hanya satu. Aku jadi butuh kamu.

Selasa, 20 Mei 2008

Selotip Bangsa


Ketika gelas kaca diisi dengan campuran air panas dan dingin. Di saat titik perbedaan antara yang panas dan yang dingin terlalu ekstrem, maka si gelas pun tak akan kuasa menahan perbedaan itu. Ia akan pecah, dan airnya akan tumpah.

Terlalu banyak perbedaan yang dimiliki bangsa ini. Dan terlalu sedikit yang bisa menyatukannya. Wadahnya tidak kuat.

Rentang suhunya terlalu besar. Pantas gelas itu mulai retak.

Harus ada yang menghentikannya. Beberapa air sudah mulai keluar lewat retakan kecil yang mulai membesar. Jangan biarkan airnya keluar terlalu banyak.

Tak ada yang kuasa menahannya. Kecuali air itu sendiri. Yang panas harus menerima yang dingin. Yang dingin harus menerima yang panas.

Bangsa ini, sama. Banyak perbedaan, dan sedikit yang mau bersatu. Padahal seharusnya kita padu. Membentuk suatu gabungan yang utuh. Yang kokoh.

Untuk yang sudah terlalu panas, dinginkanlah kepalamu. Cobalah untuk menerima yang lain dengan kepala dingin. Untuk yang terlalu dingin, cobalah untuk lebih hangat. Lebih panas. Lebih membakar.

Sudah saatnya kita kembali bersatu. Atau tiba saatnya ketika gelas itu pecah. Dan pada saat itu tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Kita bebas, namun benar-benar lepas. Tak ada wadah. Tak ada penampung. Tak ada pengendali.

Mungkin dengan selotip? Tapi itu akan percuma jika perbedaannya tetap tak mau saling mengalah.

Sudah saatnya bangsa ini bersatu. Atau gelas itu harus diganti dengan gelas plastik.


Memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke 100. Semoga bangsa ini bisa bangkit.

Minggu, 18 Mei 2008

Bisikan Hati


Hidup telah mengajarkanku banyak hal. Sangat banyak. Tapi hanya sedikit kumengerti. Sangat sedikit.

Jangan pernah membayangkan hidupmu sebagai sebuah lingkaran, yang hanya bisa digambar dengan bantuan jangka. Bayangkan hidupmu sebagai sebuah persegi. Yang mempunyai empat sisi sama panjang. Yang mempunyai empat sudut sama besar. Tegas, karena punya empat siku. Kau berada di jalur yang lurus, tapi terkadang kau harus berbelok. Bukannya selalu memutar.

Hidup telah mengantarku ke jalan yang harus kulalui. Menuju tujuan yang harus kucapai. Kepada takdir yang telah tertulis. Sampai ke akhir yang selalu menunggu.

Dulu aku bisa berbisik pada nurani. Bertanya di kala sedih. Bercanda di saat bahagia. Dibimbing untuk mengerti makna hidup. Sehingga aku bisa turut serta hadir.

Kini aku sudah tidak peka lagi. Hatiku tumpul kini. Bagai tombak yang berkarat.

Di mana engkau saat ini? Bisakah kau kembali padaku? Ajari aku hidup kembali. Bawa jiwaku yang dulu lagi. Agar aku bisa tersenyum kembali.

Antarkan aku mengarungi lautan kehidupan ini. Karena ombaknya sangat berbahaya.

Seberkas Pengorbanan

Ini bukan hanya masalah keringat. Tapi ini soal harga diri.

Bulutangkis, mungkin, adalah satu-satunya olahraga yang mampu mengangkat prestasi Indonesia di panggung internasional. Makanya masyarakatnya pun banyak yang "terpaksa" mencintai olahraga ini. Sama seperti aku.

Andai saja aku lahir di Republik Demokratik Kongo dan besar di Mongolia, mari taruhan, pasti aku tidak akan mencintai olahraga ini layaknya sekarang. Bagiku bulutangkis hanyalah olahraga yang dimainkan dengan sangat cepat - terutama gandanya - sehingga membuat matamu juga harus ikut bergerak cepat dan otakmu pun harus menyesuaikan juga dengan ikut berpikir cepat. Bagiku ini sangat melelahkan. Namun ketangguhan negaraku dalam olahraga ini membuatku merasa wajib untuk ikut mencintainya.

Keperkasaan Indonesia dalam bidang bulutangkis dan animo masyarakatnya terhadap olahraga ini pulalah yang membuat Indonesia kembali dipilih sebagai tuan rumah turnamen perhelatan bulutangkis sedunia, Thomas Cup dan Uber Cup. Tapi ini tidak membuat masyarakat Indonesia mudah untuk menonton ajang ini secara langsung. Tidak sama sekali. Kecuali kalau kau punya koneksi dengan "orang dalam" sponsor utamanya.

Butuh banyak perjuangan untuk mendapatkan sebuah kertas kecil berbahan licin dengan desain yang ringan untuk mata dan sudah dilubangi sebagai tanda dari kepolisian yang biasa disebut orang sebagai tiket.

Hari pertama dan kedua, aku berhasil mendapatkan kertas bernama tiket itu sehingga aku bisa masuk untuk menonton. Hatiku sedikit teriris ketika kertas kecil bernama tiket itu harus dirobek oleh petugas, seakan perjuanganku tidak dihargai. Hanya ditukar dengan sebuah cap yang langsung hilang ketika kau berwudhu.

Keberhasilanku mendapatkan tiket di hari pertama dan kedua membuatku optimis untuk mendapatkannya kembali di semifinal Thomas Cup. Untuk menghindari segala kemungkinan buruk yang terjadi, aku datang pagi-pagi sekali, jam sembilan aku sudah menjejakkan kakiku di kompleks Gelora Bung Karno.

Aku melangkah dengan cepat, pengaruh dari rasa tidak sabar dan kecemasan kalau ternyata loketnya sudah penuh. Dan ternyata kecemasanku beralasan. Banyak orang sudah berkerumun di sana. Mengantre layaknya semut menuju bangkai belalang, tidak beraturan.

Total, delapan jam aku mengantre. Dan hasilnya nihil. Tiket itu gagal kudapatkan. Yang kudapatkan hanyalah aku dengan keadaan yang tak karuan ini.

Kaosku seharusnya berwarna putih. Polos. Namun kini menjadi ada bercak-bercaknya. Campuran dari debu, abu rokok, benang-benang, dan daun yang menempel karena keringat. Tampaknya seluruh minum yang kuteguk pada hari itu langsung berubah menjadi keringat semua. Mulai dari teh botol sampai aqua. Mulai dari mizone sampai sedikit air wudhu yang tertelan.

Lelah bukan main badanku saat itu. Pegal-pegal di segala titik. Inikah pengorbanan yang harus diperjuangkan untuk sebuah nasionalisme?

Aku tak tahu. Yang jelas seluruh pemain tim Piala Thomas dan Uber Indonesia sudah berjuang secara maksimal.

Aku pun tertidur pulas malamnya.

Kamis, 15 Mei 2008

Berikan Aku Segalanya

Berikan aku jeda untuk memecahkan ini yang sulit. Yang terlalu sempit. Dan sangat menghimpit. Membuat bumi sekalipun harus mengemis pada langit. Terlalu rumit.

Berikan aku tenggat untuk sedikit beristirahat. Aku sangat butuh rehat. Tidak usah terlalu panjang asal bisa melepaskan penat. Atau lebih baik aku minggat.

Berikan aku keleluasaan untuk menentukan ini. Untuk menemukan kebebasan yang kucari. Untuk mendapatkan kembali apa yang dinamakan independensi. Hingga hilang segala tendensi. Sampai aku menemukan kembali intuisi.

Berikan aku ruang untuk melepas lelahku. Aku tak ingin mengungkapkan yang palsu. Tapi aku juga tak ingin hanya diam membisu. Aku butuh pintu. Untuk keluar dari dunia yang sudah membatu. Untuk menemui kamu.

Berikan aku waktu untuk berpikir. Sungguh aku bukanlah orang yang kikir. Tapi aku juga bukanlah orang yang fakir. Aku hanya butuh sedikit butir. Untuk melupakan pengalaman dulu yang masih terasa getir. Menuju kenyataan yang selalu bergulir.

Berikan aku jalan untuk keluar. Yang bisa membuatku lebih membakar. Semangatku yang nyaris tak sadar.

Berikan aku cinta. Untuk membuatku terbang ke angkasa. Lalu jatuh dengan nelangsa. Tak peduli apa pun itu, yang penting aku ada. Hadir untuk ikut tertawa. Berikan aku segalanya. Walaupun aku harus ikut menderita.

Selasa, 13 Mei 2008

Bunga di Musim Salju


Tidak ada yang mampu menyamai kau. Jangan tanyakan itu pada anggrek dan aster, mereka pasti sudah layu. Kedinginan, menyerah dengan cuaca.

Tidak ada yang mampu sekuat kau. Bertahan sendirian di tengah kepungan badai salju yang makin lama makin memburuk. Tapi kau mampu mengatasinya sendirian, mempertegas keindahanmu di tengah suasana serba putih ini. Mempertajam keanggunanmu yang selalu kukagumi ini.

Kau tidak seperti lili. Yang indah bersama di tengah kerumunan jenisnya. Kau bersinar sendirian, bukan karena keadaan sekitarmu. Kau istimewa.

Kau tidak seperti mawar. Yang menawan karena pesona durinya. Membuatnya terlihat elok karena tak semua orang mampu menyentuhnya. Membuatnya terlihat penting karena semua orang rela mengorbankan sedikit darahnya untuk sekedar menyetuh. Sedangkan kau tak punya itu. Sehingga kau tak perlu melukai siapapun yang mencintaimu.

Kau begitu indah. Sayangnya aku tak bisa memetik kau. Bukan. Aku tak mampu. Jika kau kupetik, kau hilang. Keindahanmu bisa kubawa, tapi hanya akan bertahan sebentar. Dua hari paling lama. Lebih baik aku tinggalkan kau di sini. Sehingga keindahanmu bisa kupandang setiap hari. Sampai waktunya benar-benar tiba.

Hidupmu tidak seperti putaran roda. Hidupmu bagaikan sebuah garis yang digoreskan dengan kuas dan tinta. Yang menebal di tengah dan menipis di ujung.

Tak sabar kutunggu masa itu. Untuk memetikmu di musim semi berikutnya.

Sabtu, 10 Mei 2008

Jatuh, Lumpuh, dan Luluh

Aku terbang. Bebas sekali rasanya. Seperti seorang napi yang baru keluar dari penjaranya.

Ku melayang setinggi-tingginya. Sangat jauh. Ke tempat yang tak terjangkau. Aku bahkan lupa di mana jalan pulang. Namun aku tak peduli. Yang kupikirkan hanyalah kesenangan.

Ah, aku yang bodoh. Itu hanyalah kesenangan semu. Bagaimana caraku pulang? Bagaimana aku melanjutkan perjalanan? Bagaimana aku bisa mendapatkan makanan? Bagaimana aku bertahan?

Sayapku pun lelah. Terlalu lelah. Keduanya lumpuh. Tak berdaya. Habis sudah segalanya. Percuma sudah jerih payahku untuk ini. Aku tidak bisa terbang lagi, selamanya.

Aku mendarat. Tak tahu harus apa. Terbang sudah tak mampu, jalan pun tak kuat. Yang ku bisa hanyalah meratap. Bodoh.

Sayapku hancur. Berkeping-keping.

Aku coba untuk terbang lagi. Satu meter. Dua meter. Nyaris tiga...

Brak! Ternyata aku jatuh. Tentu saja. Bodoh.

Hanya ini saja yang utuh. Sayapku yang sudah luluh.

Kamis, 08 Mei 2008

Terbang Kembali

Dulu aku bisa terbang. Bersenandung bersama layang-layang. Bergurau dengan bintang. Namun kini semua menghilang. Sebelum benar-benar matang.

Lenyap sudah segala kenangan. Meninggalkan hati dalam keadaan penasaran. Tertekan. Mencoba beralih dengan segan. Berpaling pada impian.

Hancur sudah. Lenyap.

Ajari aku terbang lagi. Agar aku bisa bermain dengan para bidadari. Adu cepat dengan burung merpati. Tidur di atas awan nan suci. Hingga berpetualang menuju tempat yang tinggi.

Pelajaran ini sulit. Mahir harus melewati sakit. Terlilit. Dalam jeratan akar yang menembus kulit. Sangat sukar berkelit.

Aku belum menyerah. Walau sudah habis semua darah. Kumasih punya gairah. Tak peduli badan ini sudah sangat jerah. Aku takkan pernah pasrah.

Akhirnya aku berhasil.

Terima kasih untuk pelajarannya. Aku sudah bisa terbang lagi. Semoga ini bisa kujaga. Semoga aku tak akan pernah melupakannya, pelajaran terbang hari ini.

Rabu, 07 Mei 2008

Nyanyian Alam

Rintik gerimis di teras. Suara kodok yang jarang sekali terdengar. Nyanyian jangkrik yang indah. Suara-suara alam itu saling bersahutan. Menjawab satu sama lain. Membentuk irama yang merdu dan serasi.

Nyanyian alam itu begitu indah. Tak perlu tamborin dan terompet. Tak butuh gong dan seruling. Hanya perlu tempat untuk mewujudkan.

Bagaimana kalau tempat itu tidak ada kelak? Jika seluruh hutan ditebang, di mana lagi para jangkrik mau menyanyi? Di mana lagi tempat kodok bersenandung?

Terima kasih, Tuhan. Telah memberikanku kesempatan untuk mendengarnya. Untuk menikmatinya. Untuk meresapinya. Untuk ikut mengalir di dalamnya.

Derapan jariku memijit tombol keyboard ini kini telah menjadi bagian di dalamnya. Aku telah menjadi bagian dari suara alam. Membuat keagungan-Mu lebih terasa.

Tak ada yang bisa kulakukan kini. Aku masuk kamar lalu berdoa.

Selasa, 06 Mei 2008

Di Balik Hujan Itu



Langit mendung sejak pagi. Menampakkan kekelaman dalam warnanya yang kelabu. Membuat suasana hati ikut murung.

Cuacanya mulai tak menentu. Hujan. Tidak. Hujan. Tidak. Ah, pilihannya hanya dua tapi sangat membingungkan. Aku pun hanya bisa diam di rumah, mengurung diri disana.

Kepastiannya baru tiba ketika petang. Ketika angin keras mulai menerjang. Hujan turun deras dengan lantang. Membuat garis perbedaan antara berkah dan musibah semakin menipis, layaknya benang yang membentang.

Hujannya deras. Hujannya lebat. Alam pun ikut mendukung. Angin ikut berhembus. Petir ikut bergemuruh. Dedaunan ikut rontok. Membuat suasana semakin mencekam.

Aku keluar rumah, membawa payung. Semilir angin berhembus tepat mengenai wajahku, membuat air hujan yang sedang turun tak henti-hentinya ikut menghantamnya. Membuat aku harus pasrah karena kebasahan. Kuyup.

Kulepas payung ini dari genggamanku. Fungsinya sudah tidak berjalan lagi dengan kondisi seperti ini. Alam menang, ciptaan manusia kalah.

Butir air hujan mengetuk-ngetuk kepalaku dengan keras. Mungkin ini teguran dari Sang Pencipta karena kesombonganku. Atau kebodohanku. Butirannya besar-besar. Terkesan padat. Hancur ketika menyentuh mukaku.

Seketika kemejaku langsung mengkerut. Menyesuaikan dengan bentuk tubuhku yang kurus ini. Rambutku langsung turun. Lendir dalam hidungku pun merengek ingin keluar. Bersin. Kedinginan. Pusing.

Kulihat sekelilingku. Semuanya sama denganku. Kehujanan. Mereka bahagia. Anak-anak kecil berlarian ceria. Orang-orang dewasa kepanikan. Siput muncul. Kodok berlompatan. Tanpa disadari, sebuah senyum kecil tersungging dari bibirku.

Aku jadi ingat masa-masa kecilku. Ketika hujan-hujanan adalah hobiku nomor satu. Tak peduli tentang konsekuensinya setelah itu. Yang penting aku bahagia, sesaat. Untuk selamanya begini.

Senin, 05 Mei 2008

Masa Tuaku, Mungkin

Aku hanya tinggal memiliki satu orang kakek dan satu orang nenek. Keduanya adalah orang tua ayahku. Keduanya juga sudah sakit-sakitan.

Aku rasa setiap orang tua pasti akan melewati fase ini. Sakit-sakitan ketika tubuh mereka sudah terlalu lelah untuk tetap bertahan hidup. Bahkan bagi mereka yang selalu menjaga kesehatan mereka sejak kecil. Dari seorang vegetarian sampai seorang pecandu rokok tingkat parah. Semuanya akan merasakan saat ketika tubuh mereka mulai kehabisan baterai, dan akhirnya benar-benar kehabisan itu. Lalu mati. Jika umur mereka mencapai masa itu.

Kakekku beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Kebanyakan karena penyakit jantungnya. Beberapa kali karena matanya, gulanya, atau keluhan lainnya. Namun otaknya masih bekerja layaknya anak muda. Belum pikun dan masih sering menghasilkan karya.

Sebaliknya dengan nenekku. Badannya masih sangat kuat. Setiap kali aku berkunjung ke rumahnya, ia bisa bolak-balik dari ruang depan ke ruang televisi sebanyak lebih dari lima kali. Padahal jaraknya lebih dari sepuluh meter. Sangat aktif. Sayangnya ia adalah penderita alzheimer, sebuah penyakit kepikunan yang diakibatkan penurunan fungsi saraf otak yang kompleks dan progresif. Itu adalah penyakit yang membuat orang tidak dapat membedakan dimensi tempat ia berada. Jika kamu baru berkenalan dengan orang yang mengidap alzheimer, mungkin namamu akan ditanya sebanyak sepuluh kali dalam waktu semenit. Awalnya lucu, tapi lama-kelamaan kau akan merasa jenuh dan kesal. Terkadang malah kamu akan ditanya tentang zaman Belanda.

Inilah dua kemungkinan penyakit yang mungkin akan kau alami di masa tuamu. Badanmu sakit namun otakmu tetap sehat, atau otakmu sakit dan badanmu sehat.

Awalnya aku lebih memilih pilihan yang pertama, walaupun aku tak punya kekuasaan untuk memilihnya. Aku lebih suka jika badanku sakit, namun otakku masih berfungsi sebagaimana mestinya. Ini membuatku tetap merdeka. Membuatku tetap ada. Seperti kata Descartes.

"I think therefore I am."
-Descartes.


Namun pilihanku berubah akhir-akhir ini. Untuk apa punya pikiran yang merdeka jika tubuhmu sudah tidak berdaya lagi? Bukankah itu justru membuat kita menderita? Bukankah kebahagiaan adalah hal yang paling dicari di dunia ini?

Jika kaulihat nenekku, kau akan selalu melihat kebahagiaan dalam dirinya. Hobinya menyanyi, dan lagunya selalu bernada bahagia. Setiap kali ia merasa kesal selalu ia lupakan, namun tampaknya ia tak dapat melupakan kebahagiaan. Senyumnya menunjukkan bahwa ia tak punya beban dan memang ia tak punya beban. Tak ada lagi yang harus ia lakukan, ia bebas melakukan apapun yang ia suka. Ia tidak terikat ketentuan apapun. Ia hanya menggali kebahagiaan.

Bukankah ini yang dicari manusia selama ini? Kebahagiaan? Lalu kenapa mereka lebih bangga merdeka otaknya dengan menanggung segala penderitaan yang ada? Tidakkah mereka ingin melepas beban mereka untuk menjadi bahagia?

Terkadang aku tak mengerti kenapa otak ini membimbingku ke arah penderitaan. Apakah aku bisa mengendalikan hidup ini?

Lalu ketika aku kembali melihat nenekku. Ia tersenyum. Aku tengok lagi, ia tertawa. Inikah kebahagiaan sejati? Atau apakah ia justru tidak merasakan kebahagiaan? Tapi rasanya ia sangat bahagia.

Aku tak bilang menjadi alzheimer adalah hal yang baik. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa pikiranmulah yang membawamu kepada kebahagiaan, atau penderitaan. Terserah pilihanmu. Kau tinggal memilih.

Jumat, 02 Mei 2008

Lampion Hatiku

Kaulah lampion hatiku.

Sinarmu begitu temaram. Tak terlalu menyilaukan untuk dimatikan, tak terlalu redup untuk memaksaku pindah tempat. Kemilaunya begitu pas.

Engkau berikan apa yang aku butuhkan. Engkau beri aku sinar yang cukup untuk membantuku melihat. Engkau juga memberikanku ketenangan, sesuatu yang tak bisa diberikan oleh neon dan bohlam.

Tetaplah di sini, di sisiku. Sinari sisi gelapku dengan sinarmu. Agar aku selalu terang, dan merasa tenang.

Wahai lampion hatiku. Kau memang bukanlah yang paling terang. Kau memang bukanlah yang paling bersinar. Tapi kau yang paling tepat.

Gelapku tak akan menjadi terang denganmu. Tapi cukup untuk menutupinya. Karena aku tak butuh cahaya yang membutakan. Tapi aku butuh cahaya yang menyamankan.

Keremangan yang membawa ketentraman, itulah kamu.

Kamis, 01 Mei 2008

Membuatmu Mengerti

Beruntung aku besar di Indonesia. Entah kau setuju atau tidak.

Alasanku sangat sederhana. Bahasanya.

Mungkin bahasa Arab unggul dari sisi kekayaan kosakatanya. Mungkin bahasa Inggris menang dari sisi kepopulerannya di dunia internasional. Bahkan bahasa Indonesia sendiri lebih banyak menggunakan kata serapan, kata yang diambil dari bahasa di negara lain karena makna kata tersebut tidak dapat ditemukan di dalam kamus bahasa Indonesia. Mengindonesiakan bahasa asing istilah umumnya.

Tapi bahasa ini berbeda. Dengan bahasa ini aku menjadi lebih mudah untuk membuatmu mengerti. Dan kau juga menjadi lebih mudah untuk mengerti aku.

Tidak perlu lagi banyak tanya. Kau sudah paham. Syukurlah.

Aku butuh kamu.

Engkau tak tanya lagi. Kau sudah mengerti itu adalah ungkapan tulus yang datang dari hati. Kau sudah tahu itu bukanlah ungkapan untuk menjilat, seperti yang dilakukan oleh dua orang rekan bisnis yang saling berkata, "Saya butuh anda."

Sedangkan bahasa Inggris hanya punya satu.

I need you.

Memang sama maknanya, namun di dalam bahasa Indonesia maknanya lebih luas lagi.

Aku sungguh beruntung besar di negara ini. Fasih dengan bahasa ini. Hingga meresapinya ketika berkata, "Aku butuh kamu."