Jumat, 02 Oktober 2009

Media Galau: Musik dan Kopi

Kopi. Kafein dan begadang. Terjaga karena kondisi fisik yang dipaksa insomnia. Salah satu cara untuk menikmati kesunyian malam dan terlarut dalam kesendirian yang mendalam. Kopi yang juga bisa menumbuhkan inspirasi. Berbagai ide gila bisa bermunculan dari sana. Mulai dari membuat parasut dari sprei hotel sampai menggunakan obeng untuk membersihkan lubang hidung. Entah ide ini muncul karena pengaruh kafein pada kopi atau karena kondisi tidur-ayam yang sedang dialami. Kondisi tidur-ayam memang memungkinkan manusia untuk menjadi lebih terbuka dalam menemukan ide-ide brilian. Ataukah kondisi tidur-ayam ini disebabkan dari insomnia-yang-dipaksakan akibat kafein?

Kopi. Pahit dan rasa-rasa tambahan lainnya. Pahit harus ada dalam kopi. Kalau kopi tidak pahit, status kekopiannya perlu dipertanyakan. Pahit ini ada dalam berbagai macam kadar. Mulai dari yang cuma muncul sepersekian detik saja di lidah sampai pahit yang bisa membuat seekor tikus terkejut. Pahit ini muncul untuk mengingatkan, bahwa dunia ini punya bagian yang tidak mengenakkan. Dan kau harus merasakan itu. Mau-tidak-mau dan suka-tidak-suka. Kau harus merasakannya.

*

Musik. Aku mendengarkan Blur, kau mendengarkan Norah Jones. Aku ganti dengan U2, kau shuffle menjadi Kings of Convenience. Terakhir, kau minta Celine Dion untuk dimainkan. Aku protes. Kauganti permintaanmu menjadi Michael Jackson. Barulah kita bersenandung bersama.

Musik. Temanku bilang bahwa ada musik tertentu yang bisa membunuhmu. Sebegitu menghipnotisnya dia. Sesuatu yang membuat ketagihan sekaligus kecanduan. Dan kalau batas kecanduan sudah terlewati, tinggal tunggu dia untuk menghancurkanmu.

Musik. Gerbang ke dunia lain. Dunia kebebasanmu, sekaligus kamar penjaramu. Labirin pengantarmu, juga kereta penjemputmu. Jalan setapak menuju hutan hujan tropis yang lebat, dan jembatan kayu kecil untuk menyeberang sungai dengan aliran yang bisa membuat perahu kano terberat menjadi terguling.

Musik. Pelampias emosi. Penumpah rasa. Pengantar lamunan.

Musik. Prolog dunia. Karena dunia yang sebenarnya sudah menanti dari tadi.

*

Aku mau terbebas sejenak dari jeratan rutinitas duniaku yang kadang membuatku meraung-raung ini. Aku ingin keluar sebentar dari semua ini. Hanya sebentar. Benar-benar hanya sebentar. Kebetulan kopi dan musik bisa mengantarkanku ke gerbang keluarnya. Oh, tidak. Tidak perlu sebuah mariyuana atau lem aibon untuk keluar dari duniaku. Sekali lagi: cukup kopi dan atau musik.

Kopi. Musik.

Banyak pengantar lain yang mampu membawaku sampai ke gerbang keluar sementara dari duniaku ini, namun sayangnya kebanyakan dari mereka tidak menjemputku lagi sehingga aku bermain di luar terlalu lama.