Kamis, 30 Desember 2010

Memori 2010

Revolusi bumi berjalan dengan sangat cepat. Atau sangat lambat. Kata Einstein, waktu itu relatif. Lintasan bumi dalam mengelilingi matahari di alam semesta yang luas ini memang sangatlah panjang. Melewatinya sampai butuh waktu lebih-kurang 365 hari bumi, padahal lintasan tersebut sudah coba dilewati dengan kecepatan yang tak akan ditandingi oleh seekor cheetah yang berlari. Waktu yang sangat lama.

Tak terasa (bagiku), waktu 365 hari itu sudah berlalu begitu saja. Dalam sekejap. Meninggalkan yang telah terjadi di belakang untuk kemudian menyongsong apa yang telah menunggu di depan. Untuk tahap pertama selanjutnya: 365 hari berikutnya.

365 hari kemarin kita sebut dengan nama 2010. Tahun yang diambil dari penanggalan Masehi. Penanggalan yang perhitungan tahunnya didasari pada revolusi bumi terhadap matahari.

Bumi sudah mengelilingi matahari satu kali lagi. 2010 sudah usai, 2011 telah menanti.

*

2010 tidak berlalu begitu saja. Ia pergi dengan meninggalkan banyak kenangan. Mulai dari yang terpahit sampai yang terindah. Mulai dari permasalahan perut sampai cinta.

Semua kejadian di 2010 telah tersimpan rapi dalam otak kita masing-masing. Mungkin beberapa akan kita lupakan. Namun, pasti, yang berkesan akan selalu kita kenang, sepanjang kita sanggup mengingatnya.

*

2010 berperan cukup menyenangkan bagiku. Aku senang menjalani tahun ini. Jutaan kenangan diciptakan di tahun ini. Dibuat oleh dimensi waktu yang ternyata sama sekali tidak terpisahkan dari dimensi ruang yang ada.

Banyak sekali memori yang terkenang dari 2010. Di antara sekian banyak itu, salah satunya punya makna yang teramat penting bagiku: aku jatuh cinta untuk kedua kalinya.

Senin, 27 Desember 2010

Kilat di Siang Hari

Aku takut. Benar-benar takut.

Aku sendiri. Benar-benar sendiri.

Ternyata inilah alasan kenapa manusia tak boleh sendiri. Agar ketika dia ketakutan, dia bisa mencari perlindungan dari orang lain. Atau sekedar membagikan perasaan yang menggunung di hati.

Aku takut, tapi aku tahu, aku harus berani. Karena ketakutan ini muncul akibat harapan yang terlalu tinggi. Semoga harapan ini memang tidak terlalu tinggi.

Tuhan, berikanlah aku keberanian.

Minggu, 26 Desember 2010

Harga Selembar Tiket

Kompleks Stadion Kebanggaan Negeri Bola. Minggu, 26 Desember 2010.

6.15 WIB
Aku menjejakkan kaki kembali Stadion Kebanggaan Negeri Bola. Hari masih pagi, aku sudah siap untuk mengantre tiket masuk pertandingan bola antara Negeri Bola kontra musuh bebuyutan, Negeri Tetangga Satu Rumpun. Tak disangka, antrean sudah panjang mengular. Ternyata orang-orang sudah mulai mengantre sejak kemarin malam, bahkan kemarin sore. Padahal loket penjualan tiket baru akan dibuka pada pukul 10.00 WIB.

Aku hanya bisa terpelongo mendengar fakta itu. Dasar Negeri (Gila) Bola.

7.00 WIB
Pengantre tiket yang datang semakin banyak, antrean semakin mengular. Oh, bukan. Antreannya tidak semakin memanjang, namun semakin melebar dan memadat. Banyak orang yang baru datang berhasil menyalip barisan hingga ke depan.

Mereka yang jujur dalam mengantre adalah orang bodoh.

8.00 WIB
Para pengantre tampak kebosanan akibat hanya terdiam selama mengantre. Mereka mencari ribuan cara untuk mengusir rasa bosan, mulai dari menyanyi, membuat lelucon, sampai menuntut Nurdin Halid (siapa dia?) untuk turun.

Mereka yang mau membeli banyak tiket juga wajib mempunyai kopi dari kartu identitas. Ada gula, ada semut. Seseorang bersedia menawarkan jasa pencarian mesin kopi untuk mengopi kartu identitas. Ketika kartu identitas dikembalikan, nama mereka dibacakan satu per satu. Persis seperti seorang guru yang sedang mengabsen muridnya. Orang-orang bernama lucu langsung jadi bahan tertawaan massa, termasuk seseorang bernama Sopan Santun.

9.00 WIB
Semangat mulai menggebu-gebu dalam mengantre. Satu jam lagi, loket bakal dibuka. Mereka yang sudah tidak sabar, rajin menyebar isu bahwa loket tiba-tiba dibuka. Banyak yang tertipu, setelah itu mengutuk.

Mereka yang mengantre di barisan belakang pun jadi rajin untuk mendorong barisan depan (dengan tujuan menyodok?). Mereka yang di depan membalas dengan menyuruh mundur yang di belakang agar semua bisa mengantre sambil duduk. Dan, entah kenapa, semua orang lalu dipaksa duduk semua. Ada pelanggaran hak asasi di sini. Bahkan tidak ada lagi kebebasan untuk memilih duduk atau berdiri?

9.55 WIB
Para pengantre sudah siap memborong tiket. Lima menit lagi, loket bakal dibuka. Namun, kenapa belum ada tanda-tanda loket bakal dibuka?

10.00 WIB
Panitia berbohong. Loket belum dibuka pada pukul 10.00 WIB.

10.05 WIB
Salah seorang yang tampak seperti panitia menyuruh massa untuk tertib dan membentuk barisan sambil duduk. Kondisi antrean saat itu sudah sangat padat dan brutal. Para pengantre saling dorong-mendorong tanpa alasan yang jelas. Aksi dorong-dorongan yang semula lucu sudah berubah menjadi memuakkan. Banyak yang pingsan karena itu. Lebih banyak lagi yang menyerah dan memilih keluar dari antrean (sebelum benar-benar pingsan). Bahkan, ada kabar burung yang bilang kalau ada pengantre yang mati.

Panitia yang menyurus massa tertib dan membentuk barisan sambil duduk tidak bertanggung jawab. Dia hanya memberi komando tanpa melihat kondisi. Dengan kondisi emosi massa yang berada di puncak, seharusnya ada pengerahan tenaga aparat untuk membantu merapikan barisan. Namun aparat hanya ditugaskan untuk diam di belakang gerbang. Entah buat apa, mungkin untuk menjaga agar gerbangnya tidak jatuh.

10.15 WIB
Para pengantre saling teriak. Mereka meminta loket untuk segera dibuka. Orang yang tampak seperti panitia bilang kalau loket tidak akan dibuka jika barisan belum rapi. Seperti ancaman seorang guru SD. Sayang, melihat kondisi massa yang tidak mungkin diatur, tetap tidak ada aparat yang dikerahkan untuk mengamankan dan merapikan barisan.

10.30 WIB
Akhirnya "loket" dibuka. Susunannya aneh. Mereka yang di depan diperbolehkan masuk ke dalam gerbang. Satu per satu dari ribuan pengantre. Sungguh memakan waktu yang lama. Setelah diperbolehkan masuk ke dalam gerbang, para pengantre masih dipertemukan dengan antrean panjang lagi. Antrean ini kunamai "ular naga" karena antrean ini lebih seperti permainan Ular Naga, setiap orang disuruh memegang pundak orang yang di depannya dan mereka disuruh mengikuti jalur yang berkelak-kelok.

Antrean "ular naga" dilakukan dalam cuaca panas, lalu hujan, lalu panas lagi, lalu hujan lagi, dan seterusnya.

13.05 WIB
Ternyata antrean "ular naga" dibawa hingga masuk stadion. Kami disuruh menaiki tangga (dengan tetap berkelak-kelok, yang tidak berkelak-kelok bakal dihujat massa) dan dimasukkan ke tribun.

Aku mulai merasa aneh? Kenapa kami disuruh nonton bola sekarang?

13.45 WIB
Ternyata panitia berencana untuk membagikan tiket di kursi tribun masing-masing pengantre. Aku pesimis. Membagikan tiket dengan berjalan menghampiri masing-masing orang dengan kondisi emosi yang sedang di puncak akibat dipaksa mengantre berjam-jam tanpa kejelasan? Jangan harap ini bakal berjalan lancar.

14.20 WIB
Orang yang memberi pengumuman ada di bawah. Di pinggir lapangan bola. Dia memakai pengeras suara yang tidak terlalu terdengar keras suaranya. Mengumumkan dua hal: (1) pengumuman yang bikin pengantre girang (tiket akan dibagikan); (2) pengumuman yang bikin pengantre marah (tiket hanya bisa dibeli satu untuk masing-masing orang).

Mulai keluar orang-orang yang seperti Sinterklas bergaya suporter ke pinggir lapangan bola. Mereka berpakaian a la suporter bola dan membawa tas yang pasti berisikan tiket.

14.25 WIB
Para pengantre dibuat kalut melihat sebuah tas yang penuh berisi tiket. Mereka tidak menyadari kalau tribun dan pinggir lapangan bola dibatasi oleh pagar tinggi yang menjulang. Mereka melompati pagar, merusak pagar, dan merobohkan pagar hingga bisa mencapai pinggir lapangan dan mengejar para Sinterklas pemegang tiket. Sinterklas pemegang tiket panik dikejar massa dalam jumlah banyak dari berbagai sudut. Takut nyawanya terancam, Sinterklas pemegang tiket langsung melempar tiket-tiket itu ke udara. Tiket-tiket yang sangat berharga tersebut berserakan di mana-mana, di atas rumput hijau yang seharusnya diinjaki para pemain tim Negeri Bola dan Negeri Tetangga.

Penjarahan tiket terjadi. Penonton yang tadinya mengutuk para penjarah, jadi tergiur untuk ikut menjarah.

15.00 WIB
Ketidakjelasan terjadi di mana-mana. Polisi pun tampak bingung. Sinterklas pemegang tiket menghilang entah ke mana. Tampaknya tiket yang mereka pegang sudah habis dijarah massa.

15.10 WIB
Para pengantre yang santun (yang tidak merusak pagar, yang tidak menerobos lapangan) adalah orang-orang yang bodoh. Mereka masih belum memegang tiket. Walau tidak semua yang menerobos lapangan pasti mendapatkan tiket.

15.30 WIB
Ada pengumuman yang menyatakan kalau tiket masih tersisa 10.000 lembar dan akan dijual asal setiap pengantre mau duduk rapi di tribun barat.

Ini seperti tipuan (lagi). Kalau ada tiket yang jelas dijarah, kenapa semua tiket tidak dihanguskan saja? Atau mereka mau menghalalkan yang jelas haram? Lalu, sisa 10.000 tiket. Dari mana jaminan 10.000 adalah cukup untuk semua pengantre saat itu.

Aku tidak mau termakan tipuan lagi. Aku mengutuk dan keluar dari stadion.

Sabtu, 25 Desember 2010

Sulaiman dan Dua Orang Ibu

Suatu hari, dua orang ibu sedang bersama seorang anaknya masing-masing. Tiba-tiba, datanglah seekor serigala mengambil salah seorang anak. Kedua ibu tersebut saling menuduh bahwa yang diambil oleh serigala tersebut adalah bukan anaknya dan mereka saling memperebutkan anak yang selamat. Mereka berdua menghadap Nabi Daud, dan Nabi Daud memutuskan bahwa anak itu adalah anak dari ibu yang lebih tua. Akhirnya, mereka berdua menghadap Nabi Sulaiman.

Setelah mendengar cerita tersebut, Nabi Sulaiman berkata, "Ambillah untukku pisau. Aku akan membelahnya untuk mereka berdua."

Mendengar perkataan itu, ibu yang lebih muda langsung mengakui bahwa anak itu bukanlah anaknya.

Maka Nabi Sulaiman menyatakan bahwa anak tersebut adalah anak dari ibu yang lebih muda.

Negeri Bola

Negeri ini adalah Negeri Bola. Yang tidak suka bola, silakan keluar. Tempat kalian bukan di sini.

*

Entah apa warna asli dari udara. Malam itu, udara tampak berwarna putih. Sangat pekat. Dipenuhi asap rokok yang dihembuskan oleh setiap orang yang berada di ruangan itu. Aku yang tidak merokok hanya bisa menahan batuk tanpa bisa protes. Semua orang tak mungkin diganggu dari kekhusyukkannya masing-masing dalam merokok. Mereka semua sedang menonton bola. Kita semua.

Negeri ini adalah Negeri Bola. Yang tidak suka bola, silakan keluar.

Kata-kata seperti itu memang bukanlah semboyan resmi dari negeri kami. Namun, begitulah kenyataannya. Di sini, yang tidak suka bola tidak punya tempat. Karena negeri ini adalah Negeri Bola. Negeri untuk mereka yang suka bola.

*

Negeri ini adalah Negeri Bola. Semua harus suka bola. Semua.

Di kala pemimpin negara lain sedang sibuk merundingkan masalah-masalah pelik seperti perang saudara yang mulai melebar, wabah penyakit berbahaya yang terus menyebar sampai lintas benua, atau kemungkinan datangnya serangan alien dari Mars; pemimpin negeri ini punya agenda yang lebih penting: menonton bola. Jika sampai Bapak Pemimpin Negeri tidak menonton bola, habislah beliau di mata rakyat. Citra beliau di mata rakyat hanya tergantung pada tingkat kepedulian beliau terhadap bola. Hal-hal lainnya (termasuk jumlah sekolah yang beliau bangun atau posisi beliau di mata pemimpin negeri lain), rakyat tidak peduli.

Bukan cuma Bapak Pemimpin Negeri, orang-orang lain yang berniat untuk melanjutkan tahta kepemimpinan atas seluruh negeri ini pun berlomba-lomba merebut perhatian rakyat lewat bola. Ada yang memberi tanah wakaf, ada yang memberi hadiah umrah, atau hal-hal lainnya yang bisa membuat para pecinta bola tanah air simpati.

Rakyat negeri ini mudah ditipu oleh embel-embel bola. Semuanya sudah terlalu buta oleh kemilau bola yang seakan membuat akan lupa segalanya.

*

Negeri ini adalah Negeri Bola. Jumlah rakyatnya mencapai lebih dari 200 juta, tapi kapasitas stadionnya hanya sekitar 80.000. Menampung 1 persen dari seluruh penduduk negeri ini pun tak mampu.

Mungkin sebuah stadion memang tidak perlu terlalu besar. Terlalu besar berarti mubazir karena rakyat negeri ini hanya gila bola pada waktu tertentu saja. Rakyat negeri ini memang suka ikut-ikutan.

Negeri ini tidak butuh stadion yang besar. Negeri ini hanya butuh ketertiban. Negeri ini hanya butuh keadilan. Jika semua tiket dijual dengan harga yang pantas dan kepada mereka yang memang layak, itu semua sudah cukup. Tak perlu buat stadion baru yang besar dan boros biaya. Cukup berantas semua calo tiket. Kata salah satu guru bangsa, "Gitu aja kok repot?"

*

Negeri ini adalah Negeri Bola.

Negeri ini penuh duka. Dan semua duka tersebut seakan hilang (atau sekedar dilupakan) ketika ada yang tanding bola. Perut yang lapar karena belum makan, nasib anak yang terlantar tidak sekolah karena tidak sanggup membayar biaya yang membengkak, atau bencana di mana-mana seakan sirna ketika negeri ini menggelar tanding bola skala nasional. Rakyat negeri ini meletakkan bola di atas segala-galanya. Di atas segala penderitaaan yang ada, di atas segala carut-marut yang nyata.

Semua itu kalah oleh bola. Dan, mungkin, bola hanya kalah oleh Tuhan.

*

Negeri ini adalah Negeri Bola. Setiap rakyat dicekoki dengan berita bola yang tak henti-henti.

Mayoritas penduduk negeri ini menonton televisi (kotak ajaib yang bisa memunculkan gambar), dan bola selalu mendominasi tayangan televisi akhir-akhir ini. Padahal yang ditayangkan adalah siaran yang itu-itu saja, gambar yang itu-itu lagi, dan video yang itu-itu melulu. Entah rakyat memang suka, atau stasiun televisi negeri ini minim kreativitas. Atau mereka memang ingin mendoktrin rakyat negeri ini untuk menjadi gila bola semua.

Setiap hari rakyat dibuat hapal terhadap setiap detil kejadian gol si anu dan si itu, bahkan sampai kepada bentuk perayaan golnya. Semuanya sudah tersimpan dalam-dalam, rapi-rapi. Lebih dalam dan rapi dari hapalan geografi untuk ujian besok.

Rakyat negeri ini sudah (terdoktrin) gila bola.

*

Negeri ini adalah Negeri Bola. Bola bukan hanya topik pembicaraan di dekat stadion, tapi juga di warung kopi, di tempat pangkas rambut, atau di pabrik batako. Bola ada di mana-mana. Namun masihkah bola diperbincangkan dengan begitu hangat dan lugas? Bukan karena dihapal dari tabloid olah raga yang baru dibeli semenit lalu hanya untuk menjadikan diri tak ketinggalan zaman?

Seorang punggawa tim bola negeri ini pernah merindukan bola yang dulu, yang diperbincangkan di warung kopi. Yang tidak ada di mana-mana seramai ini.

*

Negeri ini adalah Negeri Bola. Negeri ini gila bola. Namun, negeri ini tidak punya prestasi bola.

Belum, semoga.

Selasa, 16 November 2010

Tentang Seorang Sahabat

Darinya aku belajar tentang ketulusan. Bukan tentang memberi lalu tidak mendapatkan apa-apa. Namun tentang kesabaran dalam menunggu balasan atas segala apa yang telah kita beri. Kontribusi tak perlu pamrih. Tuhan pasti membalas segala amal baik yang kita kerjakan.

Mungkin sosok yang ideal itu tidak ada. Temanku pun juga begitu. Namun manusia selalu mengimpikan untuk menjadi ideal, untuk menjadi sempurna. Manusia ingin mengejar Tuhannya.

Temanku juga mengajarkan aku bahwa dunia ini punya banyak sisi untuk ditelisik, punya banyak sudut untuk dijelajahi, punya banyak panorama untuk dinikmati. Dunia ini tercipta salah satunya untuk dikagumi. Terlalu sayang untuk dilewatkan, untuk disia-siakan. Karena hidup ini cuma sekali.

Hasrat menggebu-gebu itu mungkin ada. Namun hasrat butuh dikendalikan. Kebulatan tekad mungkin bisa saja menghentikannya, tapi--tetap saja--sulit. Betapa salut aku akan kebulatan tekadnya. Demi tujuan yang dirasa lebih baik, demi tujuan yang dirasa lebih mulia. Membuat perubahan tidak selalu harus dilakukan dengan cara berkoar-koar soal perubahan.

Hidup memaksa pelakunya untuk memilih. Untuk tidak hanya bergerak di tempat. Untuk selalu maju dan menentukan sikap. Sikap ditagih dalam tempo yang makin lama dirasa makin cepat. Hidup berubah menjadi seperti lintah darat yang doyan menagih utang. Makin lama, makin sering datang. Makin besar pula tagihannya. Penyesuaian menjadi keharusan. Jika tidak, kita tersingkir. Keluarlah kita dari arena persaingan kehidupan.

Hidup mungkin hanya soal pilihan. Dan kita hanya perlu menjadi bijak untuk dapat menentukan pilihan yang terbaik. Dan bijak cukup diraih dengan membiarkan mata tetap melihat setiap sudut, telinga tetap mendengar setiap bisikan, dan mulut tetap berceloteh kepada setiap insan. Tak perlu pilih-pilih, tak perlu pura-pura buta, tuli, atau bisu.

Sesaat, aku menghela napas panjang. Memikirkan ulang semuanya. Ke belakang dan ke depan. Jatah masing-masing manusia di dunia pasti telah diatur oleh Tuhan dengan sangat bijak.

Jumat, 22 Oktober 2010

Kabar Darimu

Kadang aku cuma berpikir cara agar dapat bisa menanyai kabarmu dengan leluasa, tanpa canggung sedikitpun, tanpa ragu setitikpun.

Dangkal mungkin, tapi bagiku itu berarti banyak. Selama ini aku berusaha untuk menempuh banyak cara, banyak jalan untuk mencapainya. Setiap kali berhasil menjalaninya, aku senang. Senang luar biasa. Namun, di balik luapan rasa senang yang membuncah itu, terselip rasa kuatir yang mungkin sedikit tak beralasan. Bagaimana jika cara itu sudah kucoba semua? Bagaimana jika pilihan jalan yang tersedia sudah habis? Aku benar-benar kuatir hal itu benar terjadi.

Selama ini aku coba segala cara kebanyakan tanpa pikir panjang. Kadang setelahnya aku menyesal, tak mampu memanfaatkan kesempatan dengan sebaik mungkin. Aku tak bisa menyalahi diriku, aku selalu berhasil dibuat tak berdaya di depanmu. Kau terlalu hebat dalam mengacaukan pikiranku.

Kadang aku juga berkesempatan mendapat jalan itu dengan tidak sengaja. Secara tidak direncanakan, aku mendapatkannya. Mungkin ini adalah hadiah dari Tuhan. Tuhan memang baik. Mahapemurah. Aku saja yang bodoh, tak mampu memanfaatkan hadiah dari Tuhan Yang Mahapemurah tersebut.

Semua itu kulakukan cuma untuk satu hal: mengetahui kabarmu. Dangkal memang, tapi bagiku itu penting.

Minggu, 26 September 2010

Menunggu

Malam yang mulai kelam ini tak membuat perutku berhenti meronta-ronta. Gerakan ini bagaikan bentuk protes darinya kepadaku. Memang, sudah terlalu lama sejak terakhir kali dia diisi.

Langsung saja kupergi keluar. Mencari makan di malam hari bukanlah hal yang mudah. Kebanyakan rumah makan sudah tutup. Begitupun juga dengan warung nasi yang menjamur ketika siang hari. Di malam hari, penjualnya lebih memilih tutupmereka lebih memilih untuk menonton drama korea di teve, bersantai bersama keluarga dan kerabat, atau untuk sekedar tidur.

Baru setelah berjalan kaki cukup jauh, kutemukan akhirnya sebuah pedagang kaki lima penjual nasi goreng. Aroma bumbunya yang sedaplah yang menuntunku hingga akhirnya kutemukan ia.

Langsung kuhampiri penjualnya, seorang bapak setengah baya berkumis a la Hitler.

"Pak, minta nasi goreng satu, makan di sini," ujarku.

Aku mencari tempat duduk. Hanya ada satu orang selainku di situ. Wanita. Ia hanya diam saja. Mungkin masih menunggu pesanannya datang. Aku duduk di kursi tak jauh darinya.

Tak lama kemudian, pesanan nasi gorengku datang. Namun wanita yang menunggu pesanan selainku belum mendapatkan makanannya. Aneh, padahal dia datang duluan.

Namun aku tak begitu peduli. Tanpa memikirkan wanita itu dan pesanannya lebih jauh lagi, langsung kulahap nasi gorengku dengan liar. Perutku memang sudah lapar bukan main.

Sampai suapan sendok terakhirku pun, pesanan makanan wanita itu masih juga belum datang. Dan tidak kelihatan si bapak penjual nasi goreng sedang menyiapkan nasi goreng pesanan si wanita itu. Ini semakin aneh. Tapi, ah, buat apa kupedulikan. Kenal dengan wanita itu saja tidak. Lantas buat apa aku memikirkan nasi gorengnya?

Setelah membayar nasi gorengku, aku bergegas pulang.

*

Keesokan harinya, aku makan di warung nasi goreng itu lagi. Waktunya malam hari juga, jamnya pun tak jauh berbeda dengan ketika aku pertama kali ke sana.

Sedikit kaget aku ketika menemukan wanita yang sama masih ada di tukang nasi goreng itu. Apa yang sedang ia lakukan?

Kejadiannya pun sama. Sampai nasi goreng pesananku habis kulahap, si wanita tetap dalam pose yang sama, terdiam, tak berbicara sepatah kata pun, seakan sedang menunggu sesuatu.

*

Ternyata kejadian itu berulang di saat-saat seterusnya. Wanita itu selalu kutemui di setiap kedatanganku di pedagang nasi goreng itu. Dan bapak penjual nasi goreng itu akhirnya bercerita kepadaku,

"Wanita itu memang selalu di sini. Di setiap malam, sampai matahari pagi mulai mengintip keindahan dunia. Dia tidak pernah memesan nasi goreng, hanya terkadang saja dia meminta minum segelas air putih hangat. Dia juga tak pernah membayar, karena memang dia tak pernah memesan apapun. Aku juga tak pernah mengusirnya. Toh, para pengunjungku tak ada yang merasa terganggu dengan kehadirannya."

Lalu buat apa dia di sana?

"Yang dia lakukan cuma menunggu. Katanya dia punya janji dengan kekasihnya untuk bertemu di warung nasi goreng ini. Hanya saja, kekasihnya tak pernah datang. Entah wanita itu ditipu, atau malah kekasihnya terkena musibah. Bisa kecelakaan yang bikin hilang ingatan, atau bahkan dia sudah mati dibunuh perampok. Yang jelas, kekasihnya tak pernah datang. Dan wanita itu tetap setia menunggu. Menunggu terus, sampai kekasihnya datang."

Minggu, 19 September 2010

Coretanku Kukirimkan ke Pulau Dewata, Agar Dibaca

Aku mencoret "Hari Ini Aku Bunuh Diri" pada selembar kertas buram.

Diisi

Balon tak akan melayang jika tak diisi udara.
Celengan tak ada gunanya jika belum diisi recehan.
Akuarium tak ada ikannya jika belum diisi air.
Perpustakaan baru belum dibilang mencerdaskan jika belum diisi buku.
Sekolah buat apa jika tidak diisi murid yang haus ilmu.
Sangkar tak akan indah dipandang jika belum diisi burung.
Lemari bakal jarang dibuka jika belum diisi baju.
Mesin cuci tak akan dinyalakan jika belum diisi cucian.
Kotak amal akan menangis jika tak terisi, sama sekali.
Kandang kosong akan bertanya-tanya siapa yang bakal mengisinya.
Sel tahanan sama sekali tidak seram jika tidak ada orang di dalamnya.
Rumah sakit bakal lesu jika tidak diisi orang sakit kritis yang butuh pertolongan.
Bioskop bakal bangkrut jika tidak diisi penonton.
Dan kursi pemerintah--tentunya--mutlak harus diisi oleh seseorang peduli dengan rakyatnya sendiri, secara keseluruhan!

Hati ini akan sepi jika belum diisi cinta. Apakah cinta ini adalah kamu?

Coretan di Pagi Hari

Batin ini mengadu pada yang punya.

Kenapa aku dipaksa berkhianat?

Minggu, 05 September 2010

Skenario Kehidupan

Ada yang tahu rasanya punya kalbu yang terkungkung?

Ada rasa, namun tak dapat dibagi. Ada cinta yang hanya jadi prasasti hati.

Dunia panggung sandiwara! Dan kau adalah aktornya! Aktor mana yang bisa ikut menentukan jalannya skenario?

Oh, oke. Mungkin seorang aktor bisa mendiskusikan hal tersebut dengan sang sutradara, namun menentukan jalannya skenario--tetaplah--bukan tugas seorang aktor--sebenarnya.

Lalu, jika dunia ini adalah panggung sandiwara dan kau adalah aktornya, lantas siapakah sang sutradara?

Oh, tentu saja Tuhan pasti Mahakuasa dan dalam skenario film, sutradaralah yang punya kuasa. Dan kau adalah aktornya, dan kau merasa perlu untuk mendiskusikan skenarionya dengan sang sutradara.

Untungnya Tuhan mendengar doa setiap hamba-Nya.

Rabu, 18 Agustus 2010

Benarkah Aku Sedang Jatuh Cinta?

Beberapa hari yang lalu, aku masuk ke sebuah toko buku tanpa tujuan untuk membeli buku tertentu. Dengan berbekal tujuan yang nihil, aku jelajahi tiap rak demi rak dengan membabi buta.

Sampai akhirnya aku tiba di depan sebuah rak.

Di rak itu terdapat sebuah buku yang pernah kulihat sebelumnya. The Book of Answers--Buku Jawaban.

Menarik, aku sedang mempunyai sebuah pertanyaan.

Kuambil buku itu dari raknya. Kebetulan ada sebuah buku yang tak tersegel. Aku masih ingat betul cara penggunaan buku itu. Buku ajaib, buku sugesti, buku yang bisa dianggap sebagai Tuhan bagi mereka yang bodoh. Aku gunakan buku itu untuk sebuah pertanyaan yang telah terpikirkan sejak lama: "Benarkah aku sedang jatuh cinta?"

Lama aku coba berkonsentrasi. Hingga momen itu kurasa tepat--walau tak sepenuhnya kurasa tepat--buku itu menganga terbuka.

Katanya, "No"--"Tidak".

Minggu, 11 Juli 2010

Ratu dan Kaisar

Sebelum pecahnya Perang Dunia I, Ratu Wilhelmina muda, ratu dari Kerajaan Belanda, mengunjungi Wilhelm II, Kaisar Jerman yang merupakan negara berkuasa pada saat itu.

Kunjungan ini tidak disambut dengan baik oleh Wilhelm II. Dia berkata, "Para penjagaku punya tinggi tujuh kaki, kau hanyalah setinggi pundak mereka."

Wilhelmina muda tersenyum mendengarnya dan dia menjawab, "Benar, Yang Mulia. Tinggi para penjagamu tujuh kaki. Tapi ketika kami membuka tanggul kami, tinggi kedalaman airnya adalah sepuluh kaki!"

Sabtu, 10 Juli 2010

Kupanggil Kamu Nona Misteri

Sore itu, kutemui kamu. Biasa saja. Tak ada yang istimewa.

Senyum merekah yang terajut dalam raut mukamu ketika kita berdua berkenalan meninggalkan pesona, memang, namun apa yang tertinggal dalam pesona itu menguap begitu saja, tertutupi oleh senyum-senyum lain yang memang sedang banyak bertaburan hari itu.

Kulihat kamu selalu tersenyum. Aku suka dengan orang yang tersenyum, makanya aku mulai menaruh perhatian padamu.

Banyak orang tersenyum, tapi tak banyak orang yang selalu tersenyum. Kamu istimewa karenanya.

Bahkan, di tengah kesendirianmu, kulihat kamu masih melebarkan jarak antara kedua ujung bibirmu itu. Aku iba melihatmu. Kamu terlihat seperti seekor zebra yang terpisah dari kawanannya, tapi kawanan zebra yang lain masih ada dalam jarak pandangmu. Sesekali kamu mengunjungi kawananmu, tapi tak jarang kamu malah menjauhinya, kadang mengunjungi kawanan yang lain. Terus mengelana tak tentu arah.

Oleh karenanya, kamu kupanggil Nona Misteri, yang nama lengkapnya saja masih belum kuketahui.

Entah mengapa kamu tidak begitu sering terlihat dalam kawanan zebra yang sama. Mungkin pengamatanku--sebagai pemburu--salah. Tapi aku benar-benar menaruh perhatian kepadamu. Aku terus mengawasimu. Seperti selayaknya seorang pemburu. Tapi sepertinya ada sesuatu yang tak layak di sini. Mungkinkah seorang pemburu jatuh cinta pada buruannya?

Ah, terlalu dini untuk mengklaim ini sebagai cinta. Aku masih hanyalah seorang pemburu yang sedang mengawasi sekelompok kawanan zebra. Tapi entah kenapa ada satu zebra yang tak pernah luput dari pantauanku. Teropongku tak mau pindah dari sekujur tubuhnya.

Andaikan zebra itu bisa kutarik, kutarik kamu. Kutanyakan segala hal yang ingin aku tahu tentang dirimu. Aku ingin dekat denganmu. Aku ingin kita jadi kawan berbagi. Entah sejauh apa kamu mendefinisikannya.

Yang jelas, aku tak ingin kamu tetap menjadi Nona Misteri bagiku.

Jumat, 18 Juni 2010

Hari Ini Aku Musuh Setiap Orang

Hari ini aku musuh setiap orang.

Walau mungkin tidak begitu dengan orang-orang itu, tapi aku menganggapnya demikian. Sesekali aku juga ingin berpandangan egois. Oh, walaupun itu bakal dicerca mulai dari sahabat sampai pemuka agama. Karena hari ini--anggap saja--aku musuh setiap orang.

Menjadi musuh setiap orang memang tidaklah menyenangkan. Tapi terkadang menjadi teman setiap orang, tanpa satupun musuh sama sekali juga tidak begitu menyenangkan. Dan--setahuku--tidak ada orang di dunia ini yang menjadikan setiap orang sebagai musuh. Kenapa tidak kucoba?

Hari ini aku mengawali hari dengan cukup baik. Hambatan ini dan itu di pagi hari teratasi dengan cukup dingin. Pagi yang antisipatif.

Beranjak ke siang, matahari mulai menyongsong ke ubun-ubun. Tidak ada yang banyak berubah. Hari menjadi semakin penuh dengan canda dan tawa. Banyak kebahagiaan. Sungguh indah.

Siang sedikit berlalu. Mencapai sore. Sedikit membosankan, tapi tetap saja ini bukanlah hari yang buruk.

Tapi siapa yang sangka malam bakal mengubah segalanya? Malamnya yang dimaksud pun merupakan penghujung hari. Hidup memang penuh dengan kejutan. Seperti kotak kado ulang tahun, isinya bisa berupa cokelat atau ular tidak berbisa.

Malam hari ini memang terlalu berbeda dari sorenya, siangnya, atau paginya. Bahkan sampai aku memutuskan untuk memusuhi setiap orang di hari ini pada malam harinya. Tapi pelajaran selalu dapat dipetik.

Kesalahan atau bukan kesalahan, semuanya pasti bermanfaat. Ambil saja manfaatnya. Hidup kenapa dibuat ribet?

Hari ini aku musuh setiap orang. Aku jadi ragu. Aku butuh teman ketika belajar.

Kalau begitu--

Aku temani saja setiap orang di hari ini.

Minggu, 23 Mei 2010

Pulang

Beberapa hari yang lalu, ibuku bertanya, "Kapan pulang lagi, Nak?"

Pulang.

Kata-kata itu sudah lama tak terpikirkan olehku. Makna yang teraurakan dari kata itu pun sudah berubah bagiku. Bergeser menjadi sesuatu yang lain. Yang tak terjelaskan oleh akal dan logika, tapi mampu dijabarkan secara rinci oleh pengalaman dan pembelajaran.

Bagiku, pulang adalah kembali ke rumah. Masalahnya, di mana rumahnya?

*

Aku adalah perantau. Memang bukan perantau jarak jauh, tapi yang jelas aku adalah seorang perantau.

Aku hidup jauh dari keluarga kandungku. Aku jauh dari mereka yang biasanya selalu ada di sampingku ketika aku sedang gundah gulana, aku jauh dari mereka yang mau membuatkanku secangkir teh hangat pahit ketika aku demam. Aku jauh dari mereka dan aku jauh dari kasih sayang itu.

Jaraknya memang tak sejauh dari Aachen sampai Baghdad. Hanya dua jam waktu yang kubutuhkan untuk bertemu keluargaku kembali. Tapi entah kenapa aku jarang menemukan dua jam itu.

Ketika rutinitasku tiap hari memaksaku untuk terus berkutat di tempat lain yang jauh dari rumahku yang sebenarnya sehingga aku terpaksa mencari tempat tinggal lain yang bisa kufungsikan sebagai rumah, aku jadi bingung. Yang mana yang harus kuanggap sebagai rumah?

*

Perantauanku beralasan. Bukannya seperti sepasang kekasih yang kawin lari ataupun kaburnya seorang buronan pembunuh sekaligus pemerkosa berantai. Aku merantau untuk menuntut ilmu. Jiwa mudaku yang sedang bergejolak ini memang haus akan ilmu.

Katanya perjuangan menuntut ilmu tak boleh dibatasi oleh jarak. Katanya menuntut ilmu adalah sesuatu yang baik sekaligus mulia. Tapi semua ini mengerucutkan masalah ke satu akar yang lain: toleransi.

Se-tak-pernah-ditidurinya rumahmu yang sebenarnya, dia masihlah rumahmu. Kau tak mungkin melupakannya. Sekalipun kau meninggalkannya untuk jarak yang jauh, untuk alasan yang katanya terhormat, rumahmu tetap menunggumu pulang. Dia tetap diam di tempat. Tidak beranjak sedikitpun, menunggu kau datang, membuka pintu masuknya dan seraya menghembuskan nafas lelah kau rebahkan tubuhmu ke atas ranjang yang terletak di kamar, dan seketika rumahmu bakal tersenyum, senang karena tuannya telah datang kembali dan rela melepas lelahnya di dalamnya. Rumah bakal selalu menjadi tempat ternyaman untuk beristirahat, dan tempat terindah untuk bersenda gurau.

Kau mungkin tak peduli pada rumahmu sekarang, tapi suatu saat, kau akan peduli kepadanya. Rumahmu masih berharga karena dia masih memiliki alasan untuk dikunjungi: di sana, kau ditunggu untuk pulang.

Mungkin dulu selewat waktu maghrib, seisi rumah langsung cemas jika kau masih belum pulang. Mereka cemas karena kau ditunggui. Tak ada yang lebih tegar dalam menunggui selain rumah dan seisi penghuninya.

Kata orang, menunggu adalah hal yang paling menjemukan, dan rumah rela melakukan hal itu untukmu. Kata orang, orang yang datang tidak tepat waktu sangatlah menyebalkan, dan rumah tidak mempermasalahkan hal itu. Selama kau masih pulang, selama kau akan pulang.

Aku beruntung. Masih ada yang menungguiku pulang di rumah. Karena suatu saat, mereka pasti bakal pergi meninggalkanku juga. Selagi masih ada kesempatan untuk pulang, kenapa tidak kita manfaatkan?

Pulang menjadi berharga karena ada yang menunggui kita melakukan hal itu. Hari ini aku belajar tentang itu.

Ini, itu. Pulang.

Aku kangen pulang.

Senin, 12 April 2010

Wisuda

Entah apa maknanya bagimu, tapi aku menemukan makna lain dari kata simpel yang satu ini kemarin--oh, bukan--dua hari yang lalu.

Aku adalah mahasiswa Teknik Sipil ITB yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Sipil ITB. Di himpunanku, ada tradisi yang selalu dilaksanakan setiap momen wisuda datang yaitu acara Syukuran Wisuda. Tapi acara ini bukan sekedar Syukuran Wisuda.

Acara ini lebih merujuk kepada momen pelepasan, apresiasi, dan kasih sayang. Acara ini adalah wujud penghormatan kepada para wisudawan/wisudawati yang tertuang dalam bentuk yang tidak terbayangkan bagi orang awam.

Suatu hal yang menarik, di akhir acara pada Wisuda Day, ada acara yang namanya pengkuyaan.

Bentuk acara pengkuyaan ini mirip seperti bentuk ospek yang dilakukan ketika zaman mahasiswa masih berperilaku barbar. Mereka melinting koran untuk dijadikan sebagai alat pemukul wisudawan/wisudawati, mereka menghajarnya dengan puluhan ribu kantong air yang telah disiapkan oleh panitia wisuda yang berasal dari angkatan termuda, mereka menyuruh wisudawan/wisudawati dengan beberapa perintah yang lebih pantas terdengar jika dilontarkan oleh seorang senior kejam kepada juniornya, macam push-up, menyanyi dengan lantang, dan lain-lain.

Ospek ulang? Sebenarnya bukan seperti itu.

Satu hal yang kusadari pada hari itu adalah segala bentuk penyiksaan terhadap wisudawan/wisudawati itu sebenarnya adalah bentuk lain dari kasih sayang, penghormatan, dan apresiasi. Bentuknya memang tak wajar, tapi siapa yang peduli itu jika semuanya sudah menyepakati itu sejak dulu?

Setiap pukulan dari lintingan koran adalah cinta, setiap bidikan dari kantong air adalah rasa bangga, setiap perintah push-up adalah ucapan selamat tinggal terlirih yang pernah ada.

Ini bukan penggojlokan, apalagi bentuk balas dendam atau rasa kesal akibat ditinggal lulus temannya. Ini adalah masalah cinta.

Sebuah cinta memang tak harus dilontarkan dengan bunga atau cokelat di hari Valentine. Sebuah cinta juga tak melulu berbentuk sebaris sms yang berpesan "I love you". Hambar dan terlalu konodian.

Ini adalah bentuk lain dari cinta. Yang tak wajar namun nyata, yang melenceng tapi terakui sejak dahulu. Ini adalah penghormatan dalam bentuk kasih sayang tak terhingga. Bahkan siapapun rela untuk jadi yang terbanyak dipukuli, jika dia memang pantas untuk mendapatkannya.

Bentol-bentol di badan bukanlah soal, lecet di sana sini tak jadi masalah. Luka fisik tak bakal sebanding dengan haru tak terbayang yang dirasakan sanubari.

Andaikan aku lulus nanti, aku ingin jadi orang yang terbanyak dipukuli. Lalu aku akan menjerit tiap pukulan mendarat di sekujur tubuhku sambil bilang, "Terima kasih. Terima kasih, Teman!"

Jumat, 09 April 2010

Ranting-Ranting Cinta Baru

Cintaku mulai tumbuh lagi.

Cintaku mungkin sekarang seperti ranting pohon. Dia tumbuh lagi dan lagi serta terus membentuk cabang-cabang baru. Dia indah karena diujungnya bisa saja muncul bunga atau buah dengan beraneka warna. Cintaku sedang indah-indahnya.

Tapi aneh. Cintaku tak pernah kubiarkan berkembang. Tiap kali rantingnya bercabang, dia kupangkas. Sekali bercabang lagi, kupangkas lagi. Oh, haruskah?

Ranting pohon di pekarangan rumah memang bakal selalu kita pangkas agar tampangnya selalu cantik terlihat, agar ukurannya selalu menjadi proporsional dan pas untuk dimensi tempatnya. Segala sesuatu yang berlebihan itu memang tidaklah baik, termasuk ukuran pohon di pekarangan rumah kita.

Lalu bagaimana dengan cinta? Tidak bolehkah ia tumbuh terlalu liar sampai detak jantungku selalu menggebu-gebu ketika dia tiba? Haruskah kuhambat pertumbuhannya yang sedang dalam fase optimal? Haruskah kupangkas ranting-ranting cinta tersebut?

Sungguh sayang, sungguh sayang. Tapi hidup memang tak boleh berlebihan. Karena jika cinta itu diisi terlalu banyak, wadah hati kita tak akan sanggup menampungnya sehingga cinta itu malah tumpah dan bercecer ke mana-mana.

Kamis, 01 April 2010

Busuk

Dunia ini dipenuhi oleh tukang contek. Dunia ini dipenuhi oleh penipu. Dunia ini dipenuhi oleh para korup. Dunia ini dipenuhi oleh pendusta. Dunia ini dipenuhi oleh pemalsu. Dunia ini dipenuhi oleh kepalsuan.

Dunia ini tersamarkan oleh bau busuk yang menusuk hidung. Dunia ini tertutupi oleh kabut tebal bernama rekayasa. Dunia ini memakai topeng, dan tidak ada yang pernah bisa membuka topeng itu.

Dunia ini dipenuhi oleh penggemar mi instan. Dunia ini dipenuhi oleh penikmat kopi kemasan sachet. Dunia ini dipenuhi oleh pecandu makanan cepat saji. Dunia ini dipenuhi oleh penonton MTV.

Dunia ini dikutuk, dan terkutuk. Dunia ini jadi ajang adu kutuk.

Dunia ini terlalu fana. Dunia ini terlalu memesona untuk sebagian besar penghuninya.

Dunia ini menyediakan kesenangan sebagai perangkap, dan merupakan ujian bagi kita untuk melepaskan diri dari perangkap tersebut.

Dunia ini penuh dengan pembohong, yang ketika kebohongan mereka terungkap, mereka berebut bilang, "Tidak!"

Senin, 01 Februari 2010

Seperti Kilatan Petir

Spontan. Banyak yang terjadi secara tak sengaja. Tak direncanakan. Tak diatur. Tiba-tiba terjadi dan ketika kita menyadarinya, yang ada tinggal keterkejutan.

Sontak aku dibuat kaget. Darimana pula datangnya ini?

Seringkali manusia berbicara tanpa sepenuhnya berpikir. Mereka membawa arah pembicaraan sesuai arus yang sedang mengalir kuat.

Sehebat-hebatnya atlit arum jeram, mereka bakal mengayuh dengan menyesuaikan arus sungainya. Gegabah jika dia mencoba melawannya, bodoh. Alam terlalu kuat untuk tubuh manusia yang didesain lemah ini.

Yang melawan arus, dialah yang mati. Yang berhasil melawan arus, dialah yang juara. Sangat menarik kalau peraturannya dibuat begini.

Akhirnya manusia menemui risiko, sesuatu yang tidak akan bisa dihindari. Sekalipun kita lari dari padanya. Bahkan proses larinya sendiripun sebenarnya mengandung risiko yang mungkin saja lebih besar daripada jika kita memilih untuk menghadapinya.

Risiko memang bukan untuk dihindari, risiko untuk dikendalikan.

Kita tak tahu apa yang ada di balik tabir kabut tebal yang menghalangi pandangan kita akan masa depan. Bahkan kita buta akan masa kini, atau--lebih parahnya lagi--masa lampau.

Manusia tidak sepenuhnya sadar akan keadaannya. Dan manusia memang perlu untuk disadarkan akannya. Manusia, sejujurnya sangat pelupa.

Atau itu hanya berlaku bagiku.

Jumat, 15 Januari 2010

Kereta Api Lagi

Hari ini aku naik kereta api lagi. Aku naik dari Bandung, bukan dari Gambir. Tujuanku adalah Gambir, bukan Negeri Senja.

Kereta api itu penuh walau musim mudik sudah lama terlewati. Sekarang pun bukan musim liburan panjang yang mendorong orang untuk bepergian jauh dengan kereta api.

Namun kereta itu penuh.

Aku optimis kereta api mampu bertahan melawan arah gerak zaman. Tak peduli seberapa canggih kendaraan lain diciptakan, seberapa nyaman kendaraan lain didesain. Kereta api tetap punya nilai sakral yang kokoh menantang perubahan.

Tapi ada satu kekhawatiranku.

Aku curiga, kebanyakan penumpang tadi tidak membayar tiket.