Senin, 17 Januari 2011

Kalut

Selemah ini raga jatuh tunduk
untuk rasa yang entah apa, tak jelas wujud bentuk

Serapuh ini diri dibuat goyah
atau mungkin hanya aku yang memang payah
seperti kebiasaan kalah akibat menyerah

Segalau ini hati merana
mencari-cari apa yang sebenarnya tak sirna
Terlanjur berhuni kepada yang belum sepenuhnya nyata

Sebesar ini angan berharap
seperti prajurit menanti dari posisi tiarap
tabah menunggu aba-aba dengan sigap

Sejauh ini jiwa melompat
merasakan hal-hal yang dulu tak sempat,
atau terlambat
Terkejut sambil banyak doa terus dipanjat

Seluas ini kesempatan terbuka
bagai main bola di lapangan desa:
Tendang sini, tendang sana
Gol! Teriakan mengudara:
Seperti haruku kepada keindahan dunia

Segelap ini misteri tertutup
Tersembunyi, bagai tersimpan dalam ruang yang mengatup
Tidak bebas berkeliaran layaknya udara yang kita hirup

Serapi ini Tuhan bercerita,
walaupun babak ini belum seberapa,
tapi tetap: Pilihan adalah hak penuh manusia

Sabtu, 15 Januari 2011

Mentari Masih Sendiri

I

Mentari masih sendiri
Tak punya kawan yang menemani

Mentari masih sendiri
Bertarung melawan sepi
Membinasakan kekosongan yang melanda
Menjaga agar diri tetap ada

Mentari masih sendiri
Sudah begitu sejak dahulu
Dengan jumawa, kokoh berdiri
Padahal hati selalu diiringi haru

Mentari masih sendiri
Mentari selalu sendiri

Angkasa dikuasainya
Semua gaya direnggut karena wujud yang raksasa
Benda langit mana yang tak tunduk pada kedigdayaannya?
Yang tak mampu ditandingi oleh siapa jua

Dan kini, angkasa bergetar,
mentari marah!

Mentari mencari kawan
yang selalu tak ada sejak bumi masih hanya dihuni hewan

II

Putra Adam tak kenal siapa dia
Bulat besar, terletak jauh di atas
Jelaslah, dia bukan teman

Putra Adam bertanya-tanya
Membuat asumsi karena tak tahu
Mempertontonkan kepada sesama untuk terlihat cerdas,
dengan teori yang sebenarnya tak lebih dari tipu

Putra Adam mengagungkannya
Menyembahnya atas sinar terang yang menyilaukan
Sebelum Nabi akhirnya datang membawa banyak cerita

Dan seketika mereka semua disuruh bertobat

"Maafkan kami, Yang Maha Agung!"

III

Mentari selalu menyala
Membagi hangat selagi ajal belum tiba
Si Besar Jumawa juga punya batas usia
Tapi waktu masih belum seberapa

"Oh, Yang Maha Agung! Engkau ciptakan aku sendiri,
adakah maksud itu untuk membuatku mandiri?
Oh, Yang Maha Agung! Engkau buat aku tak punya kawan,
tapi bolehkah aku melawan?"

Mentari masih sendiri
Sampai zaman mencapai batas keteraturan
Berharap pada Putra Adam lagi-lagi buat asumsi:
Setiap diri, punya kebalikan

Mentari masih sendiri
Mentari butuh teman berbagi

Jumat, 14 Januari 2011

Pagi

Segala puji bagi Tuhan yang telah menjadikan sosok pengawal hari dalam wujud pagi, sesuatu yang damai, tenteram, dan—seharusnya—tanpa pertumpahan darah.

Pagi selalu diisi dengan suara-suara dari burung yang berkicau. Menyanyi dengan indahnya, walau tak seorangpun tahu apa liriknya. Mengeluarkan senandung termerdu, lebih dari biduan manapun yang pernah ada di dunia ini. Jika ada kontes menyanyi dari seluruh makhluk Tuhan, aku yakin burung akan menjadi pemenangnya. Mutlak.

Mengawali harus dengan sesuatu yang baik. Karena awal biasanya menjadi kunci untuk seterusnya. Manusia cenderung lembam. Oleh karena itu, awal haruslah seagung mungkin. Dilakukan sambil berharap akhir bakal mengikuti, atau malah melebihi.

Tuhan menciptakan pagi bukan tanpa alasan. Tuhan membuat pagi bukan hanya untuk dilewati begitu saja. Di antara setiap waktu yang diciptakan-Nya, aku paling menikmati pagi.

Pagi memberi semangat untuk memulai, karena pagi adalah saat yang pas untuk mulai membuka mata. Pagi adalah saat yang cocok untuk mulai menggerakkan badan, menjemur diri di tengah siraman sinar matahari yang katanya punya banyak khasiat. Pagi juga merupakan saat yang tepat untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Udara segar bakal kaudapatkan, setelah kehidupan sempat berhenti sepanjang malam untuk alasan yang katanya dinamakan istirahat.

Pagi adalah awal. Terlebih lagi, pagi adalah awal yang sempurna. Namun, sayangnya, pagi sering diacuhkan.

Sungguh malang bagi mereka yang mengacuhkan pagi.

*

Di suatu pagi, aku sudah siap mengawali hari. Baru membuka mata, sudah terbayang satu bayangan di kepalaku. Dia. Tapi itu hanya ada di kepalaku. Entahlah. Apakah suatu saat nanti, dia bakal benar-benar mengisi pagiku sambil mengamatiku terbangun dari lelapku dengan gigi bertabur jigong dan mata berhias kotoran mata—keadaan paling berantakkan dari yang mungkin kutampakkan—atau tidak.

Kamis, 06 Januari 2011

Cantik

"Lihat. Ada wanita cantik di samping sana." Penasaran dengan bentuk rupanya, kutelusuri arah yang dimaksud si pembicara. Ketika wanita tersebut telah tertangkap oleh kedua bola mataku, aku hanya mendapatkan sesosok wanita yang biasa saja.

*

Sejak awal, aku sering punya pendapat yang berbeda dari orang kebanyakan tentang cantik. Orang kebanyakan memang biasanya punya "ukuran" cantik yang tidak jauh beda. Ukuran tersebut seakan menjadi standar dalam menentukan kualitas seorang wanita.

Jauh di lubuk hatiku, aku tidak sependapat dengan mereka.

Kenapa harus ada cantik yang disepakati jika setiap orang punya rasa? Haruskah seluruh dunia ini berkiblat pada satu mode yang sama? Memuja satu wanita yang sama padahal masih ada jutaan wanita lainnya yang juga siap untuk dibuahi untuk kemudian menghasilkan keturunan.

Mungkin sejak dulu kecantikan telah diperdagangkan. Nafsu manusia yang menggebu-gebu untuk melakukan seks telah mendorong mereka untuk berlomba-lomba dalam mencari yang "terbaik". Di sini, pria, yang biasanya memegang peran yang lebih tinggi sebagai penguasa atau orang yang lebih kuat, saling beradu. Mereka saling menunjukkan kekuatannya, kegagahannya, atau kecerdikannya untuk mendapatkan wanita yang terbaik. Tak jarang, perebutan wanita ini mengakibatkan perang pada akhirnya.

Ribuan nyawa melayang hanya untuk memperebutkan satu wanita.

*

Begitu istimewanya wanita sampai dia begitu diperebutkan dengan agung. Sebuah kerajaan terbesar sekalipun dapat hancur dalam sekejap hanya karena terbuai oleh pesona dari seorang wanita. Yang diceritakan dalam dongeng-dongeng itu benar, pria kuat dan kokoh bisa dibuat kalut sehingga menjadi lemah dan rapuh oleh seorang wanita.

Wanitalah yang memegang kunci dari pria, dengan segala pesona yang dia miliki. Seorang pria, pasti bergantung pada—minimal—seorang wanita.

Padahal seharusnya wanita dan pria adalah sepasang yang saling melengkapi. Bukankah Hawa diciptakan karena Adam mengeluh kesepian?

Dan jikalau setiap insan di dunia sudah mempunyai takdirnya masing-masing (termasuk pasangannya masing-masing), kenapa kita semua masih berlomba-lomba menuju arah yang sama? Menuju wanita yang sama?

*

Mungkin benar, setiap dari pria dan wanita telah diciptakan secara berpasang-pasangan, walau jumlah pria dan wanita di dunia ini tidaklah sama.

Aku sering bermimpi tentang hari pernikahanku. Entah bagaimana kelangsungannya nanti, tapi aku sungguh mendambakan kedamaian yang menyertaiku di hari itu.

Setiap wanita cantik dengan caranya masing-masing. Sayangnya, banyak wanita yang tertipu dengan kecantikan palsu yang dibawa oleh wanita-wanita lain. Mereka pikir, dengan menjadi seperti wanita lain, mereka bisa ikut menjadi cantik, padahal yang mereka dapatkan hanya kecantikan yang menipu. Mana yang lebih indah: emas asli atau emas imitasi?

Kecantikan dipersiapkan untuk setiap pasangannya (dan calon) yang telah menanti di dunia ini. Cepat atau lambat, mereka pasti akan menemuinya. Dengan mengganti kecantikan tersebut dengan yang palsu, bukankah sama saja dengan mengecewakan orang yang telah menunggunya di dunia?

*

Setiap manusia telah diciptakan berpasang-pasangan. Dan aku yakin, pasanganku telah menunggu, di suatu tempat.

Banyak orang bercakap tentang kecantikan seseorang, tapi aku punya rasa sendiri tentang cantik tersebut.

Mungkin dunia bilang seperti inilah cantik seharusnya, namun—bagiku—hanya seseorang yang kupandang cantik di mataku. Saat ini, kupanggil orang itu sebagai dia.

Rabu, 05 Januari 2011

Ceritaku

Dunia ini kaya dengan cerita, mulai dari cerita dongeng yang membuat seorang anak kecil bermimpi menunggangi seekor naga ganas sampai cerita fiksi yang mengisahkan seorang pembunuh berantai yang melakukannya hanya karena tidak mengetahui bahwa membunuh itu salah.

Dan semua cerita itu mengisahkan tentang cinta, dengan caranya masing-masing.

Dalam beberapa hari ini, aku banyak mendapatkan cerita baru. Masing-masing cerita punya karakter yang saling menunjukkan keunikannya. Yang terkadang bisa menampilkan sisi manis, lucu, atau menyebalkan. Namun, cinta selalu mengambil peran di sana, dalam wujudnya masing-masing, karena wujud cinta tergantung kepada sisi yang ditampilkannya.

Setiap cerita adalah indah dalam caranya masing-masing, dan kita tidak selalu harus menikmati keindahan dari masing-masing cerita itu. Karena setiap orang punya rasa, dan rasa itu personal.

Setiap cerita adalah indah dalam caranya masing-masing. Makanya tidak semua orang bilang cerita Shakespeare itu menakjubkan atau cerita percintaan antara vampir dan manusia itu buruk. Kita tidak perlu mempermasalahkan rasa, selama kita masih memilikinya masing-masing.

Dan rasa yang ada padaku, semakin menjadi. Menjelma ke dalam wujud yang begitu menenangkan sekaligus indah, dalam satu tempat.

*

Ada banyak penulis cerita yang hebat, lebih banyak lagi orang yang terpesona karenanya. Suka atau tidak, kita tidak perlu menyesuaikan rasa yang ada dengan rasa yang mereka punya. Dunia indah karena diciptakan beragam. Buat apa semua orang menjadi sama?

Di antara jutaan cerita cinta yang ada, ada satu yang istimewa, setidaknya bagi rasaku. Cerita itu mungkin masih belum tersebar.

Karena saat ini, aku sedang menjalani cerita itu. Inilah ceritaku.