Jumat, 07 Oktober 2011

Mimpi yang Sama

Malam terlalu sunyi, makanya aku memutar Mogwai. Mereka bisa membuat keadaan sedikit lebih berisik.

Bukannya aku tak nyaman dengan kesunyian. Dulu, aku adalah pengagum kesunyian, namun, sekali lagi, itu dulu. Sekarang, kesunyian justru lebih banyak menyiksaku. Agaknya kesunyian telah bertransformasi menjadi ketidakmampuan untuk tidak merasa sendiri. Dan ketidakmampuan, kata itu, sungguh menyiksaku.

Letters to the Metro milik Mogwai mulai menggaung, menabrak-nabrak dinding kamarku, menjadi sebuah kombinasi yang disebut nada. Lagu yang kalem, menjadikan suasana berisik yang kudambakan tak sepenuhnya terpenuhi.

Hal-hal banyak terlihat sederhana, namun sesungguhnya tidak. Mereka saling berkait satu sama lain, membentuk simpul berbelit yang hanya bisa dilepas oleh seorang yang ahli, layaknya Pramuka yang mahir membuat tandu dari tambang dan dua bambu.

Lantas, ahli macam apa yang bisa membantuku dalam membuka simpul berpilin yang serbaruwet ini? Nah, ini juga menimbulkan masalah baru. Sang Ahli bukanlah seperti dukun beranak yang bisa ditemui kapan saja ketika istrimu hendak melahirkan. Sang Ahli lebih seperti kebetulan. Dia tak bisa dipanggil, juga tak bisa dibuat janji bertemu. Dia datang tiba-tiba seakan-akan muncul karena kuasa alam. Padahal, ada yang mengaturnya. Dialah yang disebut Sang Ahli. Sang Ahli ini sering disebut manusia sebagai Tuhan.

Karena serumit apapun masalah yang dihadapi manusia, seharusnya itu semua adalah wajar untuk dilalui. Manusia lebih sering membesar-besarkan masalah daripada mencoba untuk mengatasinya. Jadi, jangan salahkan siapa-siapa jika banyak urusan terbengkalai. Terlalu banyak sesi untuk meratap, merenung, atau menangis. Emosi memang harus diberi porsi, namun dia juga tidak boleh makan terlalu banyak. Bahaya jika dia menjadi kegendutan. Rakus bukanlah pertanda yang baik.

Dan pada akhirnya, aku bisa saja sadar. Lalu, ketika momen semacam ini datang lagi, aku bisa saja kembali lupa. Manusia memang makhluk yang pelupa. Dan mungkin beruntung manusia diciptakan seperti itu. Melupakan membuat manusia bisa bahagia kembali setelah ditimpa musibah kemarin sorenya.

Daripada mempermasalahkan emosi manusia yang tidak stabil (atau otak manusia yang terlalu banyak lupa), lebih baik manusia menggantungkan harapannya kepada Tuhan (yang katanya akan mendengar setiap doa). Siapa tahu, jalan yang sudah nyaris tertutup bisa terbuka lagi. Membuat seberkas cahaya muncul kembali dan menerangi harapan. Lalu, ketika itu terjadi, dunia seakan terlahir baru ... dan manusia merasa senang untuk kembali bermimpi. Walau untuk mimpi yang sama.