Selasa, 26 Mei 2009

Monopoli Kehidupan

Aku melangkah tiga petak. Sebuah "kesempatan". Lama aku berdiam diri seraya berdoa dalam hati agar "kesempatan" ini adalah sesuatu yang baik. Aku benar-benar butuh uang.

Terlalu lama aku membuat mereka menunggu. Sudah, kubuka saja kartu itu.

Entah kenapa tiba-tiba pandanganku buyar. Untuk sesaat aku tidak bisa melihat dengan jelas.

Ketika pandanganku pulih kembali, yang kulihat ialah sebuah tulisan "ONGKOS PERBAIKAN JALAN, BAYAR KE BANK $250". Hancur sudah segalanya.

Aku resmi bangkrut, lirihku dalam hati.

*

Ini adalah minggu berikutnya. Permainan dimulai kembali dari awal.

Aku harus menerapkan strategi yang berbeda, ujarku dalam hati. Kali ini akulah yang menang.

Dadu mulai digulirkan. Bidak mulai bergeser. Langkah demi langkah. Petak demi petak. Hingga semua orang terlarut dalam kebahagiaan yang dibawa oleh permainan klasik tersebut.

Nama permainan ini adalah Monopoli. Orang yang dianggap menang di sini adalah orang yang mampu memonopoli seluruh lahan yang ada dalam papan permainan.

Menjadi penguasa tunggal.

Dibutuhkan strategi ekstra untuk saling mengalahkan karena pada dasarnya setiap orang punya modal yang sama. Kecuali faktor luck. Yang satu itu memang sulit diperhitungkan.

Akan tetapi, terkadang faktor luck-lah justru yang menjadi penentu siapa yang menjadi pemenang.

Pemenang yang ditentukan dari keberuntungan. Penguasa tunggal yang beruntung.

Guliran dadu, setiap tindakan yang dipilih, isi dari setiap "kesempatan" yang didapatkan. Semuanya penentu kemenangan. Semuanya ditentukan oleh luck tersebut. Yang--sepertinya--segalanya telah tertulis dan tinggal menunggu untuk terjadi.

Andai saja kehidupan ini tidak serumit ini. Yang bisa diandalkan melalui luck saja.

Namun, bagaimana kalau ternyata kehidupan ditentukan oleh faktor luck saja? Apakah itu akan memberikan hasil yang lebih baik?

Tidak ada jerih payah, yang ada hanyalah judi dan tebak-tebakan. Taruhan menjadi lapangan pekerjaan bagi setiap orang dan pachinko adalah alternatif yang lain. Tidak ada lagi yang tertarik kuliah. Tidak ada lagi yang mau menjadi dokter.

Tidak ada dokter? Bagaimana dengan yang sakit?

Semua dari mereka disembuhkan dengan obat yang diramu dengan perhitungan asal-asalan. Kalau nasib baik sedang datang berarti orang itu sembuh. Nyawa juga bergantung keberuntungan.

Kehidupan ini menjadi semudah Gladstone Gander dalam berusaha, atau sesial Donal Bebek dalam segala aktivitas.

Pilihan dari segala sesuatu menjadi tinggal dua: mujur atau sial.

Anda dapat yang mana?

Yang mujur dan yang sial semuanya "telah tertulis".

"Maktub," ujarku sambil teringat kata-kata seorang pujangga.