Selasa, 20 Mei 2008

Selotip Bangsa


Ketika gelas kaca diisi dengan campuran air panas dan dingin. Di saat titik perbedaan antara yang panas dan yang dingin terlalu ekstrem, maka si gelas pun tak akan kuasa menahan perbedaan itu. Ia akan pecah, dan airnya akan tumpah.

Terlalu banyak perbedaan yang dimiliki bangsa ini. Dan terlalu sedikit yang bisa menyatukannya. Wadahnya tidak kuat.

Rentang suhunya terlalu besar. Pantas gelas itu mulai retak.

Harus ada yang menghentikannya. Beberapa air sudah mulai keluar lewat retakan kecil yang mulai membesar. Jangan biarkan airnya keluar terlalu banyak.

Tak ada yang kuasa menahannya. Kecuali air itu sendiri. Yang panas harus menerima yang dingin. Yang dingin harus menerima yang panas.

Bangsa ini, sama. Banyak perbedaan, dan sedikit yang mau bersatu. Padahal seharusnya kita padu. Membentuk suatu gabungan yang utuh. Yang kokoh.

Untuk yang sudah terlalu panas, dinginkanlah kepalamu. Cobalah untuk menerima yang lain dengan kepala dingin. Untuk yang terlalu dingin, cobalah untuk lebih hangat. Lebih panas. Lebih membakar.

Sudah saatnya kita kembali bersatu. Atau tiba saatnya ketika gelas itu pecah. Dan pada saat itu tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Kita bebas, namun benar-benar lepas. Tak ada wadah. Tak ada penampung. Tak ada pengendali.

Mungkin dengan selotip? Tapi itu akan percuma jika perbedaannya tetap tak mau saling mengalah.

Sudah saatnya bangsa ini bersatu. Atau gelas itu harus diganti dengan gelas plastik.


Memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke 100. Semoga bangsa ini bisa bangkit.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

sekarang pagi-pagi gaz ngepost nya?

emang iya ya kalo dicampur langsung pecah?

Gw baru tahu tuh! makasi informasinya!

musuh sejati sapa gaz? bukan gw! besok lo ikut nonton?
moga2 ga deket lo ntar nontonnya klo jd ikut!

pp_kn

guru bahasa indonesia mengatakan...

murid saya memang hebat membuat analogi...............
haahhahahahaha