Kamis, 06 Januari 2011

Cantik

"Lihat. Ada wanita cantik di samping sana." Penasaran dengan bentuk rupanya, kutelusuri arah yang dimaksud si pembicara. Ketika wanita tersebut telah tertangkap oleh kedua bola mataku, aku hanya mendapatkan sesosok wanita yang biasa saja.

*

Sejak awal, aku sering punya pendapat yang berbeda dari orang kebanyakan tentang cantik. Orang kebanyakan memang biasanya punya "ukuran" cantik yang tidak jauh beda. Ukuran tersebut seakan menjadi standar dalam menentukan kualitas seorang wanita.

Jauh di lubuk hatiku, aku tidak sependapat dengan mereka.

Kenapa harus ada cantik yang disepakati jika setiap orang punya rasa? Haruskah seluruh dunia ini berkiblat pada satu mode yang sama? Memuja satu wanita yang sama padahal masih ada jutaan wanita lainnya yang juga siap untuk dibuahi untuk kemudian menghasilkan keturunan.

Mungkin sejak dulu kecantikan telah diperdagangkan. Nafsu manusia yang menggebu-gebu untuk melakukan seks telah mendorong mereka untuk berlomba-lomba dalam mencari yang "terbaik". Di sini, pria, yang biasanya memegang peran yang lebih tinggi sebagai penguasa atau orang yang lebih kuat, saling beradu. Mereka saling menunjukkan kekuatannya, kegagahannya, atau kecerdikannya untuk mendapatkan wanita yang terbaik. Tak jarang, perebutan wanita ini mengakibatkan perang pada akhirnya.

Ribuan nyawa melayang hanya untuk memperebutkan satu wanita.

*

Begitu istimewanya wanita sampai dia begitu diperebutkan dengan agung. Sebuah kerajaan terbesar sekalipun dapat hancur dalam sekejap hanya karena terbuai oleh pesona dari seorang wanita. Yang diceritakan dalam dongeng-dongeng itu benar, pria kuat dan kokoh bisa dibuat kalut sehingga menjadi lemah dan rapuh oleh seorang wanita.

Wanitalah yang memegang kunci dari pria, dengan segala pesona yang dia miliki. Seorang pria, pasti bergantung pada—minimal—seorang wanita.

Padahal seharusnya wanita dan pria adalah sepasang yang saling melengkapi. Bukankah Hawa diciptakan karena Adam mengeluh kesepian?

Dan jikalau setiap insan di dunia sudah mempunyai takdirnya masing-masing (termasuk pasangannya masing-masing), kenapa kita semua masih berlomba-lomba menuju arah yang sama? Menuju wanita yang sama?

*

Mungkin benar, setiap dari pria dan wanita telah diciptakan secara berpasang-pasangan, walau jumlah pria dan wanita di dunia ini tidaklah sama.

Aku sering bermimpi tentang hari pernikahanku. Entah bagaimana kelangsungannya nanti, tapi aku sungguh mendambakan kedamaian yang menyertaiku di hari itu.

Setiap wanita cantik dengan caranya masing-masing. Sayangnya, banyak wanita yang tertipu dengan kecantikan palsu yang dibawa oleh wanita-wanita lain. Mereka pikir, dengan menjadi seperti wanita lain, mereka bisa ikut menjadi cantik, padahal yang mereka dapatkan hanya kecantikan yang menipu. Mana yang lebih indah: emas asli atau emas imitasi?

Kecantikan dipersiapkan untuk setiap pasangannya (dan calon) yang telah menanti di dunia ini. Cepat atau lambat, mereka pasti akan menemuinya. Dengan mengganti kecantikan tersebut dengan yang palsu, bukankah sama saja dengan mengecewakan orang yang telah menunggunya di dunia?

*

Setiap manusia telah diciptakan berpasang-pasangan. Dan aku yakin, pasanganku telah menunggu, di suatu tempat.

Banyak orang bercakap tentang kecantikan seseorang, tapi aku punya rasa sendiri tentang cantik tersebut.

Mungkin dunia bilang seperti inilah cantik seharusnya, namun—bagiku—hanya seseorang yang kupandang cantik di mataku. Saat ini, kupanggil orang itu sebagai dia.

1 komentar:

Gandrie mengatakan...

Setiap pria mempunyai parameter kecantikan seorang wanita. Terkadang parameter itu bukan secara fisik, tetapi sesuatu yang memang tidak bisa dijelaskan.

Seorang pria tidak akan mengatakan dengan gamblang "dia/kamu cantik" kepada wanita yang dia puja dan kagumi di khalayak umum tapi cukup ada di dalam hatinya.

Seiring berjalan waktu, wanita itu akan merasa dihargai tanpa kau harus berucap kalau dirinya cantik.

Kalau hidup adalah sebuah kapal, maka kita adalah nahkodanya. Arahkan kapalmu sesuai dengan suara hatimu.

Di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada.

I do feel that too, dude.