Jumat, 16 Desember 2011

Terlanjur

Sejak awal, aku tidak mengharapkan hari ulang tahunku bakal menjadi hari yang istimewa. Justru, dengan menjadi hari yang biasa-biasa saja, aku bisa menangkap momen-momen membahagiakan yang memang selalu menyertaiku di waktu-waktuku selama ini. Dan lagi, kebetulan, hanya ada satu hal buatku yang bisa menjadikan sebuah hari menjadi istimewa.

Sebutlah satu hal ini adalah impian. Dan aku sama sekali tidak punya bayangan akan dekat atau jauh impian ini dari gapaianku, seperti mimpi Gadjah Mada untuk mempersatukan Nusantara atau mimpi John Lennon tentang ketiadaan surga.

Impian ini pernah terasa begitu dekat. Ketika itu, aku merasa ada dukungan dari alam semesta dalam membantuku untuk memperjuangkan impianku sehingga impian tersebut terasa mudah untuk digapai. Meskipun, pada faktanya, dengan bantuan semesta pun proses penggapaian yang harus kulalui tetap tidak semudah itu.

Lalu ada sesuatu yang aneh, dan cukup tiba-tiba. Seakan-akan semesta berbalik memalingkan mukanya dariku, menjauhkan langkahnya dariku, dan menolak untuk membantuku lebih jauh. Jika ditanya alasannya, tentu saja aku tak tahu. Justru, jika aku tahu, mungkin itu adalah satu-satunya hal yang benar-benar butuh untuk kuketahui. Atau mungkin juga tidak. Yang jelas, perubahan sikap semesta ini cukup ganjil.

Ketika alam semesta seakan-akan meninggalkanku, yang kurasakan adalah kehilangan yang amat sangat. Seakan sebuah impian yang benar-benar kudambakan (dan memang tidak bisa lagi aku lepas, mungkin dengan alasan apapun) menjadi sirna karena ketidakjelasan. Dan jika ada satu pertanyaan yang hendak kuajukan, kerongkongan ini tertahan untuk menyampaikan setiap kata. Seolah-olah kata-kata tidak lagi berfungsi sebagai penyampai pesan. Seolah-olah kata-kata hanyalah menjadi media pelampiasan kepada hasrat yang tak terpenuhi. Bagaimanapun juga, rasa ini tidak bisa hilang begitu saja. Mungkin rasa ini bakal tetap tinggal selamanya. Sejauh pengalamanku dalam jatuh cinta, rasa itu tidak pernah benar-benar hilang.

Sekarang keadaannya bertambah rumit. Dan aku pun pusing menanggapinya bagaimana. Yang dulu, entah kenapa sangat kusayangkan hilang begitu saja. Tapi ada satu yang ingin kusampaikan: rasa ini masih tetap ada. Mungkin bakal selalu ada. Karena aku telah terlanjur jatuh cinta. Dan, iya, impian ini memang tentang cinta.

Yang jelas, aku rindu saat-saat yang telah berlalu dan masih berharap agar saat-saat tersebut kembali berulang. Jika sudah berulang, yang kuharapkan selanjutnya adalah bertahan hingga selama-lamanya.

Tidak ada komentar: