Minggu, 11 Juli 2010

Ratu dan Kaisar

Sebelum pecahnya Perang Dunia I, Ratu Wilhelmina muda, ratu dari Kerajaan Belanda, mengunjungi Wilhelm II, Kaisar Jerman yang merupakan negara berkuasa pada saat itu.

Kunjungan ini tidak disambut dengan baik oleh Wilhelm II. Dia berkata, "Para penjagaku punya tinggi tujuh kaki, kau hanyalah setinggi pundak mereka."

Wilhelmina muda tersenyum mendengarnya dan dia menjawab, "Benar, Yang Mulia. Tinggi para penjagamu tujuh kaki. Tapi ketika kami membuka tanggul kami, tinggi kedalaman airnya adalah sepuluh kaki!"

Sabtu, 10 Juli 2010

Kupanggil Kamu Nona Misteri

Sore itu, kutemui kamu. Biasa saja. Tak ada yang istimewa.

Senyum merekah yang terajut dalam raut mukamu ketika kita berdua berkenalan meninggalkan pesona, memang, namun apa yang tertinggal dalam pesona itu menguap begitu saja, tertutupi oleh senyum-senyum lain yang memang sedang banyak bertaburan hari itu.

Kulihat kamu selalu tersenyum. Aku suka dengan orang yang tersenyum, makanya aku mulai menaruh perhatian padamu.

Banyak orang tersenyum, tapi tak banyak orang yang selalu tersenyum. Kamu istimewa karenanya.

Bahkan, di tengah kesendirianmu, kulihat kamu masih melebarkan jarak antara kedua ujung bibirmu itu. Aku iba melihatmu. Kamu terlihat seperti seekor zebra yang terpisah dari kawanannya, tapi kawanan zebra yang lain masih ada dalam jarak pandangmu. Sesekali kamu mengunjungi kawananmu, tapi tak jarang kamu malah menjauhinya, kadang mengunjungi kawanan yang lain. Terus mengelana tak tentu arah.

Oleh karenanya, kamu kupanggil Nona Misteri, yang nama lengkapnya saja masih belum kuketahui.

Entah mengapa kamu tidak begitu sering terlihat dalam kawanan zebra yang sama. Mungkin pengamatanku--sebagai pemburu--salah. Tapi aku benar-benar menaruh perhatian kepadamu. Aku terus mengawasimu. Seperti selayaknya seorang pemburu. Tapi sepertinya ada sesuatu yang tak layak di sini. Mungkinkah seorang pemburu jatuh cinta pada buruannya?

Ah, terlalu dini untuk mengklaim ini sebagai cinta. Aku masih hanyalah seorang pemburu yang sedang mengawasi sekelompok kawanan zebra. Tapi entah kenapa ada satu zebra yang tak pernah luput dari pantauanku. Teropongku tak mau pindah dari sekujur tubuhnya.

Andaikan zebra itu bisa kutarik, kutarik kamu. Kutanyakan segala hal yang ingin aku tahu tentang dirimu. Aku ingin dekat denganmu. Aku ingin kita jadi kawan berbagi. Entah sejauh apa kamu mendefinisikannya.

Yang jelas, aku tak ingin kamu tetap menjadi Nona Misteri bagiku.

Jumat, 18 Juni 2010

Hari Ini Aku Musuh Setiap Orang

Hari ini aku musuh setiap orang.

Walau mungkin tidak begitu dengan orang-orang itu, tapi aku menganggapnya demikian. Sesekali aku juga ingin berpandangan egois. Oh, walaupun itu bakal dicerca mulai dari sahabat sampai pemuka agama. Karena hari ini--anggap saja--aku musuh setiap orang.

Menjadi musuh setiap orang memang tidaklah menyenangkan. Tapi terkadang menjadi teman setiap orang, tanpa satupun musuh sama sekali juga tidak begitu menyenangkan. Dan--setahuku--tidak ada orang di dunia ini yang menjadikan setiap orang sebagai musuh. Kenapa tidak kucoba?

Hari ini aku mengawali hari dengan cukup baik. Hambatan ini dan itu di pagi hari teratasi dengan cukup dingin. Pagi yang antisipatif.

Beranjak ke siang, matahari mulai menyongsong ke ubun-ubun. Tidak ada yang banyak berubah. Hari menjadi semakin penuh dengan canda dan tawa. Banyak kebahagiaan. Sungguh indah.

Siang sedikit berlalu. Mencapai sore. Sedikit membosankan, tapi tetap saja ini bukanlah hari yang buruk.

Tapi siapa yang sangka malam bakal mengubah segalanya? Malamnya yang dimaksud pun merupakan penghujung hari. Hidup memang penuh dengan kejutan. Seperti kotak kado ulang tahun, isinya bisa berupa cokelat atau ular tidak berbisa.

Malam hari ini memang terlalu berbeda dari sorenya, siangnya, atau paginya. Bahkan sampai aku memutuskan untuk memusuhi setiap orang di hari ini pada malam harinya. Tapi pelajaran selalu dapat dipetik.

Kesalahan atau bukan kesalahan, semuanya pasti bermanfaat. Ambil saja manfaatnya. Hidup kenapa dibuat ribet?

Hari ini aku musuh setiap orang. Aku jadi ragu. Aku butuh teman ketika belajar.

Kalau begitu--

Aku temani saja setiap orang di hari ini.

Minggu, 23 Mei 2010

Pulang

Beberapa hari yang lalu, ibuku bertanya, "Kapan pulang lagi, Nak?"

Pulang.

Kata-kata itu sudah lama tak terpikirkan olehku. Makna yang teraurakan dari kata itu pun sudah berubah bagiku. Bergeser menjadi sesuatu yang lain. Yang tak terjelaskan oleh akal dan logika, tapi mampu dijabarkan secara rinci oleh pengalaman dan pembelajaran.

Bagiku, pulang adalah kembali ke rumah. Masalahnya, di mana rumahnya?

*

Aku adalah perantau. Memang bukan perantau jarak jauh, tapi yang jelas aku adalah seorang perantau.

Aku hidup jauh dari keluarga kandungku. Aku jauh dari mereka yang biasanya selalu ada di sampingku ketika aku sedang gundah gulana, aku jauh dari mereka yang mau membuatkanku secangkir teh hangat pahit ketika aku demam. Aku jauh dari mereka dan aku jauh dari kasih sayang itu.

Jaraknya memang tak sejauh dari Aachen sampai Baghdad. Hanya dua jam waktu yang kubutuhkan untuk bertemu keluargaku kembali. Tapi entah kenapa aku jarang menemukan dua jam itu.

Ketika rutinitasku tiap hari memaksaku untuk terus berkutat di tempat lain yang jauh dari rumahku yang sebenarnya sehingga aku terpaksa mencari tempat tinggal lain yang bisa kufungsikan sebagai rumah, aku jadi bingung. Yang mana yang harus kuanggap sebagai rumah?

*

Perantauanku beralasan. Bukannya seperti sepasang kekasih yang kawin lari ataupun kaburnya seorang buronan pembunuh sekaligus pemerkosa berantai. Aku merantau untuk menuntut ilmu. Jiwa mudaku yang sedang bergejolak ini memang haus akan ilmu.

Katanya perjuangan menuntut ilmu tak boleh dibatasi oleh jarak. Katanya menuntut ilmu adalah sesuatu yang baik sekaligus mulia. Tapi semua ini mengerucutkan masalah ke satu akar yang lain: toleransi.

Se-tak-pernah-ditidurinya rumahmu yang sebenarnya, dia masihlah rumahmu. Kau tak mungkin melupakannya. Sekalipun kau meninggalkannya untuk jarak yang jauh, untuk alasan yang katanya terhormat, rumahmu tetap menunggumu pulang. Dia tetap diam di tempat. Tidak beranjak sedikitpun, menunggu kau datang, membuka pintu masuknya dan seraya menghembuskan nafas lelah kau rebahkan tubuhmu ke atas ranjang yang terletak di kamar, dan seketika rumahmu bakal tersenyum, senang karena tuannya telah datang kembali dan rela melepas lelahnya di dalamnya. Rumah bakal selalu menjadi tempat ternyaman untuk beristirahat, dan tempat terindah untuk bersenda gurau.

Kau mungkin tak peduli pada rumahmu sekarang, tapi suatu saat, kau akan peduli kepadanya. Rumahmu masih berharga karena dia masih memiliki alasan untuk dikunjungi: di sana, kau ditunggu untuk pulang.

Mungkin dulu selewat waktu maghrib, seisi rumah langsung cemas jika kau masih belum pulang. Mereka cemas karena kau ditunggui. Tak ada yang lebih tegar dalam menunggui selain rumah dan seisi penghuninya.

Kata orang, menunggu adalah hal yang paling menjemukan, dan rumah rela melakukan hal itu untukmu. Kata orang, orang yang datang tidak tepat waktu sangatlah menyebalkan, dan rumah tidak mempermasalahkan hal itu. Selama kau masih pulang, selama kau akan pulang.

Aku beruntung. Masih ada yang menungguiku pulang di rumah. Karena suatu saat, mereka pasti bakal pergi meninggalkanku juga. Selagi masih ada kesempatan untuk pulang, kenapa tidak kita manfaatkan?

Pulang menjadi berharga karena ada yang menunggui kita melakukan hal itu. Hari ini aku belajar tentang itu.

Ini, itu. Pulang.

Aku kangen pulang.

Senin, 12 April 2010

Wisuda

Entah apa maknanya bagimu, tapi aku menemukan makna lain dari kata simpel yang satu ini kemarin--oh, bukan--dua hari yang lalu.

Aku adalah mahasiswa Teknik Sipil ITB yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Sipil ITB. Di himpunanku, ada tradisi yang selalu dilaksanakan setiap momen wisuda datang yaitu acara Syukuran Wisuda. Tapi acara ini bukan sekedar Syukuran Wisuda.

Acara ini lebih merujuk kepada momen pelepasan, apresiasi, dan kasih sayang. Acara ini adalah wujud penghormatan kepada para wisudawan/wisudawati yang tertuang dalam bentuk yang tidak terbayangkan bagi orang awam.

Suatu hal yang menarik, di akhir acara pada Wisuda Day, ada acara yang namanya pengkuyaan.

Bentuk acara pengkuyaan ini mirip seperti bentuk ospek yang dilakukan ketika zaman mahasiswa masih berperilaku barbar. Mereka melinting koran untuk dijadikan sebagai alat pemukul wisudawan/wisudawati, mereka menghajarnya dengan puluhan ribu kantong air yang telah disiapkan oleh panitia wisuda yang berasal dari angkatan termuda, mereka menyuruh wisudawan/wisudawati dengan beberapa perintah yang lebih pantas terdengar jika dilontarkan oleh seorang senior kejam kepada juniornya, macam push-up, menyanyi dengan lantang, dan lain-lain.

Ospek ulang? Sebenarnya bukan seperti itu.

Satu hal yang kusadari pada hari itu adalah segala bentuk penyiksaan terhadap wisudawan/wisudawati itu sebenarnya adalah bentuk lain dari kasih sayang, penghormatan, dan apresiasi. Bentuknya memang tak wajar, tapi siapa yang peduli itu jika semuanya sudah menyepakati itu sejak dulu?

Setiap pukulan dari lintingan koran adalah cinta, setiap bidikan dari kantong air adalah rasa bangga, setiap perintah push-up adalah ucapan selamat tinggal terlirih yang pernah ada.

Ini bukan penggojlokan, apalagi bentuk balas dendam atau rasa kesal akibat ditinggal lulus temannya. Ini adalah masalah cinta.

Sebuah cinta memang tak harus dilontarkan dengan bunga atau cokelat di hari Valentine. Sebuah cinta juga tak melulu berbentuk sebaris sms yang berpesan "I love you". Hambar dan terlalu konodian.

Ini adalah bentuk lain dari cinta. Yang tak wajar namun nyata, yang melenceng tapi terakui sejak dahulu. Ini adalah penghormatan dalam bentuk kasih sayang tak terhingga. Bahkan siapapun rela untuk jadi yang terbanyak dipukuli, jika dia memang pantas untuk mendapatkannya.

Bentol-bentol di badan bukanlah soal, lecet di sana sini tak jadi masalah. Luka fisik tak bakal sebanding dengan haru tak terbayang yang dirasakan sanubari.

Andaikan aku lulus nanti, aku ingin jadi orang yang terbanyak dipukuli. Lalu aku akan menjerit tiap pukulan mendarat di sekujur tubuhku sambil bilang, "Terima kasih. Terima kasih, Teman!"

Jumat, 09 April 2010

Ranting-Ranting Cinta Baru

Cintaku mulai tumbuh lagi.

Cintaku mungkin sekarang seperti ranting pohon. Dia tumbuh lagi dan lagi serta terus membentuk cabang-cabang baru. Dia indah karena diujungnya bisa saja muncul bunga atau buah dengan beraneka warna. Cintaku sedang indah-indahnya.

Tapi aneh. Cintaku tak pernah kubiarkan berkembang. Tiap kali rantingnya bercabang, dia kupangkas. Sekali bercabang lagi, kupangkas lagi. Oh, haruskah?

Ranting pohon di pekarangan rumah memang bakal selalu kita pangkas agar tampangnya selalu cantik terlihat, agar ukurannya selalu menjadi proporsional dan pas untuk dimensi tempatnya. Segala sesuatu yang berlebihan itu memang tidaklah baik, termasuk ukuran pohon di pekarangan rumah kita.

Lalu bagaimana dengan cinta? Tidak bolehkah ia tumbuh terlalu liar sampai detak jantungku selalu menggebu-gebu ketika dia tiba? Haruskah kuhambat pertumbuhannya yang sedang dalam fase optimal? Haruskah kupangkas ranting-ranting cinta tersebut?

Sungguh sayang, sungguh sayang. Tapi hidup memang tak boleh berlebihan. Karena jika cinta itu diisi terlalu banyak, wadah hati kita tak akan sanggup menampungnya sehingga cinta itu malah tumpah dan bercecer ke mana-mana.

Kamis, 01 April 2010

Busuk

Dunia ini dipenuhi oleh tukang contek. Dunia ini dipenuhi oleh penipu. Dunia ini dipenuhi oleh para korup. Dunia ini dipenuhi oleh pendusta. Dunia ini dipenuhi oleh pemalsu. Dunia ini dipenuhi oleh kepalsuan.

Dunia ini tersamarkan oleh bau busuk yang menusuk hidung. Dunia ini tertutupi oleh kabut tebal bernama rekayasa. Dunia ini memakai topeng, dan tidak ada yang pernah bisa membuka topeng itu.

Dunia ini dipenuhi oleh penggemar mi instan. Dunia ini dipenuhi oleh penikmat kopi kemasan sachet. Dunia ini dipenuhi oleh pecandu makanan cepat saji. Dunia ini dipenuhi oleh penonton MTV.

Dunia ini dikutuk, dan terkutuk. Dunia ini jadi ajang adu kutuk.

Dunia ini terlalu fana. Dunia ini terlalu memesona untuk sebagian besar penghuninya.

Dunia ini menyediakan kesenangan sebagai perangkap, dan merupakan ujian bagi kita untuk melepaskan diri dari perangkap tersebut.

Dunia ini penuh dengan pembohong, yang ketika kebohongan mereka terungkap, mereka berebut bilang, "Tidak!"

Yang Terlarang

Ini adalah kali pertama saya patah hati setelah sekian lama tidak. Kalau kemarin ada yang tanya kepada saya, apa rasanya sakit hati, akan sa...