Senin, 12 April 2010

Wisuda

Entah apa maknanya bagimu, tapi aku menemukan makna lain dari kata simpel yang satu ini kemarin--oh, bukan--dua hari yang lalu.

Aku adalah mahasiswa Teknik Sipil ITB yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Sipil ITB. Di himpunanku, ada tradisi yang selalu dilaksanakan setiap momen wisuda datang yaitu acara Syukuran Wisuda. Tapi acara ini bukan sekedar Syukuran Wisuda.

Acara ini lebih merujuk kepada momen pelepasan, apresiasi, dan kasih sayang. Acara ini adalah wujud penghormatan kepada para wisudawan/wisudawati yang tertuang dalam bentuk yang tidak terbayangkan bagi orang awam.

Suatu hal yang menarik, di akhir acara pada Wisuda Day, ada acara yang namanya pengkuyaan.

Bentuk acara pengkuyaan ini mirip seperti bentuk ospek yang dilakukan ketika zaman mahasiswa masih berperilaku barbar. Mereka melinting koran untuk dijadikan sebagai alat pemukul wisudawan/wisudawati, mereka menghajarnya dengan puluhan ribu kantong air yang telah disiapkan oleh panitia wisuda yang berasal dari angkatan termuda, mereka menyuruh wisudawan/wisudawati dengan beberapa perintah yang lebih pantas terdengar jika dilontarkan oleh seorang senior kejam kepada juniornya, macam push-up, menyanyi dengan lantang, dan lain-lain.

Ospek ulang? Sebenarnya bukan seperti itu.

Satu hal yang kusadari pada hari itu adalah segala bentuk penyiksaan terhadap wisudawan/wisudawati itu sebenarnya adalah bentuk lain dari kasih sayang, penghormatan, dan apresiasi. Bentuknya memang tak wajar, tapi siapa yang peduli itu jika semuanya sudah menyepakati itu sejak dulu?

Setiap pukulan dari lintingan koran adalah cinta, setiap bidikan dari kantong air adalah rasa bangga, setiap perintah push-up adalah ucapan selamat tinggal terlirih yang pernah ada.

Ini bukan penggojlokan, apalagi bentuk balas dendam atau rasa kesal akibat ditinggal lulus temannya. Ini adalah masalah cinta.

Sebuah cinta memang tak harus dilontarkan dengan bunga atau cokelat di hari Valentine. Sebuah cinta juga tak melulu berbentuk sebaris sms yang berpesan "I love you". Hambar dan terlalu konodian.

Ini adalah bentuk lain dari cinta. Yang tak wajar namun nyata, yang melenceng tapi terakui sejak dahulu. Ini adalah penghormatan dalam bentuk kasih sayang tak terhingga. Bahkan siapapun rela untuk jadi yang terbanyak dipukuli, jika dia memang pantas untuk mendapatkannya.

Bentol-bentol di badan bukanlah soal, lecet di sana sini tak jadi masalah. Luka fisik tak bakal sebanding dengan haru tak terbayang yang dirasakan sanubari.

Andaikan aku lulus nanti, aku ingin jadi orang yang terbanyak dipukuli. Lalu aku akan menjerit tiap pukulan mendarat di sekujur tubuhku sambil bilang, "Terima kasih. Terima kasih, Teman!"

Jumat, 09 April 2010

Ranting-Ranting Cinta Baru

Cintaku mulai tumbuh lagi.

Cintaku mungkin sekarang seperti ranting pohon. Dia tumbuh lagi dan lagi serta terus membentuk cabang-cabang baru. Dia indah karena diujungnya bisa saja muncul bunga atau buah dengan beraneka warna. Cintaku sedang indah-indahnya.

Tapi aneh. Cintaku tak pernah kubiarkan berkembang. Tiap kali rantingnya bercabang, dia kupangkas. Sekali bercabang lagi, kupangkas lagi. Oh, haruskah?

Ranting pohon di pekarangan rumah memang bakal selalu kita pangkas agar tampangnya selalu cantik terlihat, agar ukurannya selalu menjadi proporsional dan pas untuk dimensi tempatnya. Segala sesuatu yang berlebihan itu memang tidaklah baik, termasuk ukuran pohon di pekarangan rumah kita.

Lalu bagaimana dengan cinta? Tidak bolehkah ia tumbuh terlalu liar sampai detak jantungku selalu menggebu-gebu ketika dia tiba? Haruskah kuhambat pertumbuhannya yang sedang dalam fase optimal? Haruskah kupangkas ranting-ranting cinta tersebut?

Sungguh sayang, sungguh sayang. Tapi hidup memang tak boleh berlebihan. Karena jika cinta itu diisi terlalu banyak, wadah hati kita tak akan sanggup menampungnya sehingga cinta itu malah tumpah dan bercecer ke mana-mana.

Kamis, 01 April 2010

Busuk

Dunia ini dipenuhi oleh tukang contek. Dunia ini dipenuhi oleh penipu. Dunia ini dipenuhi oleh para korup. Dunia ini dipenuhi oleh pendusta. Dunia ini dipenuhi oleh pemalsu. Dunia ini dipenuhi oleh kepalsuan.

Dunia ini tersamarkan oleh bau busuk yang menusuk hidung. Dunia ini tertutupi oleh kabut tebal bernama rekayasa. Dunia ini memakai topeng, dan tidak ada yang pernah bisa membuka topeng itu.

Dunia ini dipenuhi oleh penggemar mi instan. Dunia ini dipenuhi oleh penikmat kopi kemasan sachet. Dunia ini dipenuhi oleh pecandu makanan cepat saji. Dunia ini dipenuhi oleh penonton MTV.

Dunia ini dikutuk, dan terkutuk. Dunia ini jadi ajang adu kutuk.

Dunia ini terlalu fana. Dunia ini terlalu memesona untuk sebagian besar penghuninya.

Dunia ini menyediakan kesenangan sebagai perangkap, dan merupakan ujian bagi kita untuk melepaskan diri dari perangkap tersebut.

Dunia ini penuh dengan pembohong, yang ketika kebohongan mereka terungkap, mereka berebut bilang, "Tidak!"

Senin, 01 Februari 2010

Seperti Kilatan Petir

Spontan. Banyak yang terjadi secara tak sengaja. Tak direncanakan. Tak diatur. Tiba-tiba terjadi dan ketika kita menyadarinya, yang ada tinggal keterkejutan.

Sontak aku dibuat kaget. Darimana pula datangnya ini?

Seringkali manusia berbicara tanpa sepenuhnya berpikir. Mereka membawa arah pembicaraan sesuai arus yang sedang mengalir kuat.

Sehebat-hebatnya atlit arum jeram, mereka bakal mengayuh dengan menyesuaikan arus sungainya. Gegabah jika dia mencoba melawannya, bodoh. Alam terlalu kuat untuk tubuh manusia yang didesain lemah ini.

Yang melawan arus, dialah yang mati. Yang berhasil melawan arus, dialah yang juara. Sangat menarik kalau peraturannya dibuat begini.

Akhirnya manusia menemui risiko, sesuatu yang tidak akan bisa dihindari. Sekalipun kita lari dari padanya. Bahkan proses larinya sendiripun sebenarnya mengandung risiko yang mungkin saja lebih besar daripada jika kita memilih untuk menghadapinya.

Risiko memang bukan untuk dihindari, risiko untuk dikendalikan.

Kita tak tahu apa yang ada di balik tabir kabut tebal yang menghalangi pandangan kita akan masa depan. Bahkan kita buta akan masa kini, atau--lebih parahnya lagi--masa lampau.

Manusia tidak sepenuhnya sadar akan keadaannya. Dan manusia memang perlu untuk disadarkan akannya. Manusia, sejujurnya sangat pelupa.

Atau itu hanya berlaku bagiku.

Jumat, 15 Januari 2010

Kereta Api Lagi

Hari ini aku naik kereta api lagi. Aku naik dari Bandung, bukan dari Gambir. Tujuanku adalah Gambir, bukan Negeri Senja.

Kereta api itu penuh walau musim mudik sudah lama terlewati. Sekarang pun bukan musim liburan panjang yang mendorong orang untuk bepergian jauh dengan kereta api.

Namun kereta itu penuh.

Aku optimis kereta api mampu bertahan melawan arah gerak zaman. Tak peduli seberapa canggih kendaraan lain diciptakan, seberapa nyaman kendaraan lain didesain. Kereta api tetap punya nilai sakral yang kokoh menantang perubahan.

Tapi ada satu kekhawatiranku.

Aku curiga, kebanyakan penumpang tadi tidak membayar tiket.

Sabtu, 12 Desember 2009

Tim

Ada perbedaan yang cukup tegas antara pemimpin dan penggerak. Mungkin ini hanya masalah penafsiran saja, tapi hal terburuk yang dapat ditimbulkan bahasa adalah kesalahan penafsiran.

Belum lama ini aku menonton film lama yang berjudul Gung Ho. Sebuah film yang menceritakan tentang perusahaan Jepang yang mengambil alih sebuah pabrik kosong di Amerika Serikat dan mengubahnya menjadi sebuah pabrik mobil dengan sistem kerja ala Jepang. Tak perlu waktu lama, langsung terlihatlah perbedaan yang sangat mendalam antara etos kerja, budaya, dan ideologi dari orang Jepang dan Amerika.

Di film itu digambarkan betapa orang Jepang sangat menghargai kerja sebagai tim, dan yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah tim yang kuat adalah loyalitas. Loyalitas ini juga berbentuk pengorbanan sampai batas-batas yang tak bisa ditalar oleh akal sehat orang Amerika, seperti mengorbankan keluarga demi perusahaan. Selain itu, hal lain yang juga dipegang teguh oleh orang Jepang adalah kedisiplinan. Dan orang Jepang juga sangat takut gagal karena jika mereka gagal, mereka harus menanggung rasa malu yang dapat membuat mereka sampai bunuh diri. Sebegitu tinggi etos kerja mereka.

Sedangkan orang Amerika digambarkan sebagai pribadi yang santai, target seadanya, dan cenderung mengutamakan diri sendiri daripada perusahaan dalam bekerja. Hal ini membuat mereka heran akan perlakuan-perlakuan yang dilakukan oleh orang Jepang. Mereka menertawakannya lalu memakinya.

Apa yang digambarkan di film memang bisa saja tidak sama persis dengan fakta sebenarnya karena film mengambil perbandingan untuk dua kondisi ekstrem dan tentu saja ada unsur komersialisasi yang wajib diperhitungkan. Tapi setidaknya kita dapat gambaran umum akan dua tipe pekerja tim, "Jepang" dan "Amerika".

Lain halnya dengan yang kualami di dunia nyata. Belakangan ini aku tergabung dalam dua tim yang berbeda. Di satu tim, aku bertindak sebagai penggerak utama walau tidak pernah dirundingkan untuk menjadi seperti itu. Di tim yang lain, aku hanya berperan sedikit saja mereka, bahkan cenderung nihil.

Kontribusi butuh pengorbanan, loyalitas apalagi. Masalahnya sejauh mana kita harus memberikan kontribusi dan loyalitas tersebut kepada tim kita?

Akhirnya banyak orang yang menggiring jawabannya ke arah prioritas. Sebuah jawaban yang justru akan membuatku semakin bertanya tentang dasar-dasar apa yang membuat kita menentukan prioritas.

Sejauh yang kutahu, hidup ini butuh tujuan, dan tujuan itulah yang membuat kita mau berbuat ini dan itu. Sejauh mana kau mau berikan kontribusimu adalah sejauh kontribusimu dapat membantu mencapai tujuanmu. Sejauh mana kau mau berikan loyalitasmu adalah sejauh loyalitasmu dapat membantu mencapai tujuanmu.

Banyak orang berpendapat seluas lautan, berkoar-koar tentang tim, tapi yang dilakukan nihil. Wajar saja. Mungkin itu tidak membantunya mencapai tujuannya.

Orang lain memang seringkali menjadi masalah ketika kita bekerja sebagai tim, tapi kita sering lupa kalau masalah tersebut bakal menjadi lebih besar lagi jika kita hanya bekerja sendiri.

Kontribusi atau loyalitas atau kotoran kambing apapun. Cukup hargai saja timmu. Berikan respek terhadap setiap anggota. Tak usah banyak berkoar-koar karena nasehat lebih efektif jika disampaikan tanpa ucapan.

Yang dibutuhkan tim hanyalah kesadaran untuk saling respek.

Jumat, 02 Oktober 2009

Media Galau: Musik dan Kopi

Kopi. Kafein dan begadang. Terjaga karena kondisi fisik yang dipaksa insomnia. Salah satu cara untuk menikmati kesunyian malam dan terlarut dalam kesendirian yang mendalam. Kopi yang juga bisa menumbuhkan inspirasi. Berbagai ide gila bisa bermunculan dari sana. Mulai dari membuat parasut dari sprei hotel sampai menggunakan obeng untuk membersihkan lubang hidung. Entah ide ini muncul karena pengaruh kafein pada kopi atau karena kondisi tidur-ayam yang sedang dialami. Kondisi tidur-ayam memang memungkinkan manusia untuk menjadi lebih terbuka dalam menemukan ide-ide brilian. Ataukah kondisi tidur-ayam ini disebabkan dari insomnia-yang-dipaksakan akibat kafein?

Kopi. Pahit dan rasa-rasa tambahan lainnya. Pahit harus ada dalam kopi. Kalau kopi tidak pahit, status kekopiannya perlu dipertanyakan. Pahit ini ada dalam berbagai macam kadar. Mulai dari yang cuma muncul sepersekian detik saja di lidah sampai pahit yang bisa membuat seekor tikus terkejut. Pahit ini muncul untuk mengingatkan, bahwa dunia ini punya bagian yang tidak mengenakkan. Dan kau harus merasakan itu. Mau-tidak-mau dan suka-tidak-suka. Kau harus merasakannya.

*

Musik. Aku mendengarkan Blur, kau mendengarkan Norah Jones. Aku ganti dengan U2, kau shuffle menjadi Kings of Convenience. Terakhir, kau minta Celine Dion untuk dimainkan. Aku protes. Kauganti permintaanmu menjadi Michael Jackson. Barulah kita bersenandung bersama.

Musik. Temanku bilang bahwa ada musik tertentu yang bisa membunuhmu. Sebegitu menghipnotisnya dia. Sesuatu yang membuat ketagihan sekaligus kecanduan. Dan kalau batas kecanduan sudah terlewati, tinggal tunggu dia untuk menghancurkanmu.

Musik. Gerbang ke dunia lain. Dunia kebebasanmu, sekaligus kamar penjaramu. Labirin pengantarmu, juga kereta penjemputmu. Jalan setapak menuju hutan hujan tropis yang lebat, dan jembatan kayu kecil untuk menyeberang sungai dengan aliran yang bisa membuat perahu kano terberat menjadi terguling.

Musik. Pelampias emosi. Penumpah rasa. Pengantar lamunan.

Musik. Prolog dunia. Karena dunia yang sebenarnya sudah menanti dari tadi.

*

Aku mau terbebas sejenak dari jeratan rutinitas duniaku yang kadang membuatku meraung-raung ini. Aku ingin keluar sebentar dari semua ini. Hanya sebentar. Benar-benar hanya sebentar. Kebetulan kopi dan musik bisa mengantarkanku ke gerbang keluarnya. Oh, tidak. Tidak perlu sebuah mariyuana atau lem aibon untuk keluar dari duniaku. Sekali lagi: cukup kopi dan atau musik.

Kopi. Musik.

Banyak pengantar lain yang mampu membawaku sampai ke gerbang keluar sementara dari duniaku ini, namun sayangnya kebanyakan dari mereka tidak menjemputku lagi sehingga aku bermain di luar terlalu lama.

Yang Terlarang

Ini adalah kali pertama saya patah hati setelah sekian lama tidak. Kalau kemarin ada yang tanya kepada saya, apa rasanya sakit hati, akan sa...