Sabtu, 05 April 2008

Renungan di Malam Hari

'Andai jendela waktu itu benar-benar ada itu akan sangat berguna bagiku.'

Aku ingin sesekali mengintip ke masa depan dan melihat aku yang di sana. Aku ingin tahu apa dampak dari segala keputusan yang telah kupilih, terutama yang kutetapkan pada tahun ini. Apakah itu memang yang terbaik untukku? Akankah semua yang kulakukan tahun ini mengantarkanku kepada kebahagiaan dan keberhasilan? Atau justru malah menenggelamkan aku ke dalam jurang kehancuran?

Sesekali aku ingin menengok. Apakah impianku akan berjalan seperti yang kurencanakan? Apakah semuanya sudah sesuai dengan yang kuinginkan?

Manusia memang tidak dapat melakukannya - setidaknya selama mesin waktu masih impian - oleh karena itu semuanya masih menjadi misteri. Ikhtiar bukan jaminan. Kerja keras bukan harga mati. Semuanya masih mungkin berubah dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Hidup memang misteri. Dan aku baru mulai merasakannya ketika aku menginjak usia tujuh belas tahun ini.

Hidup ini ternyata tidak mudah. Ada batas-batas yang tak tersentuh. Batas-batas yang merupakan daerah-Nya. Dan ketika kita butuh 'sesuatu' yang ada di luar batas-batas itu maka di situlah fungsi doa. Komunikasi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Tanpa perantara. Karena tidak ada istilah 'katalisator' dalam doa.

Manusia tidak boleh sombong, dan manusia tidak perlu sombong. Sombong hanyalah hak-Nya. Dan barangsiapa yang sombong maka ia melanggar hak-Nya.

'Aku ingin tahu seperti apa aku nanti.'

Sayangnya semuanya masih gelap. Semuanya masih samar. Semuanya belum terlihat. Tahun ini adalah tahun yang bersejarah bagiku. Pasti. Masa depanku tergantung pada tahun ini. Apa yang kulakukan pada tahun ini berakibat pada apa yang kudapatkan di sepanjang sisa hidupku. Dan aku masih belum tahu kelanjutan semua ini.

Aku tidak tahu. Sungguh, aku sama sekali tidak tahu. Namun aku harap semuanya akan baik-baik saja.

Ya Allah. Tolonglah aku. Tunjukkanlah aku jalan yang terbaik.

Tidak ada komentar: