Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Oktober 2013

Wiski Kita Malam Itu

Kita hidup di bawah berkah yang terselip dalam aroma pagi. Bau tanah yang naik ke permukaan hingga terhirup hidung dalam suasana damai karena bumi belum lagi menjejak sibuk mampu membangkitkan gairah untuk bertahan hidup dan satu hal yang lain, memori. Ya, memori. Atau nostalgi. Perihal gila yang bisa bikin siapapun bertingkah layaknya perindu lampau.

Di antara tumpukan debu-debu memori, selalu ada satu yang kilaunya tak terperi waktu. Satu yang masih tersimpan rapi dan sering diseka dari hari ke hari. Entah apa yang membuatnya istimewa, manusia memiliki kecenderungan janggal untuk menganakemaskan satu hal dari sisanya, sementara yang ada sebenarnya sama. Kita saja yang coba membedakan. Tapi tentu saja itu tak salah. Karena penilaian adalah terserah kita. Sisanya biar rasa yang menentukan, toh yang tidak terkenan akan terbuang sendiri. Mekanisme ini memang hebat nan mandiri. Dan kita semua melakukan ini di tengah alam bawah sadar masing-masing.

Lantas di tengah proses, seringkali kita tersendak sebentar lalu berhenti. Biasanya setelah itu, kita akan sedikit menoleh. Entah ke kanan, atau ke kiri. Padahal ada aturan-aturan tertentu yang melarang kita untuk menoleh. Karena menoleh adalah urusan nostalgi. Dan orang yang berhasil selalu dituntut untuk maju ke depan. Perih bagi kita, yang merasa sebagai putra penggemar perenungan, untuk dilarang tentang hal-hal semacam itu. Tapi hidup memang kadang tidak boleh diisi dengan terlalu banyak introspeksi. Bekerja saja, kata mereka. Sisanya kita tinggal tenggak wiski hasil dari gaji bulan kemarin! Di pesta yang terakhir, aku memilih hanya meringkuk.

Ganjil memang untuk menjadi penyendiri, terutama yang peduli. Kita bisa memikirkan banyak hal tentang orang lain, tapi sama sekali tak ada dampaknya untuk mereka. Di dalam pesta kita bisa berteriak merongrong, tapi tak seorangpun mendengarnya. Karena jeritan hati yang kita lakukan cukup disalurkan lewat sanubari, bukan kerongkongan. Sementara orang-orang itu minum wiski lagi dan mengambil buah beri, kita lebih memilih untuk keluar ruangan dan mencoba bersenandung. Suara kita tak selalu bagus (tapi kita ahli dalam harmonisasi!), namun ketepatan nada adalah yang selalu diutamakan. Kita juga tak terlalu peduli improvisasi, karena rendisi terbaik adalah yang paling merepresentasikan isi jiwa si penyanyinya. Maka kita menjelma jadi penyanyi-penyanyi yang tak pernah ikut les vokal, tapi cukup banyak mendapat pelajaran dari kuliah humaniora! Dan di tengah kesenyapan malam itu (tentu tidak di dalam ruangan, karena mereka semua sedang berpesta), kita berdua mendendangkan sebuah lagu. Lagu tentang gembel jalanan yang tak tahu arti sendu apalagi pilu. Yang dia tahu hanyalah segelas susu dicampur madu, disuguhkan hangat-hangat setiap malam, sisa dari toko STMJ milik temannya yang sudah kaya. Baginya, itu adalah wiskinya di pesta malam itu.

Senin, 24 September 2012

Hilang

Kau tak akan pernah mampu membayangkan bagaimana rasanya kehilangan yang sudah tertulis. Lebih perih dari disayat belati, ini mendekati rasa ketika pisau guilotin sudah nyaris mengiris kerongkonganmu. Ada teriakan yang tersimpan dalam. Kau mau berteriak, tapi kau sadar bahwa kau tak mampu. Atau itu tak ada gunanya.

Minggu, 21 Agustus 2011

Asumsi

Di dunia yang penuh dengan tabir misteri ini, tidak semua rahasia dapat kita singkap di balik gelambirnya. Tak ada yang benar-benar tahu, mekanisme apa sebenarnya yang berada di balik ini-itu. Tuhan saja yang bermain monopoli atas semua ilmu pengetahuan. Selebihnya, manusia hanya bisa bermain asumsi.

Seharusnya, asumsi muncul karena keterbatasan daya jangkau. Namun, muncul kecenderungan ganjil: manusia seakan hebat jika mampu membuat asumsi.

Kala asumsi dibuat, kekosongan akan ilmu yang tadinya bolong-bolong seakan terisi. Membuat yang seharusnya nihil menjadi tak muskil.

Sekarang, manusia itu seakan tahu segalanya.

Tapi, tahu segalanya belum tentu lebih baik. Karena bagaimanapun juga, asumsi tetaplah lahir dari ketidaktahuan: asalnya hanya dari sebuah ketiadaan. Kelemahan coba disulap menjadi sebuah kedigdayaan.

Padahal seharusnya manusia lemah ketika terlalu banyak bermain asumsi.

Dan ketika semua hanya diterka-terka, dikira-kira; yang tersisa hanyalah ketidakpastian. Karena yang pasti hanya digenggam oleh Tuhan. Maka, pada genggaman Tuhan itulah hidup kita bergantung. Termasuk tentang perihal cinta.

Sabtu, 09 Juli 2011

Gulita

Malam menjelma kelam. Menutupi terang dari kepastian harapan. Menampakkan hanya yang tak tampak. Menjalari rasa yang tak menentu pada hati yang gundah gulana.

Malam itu tadinya penuh harapan, layaknya bunga-bunga yang baru saja berkembang. Tumbuh menjadi sesuatu yang terus bercabang dan jumlah yang semakin tak terbilang. Namun satu menjadikannya layu, walau tidak pupus seutuhnya.

Gulita memenjara hati dan indera: seakan-akan tembok tinggi dan tebal langsung menghadang di sekeliling, membuat yang ada di dalamnya terjebak tidak bisa keluar. Buat hati, itu adalah rasa yang begitu pedih.

Dan rasa itu muncul ketika gelap berada di tengah malam! Padahal tengah malam adalah waktu yang paling menyendiri. Saat ketika sepi menguasai singgasana kalbu.

Malam itu, gulita kembali menyelimuti. Lebih pekat daripada yang biasanya tampak. Terlalu gelap, terlalu gelap.

Malam itu, gulita terlalu berkuasa. Tidak hanya pada sekeliling (yang membuat indera tidak bisa banyak berbuat), namun juga buat hati.

Seharusnya, malam itu satu cahaya harapan bisa tumbuh. Namun ada yang meniup cahaya itu, membuat gulita kembali berkuasa.

Setelah cahaya itu lenyap, yang kulakukan hanyalah duduk terdiam sambil menunggu terang kembali.

Selasa, 21 Juni 2011

Memori dan Peluang

Aku bahkan lupa bagaimana aku bisa sampai jatuh hati padamu.

Diawali dengan perkenalan, sebuah perkenalan biasa (di hari yang biasa pula), kemudian berlanjut ke fase berikutnya: saat begitu banyak detik dilalui dengan memikirkanmu. Membuat banyak kegiatanku yang lain tertunda, atau tidak dapat tuntas dengan maksimal, karena prioritasku bergeser. Dan itu gara-gara kamu seorang!

Namun, bukannya aku mau mengumpat. Aku tidak sedang menyalahkanmu karenanya. Semua itu jelas bukan salahmu. Bahkan aku pun tak tahu: ini salah siapa? Karena pikiran ini yang sering meloncat tiba-tiba, memunculkan memori-memori yang terkenang tentangmu. Tidak banyak memori detail, tapi gambaran umum saja sudah cukup banyak membuka rasa. Aku bagai diperbudak oleh memori.

Dan aku sendirilah yang menciptakan memori tersebut! Atau bukan (karena tidak dapat disebut begitu). Tuhanlah yang menciptakan memori, aku hanya terlibat di dalamnya. Aku dan kamu. Membuat hari-hariku lebih berwarna, atau malah jadi tambah suram. Benar, tidak selalu memori membawa kebahagiaan.

Lalu kenapa kamu yang muncul? Bukankah dalam pikiran ini, tersimpan jutaan memori lain tentang apapun itu, tidak melulu itu tentang kamu, tapi kenapa yang muncul selalu kamu?

Lagi-lagi, aku tidak bermaksud mengumpat. Aku hanya ingin meluapkan kegelisahan ini karena hanya memori yang selalu terungkap. Padahal, aku berharap untuk dapat menciptakan peluang untuk membuat sesuatu lain yang nyata sehingga nantinya itu dapat menambah daftar memori yang telah terekam di pikiran ini tanpa pernah mati. Setidaknya, selama otak ini masih sehat.

Lalu, muncul pertanyaan: hal-hal semacam apakah peluang itu? Sejujurnya, aku pun tak tahu. Aku belum tahu.

Minggu, 05 Juni 2011

Bayangan di Resepsi Pernikahan

Kemarin aku menghadiri acara resepsi pernikahan seorang anak dari kerabat ayahku. Aku tidak mengenal kedua mempelai, namun aku turut berbahagia untuk mereka berdua. Semoga pernikahan mereka dapat bertahan terus hingga maut memisahkan, dan darinya dapat terbentuk sebuah keharmonisan keluarga yang sakinah.

Sempat kulihat foto mereka saat melaksanakan akad pernikahan. Wajah mereka berdua berseri. Tentu saja, itu adalah hari yang bahagia untuk mereka berdua.

Seketika pula—entah karena alasan apa—sempat terlintas bayangan seorang perempuan dengan baju pengantin. Seorang perempuan yang kukenal. Dia juga tampak berseri—dalam alam khayalku.

Aku senang membayangkannya demikian. Sampai—lagi-lagi seketika—muncul pertanyaan dalam benakku: Siapa yang bakal jadi pengantin prianya?

Setelah itu, aku tidak mau meneruskan khayalanku.

Jumat, 03 Juni 2011

Hanya Sebagian, tapi Sudah Beda

Lelaki : Bahkan aku belum lagi tahu namamu.
Perempuan : Tapi aku tahu namamu. Benarkah kau tidak tahu namaku?
Lelaki : Hanya sebagian yang kutahu.
Perempuan : Kau tahu namaku hanya sebagian, tapi kau sudah membedakan aku dari yang lain.

Kudengar pada pementasan teater "Visa", Teater Salihara, Jumat (3 Juni 2011). Dialog ini ditulis dengan hanya mengandalkan ingatan, jadi sangat mungkin terdapat perbedaan (kecil) dari naskah aslinya.

Entah kenapa, aku merasa adegan ini seperti dibuat untukku. Kisahnya mirip dengan satu momen yang pernah kualami.

Kamis, 03 Februari 2011

Hujan, Pagi, dan Harapan

Hujan membuat pagi itu basah. Menjadikan jalan-jalan becek, mengotori celana dan rok para pejalan kaki karena cipratan airnya. Apalagi bagi mereka yang memakai sandal capit.

Hujan datang bukan tanpa alasan. Selalu ada penjelasan, namun manusia tak selalu harus tahu. Walau mereka selalu menuntut untuk tahu. Padahal belum tentu pengetahuan selalu merupakan hal yang baik.

Hujan datang membawa hoki. Hujan datang membawa berkah. Hujan itu sendiri sudah merupakan sebuah berkah.

Dan pagi masih terus berlanjut. Hari akan terus berjalan, dan pagi hanya mengisi sebagian darinya saja.

Hari ini, ribuan harapan tercurah. Meroket ke angkasa tinggi, terus dipanjat sampai gaya tarik tak lagi punya pengaruh.

Karena sesungguhnya, harapan tak punya bobot. Harapan (seharusnya) lebih ringan dari kapas, namun padat melebihi logam manapun di dunia.

Hari ini, seperti hari-hari yang lain, ribuan atau jutaan atau berapa banyakpun harapan kembali tercurah.

Harapan tersebut muncul dari berbagai penjuru: dari teras wihara yang baru saja disapu, dari trotoar jalan yang belum lagi kering, dan dari kamarku yang kebetulan tak (terlalu terasa) sepi pagi ini.

Dan kesemuanya menuju satu tujuan yang sama.

Kamis, 06 Januari 2011

Cantik

"Lihat. Ada wanita cantik di samping sana." Penasaran dengan bentuk rupanya, kutelusuri arah yang dimaksud si pembicara. Ketika wanita tersebut telah tertangkap oleh kedua bola mataku, aku hanya mendapatkan sesosok wanita yang biasa saja.

*

Sejak awal, aku sering punya pendapat yang berbeda dari orang kebanyakan tentang cantik. Orang kebanyakan memang biasanya punya "ukuran" cantik yang tidak jauh beda. Ukuran tersebut seakan menjadi standar dalam menentukan kualitas seorang wanita.

Jauh di lubuk hatiku, aku tidak sependapat dengan mereka.

Kenapa harus ada cantik yang disepakati jika setiap orang punya rasa? Haruskah seluruh dunia ini berkiblat pada satu mode yang sama? Memuja satu wanita yang sama padahal masih ada jutaan wanita lainnya yang juga siap untuk dibuahi untuk kemudian menghasilkan keturunan.

Mungkin sejak dulu kecantikan telah diperdagangkan. Nafsu manusia yang menggebu-gebu untuk melakukan seks telah mendorong mereka untuk berlomba-lomba dalam mencari yang "terbaik". Di sini, pria, yang biasanya memegang peran yang lebih tinggi sebagai penguasa atau orang yang lebih kuat, saling beradu. Mereka saling menunjukkan kekuatannya, kegagahannya, atau kecerdikannya untuk mendapatkan wanita yang terbaik. Tak jarang, perebutan wanita ini mengakibatkan perang pada akhirnya.

Ribuan nyawa melayang hanya untuk memperebutkan satu wanita.

*

Begitu istimewanya wanita sampai dia begitu diperebutkan dengan agung. Sebuah kerajaan terbesar sekalipun dapat hancur dalam sekejap hanya karena terbuai oleh pesona dari seorang wanita. Yang diceritakan dalam dongeng-dongeng itu benar, pria kuat dan kokoh bisa dibuat kalut sehingga menjadi lemah dan rapuh oleh seorang wanita.

Wanitalah yang memegang kunci dari pria, dengan segala pesona yang dia miliki. Seorang pria, pasti bergantung pada—minimal—seorang wanita.

Padahal seharusnya wanita dan pria adalah sepasang yang saling melengkapi. Bukankah Hawa diciptakan karena Adam mengeluh kesepian?

Dan jikalau setiap insan di dunia sudah mempunyai takdirnya masing-masing (termasuk pasangannya masing-masing), kenapa kita semua masih berlomba-lomba menuju arah yang sama? Menuju wanita yang sama?

*

Mungkin benar, setiap dari pria dan wanita telah diciptakan secara berpasang-pasangan, walau jumlah pria dan wanita di dunia ini tidaklah sama.

Aku sering bermimpi tentang hari pernikahanku. Entah bagaimana kelangsungannya nanti, tapi aku sungguh mendambakan kedamaian yang menyertaiku di hari itu.

Setiap wanita cantik dengan caranya masing-masing. Sayangnya, banyak wanita yang tertipu dengan kecantikan palsu yang dibawa oleh wanita-wanita lain. Mereka pikir, dengan menjadi seperti wanita lain, mereka bisa ikut menjadi cantik, padahal yang mereka dapatkan hanya kecantikan yang menipu. Mana yang lebih indah: emas asli atau emas imitasi?

Kecantikan dipersiapkan untuk setiap pasangannya (dan calon) yang telah menanti di dunia ini. Cepat atau lambat, mereka pasti akan menemuinya. Dengan mengganti kecantikan tersebut dengan yang palsu, bukankah sama saja dengan mengecewakan orang yang telah menunggunya di dunia?

*

Setiap manusia telah diciptakan berpasang-pasangan. Dan aku yakin, pasanganku telah menunggu, di suatu tempat.

Banyak orang bercakap tentang kecantikan seseorang, tapi aku punya rasa sendiri tentang cantik tersebut.

Mungkin dunia bilang seperti inilah cantik seharusnya, namun—bagiku—hanya seseorang yang kupandang cantik di mataku. Saat ini, kupanggil orang itu sebagai dia.

Rabu, 05 Januari 2011

Ceritaku

Dunia ini kaya dengan cerita, mulai dari cerita dongeng yang membuat seorang anak kecil bermimpi menunggangi seekor naga ganas sampai cerita fiksi yang mengisahkan seorang pembunuh berantai yang melakukannya hanya karena tidak mengetahui bahwa membunuh itu salah.

Dan semua cerita itu mengisahkan tentang cinta, dengan caranya masing-masing.

Dalam beberapa hari ini, aku banyak mendapatkan cerita baru. Masing-masing cerita punya karakter yang saling menunjukkan keunikannya. Yang terkadang bisa menampilkan sisi manis, lucu, atau menyebalkan. Namun, cinta selalu mengambil peran di sana, dalam wujudnya masing-masing, karena wujud cinta tergantung kepada sisi yang ditampilkannya.

Setiap cerita adalah indah dalam caranya masing-masing, dan kita tidak selalu harus menikmati keindahan dari masing-masing cerita itu. Karena setiap orang punya rasa, dan rasa itu personal.

Setiap cerita adalah indah dalam caranya masing-masing. Makanya tidak semua orang bilang cerita Shakespeare itu menakjubkan atau cerita percintaan antara vampir dan manusia itu buruk. Kita tidak perlu mempermasalahkan rasa, selama kita masih memilikinya masing-masing.

Dan rasa yang ada padaku, semakin menjadi. Menjelma ke dalam wujud yang begitu menenangkan sekaligus indah, dalam satu tempat.

*

Ada banyak penulis cerita yang hebat, lebih banyak lagi orang yang terpesona karenanya. Suka atau tidak, kita tidak perlu menyesuaikan rasa yang ada dengan rasa yang mereka punya. Dunia indah karena diciptakan beragam. Buat apa semua orang menjadi sama?

Di antara jutaan cerita cinta yang ada, ada satu yang istimewa, setidaknya bagi rasaku. Cerita itu mungkin masih belum tersebar.

Karena saat ini, aku sedang menjalani cerita itu. Inilah ceritaku.

Kamis, 30 Desember 2010

Memori 2010

Revolusi bumi berjalan dengan sangat cepat. Atau sangat lambat. Kata Einstein, waktu itu relatif. Lintasan bumi dalam mengelilingi matahari di alam semesta yang luas ini memang sangatlah panjang. Melewatinya sampai butuh waktu lebih-kurang 365 hari bumi, padahal lintasan tersebut sudah coba dilewati dengan kecepatan yang tak akan ditandingi oleh seekor cheetah yang berlari. Waktu yang sangat lama.

Tak terasa (bagiku), waktu 365 hari itu sudah berlalu begitu saja. Dalam sekejap. Meninggalkan yang telah terjadi di belakang untuk kemudian menyongsong apa yang telah menunggu di depan. Untuk tahap pertama selanjutnya: 365 hari berikutnya.

365 hari kemarin kita sebut dengan nama 2010. Tahun yang diambil dari penanggalan Masehi. Penanggalan yang perhitungan tahunnya didasari pada revolusi bumi terhadap matahari.

Bumi sudah mengelilingi matahari satu kali lagi. 2010 sudah usai, 2011 telah menanti.

*

2010 tidak berlalu begitu saja. Ia pergi dengan meninggalkan banyak kenangan. Mulai dari yang terpahit sampai yang terindah. Mulai dari permasalahan perut sampai cinta.

Semua kejadian di 2010 telah tersimpan rapi dalam otak kita masing-masing. Mungkin beberapa akan kita lupakan. Namun, pasti, yang berkesan akan selalu kita kenang, sepanjang kita sanggup mengingatnya.

*

2010 berperan cukup menyenangkan bagiku. Aku senang menjalani tahun ini. Jutaan kenangan diciptakan di tahun ini. Dibuat oleh dimensi waktu yang ternyata sama sekali tidak terpisahkan dari dimensi ruang yang ada.

Banyak sekali memori yang terkenang dari 2010. Di antara sekian banyak itu, salah satunya punya makna yang teramat penting bagiku: aku jatuh cinta untuk kedua kalinya.

Jumat, 22 Oktober 2010

Kabar Darimu

Kadang aku cuma berpikir cara agar dapat bisa menanyai kabarmu dengan leluasa, tanpa canggung sedikitpun, tanpa ragu setitikpun.

Dangkal mungkin, tapi bagiku itu berarti banyak. Selama ini aku berusaha untuk menempuh banyak cara, banyak jalan untuk mencapainya. Setiap kali berhasil menjalaninya, aku senang. Senang luar biasa. Namun, di balik luapan rasa senang yang membuncah itu, terselip rasa kuatir yang mungkin sedikit tak beralasan. Bagaimana jika cara itu sudah kucoba semua? Bagaimana jika pilihan jalan yang tersedia sudah habis? Aku benar-benar kuatir hal itu benar terjadi.

Selama ini aku coba segala cara kebanyakan tanpa pikir panjang. Kadang setelahnya aku menyesal, tak mampu memanfaatkan kesempatan dengan sebaik mungkin. Aku tak bisa menyalahi diriku, aku selalu berhasil dibuat tak berdaya di depanmu. Kau terlalu hebat dalam mengacaukan pikiranku.

Kadang aku juga berkesempatan mendapat jalan itu dengan tidak sengaja. Secara tidak direncanakan, aku mendapatkannya. Mungkin ini adalah hadiah dari Tuhan. Tuhan memang baik. Mahapemurah. Aku saja yang bodoh, tak mampu memanfaatkan hadiah dari Tuhan Yang Mahapemurah tersebut.

Semua itu kulakukan cuma untuk satu hal: mengetahui kabarmu. Dangkal memang, tapi bagiku itu penting.

Minggu, 19 September 2010

Diisi

Balon tak akan melayang jika tak diisi udara.
Celengan tak ada gunanya jika belum diisi recehan.
Akuarium tak ada ikannya jika belum diisi air.
Perpustakaan baru belum dibilang mencerdaskan jika belum diisi buku.
Sekolah buat apa jika tidak diisi murid yang haus ilmu.
Sangkar tak akan indah dipandang jika belum diisi burung.
Lemari bakal jarang dibuka jika belum diisi baju.
Mesin cuci tak akan dinyalakan jika belum diisi cucian.
Kotak amal akan menangis jika tak terisi, sama sekali.
Kandang kosong akan bertanya-tanya siapa yang bakal mengisinya.
Sel tahanan sama sekali tidak seram jika tidak ada orang di dalamnya.
Rumah sakit bakal lesu jika tidak diisi orang sakit kritis yang butuh pertolongan.
Bioskop bakal bangkrut jika tidak diisi penonton.
Dan kursi pemerintah--tentunya--mutlak harus diisi oleh seseorang peduli dengan rakyatnya sendiri, secara keseluruhan!

Hati ini akan sepi jika belum diisi cinta. Apakah cinta ini adalah kamu?

Coretan di Pagi Hari

Batin ini mengadu pada yang punya.

Kenapa aku dipaksa berkhianat?

Yang Terlarang

Ini adalah kali pertama saya patah hati setelah sekian lama tidak. Kalau kemarin ada yang tanya kepada saya, apa rasanya sakit hati, akan sa...