Sudah lama aku tidak mengirimimu surat dari Negeri Senja. Aku terlalu sibuk di sini—belajar bagaimana cara menanam pohon kurma di gurun pasir, mengurus domba-domba yang bau, atau menjaga agar ular derik atau kalajengking tidak masuk ke dalam gua—sehingga urusan mengirim surat seringkali terlupakan. Tapi ketahuilah, aku selalu berusaha menyisihkan waktu untuk ini.
Mungkin engkau bakal kaget jika kukatakan ini, bahwa aku baru saja berhasil kabur dari Negeri Senja beberapa hari yang lalu. Hanya perjalanan kabur yang singkat, memang, tapi perjalanan ini cukup menggembirakanku karena perjalanan ini berhasil menyegarkan pikiranku kembali setelah menjalani hari-hari yang terlalu penat di Negeri Senja.
Sangat sulit untuk bisa kabur dari Negeri Senja, kaubutuh keberanian yang teramat sangat, alat transportasi, dan niat yang teguh. Tiga hal yang nyaris tidak mungkin untuk didapatkan di Negeri Senja yang isinya hanya berupa kegersangan dan keputusasaan ini. Yang baik dari Negeri Senja hanyalah satu: harapan. Kami selalu dijejali mimpi-mimpi indah tentang masa depan di Negeri Senja. Harumnya melebihi bunga dafodil, tapi kami semua tidak tahu, kapan semua mimpi tersebut bisa jadi kenyataan.
Perihal keberanian, aku menemukannya dari dalam diriku sendiri. Beruntung, aku terlahir sebagai bocah laki-laki yang bernyali tinggi. Mungkin faktor keturunan berpengaruh banyak karena ayahku adalah seorang lelaki yang pernah nekat lompat ke rel kereta api ketika kereta berkecepatan tinggi sedang melaju ke arahnya lompat hanya untuk mengambil mainan anak lelakinya yang terjatuh. Bagiku, peristiwa itu adalah salah satu momen yang tidak akan bisa kulupakan dalam hidupku. Momen yang bisa menjadi representasi nilai kejantanan dan keayahan dari ayahku; salah satu (dari banyak) alasan mengapa aku mengaguminya sebagai seorang ayah. Untungnya, nyali tersebut agaknya diwariskan kepadaku.
Alat transportasi sempat menjadi kendala yang sulit untuk diatasi. Aku sempat berpikir untuk menggunakan kereta api dari Stasiun Gambir yang kini sudah menjadi baja rongsokan karena mesinnya yang sudah tidak dapat beroperasi dan bahan bakarnya yang tidak tersedia di Negeri Senja. Akhirnya pencerahan datang dari penemuan orang Jerman yang katanya cerdas tapi congkak. Penemuan ini dinamakan velocipede. Kendaraan ini buatan manusia, jadi kita tidak perlu khawatir kalau di jalan dia akan buang air, buang gas, atau malah mati kepayahan. Hanya saja, bahan bakar dari kendaraan ini adalah tenaga si manusia pengendara itu sendiri sehingga jalan-tidaknya velocipede tergantung dari kuat-tidaknya si pengendara dalam mengayuh velocipede. Hubungan timbal-balik yang menarik, bukan?
Tentang niat yang teguh, tentu ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Aku sudah memiliki niat ini sejak dulu. Kesuraman Negeri Senja bahkan tidak mampu untuk menggerusnya. Semuanya sudah terpatri begitu dalam di sanubariku, membuat tak seorang pun bisa menghalangi keinginanku untuk minggat sementara dari Negeri Senja ini.
Dengan berbekal tiga hal tersebut—keberanian turunan ayahku, velocipede, dan niat yang sudah kusimpan sejak dulu—aku pergi minggat dari Negeri Senja. Meski ini hanya menjadi perjalanan minggat yang sementara.
*
Sekarang aku sudah berada kembali di Negeri Senja setelah melewati perjalanan kabur singkatku.
Mungkin perjalanan kaburku terlalu singkat, tapi ketahuilah, itu cukup untuk menyegarkan pikiran penatku untuk bisa kembali menjalani kehidupan di Negeri Senja. Perjalanan selalu memberikan kita pengetahuan akan hal-hal yang baru (bukankah ini yang menjadi alasanku untuk pergi ke Negeri Senja?) dan hal itulah yang selalu ingin kucari sepanjang hidupku.
Perjalanan kemarin bercerita banyak. Dongengnya bagaikan sahibul hikayat. Aku terenyuh dengan kisah yang disuguhkan oleh aspal jalanan yang hitam gosong akibat terbakar terik matahari. Si aspal kemarin bercerita tentang Padang Mahsyar yang konon berjuta-juta kali lebih panas dari keadaan ketika dia dibakar hingga gosong; hal itulah yang membuatnya selalu bersyukur akan dunia. Sepanas apapun, selalu ada nikmat yang diselipkan Sang Mahakuasa walaupun hanya berupa tiupan angin yang menjatuhkan daun dari pohon apel di pekarangan rumah. Selain aspal, ternyata rumput yang bergoyang pun pencerita yang baik. Dia mengingatkan kepadaku bahwa kasur di rumah yang empuknya sangat nyaman bisa membuatmu terlena terlalu jauh. Kau merasakan tidur yang terlalu nikmat sehingga kau menjadi bangun lebih siang, dan gagal memanfaatkan waktumu untuk melakukan kegiatan yang lebih punya nilai guna. Terakhir, aku tak akan mungkin melupakan cerita dari velocipede-ku sendiri. Dia berkali-kali berujar bahwa kemajuan teknologi seringkali membuat manusia lupa akan keterbatasannya sendiri. Manusia kira mereka kuat—walau, memang, mereka kuat—padahal sesungguhnya kekuatan mereka hanyalah kemampuan untuk menutupi kekurangan mereka. Dalam menempuh jarak jauh, manusia kini sudah bisa sampai dalam waktu yang cepat dengan menggunakan kereta api, atau bahkan pesawat (yang konon bisa terbang di angkasa), tapi itu semua hanyalah kekuatan semu manusia. Karena tanpa semua itu, manusia tetaplah tak berdaya. Ketergantungan manusia terhadap barang-barang ciptaannya sendiri dianggap sangat lucu oleh si velocipede. Ironis.
Sudah cukup banyak yang kutulis di sini. Mungkin kau bakal menganggapnya terlalu panjang, atau bahkan terlalu pendek. Tapi aku sudah merasa cukup puas dalam menumpahkan buah pikiran yang mau kubagikan padamu. Semoga kau menikmati surat ini dan jangan lupa untuk mengirim balasannya.
Tampilkan postingan dengan label Negeri Senja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Negeri Senja. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 24 Maret 2012
Minggu, 15 Maret 2009
Catatan di Negeri Senja: Enam Bulan

Negeri Senja memang penuh dengan kejutan.
Sudah sekitar enam bulan kami bertahan di Negeri Senja. Makanan kami dapatkan dengan cara berburu. Akhir-akhir bahkan kami sudah mulai mencoba menanam ubi-ubian. Pohon di Negeri Senja cukup sedikit. Itu sempat menjadi masalah buat kami karena kami tidak bisa membangun tempat peristirahatan karenanya. Untungnya ada gua-gua besar yang terletak di pesisir yang letaknya membelakangi laut. Menjadikannya sedikit lebih aman karena ombak menjadi terhalang dan tidak bisa masuk.
Katanya kebutuhan primer manusia itu ada tiga: sandang, pangan, papan. Tinggal sandang yang belum kita bahas. Selama ini kita memang sedikit bermasalah dengan hal itu. Terkadang kami mencoba membuat pakaian dari kulit rusa yang kami buru. Tapi satu rusa hanya bisa menghasilkan dua pakaian saja. Terkadang tiga. Sedangkan jumlah kami cukup banyak. Dan rusa di Negeri Senja jarang sekali ditemukan. Kami juga pernah mencoba membuat pakaian dari dedaunan, cukup efektif walau sedikit rapuh. Akhirnya pakaian seadanya yang kita bawa itulah yang benar-benar menjadi pegangan kami.
Negeri Senja tidak seburuk yang kubayangkan. Memang di sini tidak bisa menonton televisi atau memakan makanan seenaknya. Tapi itu membuatmu lebih menikmati perjuangan dalam hidup.
Dan lama kelamaan--secara mengejutkan--aku merasa mulai mencintai Negeri Senja. Tidak. Aku memang sudah jatuh cinta dengan Negeri Senja.
Orang-orang yang ikut dengan kereta api ke Negeri Senja itu juga semuanya jauh lebih menyenangkan dari bayanganku sebelumnya. Awalnya aku mengira orang-orang yang pergi ke Negeri Senja itu adalah orang-orang yang sudah tidak punya semangat hidup sehingga mereka semua mencoba memalingkan diri dari kehidupan nyata dan beralih kepada kehidupan yang baru.
Total jumlah kami semua ada seratus enam orang. Penumpang lima gerbong kereta api menuju Negeri Senja. Hingga akhirnya benar-benar terdampar di Negeri Senja.
Di antara kami ada seorang pemimpin yang kami pilih secara aklamasi. Namanya Grot. Tapi itu bukan nama sebenarnya, nama aslinya Sigit. Memang banyak sekali orang yang memilih untuk mengganti nama mereka ketika di Negeri Senja. Alasan mereka bervariasi, tapi yang jelas semuanya seakan menunjukkan bahwa "ini adalah kehidupan baru kami, seharusnya kami juga meninggalkan segala sesuatu yang lama, termasuk nama". Aku sendiri memilih untuk menggunakan nama asliku.
Grot berasal dari daerah pinggiran ibukota. Rumahnya merupakan permukiman liar di pinggir suatu sungai. Dulu pekerjaannya adalah guru yang merangkap sekaligus sebagai tukang ojek dan tukang cukur rambut. Tiga pekerjaan ini dia ambil bukan karena dia gila bekerja atau karena dia mata duitan. Ini memang dilakukannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Maklumlah, dia punya delapan anak. Awalnya dia adalah seorang pria yang mencintai keluarganya dengan amat sangat. Tapi ketika istrinya ingin kawin lagi dan menuntut cerai semuanya menjadi berubah. Ia kecewa bukan main. Dan sialnya lagi hak asuh anaknya malah jatuh ke tangan mantan istrinya. Kasihan Grot. Makanya ia memutuskan untuk pergi ke Negeri Senja.
Grot badannya tinggi kekar. Tapi lemah di hadapan wanita. Sudah berkali-kali ia ditinggal wanita dan tidak berani melawan apa-apa. Tapi satu kelebihan utama dari Grot, ia adalah seorang pembaca situasi yang ulung. Hampir tiap keputusannya adalah memang jalan yang terbaik yang bisa dia ambil. Makanya kami semua merasa beruntung telah menjadikkannya sebagai pemimpin, atau Pengarah--begitu kami menyebutnya.
Grot selalu ramah kepada siapapun dan kenal baik dengan setiap orang. Ia juga punya satu kelebihan istimewa, ia dapat menghafal setiap detil kejadian dalam jangka waktu yang lama. Kemampuan ini diakuinya sudah dimilikinya sejak remaja.
Negeri Senja masih menyimpan banyak orang lagi, dengan keunikannya masing-masing. Dan mereka semua mencoba untuk bertahan hidup di alam ganas Negeri Senja.
*gambar diambil dari johnbokma.com
Senin, 29 September 2008
Langkah Pertama di Negeri Senja

"BRAK!" Terdengar suara pintu menjeblak terbuka, akhirnya pinta gerbong kereta api itu menganga juga. Setelah sekian lama diam membisu, para penumpang yang lain pun menjadi penasaran ingin tahu siapa yang membuka pintu tersebut.
Kini suasana dalam kereta api itu menjadi bertambah dingin, pengaruh dari udara Negeri Senja (yang ternyata dingin bukan main) yang masuk karena pintu membuka. Setiap orang berlindung di lapisan selimut wol yang tebal, beberapa yang tidak mempunyai selimut langsung mencari segala cara untuk menghangatkan diri dengan melapisi baju mereka dengan baju-baju lain yang mereka bawa.
Aku penasaran kepada keadaan di luar, juga kepada siapa yang membuka pintu. Tak seorang pun penumpang di gerbong itu yang melihat orang yang membuka pintu tersebut. Semuanya tidak menyadari hal itu sampai pintu benar-benar terbuka.
Akhirnya beberapa orang mencoba untuk turun, aku termasuk salah satunya. Sebagian turun karena sudah tidak tahan lagi dengan kondisi kereta yang kian terasa membeku, sebagian lagi turun karena sudah terlalu bosan berada di dalam kereta.
"Negeri Senja ternyata hanya begini-begini saja," ujar salah seorang penumpang yang ikut turun. Dari tampangnya terlihat jelas campuran raut kecewa sekaligus puas.
Akhirnya semua penumpang turun. Dan kami semua membentuk sebuah lingkaran besar, tidak disengaja, ini semua terjadi secara naluriah.
Negeri Senja tampak begitu sepi sekaligus indah, begitu mempesona sekaligus menyeramkan, begitu cantik sekaligus angkuh. Negeri Senja terlihat sangat penuh rahasia.
Tapi kami semua akhirnya bisa juga menjejakkan kaki kami ke Negeri Senja, penyebabnya tentu saja pintu yang tiba-tiba saja membuka dengan misterius, tanpa seorang pun tahu siapa yang membukanya. Andai pintu itu tidak membuka secara tiba-tiba, tampaknya tak seorang pun dari kami berani untuk membukanya.
Kadang banyak kejadian-kejadian ganjil yang terjadi di sekitar kita justru malah mengantarkan kita ke kejadian-kejadian lain yang lebih ganjil lagi. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Selanjutnya kami semua berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan makanan di Negeri Senja.
Sabtu, 13 September 2008
Ramadhan yang Lain

Akhir-akhir ini tampaknya hari demi hari terasa lebih panjang dari biasanya. Dan terasa lebih padat. Walau begitu beberapa di antaranya terasa begitu rapuh.
Sekali lagi peran waktu terasa begitu angkuh, akhir-akhir ini aku merasa benar-benar tertekan.
Kereta api sudah sampai ke Negeri Senja, tapi kabut di sana masih belum saja mereda. Suasana masih mencekam dan membuat siapapun ragu untuk turun dari kereta. Kami semua, hingga saat ini, masih diam dalam kereta, menunggu salah seorang turun dan menyaksikan apa yang terjadi padanya sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan langkah selanjutnya. Kami semua memang harus ekstra hati-hati di sini.
****
Saat ini bulan Ramadhan, bulan yang dianggap suci oleh umat Muslim seluruh dunia. Begitu pun juga dengan aku. Dan Ramadhan kali ini kujalani dengan begitu berbeda. Aku rasakan satu hal: Ramadhan kali ini begitu "berisi".
Mungkin Ramadhan kali ini tidak kujalani dengan begitu taat seperti ketika kujalani empat-lima tahun yang lalu. Ketika aku masih merasakan begitu nikmatnya menjadi Muslim yang taat. Aku tahu aku benar-benar rindu suasana Ramadhan seperti itu, tapi sulit sekali untuk kembali ke masa itu. Segalanya berubah, walau aku sedang berusaha mencoba mengembalikan beberapa hal kepada tempatnya yang semula.
Seringkali Ramadhan diumpamakan sebagai fase kepompong oleh ustad-ustad yang sering memberikan ceramah pengantar ibadah tarawih. Dan aku menganggap perumpamaan itu begitu tepat, Ramadhan memang fase kepompong. Dan kita harus melewatinya dan keluar dari sana sebagai "kupu-kupu yang cantik". Sayang sekali bagi mereka yang memilih untuk merusak kepompong mereka dan gagal keluar sebagai kupu-kupu. Memangnya sampai kapan mereka memilih untuk menjadi ulat yang begitu gemuk dan menjijikkan itu?
Segala fasilitas sudah disediakan untuk berubah, maka seharusnya berubah menjadi mudah.
Tetapi banyak rintangan yang masih tetap menghadang.
Segala ujian harus dilalui dengan tabah, itu juga yang sedang kucoba lakukan, walau terasa begitu sulit.
Aku rindu melewati Ramadhan sebagai Muslim yang taat.
****
Segarusnya aku sudah dewasa sekarang, makanya aku berusaha mengatur segala sesuatu dengan begitu terorganisasi. Aku tak mau membuat blunder sekecil apapun.
Aku sudah mencoba untuk kembali ke arah yang begitu kurindukan, sebagai Muslim yang taat -bukan- sebagai Muslim yang mencoba untuk menjadi taat.
Menikmati segalanya dengan begitu harmonis.
Segalanya memang harus benar-benar direncanakan. Dan aku sudah mempunyai sebuah rencana. Rencana untuk masa depan yang sampai saat ini masih kurahasiakan.
Sabtu, 30 Agustus 2008
Sudah Sampai atau Belum?

Kenapa selalu ada semacam ketakutan ketika kita akan memulai sesuatu yang baru?
Hidup tidaklah mungkin lepas dari perubahan. Perubahan pasti akan datang, jadi tidak ada gunanya untuk menghindar. Dan perubahan pasti akan menghasilkan sesuatu yang baru.
Tiap-tiap dari kita akan menjumpai perubahan tersebut seperti "naik ke tingkat selanjutnya". Bagaikan permainan gim yang punya tingkat kesulitan mulai dari yang termudah sampai yang tersulit, tentu setiap yang akan naik tingkat akan bertemu dengan "raja" yang akan mencegah kita untuk naik tingkat.
Mungkin dalam kehidupan "raja" tersebut adalah ketakutan yang bisa saja menggagalkan niat kita untuk berubah.
Satu hal yang pasti: berubah tidaklah mudah.
Kebanyakan dari kita biasanya sudah merasa nyaman dengan kondisi kita yang saat ini, walaupun sebenarnya kita sedang berada dalam kondisi yang amat terpuruk. Tapi kebanyakan dari kita justru menghindar untuk berubah karena takut terpuruk lebih dalam.
Jelas saja keberanian merupakan salah satu hal yang terpenting di dunia ini.
Karena keberanian memegang kunci dari segalanya di sini. Kunci gembok yang akan mengantarkan kita ke kehidupan baru ada pada keberanian kita sendiri, dan keberanian tidak akan muncul dengan sendirinya.
Sepenting itukah keberanian?
Aku tak tahu. Tapi kalau berdasarkan insting dan perasaanku, keduanya justru mengatakan keberanian jauh lebih penting daripada hal itu. Keberanian memegang peranan yang sangat besar di kehidupan ini.
****
Seharusnya aku sudah memasuki fase baru dalam hidupku di mana banyak bagian dari hidupku yang berubah dan tak berjalan seperti biasanya lagi. Tapi anehnya aku masih merasa perubahan ini tak sebesar yang kukira sebelumnya.
Ketika aku memutuskan untuk naik kereta menuju Negeri Senja, aku sudah siap untuk menanggung segala risiko, tapi ini jauh dari yang kupikirkan sebelumnya.
Negeri Senja ini masih benar-benar misterius.
Aku bahkan tak tahu bahwa aku sudah sampai ke sana atau belum. Mungkin saja keretanya masih terus melaju, tapi getarannya sudah tak terasa lagi, dan aku masih berada di dalam gerbong, takut untuk keluar.
Dari jendela yang bisa kulihat hanyalah sebuah kabut tebal yang benar-benar membuat mata buta akan keadaan di luar. Namun tampaknya di luar sedang ada badai yang sangat besar.
Negeri Senja ini masih misterius, entah sampai kapan aku akan tetap diam dalam gerbong kereta di sini, menunggu untuk turun karena tahu bahwa aku benar-benar sudah sampai di Negeri Senja.
Negeri Senja mungkin saja masih jauh, walau terasa sudah dekat, atau bahkan terasa sudah sampai di sana.
Ah, tampaknya aku masih harus meneruskan perjalananku.
Minggu, 22 Juni 2008
Kereta Api dan Takdir

Kereta api adalah kendaraan unik. Dia tidak bisa jalan seenaknya. Dia terikat pada arah yang ditentukan oleh relnya.
Dari dulu aku suka kereta api. Menaikinya serasa jadi pengelana yang mau berpergian jauh. Entah ke mana, mungkin ke negeri antah berantah.
Sayang nasib kereta api dewasa ini tak terlalu baik. Seakan-akan menghilang ditelan peradaban yang memberi terlalu banyak ruang untuk berkembangnya alat transportasi lain seperti mobil, pesawat terbang, dan motor. Padahal kereta api adalah kendaraan paling merakyat. Sekali jalan, dia bisa mengangkut ribuan orang. Gerbongnya pun bisa dibuat jadi banyak. Tapi ada satu kelemahan kereta api yang mengganjalnya untuk bersaing lebih ketat dengan pesawat terbang dan kapal laut. Dan kelemahan ini adalah faktor utama penyebab tersingkirnya kereta api dalam kompetisi ini.
Kelemahan kereta api adalah dia tidak bisa menghasilkan banyak uang.
****
Dulu stasiun selalu penuh sesak. Sekarang keadaannya bagaikan orang lagi terdesak.
Banyak yang ingin kutanyakan tentang stasiun ini. Mengapa catnya hijau? Mengapa orang-orang hanya makan di restoran Jepang dan toko donat yang itu-itu saja? Mengapa kalau Lebaran tiba orang-orang jadi banyak yang datang?
Tapi tidak kutanyakan. Bukannya tidak mau, tapi kepada siapa aku harus menanyakannya?
****
"Aku mau pergi ke tempat yang jika aku pergi ke sana aku tidak akan bisa kembali lagi," ujarku pada penjaga loket.
Si penjaga loket terdiam sejenak. "Maksud adik?"
"Aku ingin ke Negeri Senja."
Orang-orang di sekitarku menertawaiku terbahak-bahak. Aku senang-senang saja. Berarti lawakanku dianggap lucu.
"Maaf. Tapi aku tidak jadi ke Negeri Senja karena stasiunnya bukan di sini. Aku ingin membeli tiket ke Bali saja."
"Tapi kita tidak menjual tiket untuk ke Bali, dik."
"Kenapa begitu?"
"Karena Bali dan Jakarta dipisahkan oleh laut yang membentang luas. Kereta api tidak bisa melewati laut."
"Omong kosong. Di Jepang ada kereta api yang melewati bawah laut. Aku baca itu di buku."
Si penjaga loket terdiam lagi, lalu menghembuskan sebuah napas berat. "Mungkin orang-orang Jepang mampu membuat yang seperti itu. Tapi sampai saat ini kereta api di Indonesia belum bisa seperti itu."
Dan aku pun terdiam. Bingung ingin menyalahkan siapa. Orang Jepang yang sudah terlampau pintar, orang Indonesia yang tidak berusaha untuk menjadi sepintar orang Jepang, atau si penjaga loket yang tidak membantuku berpikir.
****
Kereta api memang membutuhkan rel untuk bisa terus jalan. Dan kadang relnya tidak mencapai ke tempat-tempat yang ingin kita jangkau, sehingga kita harus mengubur impian kita untuk pergi ke tempat-tempat tersebut dengan kereta api.
Rel kereta api bagaikan takdir. Dan kereta apinya adalah usaha. Tujuan tidak bisa digapai jika relnya belum dibuat. Dan jika relnya sudah jadi, itu akan menjadi percuma kalau kereta apinya tidak memadai.
Manusia memang harus selalu berjuang untuk menggapai segala apa yang mereka cita-citakan, tapi kadang takdir berkata lain. Sehingga nasib mereka pun menjadi berbeda dari yang ada di impian.
Makanya cobalah untuk pasrah dalam segala keadaan.
Karena tak semua yang kita mau bakal terwujud jadi nyata.
****
Makanya aku bilang kereta api adalah kendaraan unik. Tidak ada duanya. Dan mungkin saja lima puluh tahun lagi kendaraan tersebut akan punah.
Koran hari itu menunjukkan bahwa harga terbang dengan salah satu maskapai penerbangan milik negara tetangga dari Medan ke negeri jiran hanya Rp. 3.000,00 saja. Entah benar atau ada unsur penipuan di dalamnya. Yang jelas jika informasi ini benar harga tiket pesawat terbang lintas negara menjadi sama saja dengan ongkos naik ojek dengan jarak paling jauh 500 meter saja.
Pantas saja. Kereta api tidak segila itu dan tampaknya tidak akan pernah. Dia bahkan tak pernah memasang iklan di koran, bukannya tak mau, tapi tak sanggup. Kasihan benar si kumpulan gerbong yang unik.
Kereta api adalah usaha, dengan relnya sebagai takdir. Mungkin sudah takdir kereta api untuk kalah bersaing dengan pesawat terbang kini, namun tidak untuk mundur sepenuhnya. Kereta api masih bisa bangkit, dan bergelut kembali dalam kompetisi memperebutkan tahta alat transportasi yang paling diminati.
Layaknya takdirku untuk berpikir kembali akan segalanya. Tentang dia.
Kamis, 19 Juni 2008
Perjalanan ke Negeri Senja

Malam itu aku berada di stasiun Gambir, mengantar kepergian dua orang temanku yang mau berkelana ke luar kota untuk menuntut ilmu di sana.
Sudah lama aku tidak ke stasiun Gambir, tapi keadaannya masih begitu-begitu saja. Tidak banyak yang berubah, bahkan warna catnya pun masih tetap sama.
Memandang stasiun aku jadi teringat akan salah satu cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang menceritakan tentang kereta api misterius yang menuju ke sebuah tempat bernama Negeri Senja, sebuah negeri yang tidak seorang pun tahu seperti apa negeri itu.
Negeri Senja digambarkan sebagai negeri yang sangat misterius. Setiap orang yang pergi ke sana tidak akan bisa kembali lagi. Tidak ada yang tahu sedikit informasi pun tentang kondisi Negeri Senja, bahkan lokasinya pun tak ada yang tahu. Setiap orang yang mau pergi ke sana tidak perlu membayar uang sepeser pun, mereka hanya butuh membubuhkan tanda tangan mereka di lembar yang menyatakan persetujuan mereka untuk pergi ke Negeri senja dan bersedia untuk tidak kembali lagi. Makanya setiap orang yang terlihat akan berangkat ke Negeri Senja tampangnya selalu terlihat murung dan tidak bahagia.
Di Gambir tidak ada kereta api yang menuju ke Negeri Senja, tentu saja, Negeri Senja hanyalah fiksi. Namun bagaimana jika seandainya Negeri Senja benar-benar ada?
Aku tentu akan membayangkan perasaan orang-orang yang akan berangkat ke sana. Apa yang mereka rasakan? Sedihkah, atau justru gembira? Pasrah, atau malah berharap?
Negeri Senja sama saja dengan pertaruhan di dunia nyata. Kita tidak tahu apa yang bakal terjadi kelak, tapi kita dituntut untuk memilih: pergi atau tidak.
Kita tidak tahu seperti apa Negeri Senja itu. Bisa jadi Negeri Senja adalah negeri yang sangat indah, jauh lebih indah dari tempat yang selama ini kita tinggali. Atau ternyata negeri itu sangat gersang, di mana tidak ada makhluk hidup yang mampu bertahan hidup di sana untuk waktu yang lama, dan kita hanya sendirian.
****
Hari ini aku diwisuda. Berbagai rasa bercampur aduk dalam hatiku. Gembira sekaligus sedih. Bangga sekaligus malu. Ah, benar-benar kompleks.
Yang jelas wisuda ini menyatakan satu hal: kami semua tidak akan berkumpul seperti ini lagi setiap hari. Banyak di antara kami yang akan berpisah karena kami sekarang akan mulai bergerak ke arah yang telah ditentukan oleh masing-masing dari kami.
Bagiku pilihan yang telah kami tetapkan masing-masing sama saja dengan Negeri Senja. Tiap-tiap dari kami tidak tahu apakah pilihan tersebut memang yang terbaik untuk kami atau tidak. Segalanya masih misteri. Karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok.
Kami semua yang diwisuda pada hari itu mulai bergerak ke peron masing-masing, mencari-cari kereta yang menuju ke Negeri Senja. Tak ada yang kami tahu tentang Negeri Senja, kami hanya tahu sedikit gambaran akan kemisteriusannya. Tapi masing-masing dari kami punya keyakinan bahwa kami akan berhasil di sana.
Biarlah kami tidak bisa kembali ke tempat asal kami. Kembali ke SMA mungkin terasa manis, tapi waktu pasti akan terus bergulir. Dan kami tidak mungkin diam di tempat sementara yang lain terus bergerak.
Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kami memang harus pergi ke Negeri Senja. Yang bisa kami lakukan sekarang adalah menyiapkan perbekalan yang cukup.
Kurasa perbekalanku sudah cukup. Aku siap berangkat.
****
Sekarang aku berada di kereta api yang menuju Negeri Senja. Namun tampaknya perjalanan masih jauh. Bahkan ujung Negeri Senja pun belum terlihat. Segalanya masih tertutup kabut yang begitu tebal dan semua orang di kereta yang sama denganku hanya bisa meraba-raba saja tentang Negeri Senja.
Air muka orang-orang yang berada dalam kereta yang sama denganku berbeda-beda. Itu justru membuat keadaan Negeri Senja makin sulit ditebak. Perjalanan masih panjang, padahal aku tak suka menunggu yang tidak pasti.
Negeri Senja memang begitu misterius. Aku jadi semakin penasaran dengannya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Yang Terlarang
Ini adalah kali pertama saya patah hati setelah sekian lama tidak. Kalau kemarin ada yang tanya kepada saya, apa rasanya sakit hati, akan sa...
-
Tulisan ini dibuat sebagai bentuk penghormatan untuk Lou Reed (1942-2013) * Itu adalah Minggu pertama sejak Lou Reed meninggal, dan pagi ...
-
Dalam segala perihal hidup, momentum selalu menjadi pion yang paling utama: sekon yang cepatnya lebih singkat dari kedipan mata elang kadang...
-
Ini adalah kali pertama saya patah hati setelah sekian lama tidak. Kalau kemarin ada yang tanya kepada saya, apa rasanya sakit hati, akan sa...