Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Senin, 24 September 2012
Hilang
Kau tak akan pernah mampu membayangkan bagaimana rasanya kehilangan yang sudah tertulis. Lebih perih dari disayat belati, ini mendekati rasa ketika pisau guilotin sudah nyaris mengiris kerongkonganmu. Ada teriakan yang tersimpan dalam. Kau mau berteriak, tapi kau sadar bahwa kau tak mampu. Atau itu tak ada gunanya.
Minggu, 05 September 2010
Skenario Kehidupan
Ada yang tahu rasanya punya kalbu yang terkungkung?
Ada rasa, namun tak dapat dibagi. Ada cinta yang hanya jadi prasasti hati.
Dunia panggung sandiwara! Dan kau adalah aktornya! Aktor mana yang bisa ikut menentukan jalannya skenario?
Oh, oke. Mungkin seorang aktor bisa mendiskusikan hal tersebut dengan sang sutradara, namun menentukan jalannya skenario--tetaplah--bukan tugas seorang aktor--sebenarnya.
Lalu, jika dunia ini adalah panggung sandiwara dan kau adalah aktornya, lantas siapakah sang sutradara?
Oh, tentu saja Tuhan pasti Mahakuasa dan dalam skenario film, sutradaralah yang punya kuasa. Dan kau adalah aktornya, dan kau merasa perlu untuk mendiskusikan skenarionya dengan sang sutradara.
Untungnya Tuhan mendengar doa setiap hamba-Nya.
Minggu, 23 Mei 2010
Pulang
Beberapa hari yang lalu, ibuku bertanya, "Kapan pulang lagi, Nak?"
Pulang.
Kata-kata itu sudah lama tak terpikirkan olehku. Makna yang teraurakan dari kata itu pun sudah berubah bagiku. Bergeser menjadi sesuatu yang lain. Yang tak terjelaskan oleh akal dan logika, tapi mampu dijabarkan secara rinci oleh pengalaman dan pembelajaran.
Bagiku, pulang adalah kembali ke rumah. Masalahnya, di mana rumahnya?
*
Aku adalah perantau. Memang bukan perantau jarak jauh, tapi yang jelas aku adalah seorang perantau.
Aku hidup jauh dari keluarga kandungku. Aku jauh dari mereka yang biasanya selalu ada di sampingku ketika aku sedang gundah gulana, aku jauh dari mereka yang mau membuatkanku secangkir teh hangat pahit ketika aku demam. Aku jauh dari mereka dan aku jauh dari kasih sayang itu.
Jaraknya memang tak sejauh dari Aachen sampai Baghdad. Hanya dua jam waktu yang kubutuhkan untuk bertemu keluargaku kembali. Tapi entah kenapa aku jarang menemukan dua jam itu.
Ketika rutinitasku tiap hari memaksaku untuk terus berkutat di tempat lain yang jauh dari rumahku yang sebenarnya sehingga aku terpaksa mencari tempat tinggal lain yang bisa kufungsikan sebagai rumah, aku jadi bingung. Yang mana yang harus kuanggap sebagai rumah?
*
Perantauanku beralasan. Bukannya seperti sepasang kekasih yang kawin lari ataupun kaburnya seorang buronan pembunuh sekaligus pemerkosa berantai. Aku merantau untuk menuntut ilmu. Jiwa mudaku yang sedang bergejolak ini memang haus akan ilmu.
Katanya perjuangan menuntut ilmu tak boleh dibatasi oleh jarak. Katanya menuntut ilmu adalah sesuatu yang baik sekaligus mulia. Tapi semua ini mengerucutkan masalah ke satu akar yang lain: toleransi.
Se-tak-pernah-ditidurinya rumahmu yang sebenarnya, dia masihlah rumahmu. Kau tak mungkin melupakannya. Sekalipun kau meninggalkannya untuk jarak yang jauh, untuk alasan yang katanya terhormat, rumahmu tetap menunggumu pulang. Dia tetap diam di tempat. Tidak beranjak sedikitpun, menunggu kau datang, membuka pintu masuknya dan seraya menghembuskan nafas lelah kau rebahkan tubuhmu ke atas ranjang yang terletak di kamar, dan seketika rumahmu bakal tersenyum, senang karena tuannya telah datang kembali dan rela melepas lelahnya di dalamnya. Rumah bakal selalu menjadi tempat ternyaman untuk beristirahat, dan tempat terindah untuk bersenda gurau.
Kau mungkin tak peduli pada rumahmu sekarang, tapi suatu saat, kau akan peduli kepadanya. Rumahmu masih berharga karena dia masih memiliki alasan untuk dikunjungi: di sana, kau ditunggu untuk pulang.
Mungkin dulu selewat waktu maghrib, seisi rumah langsung cemas jika kau masih belum pulang. Mereka cemas karena kau ditunggui. Tak ada yang lebih tegar dalam menunggui selain rumah dan seisi penghuninya.
Kata orang, menunggu adalah hal yang paling menjemukan, dan rumah rela melakukan hal itu untukmu. Kata orang, orang yang datang tidak tepat waktu sangatlah menyebalkan, dan rumah tidak mempermasalahkan hal itu. Selama kau masih pulang, selama kau akan pulang.
Aku beruntung. Masih ada yang menungguiku pulang di rumah. Karena suatu saat, mereka pasti bakal pergi meninggalkanku juga. Selagi masih ada kesempatan untuk pulang, kenapa tidak kita manfaatkan?
Pulang menjadi berharga karena ada yang menunggui kita melakukan hal itu. Hari ini aku belajar tentang itu.
Ini, itu. Pulang.
Aku kangen pulang.
Selasa, 26 Mei 2009
Monopoli Kehidupan
Aku melangkah tiga petak. Sebuah "kesempatan". Lama aku berdiam diri seraya berdoa dalam hati agar "kesempatan" ini adalah sesuatu yang baik. Aku benar-benar butuh uang.
Terlalu lama aku membuat mereka menunggu. Sudah, kubuka saja kartu itu.
Entah kenapa tiba-tiba pandanganku buyar. Untuk sesaat aku tidak bisa melihat dengan jelas.
Ketika pandanganku pulih kembali, yang kulihat ialah sebuah tulisan "ONGKOS PERBAIKAN JALAN, BAYAR KE BANK $250". Hancur sudah segalanya.
Aku resmi bangkrut, lirihku dalam hati.
*
Ini adalah minggu berikutnya. Permainan dimulai kembali dari awal.
Aku harus menerapkan strategi yang berbeda, ujarku dalam hati. Kali ini akulah yang menang.
Dadu mulai digulirkan. Bidak mulai bergeser. Langkah demi langkah. Petak demi petak. Hingga semua orang terlarut dalam kebahagiaan yang dibawa oleh permainan klasik tersebut.
Nama permainan ini adalah Monopoli. Orang yang dianggap menang di sini adalah orang yang mampu memonopoli seluruh lahan yang ada dalam papan permainan.
Menjadi penguasa tunggal.
Dibutuhkan strategi ekstra untuk saling mengalahkan karena pada dasarnya setiap orang punya modal yang sama. Kecuali faktor luck. Yang satu itu memang sulit diperhitungkan.
Akan tetapi, terkadang faktor luck-lah justru yang menjadi penentu siapa yang menjadi pemenang.
Pemenang yang ditentukan dari keberuntungan. Penguasa tunggal yang beruntung.
Guliran dadu, setiap tindakan yang dipilih, isi dari setiap "kesempatan" yang didapatkan. Semuanya penentu kemenangan. Semuanya ditentukan oleh luck tersebut. Yang--sepertinya--segalanya telah tertulis dan tinggal menunggu untuk terjadi.
Andai saja kehidupan ini tidak serumit ini. Yang bisa diandalkan melalui luck saja.
Namun, bagaimana kalau ternyata kehidupan ditentukan oleh faktor luck saja? Apakah itu akan memberikan hasil yang lebih baik?
Tidak ada jerih payah, yang ada hanyalah judi dan tebak-tebakan. Taruhan menjadi lapangan pekerjaan bagi setiap orang dan pachinko adalah alternatif yang lain. Tidak ada lagi yang tertarik kuliah. Tidak ada lagi yang mau menjadi dokter.
Tidak ada dokter? Bagaimana dengan yang sakit?
Semua dari mereka disembuhkan dengan obat yang diramu dengan perhitungan asal-asalan. Kalau nasib baik sedang datang berarti orang itu sembuh. Nyawa juga bergantung keberuntungan.
Kehidupan ini menjadi semudah Gladstone Gander dalam berusaha, atau sesial Donal Bebek dalam segala aktivitas.
Pilihan dari segala sesuatu menjadi tinggal dua: mujur atau sial.
Anda dapat yang mana?
Yang mujur dan yang sial semuanya "telah tertulis".
"Maktub," ujarku sambil teringat kata-kata seorang pujangga.
Rabu, 31 Desember 2008
Tahun Baru, Apalagi yang Baru?
Hari ini aku mendengar banyak bunyi terompet ditiup. Semakin malam, semakin sering. Wajar saja. Orang-orang sedang merayakan pergantian tahun.
Menjelang pergantian tahun ini aku mendadak punya sebuah pikiran yang tak pernah terlintas di benakku sebelumnya. Dan sebagian di antaranya akan kubagikan pada kalian yang ingin ikut berpikir bersamaku.
Pergantian tahun ada karena adanya kalender, sedangkan kalender adalah sebuah produk manusia. Jika kalender tidak ada maka apa yang akan terjadi? Dan pikiranku itu langsung berakar menjadi bermacam-macam ide, filosofi, khayalan, gagasan, lamunan, ataupun guyonan.
*
Aku membayangkan masa-masa awal berdirinya manusia di muka bumi ini. Aku tidak bilang ini cerita tentang Nabi Adam, tapi ini lebih ke arah cerita tentang manusia-manusia purbakala yang sering diceritakan di buku sejarah sebagai "nenek moyang" manusia modern. Mereka belum mengenal tulisan atau aksara. Mereka makan dengan berburu. Tempat tinggal mereka selalu berpindah-pindah (karena hewan buruan mereka lama kelamaan akan habis). Dan mereka masih hidup dalam komunitas kecil. Setidaknya itu yang diceritakan oleh buku-buku sejarah dan guru sejarahku.
Bisa dibayangkan kehidupan mereka pada saat itu. Tidak ada hukum yang mengikat. Tidak ada aparat yang menindak. Kehidupan mereka masih sangat bebas pada saat itu. Norma, adat, atau ketentuan-ketentuan lainnya tidak mereka kenal. Kecuali mungkin nurani. Jadi tidaklah aneh jika pada saat itu hari demi hari mereka lalui tanpa perjuangan keras demi menggapai apa yang mereka inginkan. Jika ada yang menghalangi apa yang mereka inginkan, jalan keras bisa mereka pergunakan. Ingat, ketiadaan hukum pada saat itu membuat pembunuhan dan tindak kekerasan lainnya menjadi sesuatu yang wajar pada saat itu. Tak perlu belajar keras atau mengasah bakat untuk mendapatkan pasangan hidup atau mencari makan (ini adalah dua tujuan terbesar manusia pada umumnya dalam kehidupan ini, bahkan hingga saat ini). Apalagi volume otak mereka belum sebesar volume otak manusia modern.
Ditambah lagi dengan fakta belum adanya kalender dan penunjuk waktu apapun pada saat itu (kecuali matahari, tentu saja mereka sudah bisa membedakan siang dan malam) membuat wajar jika mereka tidak menyadari berjalannya waktu layaknya kita. Mereka melewati hari demi hari, hingga tanpa disadari mereka menjadi semakin tua dan pada saat terakhir mereka mati. Itu saja.
*
Aku mengajak kalian semua untuk loncat ke masa di mana manusia sudah lebih modern. Namun belum mengenal sistem kalender.
Di masa ini penunjuk waktu yang berlaku masih belum berubah, hanya matahari yang membawa perubahan antara siang dan malam. Tapi di masa ini mungkin mereka sudah mengenal jam.
Tapi keadaan tidak akan banyak berubah. Siang berganti malam. Mereka tidur lalu bangun lagi. Menjalani siang yang akan kembali berganti menjadi malam. Lalu tidur dan bangun. Kembali beraktivitas di siang hari yang akan kembali berjumpa dengan malam. Begitu seterusnya sampai mereka meninggal. Sulit mencari waktu-waktu yang dapat mereka jadikan sebagai momen untuk menetapkan target-target tertentu. Mereka hanya melihat kekuatan fisik sebagai patokan. Mereka mulai bekerja ketika otot-otot mereka membesar. Mereka akan menjadi "ketua suku" atau semacamnya ketika yang tua sudah terlalu lemah dan merasa tak mampu lagi. Dan lama kelamaan mereka juga akan merasa tua dan lemah. Akhirnya jabatan "ketua suku" itu akan mereka wariskan kepada yang lebih muda. Lalu mereka berhenti bekerja karena mulai sakit-sakitan. Hingga akhirnya mereka menemui kematian.
Hari demi hari masih dilalui dengan sama. Nyaris konstan.
*
Kali ini dunia kedatangan nama besar seorang Julius Caesar. Seorang pemimpin militer sekaligus politikus Romawi pada saat itu. Ialah orang yang menyebarluaskan pemakaian kalander Julian, yang nantinya akan berkembang hingga menjadi kalender Masehi yang banyak digunakan di seluruh dunia, hingga saat ini.
Sedikit atau banyak. Dimanipulasi atau tidak. Namanya tercatat di sejarah sebagai orang yang berperan besar dalam penggunaan kalender di dunia.
Kalender sama saja menerjemahkan "bergulirnya waktu" ke dalam bahasa yang dimengerti manusia. Ini membuat manusia menjadi mudah untuk melihat atau memperkirakan kapan mereka menikah, kapan mereka menjadi raja, kapan mereka pensiun, atau kapan mereka akan dihukum mati. Manusia menjadi lebih terbuka dengan waktu.
*
Di sebuah ruangan pribadi seorang direktur perusahaan percetakan di Oslo. Ketika sang direktur menerima sebuah surat di mejanya, ia lantas bertanya kepada asistennya, "Sejak kapan surat ini sampai di mejaku?" Kebetulan sang direktur baru saja pulang setelah pergi untuk kunjungan bisnis ke sebuah daerah di pelosok Norwegia.
"Itu sudah ada di sana sejak lima hari yang lalu, Pak," jawab si asisten.
Direktur itu mengernyitkan dahinya dan kembali bertanya, "Lima hari yang lalu? Kapan itu?"
"Hari Sabtu, tanggal 23."
"Oh, oke, oke. Itu memang waktunya surat ini sampai," ujar sang direktur. "Coba kau baca ini." Sang direktur menyodorkan surat itu kepada asistennya.
Si asisten membaca sejenak isi surat tersebut. "Surat ini meminta anda untuk memberi balasan paling lambat tanggal 8 bulan depan."
"Oke, terima kasih."
Dan berakhirlah percakapan singkat itu.
*
Dialog di atas telah menyadarkan kita betapa berartinya sistem penanggalan pada saat ini. Orang-orang berjanjian, menanyakan waktu, dan memberi instruksi berdasarkan penanggalan tersebut. Tanpa penanggalan yang bisa dilakukan manusia adalah membuat janji "seribu hari lagi" tanpa dapat mengira-ngira dengan pasti kapan sebenarnya "seribu hari lagi". Kau hanya akan bisa menerawang (bahwa seribu hari selama satu hari dikali seribu), tanpa bisa mengetahui pasti bahwa seribu hari lagi akan jatuh pada saat ini, musim ini, dan bertepatan dengan ulang tahun si anu.
Detik berganti detik, menit berganti menit. Jam berganti. Hari. Bulan. Tahun. Tahun baru. Orang biasa merayakan pergantian tahun. Entah hanya bertujuan untuk berhura-hura atau untuk menjadikan tahun baru sebagai ajang untuk menginstrospeksi diri, dan menyambut tahun yang baru sebagai awal yang baru.
Kadang sistem kalender memang berjalan efektif, tapi kadang juga tidak. Tapi ini merupakan salah satu fasilitas. Masalah kita memanfaatkan fasilitas ini atau tidak, itu adalah urusan kita.
Hidup memang selalu mengenai pilihan. Iya atau tidak, ini atau itu, ambil atau tolak.
2008 berganti 2009. Sebuah awal yang baru untuk kita semua. Selamat tahun baru.
Sabtu, 20 September 2008
Pengamen Bertopeng

Malam ini udara tidak sedingin biasanya di kota Bandung. Akhir-akhir ini Bandung memang panas.
Aku berjalan menyusuri jalanan kota Bandung. Melintasi toko demi toko, warung demi warung, dan pengemis demi pengemis. Semuanya dilalui tanpa ada perasaan apapun, bagaikan melewatkan sebuah tayangan televisi yang tak pernah kutonton. Jalan-jalan disinari berbagai lampu penerangan karena cahaya bulan dan bintang sudah dianggap tidak mampu lagi memberi sinar yang cukup untuk segala aktivitas malam masyarakat kota yang makin lama makin gila ini. Kota ini sedang menuju taraf kegilaan yang semakin parah, sama seperti kota-kota lainnya di Indonesia, atau kota-kota lainnya di dunia yang sudah menjadi gila terlebih dahulu.
Satu toko kutengok. Aku ada urusan di sana. Menemani seorang teman.
Urusanku tidaklah lama, hanya beberapa menit saja.
Dan dari kejauhan terlihat seorang pengamen bertopeng, memakai pakaian layaknya ondel-ondel, menari-nari mengikuti irama musik yang bersumber dari mesin pemutar kaset kuno yang tergantung di lehernya. Pakaiannya membuat ukuran tubuhnya terlihat dua kali lebih besar. Topengnya membuat anak kecil manapun akan takut ketika melihatnya. Alih-alih membuat orang terhibur, segala dandanannya hanya akan membuat orang segan untuk mendekatinya.
Si pengamen bertopeng mendekati toko yang berada jalanan tersebut satu per satu. Dan semua toko memberinya recehan. Tujuannya jelas bukan untuk menghargai apresiasi seni yang telah ditunjukkan pengamen bertopeng itu, hanya sekedar untuk mengusirnya. Memang dandanan pengamen bertopeng itu membuat siapapun akan berpikir dua kali ketika ingin mengunjungi toko yang sedang "kedatangan" si pengamen bertopeng.
Akhirnya toko demi toko ia lewati, receh demi receh ia dapatkan. Entah sudah berapa banyak, dan sampailah dia kepada toko yang sedang kukunjungi.
Dia menari-nari di depan sana seperti orang sedang menahan kencing, tidak ada gerakan-gerakan yang mampu membuat orang lain terpukau. Hanya gerakan menggerakkan badan ke kanan atau ke kiri yang seharusnya bisa dilakukan oleh semua orang.
Dan seketika aku berpikir, siapa yang jahat? Si pengamen bertopeng atau keadaan yang memang memaksa?
Si pengamen bertopeng membuat pemilik toko manapun akan "terpaksa" merogoh koceknya untuk memberinya sedikit receh untuk "mengusirnya". Atau tidak tokonya tidak akan laku dikunjungi orang.
Maka seharusnya si pengamen bertopeng bisa dikatakan jahat. Karena dia mencari cara agar setiap orang "harus" memberikan uang kepadanya.
Tapi sesaat aku berpikir kembali. Di sisi lain ini adalah ide yang brilian untuk mendapatkan uang. Sebuah inovasi, di luar etika, yang sangat ampuh untuk dunia pengamenan.
Atau paling tidak bukan si pengamen bertopeng yang jahat, tapi memang keadaannya memaksa demikian. Dia sudah tidak punya cara lain untuk mendapatkan uang, jadi ini adalah satu-satunya cara. Dan ini lebih baik dibandingkan menjadi pengemis yang hanya bisa duduk terdiam sambil menunggu belas kasihan orang lain menyelematkannya.
Dunia memang semakin kejam.
****
Banyak masalah baru yang kutemui akhir-akhir ini. Beberapa darinya lebih kompleks dari masalah-masalah yang pernah kutemui sebelumnya. Aku jadi semakin mengerti akan kompleksnya hidup, walau masih belum se-"ahli" orang-orang yang lebih dewasa dariku.
Dan kasus si pengamen bertopeng mungkin adalah salah satu contoh betapa kompleksnya masalah hidup, di mana masalah tersebut juga tidak dapat dihindari.
Si pengamen salah atau tidak, dia membuat orang lain kesal atau tidak, yang jelas itu adalah masalah mereka masing-masing. Tidak ada kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah terencana, semuanya sudah tertulis.
Ternyata selain semakin gila, dunia ini juga semakin kejam saja.
Minggu, 14 September 2008
Belajar Menulis

Sudah lama aku mempertanyakan ini, kenapa tulisanku selalu kaku?
Ketika aku melihat buku tamu aku malu untuk mengisinya. Bukan karena aku tidak mengerti cara mengisinya, tapi karena tulisanku selalu menjadi yang terkaku dari semua orang yang mengisi buku tamu pada halaman itu.
Aku jadi iri kepada para dokter, mereka dapat menulis dengan begitu lugas dan tanpa beban, walau sebagian besar orang justru menganggap tulisan mereka jelek dan tidak bisa dibaca.
Makanya hari ini aku mengulang pelajaran menulisku yang telah kudapatkan ketika masih berada di Taman Kanak-kanak. Untuk menemukan jawaban dari pertanyaan: apa yang salah?
****
Pertama aku melihat daftar tulisan orang-orang lain. Semuanya ditulis dengan lancar dan lugas. Seharusnya ini tidaklah aneh karena mereka semua yang mengisi daftar tulisan tersebut sudah lebih dari lima belas tahun mahir menulis. Jadi jika menulis adalah permainan catur, mungkin seharusnya mereka sudah menyandang gelar Grand Master.
Lalu aku menambah daftar tulisan itu dengan tulisan milikku sendiri. Hasilnya langsung terlihat, tulisanku benar-benar terbanting oleh tulisan yang lain. Benar-benar kaku, seakan-akan ditulis dengan penuh beban. Padahal pada saat itu aku tidak sedang memikirkan wanita atau kalkulus. Yang kupikirkan hanyalah tentang bagaimana caranya agar aku bisa menulis dengan selugas mungkin.
Lalu aku bertanya pada salah seorang saudara sepupuku yang juga mengisi daftar tulisan tersebut tentang bagaimana caranya menulis dengan selugas itu.
Ia tidak menjawab, ia hanya mencontohkan bagaimana ia menulis. Benar-benar indah, pena menggores kertas dengan begitu lembut, goresannya sedikit menimbulkan bunyi yang renyah didengar telinga. Aku suka dengan tulisan yang ditulis melalui hati.
Aku mencoba menirukannya, percobaan pertama gagal.
Lagi kucoba menirukannya, yang kedua lebih baik, tapi aku masih menganggapnya gagal.
Lalu kulihat lagi bagaimana caranya ia menggoreskan penanya pada kertas. Benar-benar lembut. Jika kertas tersebut diibaratkan dengan kulit seorang wanita sedangkan pena tersebut adalah pedang, mungkin menulis seharusnya layaknya menggoreskan luka pada kulit wanita dengan pedang tanpa harus membuat wanita tersebut kesakitan.
Bekas yang ditinggalkan tanpa jejak. Begitu misterius. Begitu indah.
Aku terus latihan malam ini juga, sampai suatu saat aku akhirnya merasa menemukan jawabannya.
Aku menekan penaku dengan terlalu bertenaga, padahal kekuatan tidak selalu ditunjukkan melalui tenaga, tapi bisa juga disalurkan melalui kelembutan yang kadang lebih mematikan.
Aku sadar bahwa aku tidak perlu untuk menjadi terlalu kuat.
Mungkin kepribadianku terlalu keras kepala selama ini, mungkin aku terlalu merasa bahwa hanya pendirianku saja yang benar.
Aku sadar bahwa aku juga perlu kritik. Aku juga perlu dukungan, aku juga perlu masukan.
Yang jelas aku perlu kalian semua.
****
Sekarang aku merasa tulisanku sudah lebih baik, kapan-kapan kalau ada kesempatan aku ingin menunjukkannya kepada kalian semua.
Sabtu, 13 September 2008
Ramadhan yang Lain

Akhir-akhir ini tampaknya hari demi hari terasa lebih panjang dari biasanya. Dan terasa lebih padat. Walau begitu beberapa di antaranya terasa begitu rapuh.
Sekali lagi peran waktu terasa begitu angkuh, akhir-akhir ini aku merasa benar-benar tertekan.
Kereta api sudah sampai ke Negeri Senja, tapi kabut di sana masih belum saja mereda. Suasana masih mencekam dan membuat siapapun ragu untuk turun dari kereta. Kami semua, hingga saat ini, masih diam dalam kereta, menunggu salah seorang turun dan menyaksikan apa yang terjadi padanya sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan langkah selanjutnya. Kami semua memang harus ekstra hati-hati di sini.
****
Saat ini bulan Ramadhan, bulan yang dianggap suci oleh umat Muslim seluruh dunia. Begitu pun juga dengan aku. Dan Ramadhan kali ini kujalani dengan begitu berbeda. Aku rasakan satu hal: Ramadhan kali ini begitu "berisi".
Mungkin Ramadhan kali ini tidak kujalani dengan begitu taat seperti ketika kujalani empat-lima tahun yang lalu. Ketika aku masih merasakan begitu nikmatnya menjadi Muslim yang taat. Aku tahu aku benar-benar rindu suasana Ramadhan seperti itu, tapi sulit sekali untuk kembali ke masa itu. Segalanya berubah, walau aku sedang berusaha mencoba mengembalikan beberapa hal kepada tempatnya yang semula.
Seringkali Ramadhan diumpamakan sebagai fase kepompong oleh ustad-ustad yang sering memberikan ceramah pengantar ibadah tarawih. Dan aku menganggap perumpamaan itu begitu tepat, Ramadhan memang fase kepompong. Dan kita harus melewatinya dan keluar dari sana sebagai "kupu-kupu yang cantik". Sayang sekali bagi mereka yang memilih untuk merusak kepompong mereka dan gagal keluar sebagai kupu-kupu. Memangnya sampai kapan mereka memilih untuk menjadi ulat yang begitu gemuk dan menjijikkan itu?
Segala fasilitas sudah disediakan untuk berubah, maka seharusnya berubah menjadi mudah.
Tetapi banyak rintangan yang masih tetap menghadang.
Segala ujian harus dilalui dengan tabah, itu juga yang sedang kucoba lakukan, walau terasa begitu sulit.
Aku rindu melewati Ramadhan sebagai Muslim yang taat.
****
Segarusnya aku sudah dewasa sekarang, makanya aku berusaha mengatur segala sesuatu dengan begitu terorganisasi. Aku tak mau membuat blunder sekecil apapun.
Aku sudah mencoba untuk kembali ke arah yang begitu kurindukan, sebagai Muslim yang taat -bukan- sebagai Muslim yang mencoba untuk menjadi taat.
Menikmati segalanya dengan begitu harmonis.
Segalanya memang harus benar-benar direncanakan. Dan aku sudah mempunyai sebuah rencana. Rencana untuk masa depan yang sampai saat ini masih kurahasiakan.
Sabtu, 30 Agustus 2008
Sudah Sampai atau Belum?

Kenapa selalu ada semacam ketakutan ketika kita akan memulai sesuatu yang baru?
Hidup tidaklah mungkin lepas dari perubahan. Perubahan pasti akan datang, jadi tidak ada gunanya untuk menghindar. Dan perubahan pasti akan menghasilkan sesuatu yang baru.
Tiap-tiap dari kita akan menjumpai perubahan tersebut seperti "naik ke tingkat selanjutnya". Bagaikan permainan gim yang punya tingkat kesulitan mulai dari yang termudah sampai yang tersulit, tentu setiap yang akan naik tingkat akan bertemu dengan "raja" yang akan mencegah kita untuk naik tingkat.
Mungkin dalam kehidupan "raja" tersebut adalah ketakutan yang bisa saja menggagalkan niat kita untuk berubah.
Satu hal yang pasti: berubah tidaklah mudah.
Kebanyakan dari kita biasanya sudah merasa nyaman dengan kondisi kita yang saat ini, walaupun sebenarnya kita sedang berada dalam kondisi yang amat terpuruk. Tapi kebanyakan dari kita justru menghindar untuk berubah karena takut terpuruk lebih dalam.
Jelas saja keberanian merupakan salah satu hal yang terpenting di dunia ini.
Karena keberanian memegang kunci dari segalanya di sini. Kunci gembok yang akan mengantarkan kita ke kehidupan baru ada pada keberanian kita sendiri, dan keberanian tidak akan muncul dengan sendirinya.
Sepenting itukah keberanian?
Aku tak tahu. Tapi kalau berdasarkan insting dan perasaanku, keduanya justru mengatakan keberanian jauh lebih penting daripada hal itu. Keberanian memegang peranan yang sangat besar di kehidupan ini.
****
Seharusnya aku sudah memasuki fase baru dalam hidupku di mana banyak bagian dari hidupku yang berubah dan tak berjalan seperti biasanya lagi. Tapi anehnya aku masih merasa perubahan ini tak sebesar yang kukira sebelumnya.
Ketika aku memutuskan untuk naik kereta menuju Negeri Senja, aku sudah siap untuk menanggung segala risiko, tapi ini jauh dari yang kupikirkan sebelumnya.
Negeri Senja ini masih benar-benar misterius.
Aku bahkan tak tahu bahwa aku sudah sampai ke sana atau belum. Mungkin saja keretanya masih terus melaju, tapi getarannya sudah tak terasa lagi, dan aku masih berada di dalam gerbong, takut untuk keluar.
Dari jendela yang bisa kulihat hanyalah sebuah kabut tebal yang benar-benar membuat mata buta akan keadaan di luar. Namun tampaknya di luar sedang ada badai yang sangat besar.
Negeri Senja ini masih misterius, entah sampai kapan aku akan tetap diam dalam gerbong kereta di sini, menunggu untuk turun karena tahu bahwa aku benar-benar sudah sampai di Negeri Senja.
Negeri Senja mungkin saja masih jauh, walau terasa sudah dekat, atau bahkan terasa sudah sampai di sana.
Ah, tampaknya aku masih harus meneruskan perjalananku.
Selasa, 22 Juli 2008
Cinta Murni dari Stadion
Ahad, 20 Juli 2008. Stadion Siliwangi, Bandung.
Hari itu suasana stadion penuh sesak. Sangat penuh dan sangat sesak. Tertulis di koran-koran bahwa kapasitas stadion tersebut hanya 22.000 orang, tapi aku tak terlalu yakin dengan jumlah tersebut begitu melihat penuhnya isi stadion. Kursi stadion mungkin hanya mampu menampung 22.000 orang, tapi banyak orang yang rela menonton tanpa perlu kursi. Mereka berdiri sepanjang pertandingan yang lamanya mencapai dua jam lebih. Bahkan ada yang sudah mengisi stadion sejak enam jam sebelumnya.
"Mungkin ini bisa mencapai 25.000, atau lebih," pikirku tanpa didasari perhitungan terukur.
Dan dari 25.000 orang tersebut, aku hanyalah satu di antaranya. Benar-benar tidak ada apa-apanya. Sesaat aku merasa begitu kecil. Makanya aku pantas malu di hadapan Yang Maha Besar.
****
Hari itu adalah pertarungan antara Persib dan Persija, duel yang dianggap sebagai salah satu yang terpanas di Indonesia. Bukan hanya karena keduanya merupakan tim papan atas, tapi juga karena unsur permusuhan tingkat tinggi yang diusung kedua kelompok suporter masing-masing. Maung dan macan. Keduanya sebenarnya hewan yang sama, tapi tak ada yang menganggapnya begitu. Permusuhan yang begitu mendarah daging.
Tak ada baju oranye hari itu, kecuali bagi mereka yang membawanya untuk dibakar. Dan yel-yel terkeras yang mereka teriakan adalah yel-yel untuk mengejek (atau mungkin lebih tepat disebut mengutuk) kelompok suporter ibukota itu.
Dan pertandingan pun dimulai setelah tiga jam aku menunggu.
Peluit ditiup dan para penonton berteriak histeris. Yel-yel terus diteriakkan, ejekan terus dilontarkan terhadap tim lawan. Semuanya untuk menyemangati tim kesayangan mereka.
Sayang pertandingan harus berakhir rusuh. Tidak puasnya beberapa oknum suporter akan keputusan wasit membuat mereka berbuat anarkis. Tempat duduk dibakar, pagar pembatas dirusak, dan pintu dijebol. Wasitkah yang salah?
Sesaat aku tidak habis pikir dengan para perusak tersebut, kenapa mereka berbuat anarkis? Bukankah hasil pertandingan tak akan berubah walaupun seluruh suporter di sana mengamuk? Apa yang mereka pikirkan?
Gerombolan orang-orang bodoh, tak berpendidikan, atau otak udang. Mereka adalah salah satu darinya. Setidaknya itulah yang kupikirkan pada saat itu.
****
Tapi ternyata masalahnya tidak sesederhana itu. Atau justru masalahnya sangat sederhana. Entah yang mana.
Ini adalah wujud kecintaan tulus, yang tanpa pamrih, dan hanya mengharap balasan. Walaupun kadang balasan itu tidak berupa balasan yang baik.
Ini adalah wujud dari cinta yang begitu sederhana. Suporter mencintai klub, lalu klub menyuguhkan permainan untuk mereka, dan suporter membalasnya dengan memberi dukungan.
Cinta yang saling membalas. Seperti hari itu.
Hari itu Persib kalah. Dan banyak yang mengutuk hasil tersebut. Tapi mereka pun kembali pulang ke rumah dan melupakan hal itu. Minggu depannya ketika Persib kembali bermain, mereka akan kembali menonton dan memberi dukungan lagi seperti biasanya.
Cinta tak selalu berbalas dengan baik. Kadang balasannya kurang bisa kita terima, atau bahkan kejam. Seperti para suporter sepak bola yang memberi dukungan maksimal kepada tim kesayangan mereka, namun ternyata tim kesayangan mereka tetap kalah dan menampilkan permainan yang buruk.
Bukankah ini yang didambakan setiap orang? Ketika kita mencintai dengan sepenuh hati dan tidak peduli akan balasan yang akan kita terima. Ketika cinta sejati muncul, entah cinta itu berbalas atau tidak. Cinta yang benar-benar tulus, yang sekarang sudah menjadi barang yang paling langka di dunia yang penuh dengan tuntutan balas budi ini.
Hari itu di stadion Siliwangi. Aku masih merenungi hal tersebut, sekaligus mendamba-dambakannya.
Cinta yang begitu tulus. Cinta yang begitu murni.
Aku pulang dari stadion dengan membawa pelajaran yang berharga. Dan terus memikirkannya sambil berjalan pulang dengan tertatih-tatih karena tulang ekorku sakit luar biasa akibat lima jam lebih duduk di kursi semen.
Hari itu suasana stadion penuh sesak. Sangat penuh dan sangat sesak. Tertulis di koran-koran bahwa kapasitas stadion tersebut hanya 22.000 orang, tapi aku tak terlalu yakin dengan jumlah tersebut begitu melihat penuhnya isi stadion. Kursi stadion mungkin hanya mampu menampung 22.000 orang, tapi banyak orang yang rela menonton tanpa perlu kursi. Mereka berdiri sepanjang pertandingan yang lamanya mencapai dua jam lebih. Bahkan ada yang sudah mengisi stadion sejak enam jam sebelumnya.
"Mungkin ini bisa mencapai 25.000, atau lebih," pikirku tanpa didasari perhitungan terukur.
Dan dari 25.000 orang tersebut, aku hanyalah satu di antaranya. Benar-benar tidak ada apa-apanya. Sesaat aku merasa begitu kecil. Makanya aku pantas malu di hadapan Yang Maha Besar.
****
Hari itu adalah pertarungan antara Persib dan Persija, duel yang dianggap sebagai salah satu yang terpanas di Indonesia. Bukan hanya karena keduanya merupakan tim papan atas, tapi juga karena unsur permusuhan tingkat tinggi yang diusung kedua kelompok suporter masing-masing. Maung dan macan. Keduanya sebenarnya hewan yang sama, tapi tak ada yang menganggapnya begitu. Permusuhan yang begitu mendarah daging.
Tak ada baju oranye hari itu, kecuali bagi mereka yang membawanya untuk dibakar. Dan yel-yel terkeras yang mereka teriakan adalah yel-yel untuk mengejek (atau mungkin lebih tepat disebut mengutuk) kelompok suporter ibukota itu.
Dan pertandingan pun dimulai setelah tiga jam aku menunggu.
Peluit ditiup dan para penonton berteriak histeris. Yel-yel terus diteriakkan, ejekan terus dilontarkan terhadap tim lawan. Semuanya untuk menyemangati tim kesayangan mereka.
Sayang pertandingan harus berakhir rusuh. Tidak puasnya beberapa oknum suporter akan keputusan wasit membuat mereka berbuat anarkis. Tempat duduk dibakar, pagar pembatas dirusak, dan pintu dijebol. Wasitkah yang salah?
Sesaat aku tidak habis pikir dengan para perusak tersebut, kenapa mereka berbuat anarkis? Bukankah hasil pertandingan tak akan berubah walaupun seluruh suporter di sana mengamuk? Apa yang mereka pikirkan?
Gerombolan orang-orang bodoh, tak berpendidikan, atau otak udang. Mereka adalah salah satu darinya. Setidaknya itulah yang kupikirkan pada saat itu.
****
Tapi ternyata masalahnya tidak sesederhana itu. Atau justru masalahnya sangat sederhana. Entah yang mana.
Ini adalah wujud kecintaan tulus, yang tanpa pamrih, dan hanya mengharap balasan. Walaupun kadang balasan itu tidak berupa balasan yang baik.
Ini adalah wujud dari cinta yang begitu sederhana. Suporter mencintai klub, lalu klub menyuguhkan permainan untuk mereka, dan suporter membalasnya dengan memberi dukungan.
Cinta yang saling membalas. Seperti hari itu.
Hari itu Persib kalah. Dan banyak yang mengutuk hasil tersebut. Tapi mereka pun kembali pulang ke rumah dan melupakan hal itu. Minggu depannya ketika Persib kembali bermain, mereka akan kembali menonton dan memberi dukungan lagi seperti biasanya.
Cinta tak selalu berbalas dengan baik. Kadang balasannya kurang bisa kita terima, atau bahkan kejam. Seperti para suporter sepak bola yang memberi dukungan maksimal kepada tim kesayangan mereka, namun ternyata tim kesayangan mereka tetap kalah dan menampilkan permainan yang buruk.
Bukankah ini yang didambakan setiap orang? Ketika kita mencintai dengan sepenuh hati dan tidak peduli akan balasan yang akan kita terima. Ketika cinta sejati muncul, entah cinta itu berbalas atau tidak. Cinta yang benar-benar tulus, yang sekarang sudah menjadi barang yang paling langka di dunia yang penuh dengan tuntutan balas budi ini.
Hari itu di stadion Siliwangi. Aku masih merenungi hal tersebut, sekaligus mendamba-dambakannya.
Cinta yang begitu tulus. Cinta yang begitu murni.
Aku pulang dari stadion dengan membawa pelajaran yang berharga. Dan terus memikirkannya sambil berjalan pulang dengan tertatih-tatih karena tulang ekorku sakit luar biasa akibat lima jam lebih duduk di kursi semen.
Sabtu, 12 Juli 2008
Kembali Ke Belakang Sejenak dan Masih Itu-itu Saja
Sudah menjadi kodrat dari setiap manusia untuk berpikir. Oleh karena aku juga manusia maka sudah seharusnya jika aku juga berpikir.
Hari-hariku akhir-akhir ini membawaku kepada kebosanan yang teramat sangat. Libur yang sangat panjang ternyata juga berarti hilangnya sebuah rutinitas yang biasa kujalani sehari-hari, yang pada awalnya juga kuanggap sebagai sebuah kegiatan konstan yang dapat membunuhku secara perlahan-lahan dalam kebosanan. Kini setelah lepas dari rutinitas yang membosankan itu ternyata aku justru merasakan kebosanan dalam bentuk yang lain. Liburan panjang kali ini membuatku miskin inspirasi.
Hari ini juga sama. Aku seperti mencari-cari kegiatan untuk dilakukan tapi tidak menemukan sesuatu yang benar-benar menarik. Hingga akhirnya tersirat sebuah pertanyaan yang ingin sekali kudengar jawabannya: apakah hidup manusia memang selalu berada di dekat kebosanan?
Tapi aku bukan tipe orang yang menyerah pada keadaan begitu saja. Selama masih ada fasilitas yang dapat kugunakan untuk menciptakan kreasi, aku tetap akan berjuang terus untuk menciptakan warna-warna baru dalam hidupku. Warna-warna yang akan selalu menghiasi hidupku dengan kebahagiaan. Warna-warna yang akan membantuku menemukan jawaban akan kehidupan yang sejati.
****
Aku coba mulai dengan mengevaluasi hidupku yang sudah berlangsung lumayan lama ini. Dimulai dari saat pertama kali aku berkenalan dengan apa yang membuat setiap manusia punya arti hidup, yaitu impian.
Aku ingat impian pertamaku adalah menjadi seorang pembalap mobil. Rasanya siapapun yang menjadi pembalap mobil akan terlihat gagah. Tak peduli jika wajahmu sangat jelek sekalipun, karena kau akan memakai helm yang akan menutupinya. Belum lagi kau akan memakai seragam dengan banyak iklan dari sponsor (entah kenapa aku selalu menganggap iklan menambah daya tarik dari baju si pembalap), walau sekarang aku tak bisa membayangkan kegerahan yang dirasakan si pembalap dalam baju ekstratebal itu, pasti keringat deras sudah membanjiri baju dalam mereka.
Setelah lepas dari impian pertamaku, aku mulai mencari impian-impianku yang lain. Presiden, pembalap motor, komikus, penulis, dan superhero. Seringkali aku berganti-ganti impian kala itu, sebanyak aku berganti-ganti acara televisi yang kutonton. Tapi aku tidak pernah sama sekali berkeinginan menjadi dokter. Apa menariknya menggeluti suatu profesi yang semua orang menginginkannya?
Aku melewati masa kecilku senormal yang kuinginkan. Aku sekolah di sebuah SD negeri yang fasiltasnya selalu pas-pasan. Berteman dengan anak penjaga warung, anak supir taksi, anak tukang becak, keponakan seorang narapidana, dan masih banyak lagi macamnya. Walau kadang ada juga yang mengaku bahwa dia adalah anak seorang direktur, entah itu benar atau tidak yang jelas pada saat itu aku ragu. Tapi aku tak peduli akan semua itu. Yang penting aku nyaman berteman dengan mereka lalu apa masalahnya? Pentingkah aku menanyakan status sosial mereka satu per satu saat berkenalan? Tentu saja tidak.
Selama SD aku belum bisa mengatur hidupku dengan sebaik-baiknya. Kehidupanku masih dibimbing sepenuhnya oleh kedua orang tuaku. Jika mereka suruh aku belajar maka yang kulakukan pada menit berikutnya adalah belajar. Jika mereka suruh aku makan maka yang kulakukan di menit berikutnya adalah makan. Mungkin pada saat itu aku seperti robot yang punya hati.
Di SD negeri tempatku bersekolah kau akan menemukan berbagai macam guru. Mereka akan mengajarkan kita lagu Hymne Guru untuk menunjukkan kekuasaan mereka di kelas dan betapa berjasanya mereka. Seorang guru mengajarkan sebuah lagu untuk menyanjung guru?
Aku bisa dibilang berprestasi cukup baik selama masih SD. Aku selalu berhasil meraih peringkat tiga besar dalam kelas. Walau saat kelas satu dan kelas dua aku tidak pernah berhasil sekalipun untuk menjadi yang pertama. Sedikit membuatku putus asa saat itu karena aku selalu kalah peringkat dari anak seorang guru. Hingga akhirnya aku mampu meraihnya di kelas tiga.
Mungkin prestasiku yang cukup baik ini yang membuatku selalu ingin punya pendapat sendiri. Dan hasilnya aku menjadi sedikit pemberontak di kelas. Aku pernah berdebat yang sangat panjang dengan seorang guru dan baru bisa dihentikan oleh bel pertanda kelas selesai hanya karena merasa tak setuju dengan jawaban yang beliau berikan. Aku pernah merasa lebih pintar dari salah seorang guru padahal ketika itu aku baru kelas lima SD! Tapi bagaimanapun juga aku tak pernah sampai ke arah yang terlalu melenceng, paling tidak prestasiku di sekolah selalu kujaga.
Dari SD lanjut ke SMP. SMP-ku berbeda jauh dengan SD-ku. Kini aku bersekolah di sebuah SMP swasta yang berlabel Islam. Menanamkan banyak dasar-dasar agama dalam kehidupanku. Tapi aku tak pernah jadi terlalu fanatik. Hanya saja prestasiku di SMP sangatlah labil. Aku tidak bisa menjaga prestasiku seperti ketika di SD. Sifat pemberontak yang sudah ada pada diriku timbul lagi bahkan semakin menjadi-jadi. Tapi akhirnya aku bisa lulus dengan cukup baik.
Aku belum mau berhenti sekolah, atau tepatnya aku tidak akan diizinkan oleh kedua orang tuaku untuk berhenti sekolah. Jadilah aku melanjutkan pendidikanku ke jenjang SMA, masih dalam label yang sama: swasta Islam.
Di SMA aku mulai belajar untuk berpacu pada target. Dan ternyata ini sangat berat. Bukan main perjuanganku untuk mencapai target masuk jurusan IPA saat itu. Bahkan tadinya kukira targetku tak akan tercapai lantaran nilai fisikaku yang tak memenuhi syarat. Dan entah keajaiban apa yang menyelamatkanku, nilai fisikaku disulap menjadi naik beberapa poin. Akhirnya target pertama tercapai.
Akhirnya tiga tahun juga sudah terlewati lagi. Dan aku lulus kembali. Meninggalkan masa SMA yang penuh dengan kesusahpayahan, kesedihan, kebahagiaan, penderitaan, pengharapan, dan cinta. Tiga tahun yang merupakan awal perkenalanku dengan seseorang yang membuat hidupku terjungkir-balik. Yang jelas tiga tahun ini adalah tiga tahun yang paling berkesan untukku sampai saat ini. Entah bagaimana dengan tahun-tahun berikutnya.
****
Hari ini aku berniat mandi di kamar mandi milik orang tuaku. Suatu hal yang biasa akhir-akhir ini mengingat aku mulai menyadari kamar mandi di sana lebih besar dan lebih nyaman, walau aku lebih suka desain kamar mandiku sendiri.
Tapi aku tidak jadi mandi di sana setelah melihat seekor kecoak tergeletak terlentang di sana. Mati.
Aku baru ingat pagi tadi adalah jadwal penyemprotan untuk memberantas nyamuk demam berdarah. Dan sasarannya tidak selalu tepat. Kadang kecoak juga ikut mati walau ia bukan sasaran sebenarnya.
Akhirnya aku mandi di kamar mandiku sendiri. Mungkin sudah seharusnya begitu. Sebenarnya aku bisa saja mengambil bangkai kecoak tersebut dan membuangnya ke tempat sampah, lalu aku bisa mandi dengan tenang. Hanya saja aku malas melakukannya. Dan akhirnya aku terpaksa untuk mengganti niatku.
Seekor kecoak mati ternyata bisa merubah kehidupanku, secuil kehidupanku, tapi kecoak itu tetap punya arti dalam hidupku.
Hal sekecil apapun bisa saja terjadi dalam hidupmu, dan yang mana saja bisa merubah hidupmu. Hidup ini kan tak selalu konstan.
Aku masih berpikir. Memikirkan segalanya, untuk mencoba mencari jawaban. Dan jika saat ini ada orang yang datang padaku dan bertanya, "Sedang di mana kamu? Sedang apa?", aku akan langsung menjawab dengan tegas, "Aku masih di sini, masih terdiam sambil memikirkan jawaban dari pertanyaan yang itu-itu saja."
Hari-hariku akhir-akhir ini membawaku kepada kebosanan yang teramat sangat. Libur yang sangat panjang ternyata juga berarti hilangnya sebuah rutinitas yang biasa kujalani sehari-hari, yang pada awalnya juga kuanggap sebagai sebuah kegiatan konstan yang dapat membunuhku secara perlahan-lahan dalam kebosanan. Kini setelah lepas dari rutinitas yang membosankan itu ternyata aku justru merasakan kebosanan dalam bentuk yang lain. Liburan panjang kali ini membuatku miskin inspirasi.
Hari ini juga sama. Aku seperti mencari-cari kegiatan untuk dilakukan tapi tidak menemukan sesuatu yang benar-benar menarik. Hingga akhirnya tersirat sebuah pertanyaan yang ingin sekali kudengar jawabannya: apakah hidup manusia memang selalu berada di dekat kebosanan?
Tapi aku bukan tipe orang yang menyerah pada keadaan begitu saja. Selama masih ada fasilitas yang dapat kugunakan untuk menciptakan kreasi, aku tetap akan berjuang terus untuk menciptakan warna-warna baru dalam hidupku. Warna-warna yang akan selalu menghiasi hidupku dengan kebahagiaan. Warna-warna yang akan membantuku menemukan jawaban akan kehidupan yang sejati.
****
Aku coba mulai dengan mengevaluasi hidupku yang sudah berlangsung lumayan lama ini. Dimulai dari saat pertama kali aku berkenalan dengan apa yang membuat setiap manusia punya arti hidup, yaitu impian.
Aku ingat impian pertamaku adalah menjadi seorang pembalap mobil. Rasanya siapapun yang menjadi pembalap mobil akan terlihat gagah. Tak peduli jika wajahmu sangat jelek sekalipun, karena kau akan memakai helm yang akan menutupinya. Belum lagi kau akan memakai seragam dengan banyak iklan dari sponsor (entah kenapa aku selalu menganggap iklan menambah daya tarik dari baju si pembalap), walau sekarang aku tak bisa membayangkan kegerahan yang dirasakan si pembalap dalam baju ekstratebal itu, pasti keringat deras sudah membanjiri baju dalam mereka.
Setelah lepas dari impian pertamaku, aku mulai mencari impian-impianku yang lain. Presiden, pembalap motor, komikus, penulis, dan superhero. Seringkali aku berganti-ganti impian kala itu, sebanyak aku berganti-ganti acara televisi yang kutonton. Tapi aku tidak pernah sama sekali berkeinginan menjadi dokter. Apa menariknya menggeluti suatu profesi yang semua orang menginginkannya?
Aku melewati masa kecilku senormal yang kuinginkan. Aku sekolah di sebuah SD negeri yang fasiltasnya selalu pas-pasan. Berteman dengan anak penjaga warung, anak supir taksi, anak tukang becak, keponakan seorang narapidana, dan masih banyak lagi macamnya. Walau kadang ada juga yang mengaku bahwa dia adalah anak seorang direktur, entah itu benar atau tidak yang jelas pada saat itu aku ragu. Tapi aku tak peduli akan semua itu. Yang penting aku nyaman berteman dengan mereka lalu apa masalahnya? Pentingkah aku menanyakan status sosial mereka satu per satu saat berkenalan? Tentu saja tidak.
Selama SD aku belum bisa mengatur hidupku dengan sebaik-baiknya. Kehidupanku masih dibimbing sepenuhnya oleh kedua orang tuaku. Jika mereka suruh aku belajar maka yang kulakukan pada menit berikutnya adalah belajar. Jika mereka suruh aku makan maka yang kulakukan di menit berikutnya adalah makan. Mungkin pada saat itu aku seperti robot yang punya hati.
Di SD negeri tempatku bersekolah kau akan menemukan berbagai macam guru. Mereka akan mengajarkan kita lagu Hymne Guru untuk menunjukkan kekuasaan mereka di kelas dan betapa berjasanya mereka. Seorang guru mengajarkan sebuah lagu untuk menyanjung guru?
Aku bisa dibilang berprestasi cukup baik selama masih SD. Aku selalu berhasil meraih peringkat tiga besar dalam kelas. Walau saat kelas satu dan kelas dua aku tidak pernah berhasil sekalipun untuk menjadi yang pertama. Sedikit membuatku putus asa saat itu karena aku selalu kalah peringkat dari anak seorang guru. Hingga akhirnya aku mampu meraihnya di kelas tiga.
Mungkin prestasiku yang cukup baik ini yang membuatku selalu ingin punya pendapat sendiri. Dan hasilnya aku menjadi sedikit pemberontak di kelas. Aku pernah berdebat yang sangat panjang dengan seorang guru dan baru bisa dihentikan oleh bel pertanda kelas selesai hanya karena merasa tak setuju dengan jawaban yang beliau berikan. Aku pernah merasa lebih pintar dari salah seorang guru padahal ketika itu aku baru kelas lima SD! Tapi bagaimanapun juga aku tak pernah sampai ke arah yang terlalu melenceng, paling tidak prestasiku di sekolah selalu kujaga.
Dari SD lanjut ke SMP. SMP-ku berbeda jauh dengan SD-ku. Kini aku bersekolah di sebuah SMP swasta yang berlabel Islam. Menanamkan banyak dasar-dasar agama dalam kehidupanku. Tapi aku tak pernah jadi terlalu fanatik. Hanya saja prestasiku di SMP sangatlah labil. Aku tidak bisa menjaga prestasiku seperti ketika di SD. Sifat pemberontak yang sudah ada pada diriku timbul lagi bahkan semakin menjadi-jadi. Tapi akhirnya aku bisa lulus dengan cukup baik.
Aku belum mau berhenti sekolah, atau tepatnya aku tidak akan diizinkan oleh kedua orang tuaku untuk berhenti sekolah. Jadilah aku melanjutkan pendidikanku ke jenjang SMA, masih dalam label yang sama: swasta Islam.
Di SMA aku mulai belajar untuk berpacu pada target. Dan ternyata ini sangat berat. Bukan main perjuanganku untuk mencapai target masuk jurusan IPA saat itu. Bahkan tadinya kukira targetku tak akan tercapai lantaran nilai fisikaku yang tak memenuhi syarat. Dan entah keajaiban apa yang menyelamatkanku, nilai fisikaku disulap menjadi naik beberapa poin. Akhirnya target pertama tercapai.
Akhirnya tiga tahun juga sudah terlewati lagi. Dan aku lulus kembali. Meninggalkan masa SMA yang penuh dengan kesusahpayahan, kesedihan, kebahagiaan, penderitaan, pengharapan, dan cinta. Tiga tahun yang merupakan awal perkenalanku dengan seseorang yang membuat hidupku terjungkir-balik. Yang jelas tiga tahun ini adalah tiga tahun yang paling berkesan untukku sampai saat ini. Entah bagaimana dengan tahun-tahun berikutnya.
****
Hari ini aku berniat mandi di kamar mandi milik orang tuaku. Suatu hal yang biasa akhir-akhir ini mengingat aku mulai menyadari kamar mandi di sana lebih besar dan lebih nyaman, walau aku lebih suka desain kamar mandiku sendiri.
Tapi aku tidak jadi mandi di sana setelah melihat seekor kecoak tergeletak terlentang di sana. Mati.
Aku baru ingat pagi tadi adalah jadwal penyemprotan untuk memberantas nyamuk demam berdarah. Dan sasarannya tidak selalu tepat. Kadang kecoak juga ikut mati walau ia bukan sasaran sebenarnya.
Akhirnya aku mandi di kamar mandiku sendiri. Mungkin sudah seharusnya begitu. Sebenarnya aku bisa saja mengambil bangkai kecoak tersebut dan membuangnya ke tempat sampah, lalu aku bisa mandi dengan tenang. Hanya saja aku malas melakukannya. Dan akhirnya aku terpaksa untuk mengganti niatku.
Seekor kecoak mati ternyata bisa merubah kehidupanku, secuil kehidupanku, tapi kecoak itu tetap punya arti dalam hidupku.
Hal sekecil apapun bisa saja terjadi dalam hidupmu, dan yang mana saja bisa merubah hidupmu. Hidup ini kan tak selalu konstan.
Aku masih berpikir. Memikirkan segalanya, untuk mencoba mencari jawaban. Dan jika saat ini ada orang yang datang padaku dan bertanya, "Sedang di mana kamu? Sedang apa?", aku akan langsung menjawab dengan tegas, "Aku masih di sini, masih terdiam sambil memikirkan jawaban dari pertanyaan yang itu-itu saja."
Rabu, 09 Juli 2008
Kedai Kopi Hari Itu

Beberapa hari yang lalu aku pergi ke sebuah kedai kopi. Meskipun aku bukanlah pecandu kafein. Makanya aku jarang pergi ke kedai kopi. Minum kopi instan kemasan sachet di rumah saja jarang.
Kedai kopi belakangan ini memang banyak sekali bermunculan di mana-mana. Dan itu menambah satu pertanyaan lagi untukku: memang apa bedanya minum kopi di rumah dan di kedai kopi?
Mungkin dari seluruh pengunjung kedai kopi di sana pada hari itu hanya aku saja yang tidak mengerti akan kenikmatan meminum kopi. Bagiku kopi itu pekat dan pahit. Kalaupun kita temukan kopi yang rasanya manis dan sangat nikmat, yang membuatnya demikian adalah campuran susu dan gulanya. Kopinya sendiri hanya mendonasikan rasa pahit.
Tapi di kedai kopi itu aku sadar. Kopi yang kupesan hari itu sangat nikmat. Memang yang membuatnya nikmat masih susu dan gulanya. Hanya saja tidak mungkin minuman itu akan jadi senikmat itu kalau hanya terdiri dari campuran susu dan gula. Itu sama saja dengan meminum segelas susu panas. Dan susu panas tak pernah senikmat kopi.
Aku tersadar akan pentingnya peranan kopi dalam membuat minuman tersebut jadi nikmat. Kopilah yang memberikan karakter dalam minuman tersebut. Rasa pahit yang diberikan membuat kau tidak hanya merasakan manis yang berlebihan. Dan kombinasinya, jika dicampur oleh profesional, akan menyuguhkan sebuah minuman dalam kemasan yang sangat unik.
Kopi yang paling nikmat bukan kopi yang paling manis. Tapi juga bukan yang paling pahit.
Layaknya kehidupan kopi juga menggambarkan keseimbangan. Terkadang kau merasakan manisnya, namun kau juga tak pernah luput dari rasa pahitnya. Dan rasa pahitnya itu ditimbulkan oleh kafein, yang katanya dapat meningkatkan konsentrasi jika dikonsumsi tidak berlebihan. Sama seperti kehidupan, di mana kau bisa mendapatkan pelajaran setelah merasakan pengalaman pahit.
Hidup memang tak selalu manis. Hidup memang tak selalu pahit. Cobalah untuk mengambil pelajaran dari keduanya.
Kopi itu telah menyadarkanku. Akan manis pahitnya kehidupan. Yang tak pernah selalu konstan. Justru karena ini kita harus berjuang. Karena hidup tanpa perjuangan sama saja mati.
Jumat, 27 Juni 2008
Permen Mint

Hari ini aku mendapatkan pelajaran berharga. Gurunya adalah permen mint.
Tiga orang berada dalam mobil itu. Ada tiga permen mint di sana. Dan kami bertiga langsung memakannya, masing-masing orang mendapat satu permen.
Aku kurang begitu suka dengan permen mint, walau aku sangat suka dengan permen. Tapi hari ini aku memutuskan untuk memakan permen itu.
Yang kurasakan pada saat permen itu pertama kali menyentuh permukaan lidahku adalah rasa manisnya. Sama seperti permen-permen lainnya, permen ini juga manis karena setiap permen harus manis. Pernah kujumpai permen rasa asam, tapi lidah tetap tidak bisa dibohongi, rasa manisnya tetap mendominasi.
Rasa mint memang selalu menjadi favorit di industri makanan. Berbagai produk es krim, permen, biskuit, selai, dan berbagai hal lainnya pernah mengeluarkan versi mint mereka masing-masing, walau kepopuleran mint masih kalah jauh dengan strawberi, vanila, dan cokelat yang lebih diminati.
Setelah cukup lama mengemut permen mint tersebut langsung kurasakan kelegaan yang membebaskan. Layaknya orang baru sembuh dari pilek, aku langsung bisa menghirup udara penuh dengan benar-benar lancar. Rasanya bagaikan surga baru pindah dari telapak kaki ibu ke tenggorokanku.
Tapi tidak dengan hidungku. Ia justru menderita.
Inilah kenapa aku kurang begitu suka dengan permen mint. Rasanya melegakan, tapi juga menyakitkan. Aliran udara yang masuk ke dalam tubuhku serasa mengalir sambil mengiris sesuatu -entah apa itu- dalam hidungku. Dan udara dingin kota Bandung membuatnya semakin bertambah parah. Ditambah dengan fakta bahwa aku sedang berada dalam mobil kecil yang menggunakan air conditioner, memaksaku menghisap entah berapa mili udara kering yang sangat menyiksa.
Tapi tetap saja sensasi lega yang diberikan permen mint, bukan mint, pada tenggorokanku mengalahkan rasa tak nyaman pada hidungku. Inilah keadilan. Inilah keseimbangan. Imbalan dan ganjaran.
Dan segalanya terjadi di muka bumi ini. Pada kehidupan ini.
Permen mint telah mengajariku cara untuk lebih memaknai hidup ini. Entah kenapa permen mint yang tadi. Padahal ini bukanlah hari pertamaku memakan permen mint.
Manis yang diberikan permen mint pada kecapan pertama di lidahmu sama saja dengan segala kenikmatan yang ada di kehidupan ini. Semuanya menggoda, tapi jangan selalu terbuai. Karena itu semua hanyalah kenikmatan artifisial.
Yang aslinya ada di suatu tempat. Di mana Tuhanmu juga berada di situ.
Kamis, 19 Juni 2008
Perjalanan ke Negeri Senja

Malam itu aku berada di stasiun Gambir, mengantar kepergian dua orang temanku yang mau berkelana ke luar kota untuk menuntut ilmu di sana.
Sudah lama aku tidak ke stasiun Gambir, tapi keadaannya masih begitu-begitu saja. Tidak banyak yang berubah, bahkan warna catnya pun masih tetap sama.
Memandang stasiun aku jadi teringat akan salah satu cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang menceritakan tentang kereta api misterius yang menuju ke sebuah tempat bernama Negeri Senja, sebuah negeri yang tidak seorang pun tahu seperti apa negeri itu.
Negeri Senja digambarkan sebagai negeri yang sangat misterius. Setiap orang yang pergi ke sana tidak akan bisa kembali lagi. Tidak ada yang tahu sedikit informasi pun tentang kondisi Negeri Senja, bahkan lokasinya pun tak ada yang tahu. Setiap orang yang mau pergi ke sana tidak perlu membayar uang sepeser pun, mereka hanya butuh membubuhkan tanda tangan mereka di lembar yang menyatakan persetujuan mereka untuk pergi ke Negeri senja dan bersedia untuk tidak kembali lagi. Makanya setiap orang yang terlihat akan berangkat ke Negeri Senja tampangnya selalu terlihat murung dan tidak bahagia.
Di Gambir tidak ada kereta api yang menuju ke Negeri Senja, tentu saja, Negeri Senja hanyalah fiksi. Namun bagaimana jika seandainya Negeri Senja benar-benar ada?
Aku tentu akan membayangkan perasaan orang-orang yang akan berangkat ke sana. Apa yang mereka rasakan? Sedihkah, atau justru gembira? Pasrah, atau malah berharap?
Negeri Senja sama saja dengan pertaruhan di dunia nyata. Kita tidak tahu apa yang bakal terjadi kelak, tapi kita dituntut untuk memilih: pergi atau tidak.
Kita tidak tahu seperti apa Negeri Senja itu. Bisa jadi Negeri Senja adalah negeri yang sangat indah, jauh lebih indah dari tempat yang selama ini kita tinggali. Atau ternyata negeri itu sangat gersang, di mana tidak ada makhluk hidup yang mampu bertahan hidup di sana untuk waktu yang lama, dan kita hanya sendirian.
****
Hari ini aku diwisuda. Berbagai rasa bercampur aduk dalam hatiku. Gembira sekaligus sedih. Bangga sekaligus malu. Ah, benar-benar kompleks.
Yang jelas wisuda ini menyatakan satu hal: kami semua tidak akan berkumpul seperti ini lagi setiap hari. Banyak di antara kami yang akan berpisah karena kami sekarang akan mulai bergerak ke arah yang telah ditentukan oleh masing-masing dari kami.
Bagiku pilihan yang telah kami tetapkan masing-masing sama saja dengan Negeri Senja. Tiap-tiap dari kami tidak tahu apakah pilihan tersebut memang yang terbaik untuk kami atau tidak. Segalanya masih misteri. Karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok.
Kami semua yang diwisuda pada hari itu mulai bergerak ke peron masing-masing, mencari-cari kereta yang menuju ke Negeri Senja. Tak ada yang kami tahu tentang Negeri Senja, kami hanya tahu sedikit gambaran akan kemisteriusannya. Tapi masing-masing dari kami punya keyakinan bahwa kami akan berhasil di sana.
Biarlah kami tidak bisa kembali ke tempat asal kami. Kembali ke SMA mungkin terasa manis, tapi waktu pasti akan terus bergulir. Dan kami tidak mungkin diam di tempat sementara yang lain terus bergerak.
Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kami memang harus pergi ke Negeri Senja. Yang bisa kami lakukan sekarang adalah menyiapkan perbekalan yang cukup.
Kurasa perbekalanku sudah cukup. Aku siap berangkat.
****
Sekarang aku berada di kereta api yang menuju Negeri Senja. Namun tampaknya perjalanan masih jauh. Bahkan ujung Negeri Senja pun belum terlihat. Segalanya masih tertutup kabut yang begitu tebal dan semua orang di kereta yang sama denganku hanya bisa meraba-raba saja tentang Negeri Senja.
Air muka orang-orang yang berada dalam kereta yang sama denganku berbeda-beda. Itu justru membuat keadaan Negeri Senja makin sulit ditebak. Perjalanan masih panjang, padahal aku tak suka menunggu yang tidak pasti.
Negeri Senja memang begitu misterius. Aku jadi semakin penasaran dengannya.
Sabtu, 14 Juni 2008
Ketika 13 dan 4 Kehilangan Daya Magisnya
Hampir semua orang di seluruh dunia menghindari angka 13, angka yang dianggap bakal membawa kesialan. Makanya jarang ada hotel yang menyediakan lantai 13 atau kamar 13. Sungguh ironis. Di zaman modern seperti sekarang ini ternyata masih banyak orang yang percaya takhayul.
Beda lagi di Jepang dan Cina. Di sini angka yang paling dihindari justru adalah angka 4. Alasannya pun cukup menggelikan. Di Jepang, 4 dilafalkan sebagai "shi" yang bisa juga berarti mati. Sama juga di Cina. Bahasa Cina untuk angka 4 adalah "se" yang juga berarti mati. Kalau alasan ini bisa diterima logika berarti aku harus sering-sering menghindari kata "untung" karena aku takut dengan binatang melata. Laba-laba.
Atas nama logika dan kecerdasan berpikir yang seharusnya dimiliki oleh semua manusia di muka bumi ini. Dengan segenap kecemasanku terhadap pengaturan pola pikir macam ini yang hanya akan membodoh-bodohi bangsa. Tolong, stop penyebaran takhayul.
13 dan 4 bukan angka sial.
Lihat saja nomor peserta Ujian Nasional-ku.

04-044-013-4.
Dan aku lulus. Ah, aku memang tak pernah percaya takhayul.
Alhamdulillahi robbil 'alamiin. Hanya syukur yang pantas kuucapkan. Tapi bukan syukur karena telah terlepas dari jerat kesialan angka 13 dan 4. 13 dan 4 sama sekali bukan angka sial. 13 dan 4 justru adalah angka mujur, jika kau menganggapnya demikian.
Beda lagi di Jepang dan Cina. Di sini angka yang paling dihindari justru adalah angka 4. Alasannya pun cukup menggelikan. Di Jepang, 4 dilafalkan sebagai "shi" yang bisa juga berarti mati. Sama juga di Cina. Bahasa Cina untuk angka 4 adalah "se" yang juga berarti mati. Kalau alasan ini bisa diterima logika berarti aku harus sering-sering menghindari kata "untung" karena aku takut dengan binatang melata. Laba-laba.
Atas nama logika dan kecerdasan berpikir yang seharusnya dimiliki oleh semua manusia di muka bumi ini. Dengan segenap kecemasanku terhadap pengaturan pola pikir macam ini yang hanya akan membodoh-bodohi bangsa. Tolong, stop penyebaran takhayul.
13 dan 4 bukan angka sial.
Lihat saja nomor peserta Ujian Nasional-ku.

04-044-013-4.
Dan aku lulus. Ah, aku memang tak pernah percaya takhayul.
Alhamdulillahi robbil 'alamiin. Hanya syukur yang pantas kuucapkan. Tapi bukan syukur karena telah terlepas dari jerat kesialan angka 13 dan 4. 13 dan 4 sama sekali bukan angka sial. 13 dan 4 justru adalah angka mujur, jika kau menganggapnya demikian.
Jumat, 13 Juni 2008
Ketika Kenangan Mengusik
Hal terjauh dari kita adalah masa lalu. Karena kita tidak akan pernah bisa pergi kembali ke sana, walau dengan kendaraan apapun.
Sementara setiap memori, ingatan, dan kenangan akan selalu lekat pada kita. Dan itu membuat kita dapat menengok ke masa lalu, tapi tidak untuk kembali sepenuhnya.
Rintangan hidup bagaikan sebuah permainan. Di mana tiap-tiap langkah mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Dan yang kurasakan tingkat kesulitan itu akan selalu bertambah. Seakan-akan hidup ini tidak akan pernah memberi kesempatan pada kehidupan untuk berleha-leha.
Dan kita tidak punya pilihan lain. Kita harus mengikut arus hidup itu untuk bertahan di dunia.
Tidak ada gunanya untuk mencoba lari dari masalah. Siapa yang bisa jamin tidak akan datang masalah baru? Bahkan bisa saja masalah baru itu datang dengan bentuk yang lebih rumit.
Menghindar bukan jalan yang terbaik. Yang bisa kita, atau aku, lakukan adalah mengikuti arus, dan terhanyut di tempat yang sudah ditentukan takdir.
Kau punya banyak pilihan dalam hidup ini. Takdirmu tidak akan terwujud jika kau sendiri tidak berusaha mewujudkannya. Takdir bukanlah hadiah, tapi jaminan.
Dan tidak ada yang bisa kulakukan kini. Aku hanya bisa berlari, dan terus berlari.

Seperti itu. Seperti aku. Seperti dulu.
Sementara setiap memori, ingatan, dan kenangan akan selalu lekat pada kita. Dan itu membuat kita dapat menengok ke masa lalu, tapi tidak untuk kembali sepenuhnya.
Rintangan hidup bagaikan sebuah permainan. Di mana tiap-tiap langkah mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Dan yang kurasakan tingkat kesulitan itu akan selalu bertambah. Seakan-akan hidup ini tidak akan pernah memberi kesempatan pada kehidupan untuk berleha-leha.
Dan kita tidak punya pilihan lain. Kita harus mengikut arus hidup itu untuk bertahan di dunia.
Tidak ada gunanya untuk mencoba lari dari masalah. Siapa yang bisa jamin tidak akan datang masalah baru? Bahkan bisa saja masalah baru itu datang dengan bentuk yang lebih rumit.
Menghindar bukan jalan yang terbaik. Yang bisa kita, atau aku, lakukan adalah mengikuti arus, dan terhanyut di tempat yang sudah ditentukan takdir.
Kau punya banyak pilihan dalam hidup ini. Takdirmu tidak akan terwujud jika kau sendiri tidak berusaha mewujudkannya. Takdir bukanlah hadiah, tapi jaminan.
Dan tidak ada yang bisa kulakukan kini. Aku hanya bisa berlari, dan terus berlari.

Seperti itu. Seperti aku. Seperti dulu.
Pelajaran dari Semut
Pagi ini aku banyak menemukan kekerabatan. Bukan antarmanusia, tapi antarsemut.
Kerumunan semut itu kulihat di berbagai tempat. Ada yang berada di lidah sendok yang masih berlumuran madu, di remahan makanan yang berserakan di lantai, di keramik-keramik, dan berbagai tempat lainnya yang sangat tersembunyi. Sangat banyak.
Aku tahu semut merupakan salah satu hewan yang hidup dengan berkoloni. Tapi koloni macam apa? Apakah mereka menyebut tiap koloni sebagai "negara"? Adakah satu koloni dengan koloni yang lainnya saling bersahabat? Atau justru saling bermusuhan? Apakah tiap koloni dipinpim oleh satu semut yang menjabat sebagai presiden? Yang membimbing mereka menuju jalan terbaik, dan bukannya malah sekedar mengendalikan?
Ada sebuah studi yang meneliti tentang kecerdasan kerumunan. Di mana mereka yang merupakan "anggota" kerumunan sangat bergantung pada populasinya karena sebagai individu mereka sangatlah rapuh. Seperti yang bisa dilihat pada semut.
Jika kau melihat gerombolan semut yang berjalan, mereka akan terlihat sangat cerdas. Mereka tahu mana jalan yang harus ditempuh untuk mencapai makanan. Mereka tahu mana tempat yang aman untuk membangun sarang. Mereka tahu daerah mana yang tidak boleh didekati karena berbahaya. Mungkin ini terjadi karena dorongan insting, dan uniknya insting itu hanya bekerja jika semut-semut itu bergerombol layaknya satu individu utuh yang terdiri dari berjuta-juta sel.
Sebagai koloni, semut adalah jenius, namun sebagai individu semut hanyalah musuh paling rapuh. Cukup satu jari, kau sudah bisa menghabisinya, atau memain-mainkannya terlebih dahulu.
Perlu diketahui, dalam koloni semut tidak ada yang memimpin. Kecerdasan koloni semut terjadi karena interaksi, bukan bimbingan. Dan interaksi semut hanya berupa sentuhan dan bau. Sangat sederhana.
Inilah yang dinamakan kecerdasan kelompok. Yang timbul dari makhluk sederhana dengan aturan yang sangat sederhana. Dan ini berjalan, bahkan dengan sangat efektif, jauh lebih efektif dari yang dilakukan kita sebagai manusia.
Makhluk yang lebih kompleks dengan aturan-aturan yang sangat kompleks tidak mampu menghasilkan kecerdasan kelompok seefektif makhluk sederhana dengan aturan-aturan yang sangat sederhana.
Apakah yang membuat segala kekacauan dan ketidaksesuaian ini justru karena aturan yang terlampau kompleks tersebut? Tidak bisakah kita untuk lebih menyederhanakan aturan tersebut? Dengan mencontoh apa yang dilakukan oleh semut?
Sebenarnya sumber dari segala aturan di dunia hanya satu. Nurani. Tapi manusia yang punya akal tidak ingin hanya nurani yang bertindak, setidaknya akal juga harus ambil bagian. Sedangkan semut tidak punya akal, jadi wajar jika mereka hanya mengandalkan nurani hewani yang bernama insting.
Dan semut mampu hidup rukun, setidaknya selama mereka berada di meja makan atau tempat gula, dengan hanya mengandalkan insting. Jadi apakah akal manusia yang salah? Atau manusia sekarang terlalu mengandalkan akalnya tanpa memperdulikan nurani lagi?
Kurasa jawaban ini musti kita renungi bersama.
Kerumunan semut itu kulihat di berbagai tempat. Ada yang berada di lidah sendok yang masih berlumuran madu, di remahan makanan yang berserakan di lantai, di keramik-keramik, dan berbagai tempat lainnya yang sangat tersembunyi. Sangat banyak.
Aku tahu semut merupakan salah satu hewan yang hidup dengan berkoloni. Tapi koloni macam apa? Apakah mereka menyebut tiap koloni sebagai "negara"? Adakah satu koloni dengan koloni yang lainnya saling bersahabat? Atau justru saling bermusuhan? Apakah tiap koloni dipinpim oleh satu semut yang menjabat sebagai presiden? Yang membimbing mereka menuju jalan terbaik, dan bukannya malah sekedar mengendalikan?
Ada sebuah studi yang meneliti tentang kecerdasan kerumunan. Di mana mereka yang merupakan "anggota" kerumunan sangat bergantung pada populasinya karena sebagai individu mereka sangatlah rapuh. Seperti yang bisa dilihat pada semut.
Jika kau melihat gerombolan semut yang berjalan, mereka akan terlihat sangat cerdas. Mereka tahu mana jalan yang harus ditempuh untuk mencapai makanan. Mereka tahu mana tempat yang aman untuk membangun sarang. Mereka tahu daerah mana yang tidak boleh didekati karena berbahaya. Mungkin ini terjadi karena dorongan insting, dan uniknya insting itu hanya bekerja jika semut-semut itu bergerombol layaknya satu individu utuh yang terdiri dari berjuta-juta sel.
Sebagai koloni, semut adalah jenius, namun sebagai individu semut hanyalah musuh paling rapuh. Cukup satu jari, kau sudah bisa menghabisinya, atau memain-mainkannya terlebih dahulu.
Perlu diketahui, dalam koloni semut tidak ada yang memimpin. Kecerdasan koloni semut terjadi karena interaksi, bukan bimbingan. Dan interaksi semut hanya berupa sentuhan dan bau. Sangat sederhana.
Inilah yang dinamakan kecerdasan kelompok. Yang timbul dari makhluk sederhana dengan aturan yang sangat sederhana. Dan ini berjalan, bahkan dengan sangat efektif, jauh lebih efektif dari yang dilakukan kita sebagai manusia.
Makhluk yang lebih kompleks dengan aturan-aturan yang sangat kompleks tidak mampu menghasilkan kecerdasan kelompok seefektif makhluk sederhana dengan aturan-aturan yang sangat sederhana.
Apakah yang membuat segala kekacauan dan ketidaksesuaian ini justru karena aturan yang terlampau kompleks tersebut? Tidak bisakah kita untuk lebih menyederhanakan aturan tersebut? Dengan mencontoh apa yang dilakukan oleh semut?
Sebenarnya sumber dari segala aturan di dunia hanya satu. Nurani. Tapi manusia yang punya akal tidak ingin hanya nurani yang bertindak, setidaknya akal juga harus ambil bagian. Sedangkan semut tidak punya akal, jadi wajar jika mereka hanya mengandalkan nurani hewani yang bernama insting.
Dan semut mampu hidup rukun, setidaknya selama mereka berada di meja makan atau tempat gula, dengan hanya mengandalkan insting. Jadi apakah akal manusia yang salah? Atau manusia sekarang terlalu mengandalkan akalnya tanpa memperdulikan nurani lagi?
Kurasa jawaban ini musti kita renungi bersama.
Senin, 05 Mei 2008
Masa Tuaku, Mungkin
Aku hanya tinggal memiliki satu orang kakek dan satu orang nenek. Keduanya adalah orang tua ayahku. Keduanya juga sudah sakit-sakitan.
Aku rasa setiap orang tua pasti akan melewati fase ini. Sakit-sakitan ketika tubuh mereka sudah terlalu lelah untuk tetap bertahan hidup. Bahkan bagi mereka yang selalu menjaga kesehatan mereka sejak kecil. Dari seorang vegetarian sampai seorang pecandu rokok tingkat parah. Semuanya akan merasakan saat ketika tubuh mereka mulai kehabisan baterai, dan akhirnya benar-benar kehabisan itu. Lalu mati. Jika umur mereka mencapai masa itu.
Kakekku beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Kebanyakan karena penyakit jantungnya. Beberapa kali karena matanya, gulanya, atau keluhan lainnya. Namun otaknya masih bekerja layaknya anak muda. Belum pikun dan masih sering menghasilkan karya.
Sebaliknya dengan nenekku. Badannya masih sangat kuat. Setiap kali aku berkunjung ke rumahnya, ia bisa bolak-balik dari ruang depan ke ruang televisi sebanyak lebih dari lima kali. Padahal jaraknya lebih dari sepuluh meter. Sangat aktif. Sayangnya ia adalah penderita alzheimer, sebuah penyakit kepikunan yang diakibatkan penurunan fungsi saraf otak yang kompleks dan progresif. Itu adalah penyakit yang membuat orang tidak dapat membedakan dimensi tempat ia berada. Jika kamu baru berkenalan dengan orang yang mengidap alzheimer, mungkin namamu akan ditanya sebanyak sepuluh kali dalam waktu semenit. Awalnya lucu, tapi lama-kelamaan kau akan merasa jenuh dan kesal. Terkadang malah kamu akan ditanya tentang zaman Belanda.
Inilah dua kemungkinan penyakit yang mungkin akan kau alami di masa tuamu. Badanmu sakit namun otakmu tetap sehat, atau otakmu sakit dan badanmu sehat.
Awalnya aku lebih memilih pilihan yang pertama, walaupun aku tak punya kekuasaan untuk memilihnya. Aku lebih suka jika badanku sakit, namun otakku masih berfungsi sebagaimana mestinya. Ini membuatku tetap merdeka. Membuatku tetap ada. Seperti kata Descartes.
"I think therefore I am."
-Descartes.
Namun pilihanku berubah akhir-akhir ini. Untuk apa punya pikiran yang merdeka jika tubuhmu sudah tidak berdaya lagi? Bukankah itu justru membuat kita menderita? Bukankah kebahagiaan adalah hal yang paling dicari di dunia ini?
Jika kaulihat nenekku, kau akan selalu melihat kebahagiaan dalam dirinya. Hobinya menyanyi, dan lagunya selalu bernada bahagia. Setiap kali ia merasa kesal selalu ia lupakan, namun tampaknya ia tak dapat melupakan kebahagiaan. Senyumnya menunjukkan bahwa ia tak punya beban dan memang ia tak punya beban. Tak ada lagi yang harus ia lakukan, ia bebas melakukan apapun yang ia suka. Ia tidak terikat ketentuan apapun. Ia hanya menggali kebahagiaan.
Bukankah ini yang dicari manusia selama ini? Kebahagiaan? Lalu kenapa mereka lebih bangga merdeka otaknya dengan menanggung segala penderitaan yang ada? Tidakkah mereka ingin melepas beban mereka untuk menjadi bahagia?
Terkadang aku tak mengerti kenapa otak ini membimbingku ke arah penderitaan. Apakah aku bisa mengendalikan hidup ini?
Lalu ketika aku kembali melihat nenekku. Ia tersenyum. Aku tengok lagi, ia tertawa. Inikah kebahagiaan sejati? Atau apakah ia justru tidak merasakan kebahagiaan? Tapi rasanya ia sangat bahagia.
Aku tak bilang menjadi alzheimer adalah hal yang baik. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa pikiranmulah yang membawamu kepada kebahagiaan, atau penderitaan. Terserah pilihanmu. Kau tinggal memilih.
Aku rasa setiap orang tua pasti akan melewati fase ini. Sakit-sakitan ketika tubuh mereka sudah terlalu lelah untuk tetap bertahan hidup. Bahkan bagi mereka yang selalu menjaga kesehatan mereka sejak kecil. Dari seorang vegetarian sampai seorang pecandu rokok tingkat parah. Semuanya akan merasakan saat ketika tubuh mereka mulai kehabisan baterai, dan akhirnya benar-benar kehabisan itu. Lalu mati. Jika umur mereka mencapai masa itu.
Kakekku beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Kebanyakan karena penyakit jantungnya. Beberapa kali karena matanya, gulanya, atau keluhan lainnya. Namun otaknya masih bekerja layaknya anak muda. Belum pikun dan masih sering menghasilkan karya.
Sebaliknya dengan nenekku. Badannya masih sangat kuat. Setiap kali aku berkunjung ke rumahnya, ia bisa bolak-balik dari ruang depan ke ruang televisi sebanyak lebih dari lima kali. Padahal jaraknya lebih dari sepuluh meter. Sangat aktif. Sayangnya ia adalah penderita alzheimer, sebuah penyakit kepikunan yang diakibatkan penurunan fungsi saraf otak yang kompleks dan progresif. Itu adalah penyakit yang membuat orang tidak dapat membedakan dimensi tempat ia berada. Jika kamu baru berkenalan dengan orang yang mengidap alzheimer, mungkin namamu akan ditanya sebanyak sepuluh kali dalam waktu semenit. Awalnya lucu, tapi lama-kelamaan kau akan merasa jenuh dan kesal. Terkadang malah kamu akan ditanya tentang zaman Belanda.
Inilah dua kemungkinan penyakit yang mungkin akan kau alami di masa tuamu. Badanmu sakit namun otakmu tetap sehat, atau otakmu sakit dan badanmu sehat.
Awalnya aku lebih memilih pilihan yang pertama, walaupun aku tak punya kekuasaan untuk memilihnya. Aku lebih suka jika badanku sakit, namun otakku masih berfungsi sebagaimana mestinya. Ini membuatku tetap merdeka. Membuatku tetap ada. Seperti kata Descartes.
"I think therefore I am."
-Descartes.
Namun pilihanku berubah akhir-akhir ini. Untuk apa punya pikiran yang merdeka jika tubuhmu sudah tidak berdaya lagi? Bukankah itu justru membuat kita menderita? Bukankah kebahagiaan adalah hal yang paling dicari di dunia ini?
Jika kaulihat nenekku, kau akan selalu melihat kebahagiaan dalam dirinya. Hobinya menyanyi, dan lagunya selalu bernada bahagia. Setiap kali ia merasa kesal selalu ia lupakan, namun tampaknya ia tak dapat melupakan kebahagiaan. Senyumnya menunjukkan bahwa ia tak punya beban dan memang ia tak punya beban. Tak ada lagi yang harus ia lakukan, ia bebas melakukan apapun yang ia suka. Ia tidak terikat ketentuan apapun. Ia hanya menggali kebahagiaan.
Bukankah ini yang dicari manusia selama ini? Kebahagiaan? Lalu kenapa mereka lebih bangga merdeka otaknya dengan menanggung segala penderitaan yang ada? Tidakkah mereka ingin melepas beban mereka untuk menjadi bahagia?
Terkadang aku tak mengerti kenapa otak ini membimbingku ke arah penderitaan. Apakah aku bisa mengendalikan hidup ini?
Lalu ketika aku kembali melihat nenekku. Ia tersenyum. Aku tengok lagi, ia tertawa. Inikah kebahagiaan sejati? Atau apakah ia justru tidak merasakan kebahagiaan? Tapi rasanya ia sangat bahagia.
Aku tak bilang menjadi alzheimer adalah hal yang baik. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa pikiranmulah yang membawamu kepada kebahagiaan, atau penderitaan. Terserah pilihanmu. Kau tinggal memilih.
Senin, 21 April 2008
Yang terakhir, sebelum berpisah...
Dulu, aku ingin bisa pergi ke masa depan. Sekarang aku justru ingin kembali ke masa lalu.
Aku tidak sadar. Waktu bergulir sangatlah cepat. Bak air yang mengalir, yang selalu membasahi bibir sungai. Laksana angin yang berhembus, selalu membawa kesejukan atau kegersangan.
Aku yang dulu, aku yang lupa akan masa lalunya. Aku yang tidak sadar akan keterikatannya yang telah terjalin selama tiga tahun ini. Aku yang dulu, aku yang tidak peduli.
Aku yang dulu, aku yang sibuk memikirkan masa depannya. Bermimpi sejuta mimpi. Berangan sejuta impian. Tak mau mencoba kembali ke masa lalu, bahkan untuk sekedar mengenang.
Tiga tahun yang cepat. Tiga tahun yang akan berakhir, sebentar lagi.
Untuk semua kenangan dan ingatan. Untuk semua memori yang terpatri. Untuk semua yang tertanam. Semoga tetap terjaga, rapi, di tempat yang layak. Paling tidak selama masih ada alasan untuk tertawa bersama atau marah bersama. Tak apa, yang penting kita seiring.
Bumi terus berputar
Langit selalu mengitar
Aku 'kan selalu mengejar
Hidup yang mengakar.
Tiga tahun yang cepat. Tiga tahun penuh kenangan. Tetaplah kau di sini.
Ini bukanlah salam perpisahan. Ini adalah pesan untuk tetap satu.
untuk alpus 1 angkatan 30, kalian yang terbaik.
Aku tidak sadar. Waktu bergulir sangatlah cepat. Bak air yang mengalir, yang selalu membasahi bibir sungai. Laksana angin yang berhembus, selalu membawa kesejukan atau kegersangan.
Aku yang dulu, aku yang lupa akan masa lalunya. Aku yang tidak sadar akan keterikatannya yang telah terjalin selama tiga tahun ini. Aku yang dulu, aku yang tidak peduli.
Aku yang dulu, aku yang sibuk memikirkan masa depannya. Bermimpi sejuta mimpi. Berangan sejuta impian. Tak mau mencoba kembali ke masa lalu, bahkan untuk sekedar mengenang.
Tiga tahun yang cepat. Tiga tahun yang akan berakhir, sebentar lagi.
Untuk semua kenangan dan ingatan. Untuk semua memori yang terpatri. Untuk semua yang tertanam. Semoga tetap terjaga, rapi, di tempat yang layak. Paling tidak selama masih ada alasan untuk tertawa bersama atau marah bersama. Tak apa, yang penting kita seiring.
Bumi terus berputar
Langit selalu mengitar
Aku 'kan selalu mengejar
Hidup yang mengakar.
Tiga tahun yang cepat. Tiga tahun penuh kenangan. Tetaplah kau di sini.
Ini bukanlah salam perpisahan. Ini adalah pesan untuk tetap satu.
untuk alpus 1 angkatan 30, kalian yang terbaik.
Sabtu, 05 April 2008
Renungan di Malam Hari
'Andai jendela waktu itu benar-benar ada itu akan sangat berguna bagiku.'
Aku ingin sesekali mengintip ke masa depan dan melihat aku yang di sana. Aku ingin tahu apa dampak dari segala keputusan yang telah kupilih, terutama yang kutetapkan pada tahun ini. Apakah itu memang yang terbaik untukku? Akankah semua yang kulakukan tahun ini mengantarkanku kepada kebahagiaan dan keberhasilan? Atau justru malah menenggelamkan aku ke dalam jurang kehancuran?
Sesekali aku ingin menengok. Apakah impianku akan berjalan seperti yang kurencanakan? Apakah semuanya sudah sesuai dengan yang kuinginkan?
Manusia memang tidak dapat melakukannya - setidaknya selama mesin waktu masih impian - oleh karena itu semuanya masih menjadi misteri. Ikhtiar bukan jaminan. Kerja keras bukan harga mati. Semuanya masih mungkin berubah dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Hidup memang misteri. Dan aku baru mulai merasakannya ketika aku menginjak usia tujuh belas tahun ini.
Hidup ini ternyata tidak mudah. Ada batas-batas yang tak tersentuh. Batas-batas yang merupakan daerah-Nya. Dan ketika kita butuh 'sesuatu' yang ada di luar batas-batas itu maka di situlah fungsi doa. Komunikasi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Tanpa perantara. Karena tidak ada istilah 'katalisator' dalam doa.
Manusia tidak boleh sombong, dan manusia tidak perlu sombong. Sombong hanyalah hak-Nya. Dan barangsiapa yang sombong maka ia melanggar hak-Nya.
'Aku ingin tahu seperti apa aku nanti.'
Sayangnya semuanya masih gelap. Semuanya masih samar. Semuanya belum terlihat. Tahun ini adalah tahun yang bersejarah bagiku. Pasti. Masa depanku tergantung pada tahun ini. Apa yang kulakukan pada tahun ini berakibat pada apa yang kudapatkan di sepanjang sisa hidupku. Dan aku masih belum tahu kelanjutan semua ini.
Aku tidak tahu. Sungguh, aku sama sekali tidak tahu. Namun aku harap semuanya akan baik-baik saja.
Ya Allah. Tolonglah aku. Tunjukkanlah aku jalan yang terbaik.
Aku ingin sesekali mengintip ke masa depan dan melihat aku yang di sana. Aku ingin tahu apa dampak dari segala keputusan yang telah kupilih, terutama yang kutetapkan pada tahun ini. Apakah itu memang yang terbaik untukku? Akankah semua yang kulakukan tahun ini mengantarkanku kepada kebahagiaan dan keberhasilan? Atau justru malah menenggelamkan aku ke dalam jurang kehancuran?
Sesekali aku ingin menengok. Apakah impianku akan berjalan seperti yang kurencanakan? Apakah semuanya sudah sesuai dengan yang kuinginkan?
Manusia memang tidak dapat melakukannya - setidaknya selama mesin waktu masih impian - oleh karena itu semuanya masih menjadi misteri. Ikhtiar bukan jaminan. Kerja keras bukan harga mati. Semuanya masih mungkin berubah dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Hidup memang misteri. Dan aku baru mulai merasakannya ketika aku menginjak usia tujuh belas tahun ini.
Hidup ini ternyata tidak mudah. Ada batas-batas yang tak tersentuh. Batas-batas yang merupakan daerah-Nya. Dan ketika kita butuh 'sesuatu' yang ada di luar batas-batas itu maka di situlah fungsi doa. Komunikasi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Tanpa perantara. Karena tidak ada istilah 'katalisator' dalam doa.
Manusia tidak boleh sombong, dan manusia tidak perlu sombong. Sombong hanyalah hak-Nya. Dan barangsiapa yang sombong maka ia melanggar hak-Nya.
'Aku ingin tahu seperti apa aku nanti.'
Sayangnya semuanya masih gelap. Semuanya masih samar. Semuanya belum terlihat. Tahun ini adalah tahun yang bersejarah bagiku. Pasti. Masa depanku tergantung pada tahun ini. Apa yang kulakukan pada tahun ini berakibat pada apa yang kudapatkan di sepanjang sisa hidupku. Dan aku masih belum tahu kelanjutan semua ini.
Aku tidak tahu. Sungguh, aku sama sekali tidak tahu. Namun aku harap semuanya akan baik-baik saja.
Ya Allah. Tolonglah aku. Tunjukkanlah aku jalan yang terbaik.
Langganan:
Postingan (Atom)
Yang Terlarang
Ini adalah kali pertama saya patah hati setelah sekian lama tidak. Kalau kemarin ada yang tanya kepada saya, apa rasanya sakit hati, akan sa...