Kamis, 10 April 2008

Kisah Keset dan Pintu


Hampir tiap cerita selalu diawali dengan kalimat "pada suatu hari". Tapi cerita ini berbeda, karena cerita ini terjadi hampir setiap hari.

Ini adalah kisah sejati tentang keset dan pintu. Dua benda yang selalu terletak berdekatan. Ibarat pasangan sejati yang tak terpisahkan. Yang dipersatukan kodrat. Dan hanya dapat dipisahkan oleh pelanggaran.

Keset adalah keset. Dan pintu adalah pintu. Selamanya begitu, sampai suatu saat ketika mereka menemukan jati diri mereka masing-masing.

Suatu ketika bekatalah keset pada pintu, "Aku iri padamu."

Si pintu kebingungan, "Kenapa? Apa gerangan yang membuatmu iri padaku. Sungguh aku ini sama denganmu. Barang buatan manusia yang diperuntukkan untuk kebutuhan manusia. Tak ada bedanya aku dan kau."

Si keset pun gusar setelah tahu si pintu tidak menyadari perasaan si keset selama ini. "Kau tidak sadar pintu. Aku dan kau berbeda. Engkau terbuat dari kayu kelapa sedangkan aku hanya dari sabutnya. Engkau berharga mahal dan dijual mewah sedangkan aku hanya diemperkan di pinggir jalan. Tak peduli ada yang melihatku untuk membelinya atau tidak. Engkau kokoh dan kuat sedangkan aku lusuh dan cepat rusak. Engkau berdiri sedangkan aku ditaruh dibawah untuk diinjak-injak."

Si pintu hanya tersenyum. Ia baru menyadari kecemburuan si keset yang begitu kekanak-kanakan. Ia tidak menjawab pengaduan kecemburuan si keset karena ia merasa tidak pantas untuk menjawabnya.

Si keset yang merasa diacuhkan pun sontak marah. "Kenapa kau hanya tersenyum?"

Si pintu pun menjawab, "Temanku keset yang selalu kuhormati. Sungguh aku tiada memiliki kewenangan sedikit pun untuk menjawab pengaduanmu itu. Kau lebih pantas menanyakannya kepada para manusia yang membuat kita ini."

Si keset mengeluh, "Para putra Adam itu? Jangan bodoh! Mereka tidak akan mendengarkan kita! Lebih dari itu mereka tidak akan mengacuhkan kita!"

"Lalu untuk apa kau mengeluh? Adakah itu bermanfaat bagimu?" desak si pintu.

Si keset terdiam kehabisan kata-kata. Lalu ia mencoba untuk memberanikan diri berkata, "Aku hanya ingin tahu... kenapa hanya kau yang dapat kenikmatan? Kenapa hanya kau yang dapat kebahagiaan? Kenapa hanya aku yang dibiarkan menderita sendirian?"

"Apakah aku kelihatan bahagia?" tanya si pintu menuntut. "Bukankah akupun sama denganmu? Diam menunggu dibuka, termangu menunggu ditutup. Aku berkuasa bukan karena kehendakku. Terkadang aku bisa mempersilahkan manusia masuk, namun hanya jika aku dibuka. Dan terkadang aku membuat mereka terkurung di luar ketika mereka lupa membawa kunci atau karena mereka pulang terlalu malam."

Si keset terdiam. Ia sedikit tertarik ketika si pintu berkata bahwa ia dapat membuat manusia terkurung di luar. Ini aneh. Karena biasanya kata "terkurung" dipakai ketika terjebak dalam suatu ruangan kecil dan sempit. Sedangkan konteks terkurung yang dipakai si pintu adalah kebalikannya. Ini menunjukkan bahwa betapa manusia sudah sangat malas untuk berada di luar. Mereka lebih nyaman jika hanya diam di rumah saja.

"Tetapi engkau... Kenapa engkau tidak bahagia?"

"Ya. Mungkin engkau melihat aku bahagia. Tetapi sesungguhnya aku sedih. Jika aku bahagia, aku bahagia hanya untuk diriku saja. Dan ketika aku melihat dirimu, aku menjadi malu sendiri. Aku tak pantas untuk jadi bahagia di saat temanku berada dalam penderitaan. Aku tak pantas menertawai kondisinya yang buruk."

Si keset pun terdiam lagi. Kini ia menyadari penderitaan yang dialami si pintu. Berbeda dengan penderitaan yang dialami olehnya, si pintu merasakan penderitaan karena orang lain. Dan itu mungkin lebih menyakitkan rasanya.

"Dilahirkan sempurna tidak menjamin kebahagiaan. Aku sudah merasakannya."

Sejak itu si keset menyadari, betapa beruntungnya dirinya yang dilahirkan dengan apa adanya ini. Kesempurnaan memang menggoda dan itu dapat menyebabkan kita terbuai. Sedangkan keterbatasan lebih membuat kita terjaga untuk selalu berada dalam jalur yang benar.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

ceritanya cool,
kreative ya ni org,
anak mana ya?
uda kuliah?

ghazi mengatakan...

waduh, makasih ya.. salam kenal deh kalau gitu..

mmm.. sekarang sih gw masih anak alpus, Insya Allah tahun ini lulus, doain ya..