Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Mei 2012

Simpati untuk Syaitan

Seorang bocah berlari dalam kompleks
Sedikit terjenggal, digilas laju mobil
kilat bak kencana
Sang ayah kontan meraung,
"Gila!"
Anaknya mati sesaat.

Seminggu, si bocah pulang ke rumah
Si ayah sontak linglung lagi takut
"Bukankah kau sudah digilas mobil gila, Nak?"
Si bocah tersenyum simpul,
tak beri sekata jua buat ayah tercinta

Si ayah digerayapi
Dihantui arwah gentayangan
anaknya sendiri
Si bocah menangis edan
Mengapa ayahnya kini malah menghindarinya?

Ayah yang dulu teman setiap waktu
Bermain dadu atau gundu
Di manapun mendampingi selalu
Idola sejati si bocah lugu
Ayah yang dulu

Si ayah cari rumah baru
Tak tahan dengan roh penasaran,
wujud anaknya sendiri
Kasih ayah-anak terhijab nyawa

Si bocah menangis edan
Sedu-sedan tak ada yang peduli
Dia kini tuyul wujud syaitan
Mana ada yang menaruh simpati?

Si bocah menangis edan
Tak punya tempat
Tak punya teman
Si syaitan menjelma keparat

Sabtu, 11 April 2009

Musisi Jazz

Aroma kopi, wangi parfum, dan bau keringat.

Ketiga elemen bebauan itu silih berganti terhirup oleh hidungku. Untung di ruangan ini tidak diperbolehkan merokok, jadi tak sedikitpun asap rokok terhirup di sini.

Kedai kopi ini terasa terlalu sempit, walaupun ini adalah kedai kopi terbesar di daerah sini. Pengunjungnya selalu membludak. Itulah penyebab kenapa ruangan yang besar ini menjadi terasa sekecil kandang ayam broiler.

Aku mengobrol dengan temanku. Topiknya masalah politik. Aku dan temanku suka dengan topik itu. Hanya pada topik ini kami bisa dengan suka hati mencela orang sepuas kami. Siapapun itu. Tak peduli kepada fakta bahwa dia adalah mantan presidenmu.

Di kedai kopi itu aku tidak memesan kopi sama sekali. Yang kupesan hanyalah sepotong croissant dan segelas air mineral. Aku tak suka kopi.

Kupanggil seorang pelayan muda, "Hei, Mas!"

"Dia minta kopi, Mas," ledek temanku.

"Enak saja," sahutku sambil terkekeh. "Aku minta croissant satu lagi. Tampaknya satu tak bisa menggenapi malam ini."

*

Senda gurau, gelak tawa, dan alunan musik.

Musik jazz.

Kedai kopi ini selalu menampilkan musisi-musisi jazz tua di hari Jumat mereka. Ini menjadi semacam magnet bagi mereka yang benar-benar pencinta jazz atau bagi mereka yang kangen akan masa muda mereka.

Aku tak begitu mengerti keindahan musik. Biasanya yang membuat aku menyukai sebuah lagu adalah liriknya, bukan musiknya yang mengalun dengan indah.

Tapi musik jazz selalu terdengar berbeda di telingaku.

*

Si pianis jazz tua baru saja menyelesaikan sebuah lagu yang langsung disudahi dengan riuh tepuk tangan penonton yang membahana di kedai kopi itu. Ia langsung menyambar microphone-nya dan berbicara beberapa patah kata. Suaranya serak, ternyata seraknya yang timbul di suaranya ketika bernyanyi itu tidak dibuat-buat.

"Piano ini bukan sembarang piano," ujarnya. "Piano ini punya nama."

Salah seorang dari penonton nekat menceletuk, "Ada akte kelahirannya tidak?"

Dan seketika seisi kedai menjadi penuh dengan gelak tawa. Si pianis tua tampak puas. Respon dari penonton memang selalu dia harapkan. Dia tak suka jika harus tampil di depan penonton yang hanya duduk manis tanpa memberi respon apa-apa. Suasana seperti ini memang sesuai dengan rencananya.

"Aktenya belum kuurus," canda si pianis tua, disambut dengan koor tawa susulan, "dan tentu saja tak akan kuurus. Piano ini tak butuh akte untuk mendaftar ke Perguruan Tinggi atau melamar kerja!"

Penonton makin terpingkal-pingkal dengan segala lelucon ini.

"Sudah berhenti dulu guyonannya, mari kembali ke topik nama piano ini," kata si pianis tua. "Aku yang memberikan piano ini sebuah nama. Namanya Ludwig, terinspirasi dari nama seorang legenda, Ludwig van Beethoven. Padahal Beethoven tidak bermain jazz."

Riuh tawa terdengar lagi.

"Ludwig hanya pernah dimainkan olehku selama masa hidupnya."

Sekarang kedai itu berubah menjadi senyap. Si pianis mulai berbicara serius.

"Dan hari ini, sejarah itu akan berubah. Seseorang--selain aku tentunya--akan memainkan Ludwig. Dan ini adalah pertama kalinya tuts-tuts seksi Ludwig bakal dijamahi oleh jemari-jemari manis yang bukan milikku."

Para penonton menyimak dengan sangat antusias. Tentunya orang yang akan ditunjukkan si pianis pasti adalah orang yang luar biasa.

"Langsung saja kita sambut pianis baru kita, Dik Hadi!"

Riuh tepuk tangan kembali meledak. Mereka semua penasaran dengan yang dinamakan Dik Hadi.

Dik Hadi naik ke panggung. Ia mengenakan celana kakhi abu-abu, kemeja putih, dan sepatu hitam yang tampak baru saja disemir. Rambutnya disisir klimis dan matanya hanya fokus pada satu arah, entah ke mana arah yang ia tatap. Dan--astaga--dia berjalan dipapah, ia buta!

Seketika setiap pengunjung di kedai kopi tersebut sadar akan kebutaan dari Dik Hadi tanpa perlu diberitahu. Dik Hadi langsung duduk di atas kursi Ludwig dan langsung mengelus-elus setiap bagian dari Ludwig.

Tiba-tiba musik dimulai. Komando benar-benar ada pada Dik Hadi. Drummer, saksofonis, bassis, serta gitaris itu benar-benar mencermati setiap alunan nada yang teruntai dari Ludwig.

Dan malam itu menjadi sangat luar biasa bagi setiap pengunjung kedai kopi itu. Semua merasa terhibur akan permainan jazz pimpinan Dik Hadi. Tak peduli apakah dia penikmat jazz atau bukan, setiap orang pasti setuju bahwa Dik Hadi bermain luar biasa malam itu. Atau malah mungkin di setiap malam.

*

Yang ada di pikiran setiap pengunjung kedai kopi itu setelah penampilan Dik Hadi hanyalah kekaguman. Dan semuanya pun menjadi berpikir tentang kebesaran Tuhan. Bagaimana seorang buta bisa menjadi seorang dewa jazz yang tak tertandingi.

Semua berpikir tentang segala usaha yang ditempuh Dik Hadi hingga sampai pada tahap ini. Pastilah itu sangat berat.

Dik Hadi memang luar biasa. Dan semua orang menjadi tersadar bahwa selama ini yang mereka lakukan belum ada apa-apanya. Mereka semua masih terlalu banyak mengeluh. Mereka semua hanya menuntut segala yang instan.

Mereka semua belum setegar Dik Hadi.

Dan Dik Hadi telah resmi mengubah tiap orang di kedai kopi tersebut sejak malam itu.

Minggu, 22 Juni 2008

Kereta Api dan Takdir


Kereta api adalah kendaraan unik. Dia tidak bisa jalan seenaknya. Dia terikat pada arah yang ditentukan oleh relnya.

Dari dulu aku suka kereta api. Menaikinya serasa jadi pengelana yang mau berpergian jauh. Entah ke mana, mungkin ke negeri antah berantah.

Sayang nasib kereta api dewasa ini tak terlalu baik. Seakan-akan menghilang ditelan peradaban yang memberi terlalu banyak ruang untuk berkembangnya alat transportasi lain seperti mobil, pesawat terbang, dan motor. Padahal kereta api adalah kendaraan paling merakyat. Sekali jalan, dia bisa mengangkut ribuan orang. Gerbongnya pun bisa dibuat jadi banyak. Tapi ada satu kelemahan kereta api yang mengganjalnya untuk bersaing lebih ketat dengan pesawat terbang dan kapal laut. Dan kelemahan ini adalah faktor utama penyebab tersingkirnya kereta api dalam kompetisi ini.

Kelemahan kereta api adalah dia tidak bisa menghasilkan banyak uang.

****

Dulu stasiun selalu penuh sesak. Sekarang keadaannya bagaikan orang lagi terdesak.

Banyak yang ingin kutanyakan tentang stasiun ini. Mengapa catnya hijau? Mengapa orang-orang hanya makan di restoran Jepang dan toko donat yang itu-itu saja? Mengapa kalau Lebaran tiba orang-orang jadi banyak yang datang?

Tapi tidak kutanyakan. Bukannya tidak mau, tapi kepada siapa aku harus menanyakannya?

****

"Aku mau pergi ke tempat yang jika aku pergi ke sana aku tidak akan bisa kembali lagi," ujarku pada penjaga loket.

Si penjaga loket terdiam sejenak. "Maksud adik?"

"Aku ingin ke Negeri Senja."

Orang-orang di sekitarku menertawaiku terbahak-bahak. Aku senang-senang saja. Berarti lawakanku dianggap lucu.

"Maaf. Tapi aku tidak jadi ke Negeri Senja karena stasiunnya bukan di sini. Aku ingin membeli tiket ke Bali saja."

"Tapi kita tidak menjual tiket untuk ke Bali, dik."

"Kenapa begitu?"

"Karena Bali dan Jakarta dipisahkan oleh laut yang membentang luas. Kereta api tidak bisa melewati laut."

"Omong kosong. Di Jepang ada kereta api yang melewati bawah laut. Aku baca itu di buku."

Si penjaga loket terdiam lagi, lalu menghembuskan sebuah napas berat. "Mungkin orang-orang Jepang mampu membuat yang seperti itu. Tapi sampai saat ini kereta api di Indonesia belum bisa seperti itu."

Dan aku pun terdiam. Bingung ingin menyalahkan siapa. Orang Jepang yang sudah terlampau pintar, orang Indonesia yang tidak berusaha untuk menjadi sepintar orang Jepang, atau si penjaga loket yang tidak membantuku berpikir.

****

Kereta api memang membutuhkan rel untuk bisa terus jalan. Dan kadang relnya tidak mencapai ke tempat-tempat yang ingin kita jangkau, sehingga kita harus mengubur impian kita untuk pergi ke tempat-tempat tersebut dengan kereta api.

Rel kereta api bagaikan takdir. Dan kereta apinya adalah usaha. Tujuan tidak bisa digapai jika relnya belum dibuat. Dan jika relnya sudah jadi, itu akan menjadi percuma kalau kereta apinya tidak memadai.

Manusia memang harus selalu berjuang untuk menggapai segala apa yang mereka cita-citakan, tapi kadang takdir berkata lain. Sehingga nasib mereka pun menjadi berbeda dari yang ada di impian.

Makanya cobalah untuk pasrah dalam segala keadaan.

Karena tak semua yang kita mau bakal terwujud jadi nyata.

****

Makanya aku bilang kereta api adalah kendaraan unik. Tidak ada duanya. Dan mungkin saja lima puluh tahun lagi kendaraan tersebut akan punah.

Koran hari itu menunjukkan bahwa harga terbang dengan salah satu maskapai penerbangan milik negara tetangga dari Medan ke negeri jiran hanya Rp. 3.000,00 saja. Entah benar atau ada unsur penipuan di dalamnya. Yang jelas jika informasi ini benar harga tiket pesawat terbang lintas negara menjadi sama saja dengan ongkos naik ojek dengan jarak paling jauh 500 meter saja.

Pantas saja. Kereta api tidak segila itu dan tampaknya tidak akan pernah. Dia bahkan tak pernah memasang iklan di koran, bukannya tak mau, tapi tak sanggup. Kasihan benar si kumpulan gerbong yang unik.

Kereta api adalah usaha, dengan relnya sebagai takdir. Mungkin sudah takdir kereta api untuk kalah bersaing dengan pesawat terbang kini, namun tidak untuk mundur sepenuhnya. Kereta api masih bisa bangkit, dan bergelut kembali dalam kompetisi memperebutkan tahta alat transportasi yang paling diminati.

Layaknya takdirku untuk berpikir kembali akan segalanya. Tentang dia.

Rabu, 28 Mei 2008

Kisah Manusia yang Terdampar


Tak ada yang tahu kapan kisah ini terjadi, dan karena apa. Tapi kisah ini bermula ketika seorang manusia terdampar di sebuah pantai yang luas. Sendirian.

Manusia itu lelaki. Ia sangat suka pantai, tapi ia tidak suka terdampar di atasnya.

Ia bingung akan apa yang harus ia lakukan.
Pertolongan tak kunjung datang, dan ia tak suka menunggu. Ia menjadi semakin tak suka terdampar di pantai. Lama-lama aku bisa tidak suka pantai juga, pikirnya.

Seketika ia merasakan dahaga yang teramat sangat. Ia butuh air. Sangat butuh. Di pantai hanya ada air laut, dan ia tak mungkin meminum air laut.

Aku bisa mati kehausan.

Ia hanya bisa pasrah pada akhirnya. Padahal dulu ia adalah lelaki yang sangat tangguh. Pasrah tak pernah ada dalam kamusnya. Tapi untuk saat ini tidak ada pilihan lain. Ia harus menyusun ulang kamus buatannya.

Lelaki itu berbaring di hamparan pasir putih itu. Bersiap-siap mati dalam sikap terhormat. Lebih baik begini, pikirnya. Aku akan tertidur pulas dan ketika terbangun aku sudah mati. Jadi aku tak perlu merasakan sakitnya mati.

Sial untuknya. Sinar matahari yang terlalu terik membuat lelaki itu sulit untuk tertidur. Aku butuh pohon untuk berlindung dari sinar matahari yang brengsek ini. Di pantai hanya ada pohon kelapa. Ah, daunnya terlalu sedikit.

Kenapa Tuhan malah menciptakan pohon kelapa di sini? Bukankah lebih baik Ia menciptakan pohon yang lebih rindang macam pohon mangga? Agar buahnya dapat kujadikan rujak sekalian?

Lelaki itu termenung cukup lama. Sambil menyesali keputusan Tuhan tentang pohon kelapa itu. Ya, itu memang benar-benar pohon kelapa.

Pohon kelapa. Ah. Tidak, Kaulah yang benar. Sungguh tepat Kau tempatkan pohon kelapa itu di sini. Daripada pohon mangga, aku tidak bisa membuat rujak. Dan kautahu itu, Tuhan.

Ini pastilah keajaiban. Setidaknya lelaki itu tidak jadi mati dalam dahaga. Mungkin ia akan mati kelaparan, dan menurutnya itu lebih baik.

Lelaki itu memanjat pohon kelapa itu dengan lincah. Dan mendapatkan buahnya. Puas bukan main melihat ia mampu mengambil lima buah kelapa yang ada di sana.

Aku tidak jadi mati. Akan kutenggak airnya sebanyak-banyaknya, aku sangat haus sekarang.

Lagi-lagi sial untuknya. Ia tak sadar bahwa kulit kelapa begitu keras.

Untuk apa Kau ciptakan pohon kelapa di sini jika Kau tak memberiku sebilah golok untuk membukanya? Haruskah kugunakan gigiku?

Si lelaki pun benar-benar tertunduk sekarang. Di sebuah tempat yang hanya ada pasir dan batu. Daratan dan lautan. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menembus kulit kelapa itu yang tebalnya paling hanya lima senti.

Lima senti yang berharga. Lima senti yang merupakan penentuan hidup atau mati.

Akhirnya si lelaki itu menyerah pada segalanya. Telah ia coba mulai dari batu karang sampai kuku-kukunya. Tak ada pengaruhnya. Justru kuku-kukunya yang patah. Dan rasa dahaganya tidak berkurang sama sekali. Malah bertambah di setiap sekon yang terasa sangat lambat.

Akhirnya, berakhirlah hidup lelaki itu. Karena ia tak mampu menembus kulit kelapa setebal lima senti itu. Karena lima senti itu.

Hidupmu juga bisa setipis lima senti. Kau harus berhati-hati karenanya.

Selasa, 06 Mei 2008

Di Balik Hujan Itu



Langit mendung sejak pagi. Menampakkan kekelaman dalam warnanya yang kelabu. Membuat suasana hati ikut murung.

Cuacanya mulai tak menentu. Hujan. Tidak. Hujan. Tidak. Ah, pilihannya hanya dua tapi sangat membingungkan. Aku pun hanya bisa diam di rumah, mengurung diri disana.

Kepastiannya baru tiba ketika petang. Ketika angin keras mulai menerjang. Hujan turun deras dengan lantang. Membuat garis perbedaan antara berkah dan musibah semakin menipis, layaknya benang yang membentang.

Hujannya deras. Hujannya lebat. Alam pun ikut mendukung. Angin ikut berhembus. Petir ikut bergemuruh. Dedaunan ikut rontok. Membuat suasana semakin mencekam.

Aku keluar rumah, membawa payung. Semilir angin berhembus tepat mengenai wajahku, membuat air hujan yang sedang turun tak henti-hentinya ikut menghantamnya. Membuat aku harus pasrah karena kebasahan. Kuyup.

Kulepas payung ini dari genggamanku. Fungsinya sudah tidak berjalan lagi dengan kondisi seperti ini. Alam menang, ciptaan manusia kalah.

Butir air hujan mengetuk-ngetuk kepalaku dengan keras. Mungkin ini teguran dari Sang Pencipta karena kesombonganku. Atau kebodohanku. Butirannya besar-besar. Terkesan padat. Hancur ketika menyentuh mukaku.

Seketika kemejaku langsung mengkerut. Menyesuaikan dengan bentuk tubuhku yang kurus ini. Rambutku langsung turun. Lendir dalam hidungku pun merengek ingin keluar. Bersin. Kedinginan. Pusing.

Kulihat sekelilingku. Semuanya sama denganku. Kehujanan. Mereka bahagia. Anak-anak kecil berlarian ceria. Orang-orang dewasa kepanikan. Siput muncul. Kodok berlompatan. Tanpa disadari, sebuah senyum kecil tersungging dari bibirku.

Aku jadi ingat masa-masa kecilku. Ketika hujan-hujanan adalah hobiku nomor satu. Tak peduli tentang konsekuensinya setelah itu. Yang penting aku bahagia, sesaat. Untuk selamanya begini.

Yang Terlarang

Ini adalah kali pertama saya patah hati setelah sekian lama tidak. Kalau kemarin ada yang tanya kepada saya, apa rasanya sakit hati, akan sa...