Kita hidup di bawah berkah yang terselip dalam aroma pagi. Bau tanah yang naik ke permukaan hingga terhirup hidung dalam suasana damai karena bumi belum lagi menjejak sibuk mampu membangkitkan gairah untuk bertahan hidup dan satu hal yang lain, memori. Ya, memori. Atau nostalgi. Perihal gila yang bisa bikin siapapun bertingkah layaknya perindu lampau.
Di antara tumpukan debu-debu memori, selalu ada satu yang kilaunya tak terperi waktu. Satu yang masih tersimpan rapi dan sering diseka dari hari ke hari. Entah apa yang membuatnya istimewa, manusia memiliki kecenderungan janggal untuk menganakemaskan satu hal dari sisanya, sementara yang ada sebenarnya sama. Kita saja yang coba membedakan. Tapi tentu saja itu tak salah. Karena penilaian adalah terserah kita. Sisanya biar rasa yang menentukan, toh yang tidak terkenan akan terbuang sendiri. Mekanisme ini memang hebat nan mandiri. Dan kita semua melakukan ini di tengah alam bawah sadar masing-masing.
Lantas di tengah proses, seringkali kita tersendak sebentar lalu berhenti. Biasanya setelah itu, kita akan sedikit menoleh. Entah ke kanan, atau ke kiri. Padahal ada aturan-aturan tertentu yang melarang kita untuk menoleh. Karena menoleh adalah urusan nostalgi. Dan orang yang berhasil selalu dituntut untuk maju ke depan. Perih bagi kita, yang merasa sebagai putra penggemar perenungan, untuk dilarang tentang hal-hal semacam itu. Tapi hidup memang kadang tidak boleh diisi dengan terlalu banyak introspeksi. Bekerja saja, kata mereka. Sisanya kita tinggal tenggak wiski hasil dari gaji bulan kemarin! Di pesta yang terakhir, aku memilih hanya meringkuk.
Ganjil memang untuk menjadi penyendiri, terutama yang peduli. Kita bisa memikirkan banyak hal tentang orang lain, tapi sama sekali tak ada dampaknya untuk mereka. Di dalam pesta kita bisa berteriak merongrong, tapi tak seorangpun mendengarnya. Karena jeritan hati yang kita lakukan cukup disalurkan lewat sanubari, bukan kerongkongan. Sementara orang-orang itu minum wiski lagi dan mengambil buah beri, kita lebih memilih untuk keluar ruangan dan mencoba bersenandung. Suara kita tak selalu bagus (tapi kita ahli dalam harmonisasi!), namun ketepatan nada adalah yang selalu diutamakan. Kita juga tak terlalu peduli improvisasi, karena rendisi terbaik adalah yang paling merepresentasikan isi jiwa si penyanyinya. Maka kita menjelma jadi penyanyi-penyanyi yang tak pernah ikut les vokal, tapi cukup banyak mendapat pelajaran dari kuliah humaniora! Dan di tengah kesenyapan malam itu (tentu tidak di dalam ruangan, karena mereka semua sedang berpesta), kita berdua mendendangkan sebuah lagu. Lagu tentang gembel jalanan yang tak tahu arti sendu apalagi pilu. Yang dia tahu hanyalah segelas susu dicampur madu, disuguhkan hangat-hangat setiap malam, sisa dari toko STMJ milik temannya yang sudah kaya. Baginya, itu adalah wiskinya di pesta malam itu.
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 10 Oktober 2013
Minggu, 21 Agustus 2011
Asumsi
Di dunia yang penuh dengan tabir misteri ini, tidak semua rahasia dapat kita singkap di balik gelambirnya. Tak ada yang benar-benar tahu, mekanisme apa sebenarnya yang berada di balik ini-itu. Tuhan saja yang bermain monopoli atas semua ilmu pengetahuan. Selebihnya, manusia hanya bisa bermain asumsi.
Seharusnya, asumsi muncul karena keterbatasan daya jangkau. Namun, muncul kecenderungan ganjil: manusia seakan hebat jika mampu membuat asumsi.
Kala asumsi dibuat, kekosongan akan ilmu yang tadinya bolong-bolong seakan terisi. Membuat yang seharusnya nihil menjadi tak muskil.
Sekarang, manusia itu seakan tahu segalanya.
Tapi, tahu segalanya belum tentu lebih baik. Karena bagaimanapun juga, asumsi tetaplah lahir dari ketidaktahuan: asalnya hanya dari sebuah ketiadaan. Kelemahan coba disulap menjadi sebuah kedigdayaan.
Padahal seharusnya manusia lemah ketika terlalu banyak bermain asumsi.
Dan ketika semua hanya diterka-terka, dikira-kira; yang tersisa hanyalah ketidakpastian. Karena yang pasti hanya digenggam oleh Tuhan. Maka, pada genggaman Tuhan itulah hidup kita bergantung. Termasuk tentang perihal cinta.
Jumat, 03 Juni 2011
Hanya Sebagian, tapi Sudah Beda
Lelaki : Bahkan aku belum lagi tahu namamu.
Perempuan : Tapi aku tahu namamu. Benarkah kau tidak tahu namaku?
Lelaki : Hanya sebagian yang kutahu.
Perempuan : Kau tahu namaku hanya sebagian, tapi kau sudah membedakan aku dari yang lain.
Kudengar pada pementasan teater "Visa", Teater Salihara, Jumat (3 Juni 2011). Dialog ini ditulis dengan hanya mengandalkan ingatan, jadi sangat mungkin terdapat perbedaan (kecil) dari naskah aslinya.
Entah kenapa, aku merasa adegan ini seperti dibuat untukku. Kisahnya mirip dengan satu momen yang pernah kualami.
Jumat, 14 Januari 2011
Pagi
Segala puji bagi Tuhan yang telah menjadikan sosok pengawal hari dalam wujud pagi, sesuatu yang damai, tenteram, dan—seharusnya—tanpa pertumpahan darah.
Pagi selalu diisi dengan suara-suara dari burung yang berkicau. Menyanyi dengan indahnya, walau tak seorangpun tahu apa liriknya. Mengeluarkan senandung termerdu, lebih dari biduan manapun yang pernah ada di dunia ini. Jika ada kontes menyanyi dari seluruh makhluk Tuhan, aku yakin burung akan menjadi pemenangnya. Mutlak.
Mengawali harus dengan sesuatu yang baik. Karena awal biasanya menjadi kunci untuk seterusnya. Manusia cenderung lembam. Oleh karena itu, awal haruslah seagung mungkin. Dilakukan sambil berharap akhir bakal mengikuti, atau malah melebihi.
Tuhan menciptakan pagi bukan tanpa alasan. Tuhan membuat pagi bukan hanya untuk dilewati begitu saja. Di antara setiap waktu yang diciptakan-Nya, aku paling menikmati pagi.
Pagi memberi semangat untuk memulai, karena pagi adalah saat yang pas untuk mulai membuka mata. Pagi adalah saat yang cocok untuk mulai menggerakkan badan, menjemur diri di tengah siraman sinar matahari yang katanya punya banyak khasiat. Pagi juga merupakan saat yang tepat untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Udara segar bakal kaudapatkan, setelah kehidupan sempat berhenti sepanjang malam untuk alasan yang katanya dinamakan istirahat.
Pagi adalah awal. Terlebih lagi, pagi adalah awal yang sempurna. Namun, sayangnya, pagi sering diacuhkan.
Sungguh malang bagi mereka yang mengacuhkan pagi.
*
Di suatu pagi, aku sudah siap mengawali hari. Baru membuka mata, sudah terbayang satu bayangan di kepalaku. Dia. Tapi itu hanya ada di kepalaku. Entahlah. Apakah suatu saat nanti, dia bakal benar-benar mengisi pagiku sambil mengamatiku terbangun dari lelapku dengan gigi bertabur jigong dan mata berhias kotoran mata—keadaan paling berantakkan dari yang mungkin kutampakkan—atau tidak.
Rabu, 05 Januari 2011
Ceritaku
Dunia ini kaya dengan cerita, mulai dari cerita dongeng yang membuat seorang anak kecil bermimpi menunggangi seekor naga ganas sampai cerita fiksi yang mengisahkan seorang pembunuh berantai yang melakukannya hanya karena tidak mengetahui bahwa membunuh itu salah.
Dan semua cerita itu mengisahkan tentang cinta, dengan caranya masing-masing.
Dalam beberapa hari ini, aku banyak mendapatkan cerita baru. Masing-masing cerita punya karakter yang saling menunjukkan keunikannya. Yang terkadang bisa menampilkan sisi manis, lucu, atau menyebalkan. Namun, cinta selalu mengambil peran di sana, dalam wujudnya masing-masing, karena wujud cinta tergantung kepada sisi yang ditampilkannya.
Setiap cerita adalah indah dalam caranya masing-masing, dan kita tidak selalu harus menikmati keindahan dari masing-masing cerita itu. Karena setiap orang punya rasa, dan rasa itu personal.
Setiap cerita adalah indah dalam caranya masing-masing. Makanya tidak semua orang bilang cerita Shakespeare itu menakjubkan atau cerita percintaan antara vampir dan manusia itu buruk. Kita tidak perlu mempermasalahkan rasa, selama kita masih memilikinya masing-masing.
Dan rasa yang ada padaku, semakin menjadi. Menjelma ke dalam wujud yang begitu menenangkan sekaligus indah, dalam satu tempat.
*
Ada banyak penulis cerita yang hebat, lebih banyak lagi orang yang terpesona karenanya. Suka atau tidak, kita tidak perlu menyesuaikan rasa yang ada dengan rasa yang mereka punya. Dunia indah karena diciptakan beragam. Buat apa semua orang menjadi sama?
Di antara jutaan cerita cinta yang ada, ada satu yang istimewa, setidaknya bagi rasaku. Cerita itu mungkin masih belum tersebar.
Karena saat ini, aku sedang menjalani cerita itu. Inilah ceritaku.
Kamis, 30 Desember 2010
Memori 2010
Revolusi bumi berjalan dengan sangat cepat. Atau sangat lambat. Kata Einstein, waktu itu relatif. Lintasan bumi dalam mengelilingi matahari di alam semesta yang luas ini memang sangatlah panjang. Melewatinya sampai butuh waktu lebih-kurang 365 hari bumi, padahal lintasan tersebut sudah coba dilewati dengan kecepatan yang tak akan ditandingi oleh seekor cheetah yang berlari. Waktu yang sangat lama.
Tak terasa (bagiku), waktu 365 hari itu sudah berlalu begitu saja. Dalam sekejap. Meninggalkan yang telah terjadi di belakang untuk kemudian menyongsong apa yang telah menunggu di depan. Untuk tahap pertama selanjutnya: 365 hari berikutnya.
365 hari kemarin kita sebut dengan nama 2010. Tahun yang diambil dari penanggalan Masehi. Penanggalan yang perhitungan tahunnya didasari pada revolusi bumi terhadap matahari.
Bumi sudah mengelilingi matahari satu kali lagi. 2010 sudah usai, 2011 telah menanti.
*
2010 tidak berlalu begitu saja. Ia pergi dengan meninggalkan banyak kenangan. Mulai dari yang terpahit sampai yang terindah. Mulai dari permasalahan perut sampai cinta.
Semua kejadian di 2010 telah tersimpan rapi dalam otak kita masing-masing. Mungkin beberapa akan kita lupakan. Namun, pasti, yang berkesan akan selalu kita kenang, sepanjang kita sanggup mengingatnya.
*
2010 berperan cukup menyenangkan bagiku. Aku senang menjalani tahun ini. Jutaan kenangan diciptakan di tahun ini. Dibuat oleh dimensi waktu yang ternyata sama sekali tidak terpisahkan dari dimensi ruang yang ada.
Banyak sekali memori yang terkenang dari 2010. Di antara sekian banyak itu, salah satunya punya makna yang teramat penting bagiku: aku jatuh cinta untuk kedua kalinya.
Senin, 27 Desember 2010
Kilat di Siang Hari
Aku takut. Benar-benar takut.
Aku sendiri. Benar-benar sendiri.
Ternyata inilah alasan kenapa manusia tak boleh sendiri. Agar ketika dia ketakutan, dia bisa mencari perlindungan dari orang lain. Atau sekedar membagikan perasaan yang menggunung di hati.
Aku takut, tapi aku tahu, aku harus berani. Karena ketakutan ini muncul akibat harapan yang terlalu tinggi. Semoga harapan ini memang tidak terlalu tinggi.
Tuhan, berikanlah aku keberanian.
Jumat, 22 Oktober 2010
Kabar Darimu
Kadang aku cuma berpikir cara agar dapat bisa menanyai kabarmu dengan leluasa, tanpa canggung sedikitpun, tanpa ragu setitikpun.
Dangkal mungkin, tapi bagiku itu berarti banyak. Selama ini aku berusaha untuk menempuh banyak cara, banyak jalan untuk mencapainya. Setiap kali berhasil menjalaninya, aku senang. Senang luar biasa. Namun, di balik luapan rasa senang yang membuncah itu, terselip rasa kuatir yang mungkin sedikit tak beralasan. Bagaimana jika cara itu sudah kucoba semua? Bagaimana jika pilihan jalan yang tersedia sudah habis? Aku benar-benar kuatir hal itu benar terjadi.
Selama ini aku coba segala cara kebanyakan tanpa pikir panjang. Kadang setelahnya aku menyesal, tak mampu memanfaatkan kesempatan dengan sebaik mungkin. Aku tak bisa menyalahi diriku, aku selalu berhasil dibuat tak berdaya di depanmu. Kau terlalu hebat dalam mengacaukan pikiranku.
Kadang aku juga berkesempatan mendapat jalan itu dengan tidak sengaja. Secara tidak direncanakan, aku mendapatkannya. Mungkin ini adalah hadiah dari Tuhan. Tuhan memang baik. Mahapemurah. Aku saja yang bodoh, tak mampu memanfaatkan hadiah dari Tuhan Yang Mahapemurah tersebut.
Semua itu kulakukan cuma untuk satu hal: mengetahui kabarmu. Dangkal memang, tapi bagiku itu penting.
Sabtu, 10 Juli 2010
Kupanggil Kamu Nona Misteri
Sore itu, kutemui kamu. Biasa saja. Tak ada yang istimewa.
Senyum merekah yang terajut dalam raut mukamu ketika kita berdua berkenalan meninggalkan pesona, memang, namun apa yang tertinggal dalam pesona itu menguap begitu saja, tertutupi oleh senyum-senyum lain yang memang sedang banyak bertaburan hari itu.
Kulihat kamu selalu tersenyum. Aku suka dengan orang yang tersenyum, makanya aku mulai menaruh perhatian padamu.
Banyak orang tersenyum, tapi tak banyak orang yang selalu tersenyum. Kamu istimewa karenanya.
Bahkan, di tengah kesendirianmu, kulihat kamu masih melebarkan jarak antara kedua ujung bibirmu itu. Aku iba melihatmu. Kamu terlihat seperti seekor zebra yang terpisah dari kawanannya, tapi kawanan zebra yang lain masih ada dalam jarak pandangmu. Sesekali kamu mengunjungi kawananmu, tapi tak jarang kamu malah menjauhinya, kadang mengunjungi kawanan yang lain. Terus mengelana tak tentu arah.
Oleh karenanya, kamu kupanggil Nona Misteri, yang nama lengkapnya saja masih belum kuketahui.
Entah mengapa kamu tidak begitu sering terlihat dalam kawanan zebra yang sama. Mungkin pengamatanku--sebagai pemburu--salah. Tapi aku benar-benar menaruh perhatian kepadamu. Aku terus mengawasimu. Seperti selayaknya seorang pemburu. Tapi sepertinya ada sesuatu yang tak layak di sini. Mungkinkah seorang pemburu jatuh cinta pada buruannya?
Ah, terlalu dini untuk mengklaim ini sebagai cinta. Aku masih hanyalah seorang pemburu yang sedang mengawasi sekelompok kawanan zebra. Tapi entah kenapa ada satu zebra yang tak pernah luput dari pantauanku. Teropongku tak mau pindah dari sekujur tubuhnya.
Andaikan zebra itu bisa kutarik, kutarik kamu. Kutanyakan segala hal yang ingin aku tahu tentang dirimu. Aku ingin dekat denganmu. Aku ingin kita jadi kawan berbagi. Entah sejauh apa kamu mendefinisikannya.
Yang jelas, aku tak ingin kamu tetap menjadi Nona Misteri bagiku.
Jumat, 18 Juni 2010
Hari Ini Aku Musuh Setiap Orang
Hari ini aku musuh setiap orang.
Walau mungkin tidak begitu dengan orang-orang itu, tapi aku menganggapnya demikian. Sesekali aku juga ingin berpandangan egois. Oh, walaupun itu bakal dicerca mulai dari sahabat sampai pemuka agama. Karena hari ini--anggap saja--aku musuh setiap orang.
Menjadi musuh setiap orang memang tidaklah menyenangkan. Tapi terkadang menjadi teman setiap orang, tanpa satupun musuh sama sekali juga tidak begitu menyenangkan. Dan--setahuku--tidak ada orang di dunia ini yang menjadikan setiap orang sebagai musuh. Kenapa tidak kucoba?
Hari ini aku mengawali hari dengan cukup baik. Hambatan ini dan itu di pagi hari teratasi dengan cukup dingin. Pagi yang antisipatif.
Beranjak ke siang, matahari mulai menyongsong ke ubun-ubun. Tidak ada yang banyak berubah. Hari menjadi semakin penuh dengan canda dan tawa. Banyak kebahagiaan. Sungguh indah.
Siang sedikit berlalu. Mencapai sore. Sedikit membosankan, tapi tetap saja ini bukanlah hari yang buruk.
Tapi siapa yang sangka malam bakal mengubah segalanya? Malamnya yang dimaksud pun merupakan penghujung hari. Hidup memang penuh dengan kejutan. Seperti kotak kado ulang tahun, isinya bisa berupa cokelat atau ular tidak berbisa.
Malam hari ini memang terlalu berbeda dari sorenya, siangnya, atau paginya. Bahkan sampai aku memutuskan untuk memusuhi setiap orang di hari ini pada malam harinya. Tapi pelajaran selalu dapat dipetik.
Kesalahan atau bukan kesalahan, semuanya pasti bermanfaat. Ambil saja manfaatnya. Hidup kenapa dibuat ribet?
Hari ini aku musuh setiap orang. Aku jadi ragu. Aku butuh teman ketika belajar.
Kalau begitu--
Aku temani saja setiap orang di hari ini.
Minggu, 23 Mei 2010
Pulang
Beberapa hari yang lalu, ibuku bertanya, "Kapan pulang lagi, Nak?"
Pulang.
Kata-kata itu sudah lama tak terpikirkan olehku. Makna yang teraurakan dari kata itu pun sudah berubah bagiku. Bergeser menjadi sesuatu yang lain. Yang tak terjelaskan oleh akal dan logika, tapi mampu dijabarkan secara rinci oleh pengalaman dan pembelajaran.
Bagiku, pulang adalah kembali ke rumah. Masalahnya, di mana rumahnya?
*
Aku adalah perantau. Memang bukan perantau jarak jauh, tapi yang jelas aku adalah seorang perantau.
Aku hidup jauh dari keluarga kandungku. Aku jauh dari mereka yang biasanya selalu ada di sampingku ketika aku sedang gundah gulana, aku jauh dari mereka yang mau membuatkanku secangkir teh hangat pahit ketika aku demam. Aku jauh dari mereka dan aku jauh dari kasih sayang itu.
Jaraknya memang tak sejauh dari Aachen sampai Baghdad. Hanya dua jam waktu yang kubutuhkan untuk bertemu keluargaku kembali. Tapi entah kenapa aku jarang menemukan dua jam itu.
Ketika rutinitasku tiap hari memaksaku untuk terus berkutat di tempat lain yang jauh dari rumahku yang sebenarnya sehingga aku terpaksa mencari tempat tinggal lain yang bisa kufungsikan sebagai rumah, aku jadi bingung. Yang mana yang harus kuanggap sebagai rumah?
*
Perantauanku beralasan. Bukannya seperti sepasang kekasih yang kawin lari ataupun kaburnya seorang buronan pembunuh sekaligus pemerkosa berantai. Aku merantau untuk menuntut ilmu. Jiwa mudaku yang sedang bergejolak ini memang haus akan ilmu.
Katanya perjuangan menuntut ilmu tak boleh dibatasi oleh jarak. Katanya menuntut ilmu adalah sesuatu yang baik sekaligus mulia. Tapi semua ini mengerucutkan masalah ke satu akar yang lain: toleransi.
Se-tak-pernah-ditidurinya rumahmu yang sebenarnya, dia masihlah rumahmu. Kau tak mungkin melupakannya. Sekalipun kau meninggalkannya untuk jarak yang jauh, untuk alasan yang katanya terhormat, rumahmu tetap menunggumu pulang. Dia tetap diam di tempat. Tidak beranjak sedikitpun, menunggu kau datang, membuka pintu masuknya dan seraya menghembuskan nafas lelah kau rebahkan tubuhmu ke atas ranjang yang terletak di kamar, dan seketika rumahmu bakal tersenyum, senang karena tuannya telah datang kembali dan rela melepas lelahnya di dalamnya. Rumah bakal selalu menjadi tempat ternyaman untuk beristirahat, dan tempat terindah untuk bersenda gurau.
Kau mungkin tak peduli pada rumahmu sekarang, tapi suatu saat, kau akan peduli kepadanya. Rumahmu masih berharga karena dia masih memiliki alasan untuk dikunjungi: di sana, kau ditunggu untuk pulang.
Mungkin dulu selewat waktu maghrib, seisi rumah langsung cemas jika kau masih belum pulang. Mereka cemas karena kau ditunggui. Tak ada yang lebih tegar dalam menunggui selain rumah dan seisi penghuninya.
Kata orang, menunggu adalah hal yang paling menjemukan, dan rumah rela melakukan hal itu untukmu. Kata orang, orang yang datang tidak tepat waktu sangatlah menyebalkan, dan rumah tidak mempermasalahkan hal itu. Selama kau masih pulang, selama kau akan pulang.
Aku beruntung. Masih ada yang menungguiku pulang di rumah. Karena suatu saat, mereka pasti bakal pergi meninggalkanku juga. Selagi masih ada kesempatan untuk pulang, kenapa tidak kita manfaatkan?
Pulang menjadi berharga karena ada yang menunggui kita melakukan hal itu. Hari ini aku belajar tentang itu.
Ini, itu. Pulang.
Aku kangen pulang.
Jumat, 09 April 2010
Ranting-Ranting Cinta Baru
Cintaku mulai tumbuh lagi.
Cintaku mungkin sekarang seperti ranting pohon. Dia tumbuh lagi dan lagi serta terus membentuk cabang-cabang baru. Dia indah karena diujungnya bisa saja muncul bunga atau buah dengan beraneka warna. Cintaku sedang indah-indahnya.
Tapi aneh. Cintaku tak pernah kubiarkan berkembang. Tiap kali rantingnya bercabang, dia kupangkas. Sekali bercabang lagi, kupangkas lagi. Oh, haruskah?
Ranting pohon di pekarangan rumah memang bakal selalu kita pangkas agar tampangnya selalu cantik terlihat, agar ukurannya selalu menjadi proporsional dan pas untuk dimensi tempatnya. Segala sesuatu yang berlebihan itu memang tidaklah baik, termasuk ukuran pohon di pekarangan rumah kita.
Lalu bagaimana dengan cinta? Tidak bolehkah ia tumbuh terlalu liar sampai detak jantungku selalu menggebu-gebu ketika dia tiba? Haruskah kuhambat pertumbuhannya yang sedang dalam fase optimal? Haruskah kupangkas ranting-ranting cinta tersebut?
Sungguh sayang, sungguh sayang. Tapi hidup memang tak boleh berlebihan. Karena jika cinta itu diisi terlalu banyak, wadah hati kita tak akan sanggup menampungnya sehingga cinta itu malah tumpah dan bercecer ke mana-mana.
Kamis, 01 April 2010
Busuk
Dunia ini dipenuhi oleh tukang contek. Dunia ini dipenuhi oleh penipu. Dunia ini dipenuhi oleh para korup. Dunia ini dipenuhi oleh pendusta. Dunia ini dipenuhi oleh pemalsu. Dunia ini dipenuhi oleh kepalsuan.
Dunia ini tersamarkan oleh bau busuk yang menusuk hidung. Dunia ini tertutupi oleh kabut tebal bernama rekayasa. Dunia ini memakai topeng, dan tidak ada yang pernah bisa membuka topeng itu.
Dunia ini dipenuhi oleh penggemar mi instan. Dunia ini dipenuhi oleh penikmat kopi kemasan sachet. Dunia ini dipenuhi oleh pecandu makanan cepat saji. Dunia ini dipenuhi oleh penonton MTV.
Dunia ini dikutuk, dan terkutuk. Dunia ini jadi ajang adu kutuk.
Dunia ini terlalu fana. Dunia ini terlalu memesona untuk sebagian besar penghuninya.
Dunia ini menyediakan kesenangan sebagai perangkap, dan merupakan ujian bagi kita untuk melepaskan diri dari perangkap tersebut.
Dunia ini penuh dengan pembohong, yang ketika kebohongan mereka terungkap, mereka berebut bilang, "Tidak!"
Senin, 01 Februari 2010
Seperti Kilatan Petir
Spontan. Banyak yang terjadi secara tak sengaja. Tak direncanakan. Tak diatur. Tiba-tiba terjadi dan ketika kita menyadarinya, yang ada tinggal keterkejutan.
Sontak aku dibuat kaget. Darimana pula datangnya ini?
Seringkali manusia berbicara tanpa sepenuhnya berpikir. Mereka membawa arah pembicaraan sesuai arus yang sedang mengalir kuat.
Sehebat-hebatnya atlit arum jeram, mereka bakal mengayuh dengan menyesuaikan arus sungainya. Gegabah jika dia mencoba melawannya, bodoh. Alam terlalu kuat untuk tubuh manusia yang didesain lemah ini.
Yang melawan arus, dialah yang mati. Yang berhasil melawan arus, dialah yang juara. Sangat menarik kalau peraturannya dibuat begini.
Akhirnya manusia menemui risiko, sesuatu yang tidak akan bisa dihindari. Sekalipun kita lari dari padanya. Bahkan proses larinya sendiripun sebenarnya mengandung risiko yang mungkin saja lebih besar daripada jika kita memilih untuk menghadapinya.
Risiko memang bukan untuk dihindari, risiko untuk dikendalikan.
Kita tak tahu apa yang ada di balik tabir kabut tebal yang menghalangi pandangan kita akan masa depan. Bahkan kita buta akan masa kini, atau--lebih parahnya lagi--masa lampau.
Manusia tidak sepenuhnya sadar akan keadaannya. Dan manusia memang perlu untuk disadarkan akannya. Manusia, sejujurnya sangat pelupa.
Atau itu hanya berlaku bagiku.
Jumat, 15 Januari 2010
Kereta Api Lagi
Hari ini aku naik kereta api lagi. Aku naik dari Bandung, bukan dari Gambir. Tujuanku adalah Gambir, bukan Negeri Senja.
Kereta api itu penuh walau musim mudik sudah lama terlewati. Sekarang pun bukan musim liburan panjang yang mendorong orang untuk bepergian jauh dengan kereta api.
Namun kereta itu penuh.
Aku optimis kereta api mampu bertahan melawan arah gerak zaman. Tak peduli seberapa canggih kendaraan lain diciptakan, seberapa nyaman kendaraan lain didesain. Kereta api tetap punya nilai sakral yang kokoh menantang perubahan.
Tapi ada satu kekhawatiranku.
Aku curiga, kebanyakan penumpang tadi tidak membayar tiket.
Sabtu, 12 Desember 2009
Tim
Ada perbedaan yang cukup tegas antara pemimpin dan penggerak. Mungkin ini hanya masalah penafsiran saja, tapi hal terburuk yang dapat ditimbulkan bahasa adalah kesalahan penafsiran.
Belum lama ini aku menonton film lama yang berjudul Gung Ho. Sebuah film yang menceritakan tentang perusahaan Jepang yang mengambil alih sebuah pabrik kosong di Amerika Serikat dan mengubahnya menjadi sebuah pabrik mobil dengan sistem kerja ala Jepang. Tak perlu waktu lama, langsung terlihatlah perbedaan yang sangat mendalam antara etos kerja, budaya, dan ideologi dari orang Jepang dan Amerika.
Di film itu digambarkan betapa orang Jepang sangat menghargai kerja sebagai tim, dan yang dibutuhkan untuk membentuk sebuah tim yang kuat adalah loyalitas. Loyalitas ini juga berbentuk pengorbanan sampai batas-batas yang tak bisa ditalar oleh akal sehat orang Amerika, seperti mengorbankan keluarga demi perusahaan. Selain itu, hal lain yang juga dipegang teguh oleh orang Jepang adalah kedisiplinan. Dan orang Jepang juga sangat takut gagal karena jika mereka gagal, mereka harus menanggung rasa malu yang dapat membuat mereka sampai bunuh diri. Sebegitu tinggi etos kerja mereka.
Sedangkan orang Amerika digambarkan sebagai pribadi yang santai, target seadanya, dan cenderung mengutamakan diri sendiri daripada perusahaan dalam bekerja. Hal ini membuat mereka heran akan perlakuan-perlakuan yang dilakukan oleh orang Jepang. Mereka menertawakannya lalu memakinya.
Apa yang digambarkan di film memang bisa saja tidak sama persis dengan fakta sebenarnya karena film mengambil perbandingan untuk dua kondisi ekstrem dan tentu saja ada unsur komersialisasi yang wajib diperhitungkan. Tapi setidaknya kita dapat gambaran umum akan dua tipe pekerja tim, "Jepang" dan "Amerika".
Lain halnya dengan yang kualami di dunia nyata. Belakangan ini aku tergabung dalam dua tim yang berbeda. Di satu tim, aku bertindak sebagai penggerak utama walau tidak pernah dirundingkan untuk menjadi seperti itu. Di tim yang lain, aku hanya berperan sedikit saja mereka, bahkan cenderung nihil.
Kontribusi butuh pengorbanan, loyalitas apalagi. Masalahnya sejauh mana kita harus memberikan kontribusi dan loyalitas tersebut kepada tim kita?
Akhirnya banyak orang yang menggiring jawabannya ke arah prioritas. Sebuah jawaban yang justru akan membuatku semakin bertanya tentang dasar-dasar apa yang membuat kita menentukan prioritas.
Sejauh yang kutahu, hidup ini butuh tujuan, dan tujuan itulah yang membuat kita mau berbuat ini dan itu. Sejauh mana kau mau berikan kontribusimu adalah sejauh kontribusimu dapat membantu mencapai tujuanmu. Sejauh mana kau mau berikan loyalitasmu adalah sejauh loyalitasmu dapat membantu mencapai tujuanmu.
Banyak orang berpendapat seluas lautan, berkoar-koar tentang tim, tapi yang dilakukan nihil. Wajar saja. Mungkin itu tidak membantunya mencapai tujuannya.
Orang lain memang seringkali menjadi masalah ketika kita bekerja sebagai tim, tapi kita sering lupa kalau masalah tersebut bakal menjadi lebih besar lagi jika kita hanya bekerja sendiri.
Kontribusi atau loyalitas atau kotoran kambing apapun. Cukup hargai saja timmu. Berikan respek terhadap setiap anggota. Tak usah banyak berkoar-koar karena nasehat lebih efektif jika disampaikan tanpa ucapan.
Yang dibutuhkan tim hanyalah kesadaran untuk saling respek.
Jumat, 02 Oktober 2009
Media Galau: Musik dan Kopi
Kopi. Kafein dan begadang. Terjaga karena kondisi fisik yang dipaksa insomnia. Salah satu cara untuk menikmati kesunyian malam dan terlarut dalam kesendirian yang mendalam. Kopi yang juga bisa menumbuhkan inspirasi. Berbagai ide gila bisa bermunculan dari sana. Mulai dari membuat parasut dari sprei hotel sampai menggunakan obeng untuk membersihkan lubang hidung. Entah ide ini muncul karena pengaruh kafein pada kopi atau karena kondisi tidur-ayam yang sedang dialami. Kondisi tidur-ayam memang memungkinkan manusia untuk menjadi lebih terbuka dalam menemukan ide-ide brilian. Ataukah kondisi tidur-ayam ini disebabkan dari insomnia-yang-dipaksakan akibat kafein?
Kopi. Pahit dan rasa-rasa tambahan lainnya. Pahit harus ada dalam kopi. Kalau kopi tidak pahit, status kekopiannya perlu dipertanyakan. Pahit ini ada dalam berbagai macam kadar. Mulai dari yang cuma muncul sepersekian detik saja di lidah sampai pahit yang bisa membuat seekor tikus terkejut. Pahit ini muncul untuk mengingatkan, bahwa dunia ini punya bagian yang tidak mengenakkan. Dan kau harus merasakan itu. Mau-tidak-mau dan suka-tidak-suka. Kau harus merasakannya.
*
Musik. Aku mendengarkan Blur, kau mendengarkan Norah Jones. Aku ganti dengan U2, kau shuffle menjadi Kings of Convenience. Terakhir, kau minta Celine Dion untuk dimainkan. Aku protes. Kauganti permintaanmu menjadi Michael Jackson. Barulah kita bersenandung bersama.
Musik. Temanku bilang bahwa ada musik tertentu yang bisa membunuhmu. Sebegitu menghipnotisnya dia. Sesuatu yang membuat ketagihan sekaligus kecanduan. Dan kalau batas kecanduan sudah terlewati, tinggal tunggu dia untuk menghancurkanmu.
Musik. Gerbang ke dunia lain. Dunia kebebasanmu, sekaligus kamar penjaramu. Labirin pengantarmu, juga kereta penjemputmu. Jalan setapak menuju hutan hujan tropis yang lebat, dan jembatan kayu kecil untuk menyeberang sungai dengan aliran yang bisa membuat perahu kano terberat menjadi terguling.
Musik. Pelampias emosi. Penumpah rasa. Pengantar lamunan.
Musik. Prolog dunia. Karena dunia yang sebenarnya sudah menanti dari tadi.
*
Aku mau terbebas sejenak dari jeratan rutinitas duniaku yang kadang membuatku meraung-raung ini. Aku ingin keluar sebentar dari semua ini. Hanya sebentar. Benar-benar hanya sebentar. Kebetulan kopi dan musik bisa mengantarkanku ke gerbang keluarnya. Oh, tidak. Tidak perlu sebuah mariyuana atau lem aibon untuk keluar dari duniaku. Sekali lagi: cukup kopi dan atau musik.
Kopi. Musik.
Banyak pengantar lain yang mampu membawaku sampai ke gerbang keluar sementara dari duniaku ini, namun sayangnya kebanyakan dari mereka tidak menjemputku lagi sehingga aku bermain di luar terlalu lama.
Selasa, 02 Juni 2009
Lukisan Abstrak
"Yang ini menggambarkan kesedihan."
Kulihat gambarnya. Sebuah patung batu yang bentuknya menyerupai seorang manusia yang sedang meraung sambil berlutut. Mungkin pembuatnya menemukan barang ini dari kali di depan rumahnya.
"Kalau yang ini tentang kemurahhatian."
Kali ini sebuah lukisan. Isinya tentang seorang anak kecil yang membantu seorang nenek yang sedang sakit. Anak kecil itu adalah cucunya, justru kurang ajar namanya kalau cucu itu tidak menolong neneknya.
"Atau mungkin Anda tertarik dengan yang ini."
Lukisan lagi. Gambarnya tidak jelas. Mungkin ini yang disebut orang sebagai gambar abstrak yang katanya hanya bisa dimengerti oleh orang-orang tertentu saja. Lalu kenapa benda seperti ini diperlihatkan ke umum? Toh, yang bisa menikmatinya hanya kalangan tertentu saja!
"Memangnya ini gambar apa?"
"Ini namanya seni abstrak, Pak. Sebuah seni yang benar-benar mengutamakan kebebasan berkarya sehingga referensi yang dipakai di sana berbeda dengan referensi di dunia nyata."
"Oke, aku tahu itu. Namun apa artinya gambar ini?"
"Ini adalah gambar tentang sebuah kebahagiaan. Sebuah perasaan yang meluap-luap yang dinantikan oleh siapapun juga."
"Apa bentuk kebahagiaan itu?"
"Di dalam seni abstrak tidak dijelaskan hal yang seperti itu. Segalanya dipandang dengan cara yang sangat umum."
Aku mengangguk. "Oke, itu semua sudah cukup."
Kebahagiaan itu seharusnya tecermin dari gambar itu. Gambar dengan goresan goren tinta yang mengarah ke luar. Cukup menegaskan bahwa pembuatnya tidak punya niat menggambar sebuah bangunan.
Mungkin yang namanya kebahagiaan memanglah abstrak. Kalau yang lain bisa dicontohkan dari kondisi riil yang benar-benar ada di dunia ini.
Aku berjalan keluar dari pameran tersebut. Meninggalkan semua karya seni bernilai tinggi yang siap dibeli oleh jutawan-jutawan dari seantero dunia.
Lukisan itu betul. Kebahagiaan memang abstrak.
_
Sumber gambar: Barnett Newman, Onement1.
Selasa, 26 Mei 2009
Monopoli Kehidupan
Aku melangkah tiga petak. Sebuah "kesempatan". Lama aku berdiam diri seraya berdoa dalam hati agar "kesempatan" ini adalah sesuatu yang baik. Aku benar-benar butuh uang.
Terlalu lama aku membuat mereka menunggu. Sudah, kubuka saja kartu itu.
Entah kenapa tiba-tiba pandanganku buyar. Untuk sesaat aku tidak bisa melihat dengan jelas.
Ketika pandanganku pulih kembali, yang kulihat ialah sebuah tulisan "ONGKOS PERBAIKAN JALAN, BAYAR KE BANK $250". Hancur sudah segalanya.
Aku resmi bangkrut, lirihku dalam hati.
*
Ini adalah minggu berikutnya. Permainan dimulai kembali dari awal.
Aku harus menerapkan strategi yang berbeda, ujarku dalam hati. Kali ini akulah yang menang.
Dadu mulai digulirkan. Bidak mulai bergeser. Langkah demi langkah. Petak demi petak. Hingga semua orang terlarut dalam kebahagiaan yang dibawa oleh permainan klasik tersebut.
Nama permainan ini adalah Monopoli. Orang yang dianggap menang di sini adalah orang yang mampu memonopoli seluruh lahan yang ada dalam papan permainan.
Menjadi penguasa tunggal.
Dibutuhkan strategi ekstra untuk saling mengalahkan karena pada dasarnya setiap orang punya modal yang sama. Kecuali faktor luck. Yang satu itu memang sulit diperhitungkan.
Akan tetapi, terkadang faktor luck-lah justru yang menjadi penentu siapa yang menjadi pemenang.
Pemenang yang ditentukan dari keberuntungan. Penguasa tunggal yang beruntung.
Guliran dadu, setiap tindakan yang dipilih, isi dari setiap "kesempatan" yang didapatkan. Semuanya penentu kemenangan. Semuanya ditentukan oleh luck tersebut. Yang--sepertinya--segalanya telah tertulis dan tinggal menunggu untuk terjadi.
Andai saja kehidupan ini tidak serumit ini. Yang bisa diandalkan melalui luck saja.
Namun, bagaimana kalau ternyata kehidupan ditentukan oleh faktor luck saja? Apakah itu akan memberikan hasil yang lebih baik?
Tidak ada jerih payah, yang ada hanyalah judi dan tebak-tebakan. Taruhan menjadi lapangan pekerjaan bagi setiap orang dan pachinko adalah alternatif yang lain. Tidak ada lagi yang tertarik kuliah. Tidak ada lagi yang mau menjadi dokter.
Tidak ada dokter? Bagaimana dengan yang sakit?
Semua dari mereka disembuhkan dengan obat yang diramu dengan perhitungan asal-asalan. Kalau nasib baik sedang datang berarti orang itu sembuh. Nyawa juga bergantung keberuntungan.
Kehidupan ini menjadi semudah Gladstone Gander dalam berusaha, atau sesial Donal Bebek dalam segala aktivitas.
Pilihan dari segala sesuatu menjadi tinggal dua: mujur atau sial.
Anda dapat yang mana?
Yang mujur dan yang sial semuanya "telah tertulis".
"Maktub," ujarku sambil teringat kata-kata seorang pujangga.
Sabtu, 11 April 2009
Musisi Jazz
Aroma kopi, wangi parfum, dan bau keringat.
Ketiga elemen bebauan itu silih berganti terhirup oleh hidungku. Untung di ruangan ini tidak diperbolehkan merokok, jadi tak sedikitpun asap rokok terhirup di sini.
Kedai kopi ini terasa terlalu sempit, walaupun ini adalah kedai kopi terbesar di daerah sini. Pengunjungnya selalu membludak. Itulah penyebab kenapa ruangan yang besar ini menjadi terasa sekecil kandang ayam broiler.
Aku mengobrol dengan temanku. Topiknya masalah politik. Aku dan temanku suka dengan topik itu. Hanya pada topik ini kami bisa dengan suka hati mencela orang sepuas kami. Siapapun itu. Tak peduli kepada fakta bahwa dia adalah mantan presidenmu.
Di kedai kopi itu aku tidak memesan kopi sama sekali. Yang kupesan hanyalah sepotong croissant dan segelas air mineral. Aku tak suka kopi.
Kupanggil seorang pelayan muda, "Hei, Mas!"
"Dia minta kopi, Mas," ledek temanku.
"Enak saja," sahutku sambil terkekeh. "Aku minta croissant satu lagi. Tampaknya satu tak bisa menggenapi malam ini."
*
Senda gurau, gelak tawa, dan alunan musik.
Musik jazz.
Kedai kopi ini selalu menampilkan musisi-musisi jazz tua di hari Jumat mereka. Ini menjadi semacam magnet bagi mereka yang benar-benar pencinta jazz atau bagi mereka yang kangen akan masa muda mereka.
Aku tak begitu mengerti keindahan musik. Biasanya yang membuat aku menyukai sebuah lagu adalah liriknya, bukan musiknya yang mengalun dengan indah.
Tapi musik jazz selalu terdengar berbeda di telingaku.
*
Si pianis jazz tua baru saja menyelesaikan sebuah lagu yang langsung disudahi dengan riuh tepuk tangan penonton yang membahana di kedai kopi itu. Ia langsung menyambar microphone-nya dan berbicara beberapa patah kata. Suaranya serak, ternyata seraknya yang timbul di suaranya ketika bernyanyi itu tidak dibuat-buat.
"Piano ini bukan sembarang piano," ujarnya. "Piano ini punya nama."
Salah seorang dari penonton nekat menceletuk, "Ada akte kelahirannya tidak?"
Dan seketika seisi kedai menjadi penuh dengan gelak tawa. Si pianis tua tampak puas. Respon dari penonton memang selalu dia harapkan. Dia tak suka jika harus tampil di depan penonton yang hanya duduk manis tanpa memberi respon apa-apa. Suasana seperti ini memang sesuai dengan rencananya.
"Aktenya belum kuurus," canda si pianis tua, disambut dengan koor tawa susulan, "dan tentu saja tak akan kuurus. Piano ini tak butuh akte untuk mendaftar ke Perguruan Tinggi atau melamar kerja!"
Penonton makin terpingkal-pingkal dengan segala lelucon ini.
"Sudah berhenti dulu guyonannya, mari kembali ke topik nama piano ini," kata si pianis tua. "Aku yang memberikan piano ini sebuah nama. Namanya Ludwig, terinspirasi dari nama seorang legenda, Ludwig van Beethoven. Padahal Beethoven tidak bermain jazz."
Riuh tawa terdengar lagi.
"Ludwig hanya pernah dimainkan olehku selama masa hidupnya."
Sekarang kedai itu berubah menjadi senyap. Si pianis mulai berbicara serius.
"Dan hari ini, sejarah itu akan berubah. Seseorang--selain aku tentunya--akan memainkan Ludwig. Dan ini adalah pertama kalinya tuts-tuts seksi Ludwig bakal dijamahi oleh jemari-jemari manis yang bukan milikku."
Para penonton menyimak dengan sangat antusias. Tentunya orang yang akan ditunjukkan si pianis pasti adalah orang yang luar biasa.
"Langsung saja kita sambut pianis baru kita, Dik Hadi!"
Riuh tepuk tangan kembali meledak. Mereka semua penasaran dengan yang dinamakan Dik Hadi.
Dik Hadi naik ke panggung. Ia mengenakan celana kakhi abu-abu, kemeja putih, dan sepatu hitam yang tampak baru saja disemir. Rambutnya disisir klimis dan matanya hanya fokus pada satu arah, entah ke mana arah yang ia tatap. Dan--astaga--dia berjalan dipapah, ia buta!
Seketika setiap pengunjung di kedai kopi tersebut sadar akan kebutaan dari Dik Hadi tanpa perlu diberitahu. Dik Hadi langsung duduk di atas kursi Ludwig dan langsung mengelus-elus setiap bagian dari Ludwig.
Tiba-tiba musik dimulai. Komando benar-benar ada pada Dik Hadi. Drummer, saksofonis, bassis, serta gitaris itu benar-benar mencermati setiap alunan nada yang teruntai dari Ludwig.
Dan malam itu menjadi sangat luar biasa bagi setiap pengunjung kedai kopi itu. Semua merasa terhibur akan permainan jazz pimpinan Dik Hadi. Tak peduli apakah dia penikmat jazz atau bukan, setiap orang pasti setuju bahwa Dik Hadi bermain luar biasa malam itu. Atau malah mungkin di setiap malam.
*
Yang ada di pikiran setiap pengunjung kedai kopi itu setelah penampilan Dik Hadi hanyalah kekaguman. Dan semuanya pun menjadi berpikir tentang kebesaran Tuhan. Bagaimana seorang buta bisa menjadi seorang dewa jazz yang tak tertandingi.
Semua berpikir tentang segala usaha yang ditempuh Dik Hadi hingga sampai pada tahap ini. Pastilah itu sangat berat.
Dik Hadi memang luar biasa. Dan semua orang menjadi tersadar bahwa selama ini yang mereka lakukan belum ada apa-apanya. Mereka semua masih terlalu banyak mengeluh. Mereka semua hanya menuntut segala yang instan.
Mereka semua belum setegar Dik Hadi.
Dan Dik Hadi telah resmi mengubah tiap orang di kedai kopi tersebut sejak malam itu.
Langganan:
Postingan (Atom)
Yang Terlarang
Ini adalah kali pertama saya patah hati setelah sekian lama tidak. Kalau kemarin ada yang tanya kepada saya, apa rasanya sakit hati, akan sa...
-
Tulisan ini dibuat sebagai bentuk penghormatan untuk Lou Reed (1942-2013) * Itu adalah Minggu pertama sejak Lou Reed meninggal, dan pagi ...
-
Dalam segala perihal hidup, momentum selalu menjadi pion yang paling utama: sekon yang cepatnya lebih singkat dari kedipan mata elang kadang...
-
Ini adalah kali pertama saya patah hati setelah sekian lama tidak. Kalau kemarin ada yang tanya kepada saya, apa rasanya sakit hati, akan sa...