Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Juni 2010

Hari Ini Aku Musuh Setiap Orang

Hari ini aku musuh setiap orang.

Walau mungkin tidak begitu dengan orang-orang itu, tapi aku menganggapnya demikian. Sesekali aku juga ingin berpandangan egois. Oh, walaupun itu bakal dicerca mulai dari sahabat sampai pemuka agama. Karena hari ini--anggap saja--aku musuh setiap orang.

Menjadi musuh setiap orang memang tidaklah menyenangkan. Tapi terkadang menjadi teman setiap orang, tanpa satupun musuh sama sekali juga tidak begitu menyenangkan. Dan--setahuku--tidak ada orang di dunia ini yang menjadikan setiap orang sebagai musuh. Kenapa tidak kucoba?

Hari ini aku mengawali hari dengan cukup baik. Hambatan ini dan itu di pagi hari teratasi dengan cukup dingin. Pagi yang antisipatif.

Beranjak ke siang, matahari mulai menyongsong ke ubun-ubun. Tidak ada yang banyak berubah. Hari menjadi semakin penuh dengan canda dan tawa. Banyak kebahagiaan. Sungguh indah.

Siang sedikit berlalu. Mencapai sore. Sedikit membosankan, tapi tetap saja ini bukanlah hari yang buruk.

Tapi siapa yang sangka malam bakal mengubah segalanya? Malamnya yang dimaksud pun merupakan penghujung hari. Hidup memang penuh dengan kejutan. Seperti kotak kado ulang tahun, isinya bisa berupa cokelat atau ular tidak berbisa.

Malam hari ini memang terlalu berbeda dari sorenya, siangnya, atau paginya. Bahkan sampai aku memutuskan untuk memusuhi setiap orang di hari ini pada malam harinya. Tapi pelajaran selalu dapat dipetik.

Kesalahan atau bukan kesalahan, semuanya pasti bermanfaat. Ambil saja manfaatnya. Hidup kenapa dibuat ribet?

Hari ini aku musuh setiap orang. Aku jadi ragu. Aku butuh teman ketika belajar.

Kalau begitu--

Aku temani saja setiap orang di hari ini.

Senin, 01 Februari 2010

Seperti Kilatan Petir

Spontan. Banyak yang terjadi secara tak sengaja. Tak direncanakan. Tak diatur. Tiba-tiba terjadi dan ketika kita menyadarinya, yang ada tinggal keterkejutan.

Sontak aku dibuat kaget. Darimana pula datangnya ini?

Seringkali manusia berbicara tanpa sepenuhnya berpikir. Mereka membawa arah pembicaraan sesuai arus yang sedang mengalir kuat.

Sehebat-hebatnya atlit arum jeram, mereka bakal mengayuh dengan menyesuaikan arus sungainya. Gegabah jika dia mencoba melawannya, bodoh. Alam terlalu kuat untuk tubuh manusia yang didesain lemah ini.

Yang melawan arus, dialah yang mati. Yang berhasil melawan arus, dialah yang juara. Sangat menarik kalau peraturannya dibuat begini.

Akhirnya manusia menemui risiko, sesuatu yang tidak akan bisa dihindari. Sekalipun kita lari dari padanya. Bahkan proses larinya sendiripun sebenarnya mengandung risiko yang mungkin saja lebih besar daripada jika kita memilih untuk menghadapinya.

Risiko memang bukan untuk dihindari, risiko untuk dikendalikan.

Kita tak tahu apa yang ada di balik tabir kabut tebal yang menghalangi pandangan kita akan masa depan. Bahkan kita buta akan masa kini, atau--lebih parahnya lagi--masa lampau.

Manusia tidak sepenuhnya sadar akan keadaannya. Dan manusia memang perlu untuk disadarkan akannya. Manusia, sejujurnya sangat pelupa.

Atau itu hanya berlaku bagiku.

Minggu, 08 Juni 2008

Inspirasi dalam Mimpi

Akhir-akhir ini aku banyak mengalami keanehan dalam diriku. Keanehan yang tak biasa kutemui sebelumnya.

Biasanya aku selalu membuat tulisan yang terstruktur. Maksudnya adalah tulisan yang kubuat punya kerangka sebelumnya sehingga ketika aku ingin menulisnya dalam sebuah karangan utuh maka aku tinggal mengembangkan kerangkanya saja. Tapi akhir-akhir ini beda. Akhir-akhir ini aku justru lebih sering menulis sebuah tulisan-tak-terstruktur. Tulisan yang tak terlalu kupikirkan jadinya dan hanya kubiarkan mengalir saja. Bagiku ini lebih menarik.

Kebiasaan baruku ini membuat aku sering berpikir tentang tulisan-tulisanku di tempat-tempat yang tidak pas. Aku pernah mendapatkan inspirasi tentang bahan yang akan kutulis di dalam mobil ketika melintas di sebuah daerah yang baru kutahu bernama Dayeuh Kolot (kalau tidak salah ini adalah bahasa Sunda dari Kota Tua). Dan aku juga pernah memikirkannya di kebun bambu di dekat rumah salah seorang asisten rumah tangga dari kakaknya ibu saya. Ini serius. Itu semua kebanyakan terjadi secara mendadak. Tapi, percayalah, itu semua belum terlalu aneh.

Aku mengalami sesuatu yang lebih aneh lagi akhir-akhir ini. Aku menemukan inspirasi tentang tulisanku di alam mimpi! Subhanallah.

Aku pernah membaca sebuah fakta bahwa otak manusia bekerja lebih keras saat tidur dibanding ketika menonton televisi. Entah fakta tersebut dapat dipercayai kebenarannya atau tidak yang jelas fakta ini cukup mencengangkan. Sebegitu santainyakah otak kita ketika menonton televisi?

Dan fakta itu masih menelurkan satu pertanyaan lainnya, sebegitu berfungsinyakah otak kita ketika tidur? Selama ini aku tahu bahwa walaupun kita tidur otak kita tetap bekerja dalam alam bawah sadar. Dan yang kutahu adalah kita tidak berpikir dalam tidur kita. Tapi tampaknya aku salah dalam hal ini. Kalau aku benar, lalu apa namanya mimpi?

Aku tidak bohong, aku menemukan inspirasi untuk tulisanku di mimpi sebanyak dua kali. Yang pertama berupa semacam penggalan percakapan dalam sebuah cerita, yang kedua inspirasi itu berupa sebuah penggalan dari prosa.

Bodohnya aku tidak langsung mencatat syair-syair yang terungkap dalam mimpiku langsung ketika aku terbangun. Aku justru tercengang dalam waktu lama sehingga aku kini nyaris melupakannya.

Ada sedikit hal yang bisa kuingat dari penggalan prosa yang "kutemukan" dalam mimpiku. Penggalan prosa itu menggunakan kata-kata dengan rima yang serasi pada setiap akhirnya. Hanya sedikit memang, namun sangat bermakna karena itu "kutemukan" di alam mimpi.

Lebih istimewanya lagi aku jadi sadar akan sebuah -entahlah aku harus menyebutnya dengan apa- gaya sastra model baru yang tak pernah kupelajari atau kuterka dengan begitu jelas sebelumnya. Gaya itu kunamakan "balik kata".

Satu kalimat yang kutemui dalam mimpiku adalah "luas membentang".

Sudah kukatakan sebelumnya bahwa penggalan prosa mimpiku itu menggunakan kata-kata yang berakhiran rima yang serasi. Dan akhiran yang "kupilih" pada saat itu adalah -ang.

Aku teringat, dalam mimpiku, dengan kata "membentang" yang kebetulan adalah favoritku sekaligus kata yang sangat cocok dalam penggalan prosa ini. Tadinya, lagi-lagi dalam mimpiku, aku ingin menggunakan kalimat "membentang luas", namun akhirannya menjadi -as.

Dan -masih dalam mimpi tentunya- kutemukan solusi itu! Kubalik saja katanya, dan alhasil kudapatkan kata "luas membentang". Biasanya aku jarang menggunakan solusi macam ini. Aku juga terheran-heran sendiri.

Mungkinkah ini memang pikiranku yang masih tetap berjalan walau sedang tidur? Atau memang Allah ingin aku mengetahui tentang hal ini? Entahlah.

Yang jelas, jika kau tanya aku, kurasa jawabannya adalah keduanya.

Minggu, 18 Mei 2008

Seberkas Pengorbanan

Ini bukan hanya masalah keringat. Tapi ini soal harga diri.

Bulutangkis, mungkin, adalah satu-satunya olahraga yang mampu mengangkat prestasi Indonesia di panggung internasional. Makanya masyarakatnya pun banyak yang "terpaksa" mencintai olahraga ini. Sama seperti aku.

Andai saja aku lahir di Republik Demokratik Kongo dan besar di Mongolia, mari taruhan, pasti aku tidak akan mencintai olahraga ini layaknya sekarang. Bagiku bulutangkis hanyalah olahraga yang dimainkan dengan sangat cepat - terutama gandanya - sehingga membuat matamu juga harus ikut bergerak cepat dan otakmu pun harus menyesuaikan juga dengan ikut berpikir cepat. Bagiku ini sangat melelahkan. Namun ketangguhan negaraku dalam olahraga ini membuatku merasa wajib untuk ikut mencintainya.

Keperkasaan Indonesia dalam bidang bulutangkis dan animo masyarakatnya terhadap olahraga ini pulalah yang membuat Indonesia kembali dipilih sebagai tuan rumah turnamen perhelatan bulutangkis sedunia, Thomas Cup dan Uber Cup. Tapi ini tidak membuat masyarakat Indonesia mudah untuk menonton ajang ini secara langsung. Tidak sama sekali. Kecuali kalau kau punya koneksi dengan "orang dalam" sponsor utamanya.

Butuh banyak perjuangan untuk mendapatkan sebuah kertas kecil berbahan licin dengan desain yang ringan untuk mata dan sudah dilubangi sebagai tanda dari kepolisian yang biasa disebut orang sebagai tiket.

Hari pertama dan kedua, aku berhasil mendapatkan kertas bernama tiket itu sehingga aku bisa masuk untuk menonton. Hatiku sedikit teriris ketika kertas kecil bernama tiket itu harus dirobek oleh petugas, seakan perjuanganku tidak dihargai. Hanya ditukar dengan sebuah cap yang langsung hilang ketika kau berwudhu.

Keberhasilanku mendapatkan tiket di hari pertama dan kedua membuatku optimis untuk mendapatkannya kembali di semifinal Thomas Cup. Untuk menghindari segala kemungkinan buruk yang terjadi, aku datang pagi-pagi sekali, jam sembilan aku sudah menjejakkan kakiku di kompleks Gelora Bung Karno.

Aku melangkah dengan cepat, pengaruh dari rasa tidak sabar dan kecemasan kalau ternyata loketnya sudah penuh. Dan ternyata kecemasanku beralasan. Banyak orang sudah berkerumun di sana. Mengantre layaknya semut menuju bangkai belalang, tidak beraturan.

Total, delapan jam aku mengantre. Dan hasilnya nihil. Tiket itu gagal kudapatkan. Yang kudapatkan hanyalah aku dengan keadaan yang tak karuan ini.

Kaosku seharusnya berwarna putih. Polos. Namun kini menjadi ada bercak-bercaknya. Campuran dari debu, abu rokok, benang-benang, dan daun yang menempel karena keringat. Tampaknya seluruh minum yang kuteguk pada hari itu langsung berubah menjadi keringat semua. Mulai dari teh botol sampai aqua. Mulai dari mizone sampai sedikit air wudhu yang tertelan.

Lelah bukan main badanku saat itu. Pegal-pegal di segala titik. Inikah pengorbanan yang harus diperjuangkan untuk sebuah nasionalisme?

Aku tak tahu. Yang jelas seluruh pemain tim Piala Thomas dan Uber Indonesia sudah berjuang secara maksimal.

Aku pun tertidur pulas malamnya.

Yang Terlarang

Ini adalah kali pertama saya patah hati setelah sekian lama tidak. Kalau kemarin ada yang tanya kepada saya, apa rasanya sakit hati, akan sa...