Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Maret 2009

Cukup Tunjukkan Padaku

Tunjukkan padaku alasan mengapa membunuh itu salah. Atau jangan harap kau masih bisa menghisap cerutu itu sepuluh detik lagi. Aku hanya ingin tahu, dan katanya keingintahuan bukanlah dosa. Memang membunuh itu dosa, tapi kalau kau saja tak bisa memberikanku alasan kenapa itu menjadi dosa, aku bisa jadi ragu. Kau adalah kunci dari kehidupanmu sendiri.

Tunjukkan padaku alasan mengapa menolong itu benar. Aku tahu jawabannya, tapi aku hanya ingin tahu jawaban darimu.

Tunjukkan padaku alasan mengapa anak kecil tidak suka makan. Dan mengapa tanpa sadar mereka akan menjadikan makan sebagai tujuan utama mereka di setiap harinya ketika mereka sudah dewasa kelak? Apakah ini pengaruh orang tua yang sudah menjadi tradisi turun temurun? Apakah nurani manusia awalnya berkata bahwa makan itu salah, sebelum para orang tua mencekoki mereka dengan berbagai perintah bahwa makan itu harus? Sehingga makan menjadi kebutuhan manusia yang paling utama? Bahkan melebihi seks.

Tunjukkan padaku alasan mengapa menuntut ilmu itu perlu? Orang memang bisa membuat pesawat atau membangun jembatan setelah menuntut ilmu. Tetapi bukannya dengan menuntut ilmu mereka juga jadi bisa membuat bom atom dan tank untuk saling membunuh? Siapa yang bisa jamin setiap orang yang menuntut ilmu itu baik semua?

Tunjukkan padaku alasan mengapa kita semua diwajibkan ke dokter setelah sakit? Memangnya dokter tahu segalanya? Bukankah dokter biasanya bakal memberi obat kepada kita padahal sebenarnya obat itu adalah racun? Bagaimana kalau perkiraan si dokter itu salah? Tidak percayakah kita akan sistem kekebalan yang dimiliki tubuh kita?

Tunjukkan padaku alasan mengapa orang menciptakan pemanas selagi kayu bakar masih bisa dipergunakan. Mengapa orang menciptakan internet ketika dunia nyata saja masih terlalu luas untuk ditelusuri tiap tempatnya.

Tunjukkan padaku alasan mengapa orang menggunakan mobil ketika jarak yang ditempuhnya hanya sepanjang dua puluh tombak. Atau mengapa orang selalu menggunakan parfum padahal mereka tahu keringat akan menyamarkan bau parfum mereka itu nantinya.

Tujukkan padaku alasan mengapa cantik itu putih, tinggi, dan berambut panjang. Mengapa pula orang-orang memperdulikan itu.

Tunjukkan padaku alasan mengapa orang-orang berebut ingin menjadi presiden. Padahal pekerjaan itu hanya akan menguras banyak tenaga dengan taruhan tanggung jawab yang tinggi pula.

Tunjukkan padaku alasan mengapa menyendiri itu salah? Padahal banyak hal yang bisa ditemukan setelah menyendiri.

Tunjukkan padaku alasan mengapa orang-orang ingin pergi ke bulan. Aku juga ingin pergi ke bulan, tapi kalau tawaran itu datang padaku sekarang juga pasti akan kutolak.

Tunjukkan padaku alasan mengapa harimau itu buas dan ular itu berbahaya. Mereka hanya tidak tahu dan menganggapmu sebagai gangguan. Kalau kau membunuh mereka karena mereka menyerangmu seharusnya kau yang salah. Mereka punya otak, tapi tak punya akal. Kau punya keduanya.

Tunjukkan padaku alasan mengapa perang selalu terjadi di sana sini. Mengapa mereka tidak bosan-bosannya membunuh. Bahkan untuk alasan loyalitas pada negara. Sepenting itukah mengabdi kepada sesuatu yang hanya berbuat kerusakan?

Tunjukkan padaku alasan mengapa mencintai itu penting. Aku yakin bakal banyak jawaban dari pertanyaan ini.

Tunjukkan padaku isi hatimu. Agar aku tahu. Agar aku mengerti. Agar aku bisa turut merasa.

Aku ingin turut hadir di sana.

Sabtu, 30 Agustus 2008

Siapa?

Yang lama seharusnya sudah usang, tapi masih saja tidak pantas untuk dibuang.

Lembaran baru mungkin sudah harus dibuka, tapi aku masih ragu dalam melangkah.

Hanya satu pertanyaan: siapa?

Dua puluh empat jam dikali ribuan, menghasilkan angka dengan jumlah yang selalu membuat mataku melotot sesaat. Dua puluh empat jam ini masih bisa terus bertambah.

Siapa?

Pintu hatiku masih tertutup. Tertutup karena tidak dibuka. Belum dibuka.

Tok, tok, tok.

Seseorang mengetuk pintu hatiku. Aku tak tahu siapa dia. Kulayangkan satu pertanyaan. Hanya satu pertanyaan: siapa?

Siapa kamu yang mengetuk? Mengusikku di tengah kedamaian dalam suasana sunyi nan tenang ini. Pantaskah itu?

Siapa?

Sungguh aku bertanya dan sungguh dia tak menjawab. Tentu saja, karena aku bertanya dalam hati. Tentu dia tidak bisa telepati. Aku juga tidak.

Siapa?

Coba kuulik semuanya dan yang kudapat hanyalah sebuah nama.

Apa artinya sebuah nama, jika nama itu tak menunjukkan makna. Lebih baik kutunggu angin mengantarkanku ke stasiun berikutnya.

Senin, 25 Agustus 2008

Pertanda Alam

Hari ini datang lagi, pastilah kusambut. Aku bagaikan kesurupan karenanya.

Detak jantung yang tak secepat cahaya, kedipan mata yang tak setangkas sayap lalat. Tatapan mata yang tak setajam milik elang, terlebih lagi aku harus menggunakan alat bantu berupa kaca mata. Selalu saja ada yang lebih tinggi, tapi ia tak selalu di atas.

Pendengaran yang hanya bisa digunakan dengan berkonsentrasi penuh, jika tidak suaramu akan kalah dengan derum mesin komputer ini.

Ah, selalu saja ada yang lebih.

Hari ini datang lagi. Jadwalnya memang hari ini.

Pagi datang membawa sisa-sisa angin malam yang menusuk paru-paru. Membuat siapapun akan menggigil kedinginan karenanya. Angin malam yang angkuh, ia seolah berkata, "Wahai manusia, kalian bukanlah beruang kutub."

Aku bertanya pada alam dan berharap ada yang menjawab.

Aku bertanya pada alam, penting sekali karena aku benar-benar bertanya.

Pertanda-pertanda menyiratkan jawaban, tapi tidak untuk yang bodoh. Untuk menemukan jawabannya, aku harus jadi pintar terlebih dahulu. Dan aku seharusnya adalah makhluk yang pintar. Setidaknya jika dibandingkan dengan tapir atau onta.

Alam telah berbicara. Mereka telah menunjukkan pertanda-pertanda milik keagungan-Nya.

"Masihkah kalian mau sombong?"

Minggu, 24 Agustus 2008

Raungan Pujangga Kesepian

Ke mana perginya para pujangga-pujangga kecilku? Yang senandungnya selalu memenuhi telingaku di kala sepi. Membangunkanku dari suasana yang sunyi nyaris mati.

Pulanglah kalian. Aku rindu kalian.

Tak peduli berapa mili liter air mata harus kuteteskan lagi. Atau kubayar saja dengan keringat bau pesing pertanda pengorbanan tak berujung?

Ke mana perginya kalian? Kenapa kalian menjauh?

Aku seperti sebuah kotak. Bukan kotak korek api, bukan pula kotak kado dari sinterklas. Aku hanyalah kotak peti mati. Kosong. Entah apa yang seharusnya mengisinya.

Sedang apa kalian selama ini wahai pujangga-pujangga kecilku? Maukah kalian kembali lagi ke sini? Menari-nari lagi di dalam tempurung otakku, sambil membisikkanku dengan nyanyian-nyanyian paling merdu yang pernah kudengar.

Kalian pergi, aku sepi. Kalian menjauh, aku hanya bisa mengeluh. Membilas apa yang seharusnya kubasuh, untuk mendapatkan kembali kalian, yang akan mengantarkanku ke jalan untuk bertemu dengannya.

Sadarkah aku? Atau sadarkah kalian?

Selama ini kalianlah yang mengantarkanku ke tempat ini, dan sekarang kalian pergi. Meninggalkanku sendiri. Jadinya aku hanya bisa meratapi sambil menangis. Aku ditinggal pergi.

Aku jadi tersesat di belantara penuh binatang buas ini wahai pujangga-pujangga kecilku! Bawa aku lari dari sini! Selamatkan aku!

Satu, satu, dan satu. Seharusnya kita bersatu. Kalian tak pernah meninggalkan aku, ternyata kalian selalu bersamaku.

Dan aku baru saja sadar.

Selama ini aku sendiri.

Dan akulah yang selama ini memilih untuk mati. Hingga tiba waktunya untuk bangkit kembali.

Kini, dengan senang hati aku menyambut kalian lagi. Selamat datang kembali.

Minggu, 27 Juli 2008

Kenapa Tidak Boleh Menengok?

Aku tahu peraturannya, dan aku sadar akan apa yang dipertaruhkan olehnya.

Jalan lurus ke depan dan jangan sekali-kali menengok.

Aku ingat peraturannya. Jalan lurus dan jangan menengok. Cukup jalan lurus. Jangan menengok. Hanya jalan lurus.

Dan aku akan mematuhi peraturannya karena di ujung jalan itu telah menunggu seorang bidadari yang siap menyambutku dengan segala keanggunannya, segala kecantikannya.

Aturannya ada dua. Jalan lurus dan jangan menengok. Lalu kenapa ini menjadi sulit? Aku terbiasa jalan lurus sambil hanya fokus menatap ke depan. Tanpa menengok. Lalu kenapa ini menjadi sulit?

Tapi kenapa harus ada peraturan jangan menengok? Memang ada apa di samping kiri dan kananku? Apakah di sana sedang berdiri bidadari lain yang lebih anggun dan lebih cantik? Atau di sana terdapat sebuah perang besar sehingga bantuanku akan sangat berarti untuk menolong para korban tak bersalah?

Kenapa aku tidak boleh menengok?

Apa salahnya dengan hanya menengok? Menengok tak akan membuat sebuah bom waktu menjadi meledak atau membunuh siapa pun juga. Dan aku hanya ingin menengok saat ini. Lalu apa salahnya dengan menengok?

Ini yang membuatku tidak senang. Aku digantungkan dengan sebuah peraturan yang tidak jelas gunanya untuk apa.

Kenapa aku tidak boleh menengok?

Andai saja peraturannya hanyalah jalan lurus, tentu aku akan menjalaninya tanpa menengok, walaupun menengok diperbolehkan. Tapi larangan membuat rasa ingin tahuku terusik. Ia meraung-raung ingin mencari jawaban dari pertanyaan kenapa. Seperti tikus tanah yang terus menggali-gali mencari jalan cahaya.

Dan kenapa aku tidak boleh menengok? Leherku seperti terkena encok rasanya.

Jumat, 25 Juli 2008

Penanti Perubahan

Tubuh ini tak punya tujuan. Bergerak ke sana kemari, hanya mengikuti arah angin malam. Atau angin siang. Hanya berpindah jika ada rangsangan, bagaikan makhluk bersel satu.

Yang sekarang juga tak ada bedanya. Masih sama seperti yang dulu-dulu. Masih tetap tak punya tujuan. Masih bingung menentukan arah, masih tak tahu mau ke mana. Masih mengikuti arah angin, seperti nyiur yang melambai-lambai. Tubuh ini masih tetap tak punya tujuan.

Yang kubutuhkan hanya tujuan. Hanya tujuan. Dan yang tidak ada sekarang juga hanya tujuan, hanya tujuan.

Dan hari ini juga sama. Aku dan ketidakpastianku. Bercengkrama berdua, tidak menyisakan ruang untuk siapa pun.

Ah, tolong aku. Lepaskan aku dari jerat yang maha tidak jelas ini! Selamatkan aku darinya, agar aku bisa kembali bebas lagi.

Berikan aku yang kubutuhkan. Berikan aku tujuan.

Berikan aku yang kubutuhkan. Berikan aku yang kuinginkan. Berikan aku segala yang ada di dalam impian.

Berikan aku makna untuk hidup. Walau makna hidup itu masih abstrak, samar, dan melayang-layang. Tak apa, sekalian aku belajar terbang.

Yang sekarang pun masih tetap sama. Masih mengikuti arah matahari terbit. Lalu bingung di kala sang mentari tenggelam. Lalu datanglah hari yang baru, dan di kala itulah waktuku untuk menyambut segalanya yang benar-benar beda. Untuk membuat perubahan. Untuk memberi kemajuan.

Aku tidak mau terus seperti ini. Hari ini harus berbeda.

Dan akulah yang akan membuat perubahan itu sendiri. Makanya panggil aku "sang pembuat perubahan" pada tiap hari baru. Karena itulah aku.

Setidaknya itu yang berada dalam niat. Menunggu untuk secepatnya dikukuhkan.

Rabu, 09 Juli 2008

Yang Ada Pada Akhirnya

Hal-hal terkompleks dalam hidupku baru saja kulewati secara bertubi-tubi. Entah berapa banyak lagi yang akan datang untuk kembali menyerang. Makin banyakkah? Atau malah makin sedikit?

Impian ada untuk memberi manusia tujuan. Agar manusia dapat menjalani hidup sesuai dengan arahan. Impian ada agar manusia bisa hidup sebagaimana mestinya. Impian ada untuk menciptakan warna dalam kehidupan manusia. Impian ada untuk memberi kehidupan dalam diri tiap insan manusia.

Manusia tanpa impian adalah mati. Sementara impian hanya bisa digapai dengan perjuangan. Jadi inti kehidupan hanyalah sebuah perjuangan. Bergulat. Bersaing. Menang atau kalah. Mati.

Setiap insan punya tujuan. Yang tertekan dalam hati tiap-tiap mereka.

Aku sungguh terkesan. Tidak ada yang patut santai di muka bumi ini. Tidak juga siapapun.

Akhir-akhir ini cinta mulai kembali bersemi. Tapi yang paling terakhir, cinta menguncup kembali. Aku tak tahu cintaku sedang dalam musim apa.

Cintaku masih tak terang ada di mana. Cintaku masih di persimpangan. Butuh rambu yang lebih banyak untuk menuntunnya ke jalan yang benar.

Yang ini membuatku terjatuh kembali. Jatuh dengan sebenar-benarnya jatuh. Jatuh yang telak. Yang menimbulkan kesakitan, tapi juga memberi kita pelajaran.

Aku jatuh cinta. Dengan sedalam-dalamnya jatuh. Dengan sedalam-dalamnya cinta.

Selasa, 17 Juni 2008

Misteri Cinta

Kau datang bersama cinta. Membelenggu aku dalam keterikatan. Kau datang membawa rasa. Mengembang bagai adonan roti yang diberi fermipan.

Kenapa dibalik cinta ada derita. Benih yang tak kujaga hanya dapat busuknya saja.

Siapa suruh aku cinta kamu? Tidak ada. Memang tidak ada. Lantas jika itu membuatmu tak tenang, kenapa kau masih tetap cinta.

Ah, kurasa ini terlalu rumit. Tidak cukup hanya sekedar berkelit. Harus kabur dengan benar-benar pamit.

Kenapa kau tak balas saja pernyataan cintaku?
Bagaimana aku bisa balas kalau kau saja tak menanyakan.

Kenapa kau membiarkan aku terus berharap?
Mungkin itu yang masih menyelamatkanmu hingga kini. Dari lubang kehancuran.

Kenapa aku benar-benar harus berdiri sendiri?
Kau yang memilih begitu. Sekarang rasakan ganjaran dari pilihanmu itu.

Mungkinkah esok akan membuat keadaan jadi lebih baik?
Segalanya masih misteri, tapi pilihan masih di tanganmu.

Benarkah cintaku adalah kamu? Atau ternyata adalah dia? Sungguh aku bingung. Belum lagi kalau nanti muncul orang lain yang mencuri segenap jiwaku lagi.
Lebih pantas jika aku diam.

Yang ada masih di persimpangan. Dan aku tersesat di dalamnya. Tolong aku.

Minggu, 15 Juni 2008

Cinta Gila

Kenapa segalanya jadi begini? Sedalam lautan mengemis cinta, yang kudapat hanyalah derita. Sia-siakah segala usaha selama ini?

Untuk yang satu kulakukan seribu. Dan ternyata masih belum cukup. Terhalang oleh keinginan yang menggebu. Atau justru dia yang terlalu menutup?

Ku terbuai dalam segala angan dan impian. Berenang ke sana kemari, hanya mendapat lelah. Aku tenggelam dalam apa yang selalu ada di muka bumi setiap masa, setiap saat.

Ketika Icarus terjatuh. Ketika kulit mulus Cleopatra hancur dikoyak ular berbisa. Ketika Columbus menjejakkan kaki di benua baru. Ketika dua menara kembar hancur lebur dihantam dua burung besi.

Cinta datang bersama derita. Tidak untuk sekedar mencerca, tapi hanya untuk meminta. Dan yang dicari adalah pengorbanan untuk yang paling dirasa, yang paling dijaga.

Kulakukan seribu untuk yang satu. Kuketuk pintu rumahmu, kumohon, bukalah itu.

Tak kau buka pintu itu. Bukan, tapi belum, ujarku optimis. Dan aku terjaga di depan pintu rumahmu, yang selalu tertutup. Menunggu sampai pintu itu terbuka sepenuhnya, dengan kau menyambutku bagai seorang puteri bertemu dengan pangerannya. Sungguh kutunggu masa itu.

Orang bilang aku gila. Aku memang tergila-gila padamu.

Senin, 09 Juni 2008

Terjun Bebas

Tampaknya kecelakaan saat terjun payung adalah cara mati yang paling menyenangkan. Sambil menunggu kematian yang kaurasakan hanyalah sapuan angin yang menghantam tubuhmu dengan begitu kencang. Jatuh begitu cepat. Kau dibunuh oleh berat badanmu sendiri.

Tak ada sensasi yang semenarik dan sebebas ini. Degup jantungmu akan terus bertambah cepat seiring dengan jarakmu dengan daratan yang semakin dekat. Kaurasakan kekosongan dalam dadamu sambil bersiap-siap berjumpa maut. Begitu lepas.

Tidak perlu kaget. Tidak perlu terkejut. Seharusnya tidak perlu. Karena ini alasanmu untuk terjun.

Aku tak pernah terjun. Makanya aku belum pernah merasakan kebebasan terbang. Ah, rasanya pasti sangat lepas. Kubayangkan aku yang mati sambil melihat indahnya dunia. Begitu menggoda.

Kenapa manusia tidak punya sayap? Agar manusia bisa merasakan bebasnya terbang layaknya burung merpati?

Burung merpati bisa terbang tanpa harus takut jatuh. Sama seperti ikan pari yang bisa menyelam tanpa harus takut kehabisan napas.

Sedangkan manusia beda. Seharusnya manusia bisa hidup tanpa harus takut mati. Karena mati adalah pasti.

Kenapa manusia tidak punya sayap? Agar manusia bisa terjun jatuh bebas, dan mati di tengah rasa yang begitu lepas.

Kamis, 05 Juni 2008

Jerat Tak Terlihat

Tepat kata itu. Tepat pilihan kata itu. Sungguh memikat hati.

Dua memang selalu membingungkan. Bahkan lebih baik dibuat tiga sekalian. Agar jika yang satu sudah dapat, dua lainnya tidak mendapatkan secara bersama-sama. Sehingga mereka merasa senasib.

Ini bagaikan belenggu. Entah bagaimana cara melepasnya.

Kau bukanlah bidadari. Kau adalah tukang hipnotis, yang ulung, yang mampu menjerat hatiku hingga jeratannya tak bisa kulepas lagi.

Aku terjerat dalam ikatan kencang yang tak terlihat. Tak tahu bagaimana cara untuk melepasnya. Tampaknya lebih baik kubiarkan untuk terjerat lebih dalam.

Menikmati setiap ikatan. Ikut mengalir. Dalam ikatan tak terlihat.

Tepat kata itu. Tepat pilihan kata itu. Memikat. Memesona.

Longgarkanlah ikatan itu. Tapi mendekatlah. Agar aku bisa merasa terjerat dengan nyaman. Terjerat dalam ikatan tak terlihat. Namun jelas mengikat dan memikat.

Tepat kata itu. Tepat pilihan kata itu. Lagi-lagi tepat.

Hari ini dadaku sakit. Agaknya terlalu banyak jatuh hati padamu.

Rabu, 04 Juni 2008

Entahlah Apa yang Ada

Katanya manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Sesempurna kamu bagiku.

Tiga tahun sudah hati ini kubiarkan pilu. Menahan segala luka tentangmu. Aku tak ingin diobati. Aku hanya ingin tetap hidup di tengah semua ini. Agar aku tetap merasa.

Katanya manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Sesempurna kamu bagiku.

Orang berkata tentang cinta. Aku tak tahu apa itu cinta. Yang kutahu hanyalah rasa yang selalu ada. Menyertaiku ke mana-mana. Beritahu aku apa itu cinta, paling tidak pengertiannya saja.

Katanya manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Sesempurna kamu bagiku.

Berikan aku cinta ketika aku sudah mengetahui apa itu cinta, dan ketika kau telah memberitahu aku tentang cinta. Katanya setiap jiwa butuh cinta. Dan jika tidak ada cinta lalu apa yang ada?

Katanya manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Sesempurna kamu bagiku.

Banyak orang bicara cinta. Dan selalu tidak ada yang sama. Ada yang bilang cinta itu indah, namun ada juga yang bilang cinta itu busuk. Aku tak tahu mana yang benar. Makanya, beritahu aku apa itu cinta.

Katanya cinta itu mencintai, katanya cinta itu dicintai. Katanya cinta itu ada, dan jika tidak ada cinta lalu apa yang ada? Akhirnya aku tahu walau masih banyak yang belum kuketahui.

Katanya manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Sesempurna kamu bagiku.

Ah, terlalu banyak cinta. Banyak kebahagiaan dan banyak pengkhianatan. Yang jelas banyak yang merasa. Banyak yang ikut hadir untuk ikut ada.

Dan jika tidak ada cinta lalu apa yang ada?

Senin, 26 Mei 2008

Ukiran yang Tak Pernah Jadi

Kugunakan bolpoin biru itu. Warnanya sesuai dengan keadaan hatiku, yang semakin tak menentu.

Akan kutulis namamu dengan segenap jiwaku. Tulis. Tidak jadi. Aku berubah pikiran. Tulis. Coret. Tulis lagi. Coret lagi. Tulis lagi. Coret lagi. Tulis lagi. Tidak jadi. Kertasnya sudah penuh dengan coretan biru. Di mana namamu pernah tergores dengan tinta yang membuat hati menjadi pilu.

Kuganti dengan pensil kayu itu. Kucoret sedikit. Hitam kelam. Kadang terlihat jantan dan garang. Namun kini hanya terlihat gelap dan hampa.

Kutulis namamu. Tidak jadi. Kuhapus dengan karet itu. Butiran grafit yang pernah terangkai menjadi susunan namamu kini pindah ke karet lusuh itu. Kutulis lagi. Tidak jadi. Ini bodoh.

Lebih baik aku gunakan saja laptop yang sedang menganggur itu. Mungkin itu ide yang baik.

Kugunakan jenis hurufnya dengan yang terlembut sekaligus yang terkeras. Yang terindah sekaligus yang terjelek. Yang paling tegas sekaligus yang paling mudah terbawa. Kurasa Arial cocok. Tidak. Kuganti saja dengan Times New Roman.

Kuganti ukuran hurufnya dengan yang terbesar, sepanjang bidang cetaknya sanggup untuk menampungnya.

Kutebalkan. Agar lebih bermakna. Tidak kumiringkan. Namamu bukanlah nama ilmiah. Tidak kuberi garis bawah. Ini bukanlah bagian yang wajib dihafal dalam catatan biologi.

Kutulis. Tidak jadi. Aku masih tak sanggup.

Lebih baik kuukir namamu di sini. Di dalam hatiku. Agar kau dapat bersemayam di dalamnya, selamanya. Tanpa perlu wujud fisik.

Sabtu, 24 Mei 2008

Satu Lagi

Satu lagi takdir terlaksana. Dan memang pasti terlaksana.

Satu lagi bayi lahir. Satu lagi ibu melahirkan. Satu lagi keluarga yang berbahagia. Disertai dengan keluarga-keluarga lainnya yang memberi ucapan selamat.
Satu lagi serangan jantung. Satu lagi kecelakaan mobil. Satu lagi tabrakan motor. Satu lagi pesawat terbang yang jatuh. Banyak yang mati. Seketika.

Satu lagi perang untuk saling menguasai. Satu lagi pahlawan harus gugur. Satu lagi prajurit yang merasakan kemenangan. Satu lagi tembakan meletus. Satu lagi korban tak bersalah jatuh. Disusul dengan korban-korban lainnya. Satu lagi tangisan terdengar. Tangisan perih yang mengiris hati. Cukup, hentikan sudah.

Satu lagi penggembara berkelana. Satu lagi pelaut pergi berlayar. Satu lagi pilot mengudara. Satu lagi astronot ke angkasa luar.

Satu lagi rokok dibakar. Dihisap. Satu lagi orang yang bakal terkena kanker paru-paru.
Satu lagi cheeseburger. Dan itu sudah yang kedelapan kali. Pantas anak itu bakal terkena serangan jantung mendadak.

Satu lagi tokoh harus wafat. Meninggalkan orang-orang yang begitu mencintainya. Padahal orang-orang itu tidak mengenalnya. Hanya sekedar mengetahuinya. Namun pipi mereka semua berlinangan air mata.
Satu lagi penjahat mati. Puluhan yang mengutukinya.

Satu lagi angin berhembus. Satu lagi daun rontok dari dahannya. Satu lagi ombak berdesir. Satu lagi karang yang hancur terhantam ombak.

Satu lagi bunga yang mekar. Dan kuharap itu kamu.

Satu lagi cintaku padamu bertambah lagi. Ah, cintaku padamu bertambah terus.

Kamis, 22 Mei 2008

Hati yang Satu

Hati ini hanya satu. Dan pemiliknya hanya aku.

Jangan kaupaksa aku untuk membaginya. Tidak akan kau dapatkan apa-apa dariku. Walaupun hanya secuil. Kau tak akan mampu.

Kau boleh pukul aku, tampar aku, hina aku. Aku tak akan membalas. Toh, aku memang tak kuat. Hanya akan buang tenaga.

Untung superhero hanyalah tokoh khayalan. Untung telepati hanyalah bualan. Untung aku tak pernah bertemu Matt Parkman. Atau aku pasti sudah hancur berantakan.

Jangan bodoh begitu. Tentu telepati hanyalah bualan. Kau kira apa arti kata "rahasia"? Tentu kau butuh berbagi tanpa paksaan.

Hati ini hanya satu. Dan aku mau hati ini bisa padu denganmu.

Genggam tanganku. Mari kita berjalan bersama. Langkahku tak akan terlalu cepat. Kalau langkahku terlalu cepat, semakin cepat pula sampai ke tujuan, semakin sedikit waktuku bersamamu. Padahal aku ingin selamanya begini. Langkahmu juga tidak akan terlalu lambat. Kau selalu mau lebih dulu dari apa pun. Kecuali kereta api.

Hati ini hanya satu. Satu yang benar-benar satu. Tidak bisa dibagi atau pun diberi. Tapi bisa untuk diselaraskan dengan hatimu.

Untung hati ini hanya satu. Aku jadi butuh kamu.

Minggu, 18 Mei 2008

Bisikan Hati


Hidup telah mengajarkanku banyak hal. Sangat banyak. Tapi hanya sedikit kumengerti. Sangat sedikit.

Jangan pernah membayangkan hidupmu sebagai sebuah lingkaran, yang hanya bisa digambar dengan bantuan jangka. Bayangkan hidupmu sebagai sebuah persegi. Yang mempunyai empat sisi sama panjang. Yang mempunyai empat sudut sama besar. Tegas, karena punya empat siku. Kau berada di jalur yang lurus, tapi terkadang kau harus berbelok. Bukannya selalu memutar.

Hidup telah mengantarku ke jalan yang harus kulalui. Menuju tujuan yang harus kucapai. Kepada takdir yang telah tertulis. Sampai ke akhir yang selalu menunggu.

Dulu aku bisa berbisik pada nurani. Bertanya di kala sedih. Bercanda di saat bahagia. Dibimbing untuk mengerti makna hidup. Sehingga aku bisa turut serta hadir.

Kini aku sudah tidak peka lagi. Hatiku tumpul kini. Bagai tombak yang berkarat.

Di mana engkau saat ini? Bisakah kau kembali padaku? Ajari aku hidup kembali. Bawa jiwaku yang dulu lagi. Agar aku bisa tersenyum kembali.

Antarkan aku mengarungi lautan kehidupan ini. Karena ombaknya sangat berbahaya.

Kamis, 15 Mei 2008

Berikan Aku Segalanya

Berikan aku jeda untuk memecahkan ini yang sulit. Yang terlalu sempit. Dan sangat menghimpit. Membuat bumi sekalipun harus mengemis pada langit. Terlalu rumit.

Berikan aku tenggat untuk sedikit beristirahat. Aku sangat butuh rehat. Tidak usah terlalu panjang asal bisa melepaskan penat. Atau lebih baik aku minggat.

Berikan aku keleluasaan untuk menentukan ini. Untuk menemukan kebebasan yang kucari. Untuk mendapatkan kembali apa yang dinamakan independensi. Hingga hilang segala tendensi. Sampai aku menemukan kembali intuisi.

Berikan aku ruang untuk melepas lelahku. Aku tak ingin mengungkapkan yang palsu. Tapi aku juga tak ingin hanya diam membisu. Aku butuh pintu. Untuk keluar dari dunia yang sudah membatu. Untuk menemui kamu.

Berikan aku waktu untuk berpikir. Sungguh aku bukanlah orang yang kikir. Tapi aku juga bukanlah orang yang fakir. Aku hanya butuh sedikit butir. Untuk melupakan pengalaman dulu yang masih terasa getir. Menuju kenyataan yang selalu bergulir.

Berikan aku jalan untuk keluar. Yang bisa membuatku lebih membakar. Semangatku yang nyaris tak sadar.

Berikan aku cinta. Untuk membuatku terbang ke angkasa. Lalu jatuh dengan nelangsa. Tak peduli apa pun itu, yang penting aku ada. Hadir untuk ikut tertawa. Berikan aku segalanya. Walaupun aku harus ikut menderita.

Selasa, 13 Mei 2008

Bunga di Musim Salju


Tidak ada yang mampu menyamai kau. Jangan tanyakan itu pada anggrek dan aster, mereka pasti sudah layu. Kedinginan, menyerah dengan cuaca.

Tidak ada yang mampu sekuat kau. Bertahan sendirian di tengah kepungan badai salju yang makin lama makin memburuk. Tapi kau mampu mengatasinya sendirian, mempertegas keindahanmu di tengah suasana serba putih ini. Mempertajam keanggunanmu yang selalu kukagumi ini.

Kau tidak seperti lili. Yang indah bersama di tengah kerumunan jenisnya. Kau bersinar sendirian, bukan karena keadaan sekitarmu. Kau istimewa.

Kau tidak seperti mawar. Yang menawan karena pesona durinya. Membuatnya terlihat elok karena tak semua orang mampu menyentuhnya. Membuatnya terlihat penting karena semua orang rela mengorbankan sedikit darahnya untuk sekedar menyetuh. Sedangkan kau tak punya itu. Sehingga kau tak perlu melukai siapapun yang mencintaimu.

Kau begitu indah. Sayangnya aku tak bisa memetik kau. Bukan. Aku tak mampu. Jika kau kupetik, kau hilang. Keindahanmu bisa kubawa, tapi hanya akan bertahan sebentar. Dua hari paling lama. Lebih baik aku tinggalkan kau di sini. Sehingga keindahanmu bisa kupandang setiap hari. Sampai waktunya benar-benar tiba.

Hidupmu tidak seperti putaran roda. Hidupmu bagaikan sebuah garis yang digoreskan dengan kuas dan tinta. Yang menebal di tengah dan menipis di ujung.

Tak sabar kutunggu masa itu. Untuk memetikmu di musim semi berikutnya.

Sabtu, 10 Mei 2008

Jatuh, Lumpuh, dan Luluh

Aku terbang. Bebas sekali rasanya. Seperti seorang napi yang baru keluar dari penjaranya.

Ku melayang setinggi-tingginya. Sangat jauh. Ke tempat yang tak terjangkau. Aku bahkan lupa di mana jalan pulang. Namun aku tak peduli. Yang kupikirkan hanyalah kesenangan.

Ah, aku yang bodoh. Itu hanyalah kesenangan semu. Bagaimana caraku pulang? Bagaimana aku melanjutkan perjalanan? Bagaimana aku bisa mendapatkan makanan? Bagaimana aku bertahan?

Sayapku pun lelah. Terlalu lelah. Keduanya lumpuh. Tak berdaya. Habis sudah segalanya. Percuma sudah jerih payahku untuk ini. Aku tidak bisa terbang lagi, selamanya.

Aku mendarat. Tak tahu harus apa. Terbang sudah tak mampu, jalan pun tak kuat. Yang ku bisa hanyalah meratap. Bodoh.

Sayapku hancur. Berkeping-keping.

Aku coba untuk terbang lagi. Satu meter. Dua meter. Nyaris tiga...

Brak! Ternyata aku jatuh. Tentu saja. Bodoh.

Hanya ini saja yang utuh. Sayapku yang sudah luluh.

Kamis, 08 Mei 2008

Terbang Kembali

Dulu aku bisa terbang. Bersenandung bersama layang-layang. Bergurau dengan bintang. Namun kini semua menghilang. Sebelum benar-benar matang.

Lenyap sudah segala kenangan. Meninggalkan hati dalam keadaan penasaran. Tertekan. Mencoba beralih dengan segan. Berpaling pada impian.

Hancur sudah. Lenyap.

Ajari aku terbang lagi. Agar aku bisa bermain dengan para bidadari. Adu cepat dengan burung merpati. Tidur di atas awan nan suci. Hingga berpetualang menuju tempat yang tinggi.

Pelajaran ini sulit. Mahir harus melewati sakit. Terlilit. Dalam jeratan akar yang menembus kulit. Sangat sukar berkelit.

Aku belum menyerah. Walau sudah habis semua darah. Kumasih punya gairah. Tak peduli badan ini sudah sangat jerah. Aku takkan pernah pasrah.

Akhirnya aku berhasil.

Terima kasih untuk pelajarannya. Aku sudah bisa terbang lagi. Semoga ini bisa kujaga. Semoga aku tak akan pernah melupakannya, pelajaran terbang hari ini.

Yang Terlarang

Ini adalah kali pertama saya patah hati setelah sekian lama tidak. Kalau kemarin ada yang tanya kepada saya, apa rasanya sakit hati, akan sa...