Selasa, 22 Juli 2008

Cinta Murni dari Stadion

Ahad, 20 Juli 2008. Stadion Siliwangi, Bandung.

Hari itu suasana stadion penuh sesak. Sangat penuh dan sangat sesak. Tertulis di koran-koran bahwa kapasitas stadion tersebut hanya 22.000 orang, tapi aku tak terlalu yakin dengan jumlah tersebut begitu melihat penuhnya isi stadion. Kursi stadion mungkin hanya mampu menampung 22.000 orang, tapi banyak orang yang rela menonton tanpa perlu kursi. Mereka berdiri sepanjang pertandingan yang lamanya mencapai dua jam lebih. Bahkan ada yang sudah mengisi stadion sejak enam jam sebelumnya.

"Mungkin ini bisa mencapai 25.000, atau lebih," pikirku tanpa didasari perhitungan terukur.

Dan dari 25.000 orang tersebut, aku hanyalah satu di antaranya. Benar-benar tidak ada apa-apanya. Sesaat aku merasa begitu kecil. Makanya aku pantas malu di hadapan Yang Maha Besar.

****

Hari itu adalah pertarungan antara Persib dan Persija, duel yang dianggap sebagai salah satu yang terpanas di Indonesia. Bukan hanya karena keduanya merupakan tim papan atas, tapi juga karena unsur permusuhan tingkat tinggi yang diusung kedua kelompok suporter masing-masing. Maung dan macan. Keduanya sebenarnya hewan yang sama, tapi tak ada yang menganggapnya begitu. Permusuhan yang begitu mendarah daging.

Tak ada baju oranye hari itu, kecuali bagi mereka yang membawanya untuk dibakar. Dan yel-yel terkeras yang mereka teriakan adalah yel-yel untuk mengejek (atau mungkin lebih tepat disebut mengutuk) kelompok suporter ibukota itu.

Dan pertandingan pun dimulai setelah tiga jam aku menunggu.

Peluit ditiup dan para penonton berteriak histeris. Yel-yel terus diteriakkan, ejekan terus dilontarkan terhadap tim lawan. Semuanya untuk menyemangati tim kesayangan mereka.

Sayang pertandingan harus berakhir rusuh. Tidak puasnya beberapa oknum suporter akan keputusan wasit membuat mereka berbuat anarkis. Tempat duduk dibakar, pagar pembatas dirusak, dan pintu dijebol. Wasitkah yang salah?

Sesaat aku tidak habis pikir dengan para perusak tersebut, kenapa mereka berbuat anarkis? Bukankah hasil pertandingan tak akan berubah walaupun seluruh suporter di sana mengamuk? Apa yang mereka pikirkan?

Gerombolan orang-orang bodoh, tak berpendidikan, atau otak udang. Mereka adalah salah satu darinya. Setidaknya itulah yang kupikirkan pada saat itu.

****

Tapi ternyata masalahnya tidak sesederhana itu. Atau justru masalahnya sangat sederhana. Entah yang mana.

Ini adalah wujud kecintaan tulus, yang tanpa pamrih, dan hanya mengharap balasan. Walaupun kadang balasan itu tidak berupa balasan yang baik.

Ini adalah wujud dari cinta yang begitu sederhana. Suporter mencintai klub, lalu klub menyuguhkan permainan untuk mereka, dan suporter membalasnya dengan memberi dukungan.

Cinta yang saling membalas. Seperti hari itu.

Hari itu Persib kalah. Dan banyak yang mengutuk hasil tersebut. Tapi mereka pun kembali pulang ke rumah dan melupakan hal itu. Minggu depannya ketika Persib kembali bermain, mereka akan kembali menonton dan memberi dukungan lagi seperti biasanya.

Cinta tak selalu berbalas dengan baik. Kadang balasannya kurang bisa kita terima, atau bahkan kejam. Seperti para suporter sepak bola yang memberi dukungan maksimal kepada tim kesayangan mereka, namun ternyata tim kesayangan mereka tetap kalah dan menampilkan permainan yang buruk.

Bukankah ini yang didambakan setiap orang? Ketika kita mencintai dengan sepenuh hati dan tidak peduli akan balasan yang akan kita terima. Ketika cinta sejati muncul, entah cinta itu berbalas atau tidak. Cinta yang benar-benar tulus, yang sekarang sudah menjadi barang yang paling langka di dunia yang penuh dengan tuntutan balas budi ini.

Hari itu di stadion Siliwangi. Aku masih merenungi hal tersebut, sekaligus mendamba-dambakannya.

Cinta yang begitu tulus. Cinta yang begitu murni.

Aku pulang dari stadion dengan membawa pelajaran yang berharga. Dan terus memikirkannya sambil berjalan pulang dengan tertatih-tatih karena tulang ekorku sakit luar biasa akibat lima jam lebih duduk di kursi semen.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

nih uda gw baca langsung gw comment, lo komen jg dong punya gw! Lagi2 cinta!
Cinta ini...
membunuhku...

jadi ending pertandingan kembali anarkis, sapa yang patut disalahkan?
apakah polisi disana kekurangan armada? atau sekedar sensasi belaka?

Kebudayaan yang telah menurun itu tidak bisa menghilang. Benarkah?

Anonim mengatakan...

cinta memang bisa membuat orang semakin tak tahu... bingung bahkan lelah.. memikirkan cinta tersebut...

itulah misteri cinta.......

anehnya cinta...

dinda mengatakan...

waw! cinta yang murni. amin bisa. semangat ghazi! gw juga! hehehe.
dinda

Joker mengatakan...

gila ghaz bagus.. mantap dah lo
terus ghaz jadilah yg lebih baik lagi.. go ghazi