Minggu, 21 Agustus 2011

Asumsi

Di dunia yang penuh dengan tabir misteri ini, tidak semua rahasia dapat kita singkap di balik gelambirnya. Tak ada yang benar-benar tahu, mekanisme apa sebenarnya yang berada di balik ini-itu. Tuhan saja yang bermain monopoli atas semua ilmu pengetahuan. Selebihnya, manusia hanya bisa bermain asumsi.

Seharusnya, asumsi muncul karena keterbatasan daya jangkau. Namun, muncul kecenderungan ganjil: manusia seakan hebat jika mampu membuat asumsi.

Kala asumsi dibuat, kekosongan akan ilmu yang tadinya bolong-bolong seakan terisi. Membuat yang seharusnya nihil menjadi tak muskil.

Sekarang, manusia itu seakan tahu segalanya.

Tapi, tahu segalanya belum tentu lebih baik. Karena bagaimanapun juga, asumsi tetaplah lahir dari ketidaktahuan: asalnya hanya dari sebuah ketiadaan. Kelemahan coba disulap menjadi sebuah kedigdayaan.

Padahal seharusnya manusia lemah ketika terlalu banyak bermain asumsi.

Dan ketika semua hanya diterka-terka, dikira-kira; yang tersisa hanyalah ketidakpastian. Karena yang pasti hanya digenggam oleh Tuhan. Maka, pada genggaman Tuhan itulah hidup kita bergantung. Termasuk tentang perihal cinta.

Tidak ada komentar: