Kamis, 12 Juni 2008

Penjara Ketidakpastian

Otak manusia sudah dirancang sedemikian rupa untuk terus berpikir dan mengingat. Setiap impuls listrik yang ada bisa merupakan sebuah informasi yang sangat berharga artinya untukmu. Ironis, yang kau jaga ternyata hanya berupa lecutan-lecutan listrik kecil.

Bagaimana caranya untuk lupa? Hanya ada satu cara. Jangan mengingat.

Banyak orang yang mengeluh karena sulit melupakan sesuatu. Seharusnya ia justru jangan mengeluh untuk itu. Lebih baik pikirkan yang lain, sibukkan otak kita dengan berbagai kegiatan baru, dan akhirnya kita lupa akan sesuatu yang memang ingin kita lupakan. Bukan, kita tidak ingat akan sesuatu itu lagi.

Jangan bilang kau telah lupa. Katakan kau tidak ingat. Karena sebenarnya memori selalu tertanam dalam serabut otak yang jelek. Kecuali jika serabut itu rusak. Makanya jaga otakmu.

Banyak orang yang mendambakan pikiran yang merdeka. Memangnya separah apa kondisi mereka sampai-sampai tempat yang seharusnya merupakan area paling pribadi milik mereka pun telah terjajah? Bagaimana bisa mereka menyerahkan kendali sepenuhnya pada orang lain? Kurasa hipnotis pun tak bisa sampai ke arah sini.

Lalu dari mana timbul yang namanya perasaan? Adakah ia muncul karena dikontrol otak juga? Atau justru oleh jantung? Karena orang sering mengandaikan perasaan dikendalikan oleh jantung hati.

Jadi siapa yang mengendalikan segala keribetan ini? Yang membuat aku terus mengerang kepayahan. Tak sanggup mengontrol apa yang harusnya mudah. Mencoba rasional, namun malah terjebak dalam ngarai penuh ketidakrasionalan. Terjebak dalam sesuatu yang tak bisa dimengerti. Sesuatu yang tidak pasti.

Pantas Einstein bilang yang pasti hanyalah ketidakpastian.

Aku terbelenggu dalam ketidakpastian. Aku terkurung dalam jurang ketidakrasionalan. Aku termenung dalam lautan penuh keragu-raguan.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

heh! ko pake kata ketidakpastian kan kata2 gw! ngejarah ya!

Anonim mengatakan...

ketidakpastian apaan? bukannya maw kuliah di mananya udah jelas,