Sabtu, 24 Maret 2012

Minggat Sesaat

Sudah lama aku tidak mengirimimu surat dari Negeri Senja. Aku terlalu sibuk di sini—belajar bagaimana cara menanam pohon kurma di gurun pasir, mengurus domba-domba yang bau, atau menjaga agar ular derik atau kalajengking tidak masuk ke dalam gua—sehingga urusan mengirim surat seringkali terlupakan. Tapi ketahuilah, aku selalu berusaha menyisihkan waktu untuk ini.

Mungkin engkau bakal kaget jika kukatakan ini, bahwa aku baru saja berhasil kabur dari Negeri Senja beberapa hari yang lalu. Hanya perjalanan kabur yang singkat, memang, tapi perjalanan ini cukup menggembirakanku karena perjalanan ini berhasil menyegarkan pikiranku kembali setelah menjalani hari-hari yang terlalu penat di Negeri Senja.

Sangat sulit untuk bisa kabur dari Negeri Senja, kaubutuh keberanian yang teramat sangat, alat transportasi, dan niat yang teguh. Tiga hal yang nyaris tidak mungkin untuk didapatkan di Negeri Senja yang isinya hanya berupa kegersangan dan keputusasaan ini. Yang baik dari Negeri Senja hanyalah satu: harapan. Kami selalu dijejali mimpi-mimpi indah tentang masa depan di Negeri Senja. Harumnya melebihi bunga dafodil, tapi kami semua tidak tahu, kapan semua mimpi tersebut bisa jadi kenyataan.

Perihal keberanian, aku menemukannya dari dalam diriku sendiri. Beruntung, aku terlahir sebagai bocah laki-laki yang bernyali tinggi. Mungkin faktor keturunan berpengaruh banyak karena ayahku adalah seorang lelaki yang pernah nekat lompat ke rel kereta api ketika kereta berkecepatan tinggi sedang melaju ke arahnya lompat hanya untuk mengambil mainan anak lelakinya yang terjatuh. Bagiku, peristiwa itu adalah salah satu momen yang tidak akan bisa kulupakan dalam hidupku. Momen yang bisa menjadi representasi nilai kejantanan dan keayahan dari ayahku; salah satu (dari banyak) alasan mengapa aku mengaguminya sebagai seorang ayah. Untungnya, nyali tersebut agaknya diwariskan kepadaku.

Alat transportasi sempat menjadi kendala yang sulit untuk diatasi. Aku sempat berpikir untuk menggunakan kereta api dari Stasiun Gambir yang kini sudah menjadi baja rongsokan karena mesinnya yang sudah tidak dapat beroperasi dan bahan bakarnya yang tidak tersedia di Negeri Senja. Akhirnya pencerahan datang dari penemuan orang Jerman yang katanya cerdas tapi congkak. Penemuan ini dinamakan velocipede. Kendaraan ini buatan manusia, jadi kita tidak perlu khawatir kalau di jalan dia akan buang air, buang gas, atau malah mati kepayahan. Hanya saja, bahan bakar dari kendaraan ini adalah tenaga si manusia pengendara itu sendiri sehingga jalan-tidaknya velocipede tergantung dari kuat-tidaknya si pengendara dalam mengayuh velocipede. Hubungan timbal-balik yang menarik, bukan?

Tentang niat yang teguh, tentu ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Aku sudah memiliki niat ini sejak dulu. Kesuraman Negeri Senja bahkan tidak mampu untuk menggerusnya. Semuanya sudah terpatri begitu dalam di sanubariku, membuat tak seorang pun bisa menghalangi keinginanku untuk minggat sementara dari Negeri Senja ini.

Dengan berbekal tiga hal tersebut—keberanian turunan ayahku, velocipede, dan niat yang sudah kusimpan sejak dulu—aku pergi minggat dari Negeri Senja. Meski ini hanya menjadi perjalanan minggat yang sementara.

*

Sekarang aku sudah berada kembali di Negeri Senja setelah melewati perjalanan kabur singkatku.

Mungkin perjalanan kaburku terlalu singkat, tapi ketahuilah, itu cukup untuk menyegarkan pikiran penatku untuk bisa kembali menjalani kehidupan di Negeri Senja. Perjalanan selalu memberikan kita pengetahuan akan hal-hal yang baru (bukankah ini yang menjadi alasanku untuk pergi ke Negeri Senja?) dan hal itulah yang selalu ingin kucari sepanjang hidupku.

Perjalanan kemarin bercerita banyak. Dongengnya bagaikan sahibul hikayat. Aku terenyuh dengan kisah yang disuguhkan oleh aspal jalanan yang hitam gosong akibat terbakar terik matahari. Si aspal kemarin bercerita tentang Padang Mahsyar yang konon berjuta-juta kali lebih panas dari keadaan ketika dia dibakar hingga gosong; hal itulah yang membuatnya selalu bersyukur akan dunia. Sepanas apapun, selalu ada nikmat yang diselipkan Sang Mahakuasa walaupun hanya berupa tiupan angin yang menjatuhkan daun dari pohon apel di pekarangan rumah. Selain aspal, ternyata rumput yang bergoyang pun pencerita yang baik. Dia mengingatkan kepadaku bahwa kasur di rumah yang empuknya sangat nyaman bisa membuatmu terlena terlalu jauh. Kau merasakan tidur yang terlalu nikmat sehingga kau menjadi bangun lebih siang, dan gagal memanfaatkan waktumu untuk melakukan kegiatan yang lebih punya nilai guna. Terakhir, aku tak akan mungkin melupakan cerita dari velocipede-ku sendiri. Dia berkali-kali berujar bahwa kemajuan teknologi seringkali membuat manusia lupa akan keterbatasannya sendiri. Manusia kira mereka kuat—walau, memang, mereka kuat—padahal sesungguhnya kekuatan mereka hanyalah kemampuan untuk menutupi kekurangan mereka. Dalam menempuh jarak jauh, manusia kini sudah bisa sampai dalam waktu yang cepat dengan menggunakan kereta api, atau bahkan pesawat (yang konon bisa terbang di angkasa), tapi itu semua hanyalah kekuatan semu manusia. Karena tanpa semua itu, manusia tetaplah tak berdaya. Ketergantungan manusia terhadap barang-barang ciptaannya sendiri dianggap sangat lucu oleh si velocipede. Ironis.

Sudah cukup banyak yang kutulis di sini. Mungkin kau bakal menganggapnya terlalu panjang, atau bahkan terlalu pendek. Tapi aku sudah merasa cukup puas dalam menumpahkan buah pikiran yang mau kubagikan padamu. Semoga kau menikmati surat ini dan jangan lupa untuk mengirim balasannya.

Rabu, 04 Januari 2012

Satu Tahun yang Lalu

Sekiranya ini bisa menjadi sebuah surat, tentu sudah sepatutnya jika tulisan ini kutujukan buat seseorang. Meskipun sebenarnya aku tak sepenuhnya yakin apakah benar aku ingin orang tersebut membacanya. Namun, jikalau nanti tiba-tiba muncul keberanian dari dalam dadaku untuk menyampaikan ini padamu, aku mau engkau tahu bahwasanya tulisan ini kubuat dengan menyelipkan begitu banyak potongan cinta di dalamnya sehingga membuat dadaku kembang-kempis tak karuan ketika sedang menulisnya.

Tulisan ini menceritakan tentang hari tepat satu tahun yang lalu, di mana waktu tersebut masih menjadi hari terindah yang pernah kujalani hingga saat ini. Kau pasti tahu, meski kau mungkin sudah lupa. Tapi buatku, mana mungkin aku melupakan hari secantik itu? Hari yang bermula dari rentetan kejadian-kejadian yang tak diduga-duga (meski sudah direncanakan), seakan kuasa Tuhan memang sudah menggariskanku untuk merasakan kebahagiaan yang luar biasa pada hari tersebut (jauh melebihi kebahagiaan yang biasa kudapatkan pada hari-hari biasaku). Dan semesta begitu mendukung pada hari itu! Ketika momen yang seperti itu datang, tentu pantang bagiku untuk melewatkannya begitu saja. Dan datanglah beberapa kejadian pada hari itu yang berpotensi untuk sedikit "mengganggu" hariku pada saat itu. Yang kulakukan adalah mengambil langkah paling konservatif, meskipun itu berarti mengkhianati idealisme yang kupegang teguh hingga saat itu. Namun persetan dengan idealisme! Tentu saja ada yang jauh lebih berharga dari semua idealisme yang pada akhirnya mungkin hanya akan jadi mainan kucing di tong sampah.

Ketika hendak menulis tulisan ini, sesungguhnya aku bingung tentang apa yang bakal kutulis. Karena kebahagiaan yang kurasakan pada hari itu terlalu gempal. Tidak mungkin semuanya kumasukkan kepada tulisanku yang panjangnya tidak seberapa ini. Kalaupun akhirnya kuputuskan untuk mencantumkan seluruh kebahagiaanku pada hari itu dalam tulisan ini, bisa-bisa tulisan ini menutupi keseluruhan dunia ini saking panjangnya, menjadikan kita semua yang berada di bawahnya merasa sesak dan gelap karena matahari dan udara terhalangi oleh tulisan yang terlalu panjang ini. Sayang memang. Kata-kata kadang-kadang punya keterbatasan dalam menyampaikan maksud.

Tentu saja aku juga tidak akan membicarakan detil kejadian yang kualami pada hari itu, tapi tulisan ini akan kujadikan sebagai media peluap emosiku yang selama ini terpendam. Biarlah perasaan ini dibuat lega sedikit karena sebagian dari isinya bisa terlepas ke alam bebas, meski tidak sepenuhnya hilang karena perasaan ini akan selalu bersemayam. Mungkin sampai selama-lamanya.

Jadi, melalui tulisan ini, ada satu hal yang ingin kusampaikan: sampai saat ini pun aku masih memandang bahwa satu tahun yang lalu adalah hari terindah yang pernah kualami dalam seumur hidupku. Dan akan sangat menyenangkan bila kamu juga merasakan hal yang sama.

Jumat, 16 Desember 2011

Terlanjur

Sejak awal, aku tidak mengharapkan hari ulang tahunku bakal menjadi hari yang istimewa. Justru, dengan menjadi hari yang biasa-biasa saja, aku bisa menangkap momen-momen membahagiakan yang memang selalu menyertaiku di waktu-waktuku selama ini. Dan lagi, kebetulan, hanya ada satu hal buatku yang bisa menjadikan sebuah hari menjadi istimewa.

Sebutlah satu hal ini adalah impian. Dan aku sama sekali tidak punya bayangan akan dekat atau jauh impian ini dari gapaianku, seperti mimpi Gadjah Mada untuk mempersatukan Nusantara atau mimpi John Lennon tentang ketiadaan surga.

Impian ini pernah terasa begitu dekat. Ketika itu, aku merasa ada dukungan dari alam semesta dalam membantuku untuk memperjuangkan impianku sehingga impian tersebut terasa mudah untuk digapai. Meskipun, pada faktanya, dengan bantuan semesta pun proses penggapaian yang harus kulalui tetap tidak semudah itu.

Lalu ada sesuatu yang aneh, dan cukup tiba-tiba. Seakan-akan semesta berbalik memalingkan mukanya dariku, menjauhkan langkahnya dariku, dan menolak untuk membantuku lebih jauh. Jika ditanya alasannya, tentu saja aku tak tahu. Justru, jika aku tahu, mungkin itu adalah satu-satunya hal yang benar-benar butuh untuk kuketahui. Atau mungkin juga tidak. Yang jelas, perubahan sikap semesta ini cukup ganjil.

Ketika alam semesta seakan-akan meninggalkanku, yang kurasakan adalah kehilangan yang amat sangat. Seakan sebuah impian yang benar-benar kudambakan (dan memang tidak bisa lagi aku lepas, mungkin dengan alasan apapun) menjadi sirna karena ketidakjelasan. Dan jika ada satu pertanyaan yang hendak kuajukan, kerongkongan ini tertahan untuk menyampaikan setiap kata. Seolah-olah kata-kata tidak lagi berfungsi sebagai penyampai pesan. Seolah-olah kata-kata hanyalah menjadi media pelampiasan kepada hasrat yang tak terpenuhi. Bagaimanapun juga, rasa ini tidak bisa hilang begitu saja. Mungkin rasa ini bakal tetap tinggal selamanya. Sejauh pengalamanku dalam jatuh cinta, rasa itu tidak pernah benar-benar hilang.

Sekarang keadaannya bertambah rumit. Dan aku pun pusing menanggapinya bagaimana. Yang dulu, entah kenapa sangat kusayangkan hilang begitu saja. Tapi ada satu yang ingin kusampaikan: rasa ini masih tetap ada. Mungkin bakal selalu ada. Karena aku telah terlanjur jatuh cinta. Dan, iya, impian ini memang tentang cinta.

Yang jelas, aku rindu saat-saat yang telah berlalu dan masih berharap agar saat-saat tersebut kembali berulang. Jika sudah berulang, yang kuharapkan selanjutnya adalah bertahan hingga selama-lamanya.

Jumat, 07 Oktober 2011

Mimpi yang Sama

Malam terlalu sunyi, makanya aku memutar Mogwai. Mereka bisa membuat keadaan sedikit lebih berisik.

Bukannya aku tak nyaman dengan kesunyian. Dulu, aku adalah pengagum kesunyian, namun, sekali lagi, itu dulu. Sekarang, kesunyian justru lebih banyak menyiksaku. Agaknya kesunyian telah bertransformasi menjadi ketidakmampuan untuk tidak merasa sendiri. Dan ketidakmampuan, kata itu, sungguh menyiksaku.

Letters to the Metro milik Mogwai mulai menggaung, menabrak-nabrak dinding kamarku, menjadi sebuah kombinasi yang disebut nada. Lagu yang kalem, menjadikan suasana berisik yang kudambakan tak sepenuhnya terpenuhi.

Hal-hal banyak terlihat sederhana, namun sesungguhnya tidak. Mereka saling berkait satu sama lain, membentuk simpul berbelit yang hanya bisa dilepas oleh seorang yang ahli, layaknya Pramuka yang mahir membuat tandu dari tambang dan dua bambu.

Lantas, ahli macam apa yang bisa membantuku dalam membuka simpul berpilin yang serbaruwet ini? Nah, ini juga menimbulkan masalah baru. Sang Ahli bukanlah seperti dukun beranak yang bisa ditemui kapan saja ketika istrimu hendak melahirkan. Sang Ahli lebih seperti kebetulan. Dia tak bisa dipanggil, juga tak bisa dibuat janji bertemu. Dia datang tiba-tiba seakan-akan muncul karena kuasa alam. Padahal, ada yang mengaturnya. Dialah yang disebut Sang Ahli. Sang Ahli ini sering disebut manusia sebagai Tuhan.

Karena serumit apapun masalah yang dihadapi manusia, seharusnya itu semua adalah wajar untuk dilalui. Manusia lebih sering membesar-besarkan masalah daripada mencoba untuk mengatasinya. Jadi, jangan salahkan siapa-siapa jika banyak urusan terbengkalai. Terlalu banyak sesi untuk meratap, merenung, atau menangis. Emosi memang harus diberi porsi, namun dia juga tidak boleh makan terlalu banyak. Bahaya jika dia menjadi kegendutan. Rakus bukanlah pertanda yang baik.

Dan pada akhirnya, aku bisa saja sadar. Lalu, ketika momen semacam ini datang lagi, aku bisa saja kembali lupa. Manusia memang makhluk yang pelupa. Dan mungkin beruntung manusia diciptakan seperti itu. Melupakan membuat manusia bisa bahagia kembali setelah ditimpa musibah kemarin sorenya.

Daripada mempermasalahkan emosi manusia yang tidak stabil (atau otak manusia yang terlalu banyak lupa), lebih baik manusia menggantungkan harapannya kepada Tuhan (yang katanya akan mendengar setiap doa). Siapa tahu, jalan yang sudah nyaris tertutup bisa terbuka lagi. Membuat seberkas cahaya muncul kembali dan menerangi harapan. Lalu, ketika itu terjadi, dunia seakan terlahir baru ... dan manusia merasa senang untuk kembali bermimpi. Walau untuk mimpi yang sama.

Minggu, 21 Agustus 2011

Asumsi

Di dunia yang penuh dengan tabir misteri ini, tidak semua rahasia dapat kita singkap di balik gelambirnya. Tak ada yang benar-benar tahu, mekanisme apa sebenarnya yang berada di balik ini-itu. Tuhan saja yang bermain monopoli atas semua ilmu pengetahuan. Selebihnya, manusia hanya bisa bermain asumsi.

Seharusnya, asumsi muncul karena keterbatasan daya jangkau. Namun, muncul kecenderungan ganjil: manusia seakan hebat jika mampu membuat asumsi.

Kala asumsi dibuat, kekosongan akan ilmu yang tadinya bolong-bolong seakan terisi. Membuat yang seharusnya nihil menjadi tak muskil.

Sekarang, manusia itu seakan tahu segalanya.

Tapi, tahu segalanya belum tentu lebih baik. Karena bagaimanapun juga, asumsi tetaplah lahir dari ketidaktahuan: asalnya hanya dari sebuah ketiadaan. Kelemahan coba disulap menjadi sebuah kedigdayaan.

Padahal seharusnya manusia lemah ketika terlalu banyak bermain asumsi.

Dan ketika semua hanya diterka-terka, dikira-kira; yang tersisa hanyalah ketidakpastian. Karena yang pasti hanya digenggam oleh Tuhan. Maka, pada genggaman Tuhan itulah hidup kita bergantung. Termasuk tentang perihal cinta.

Rabu, 17 Agustus 2011

Atas Nama

66 tahun yang lalu, beberapa orang dengan gagah berani menyatakan sikap. Sebuah pernyataan sikap yang tidak hanya melibatkan diri sendiri, tapi juga ikut menyeret nama orang-orang lain—yang padahal tidak ikut serta merumuskan pernyataan sikap tersebut. Mereka mengambil asumsi nekat bahwa bangsa sudah sepakat: menjadi orang-orang jajahan adalah menyedihkan, makanya jalur kemerdekaan harus diraih. Lalu ditulislah di atas dokumen resmi pernyataan sikap tersebut: "Atas nama bangsa Indonesia"—seakan-akan satu persatu orang di negara ini pernah ditanyai pendapatnya.

Lantas kita yang berada di sini—di negara yang dibangun atas asumsi hebat 66 tahun yang lalu—berada pada posisi terombang-ambing: terjebak atau tidak. Mungkin wajar jika banyak anak muda menjadi bingung ketika dituntut untuk melanjutkan tongkat estafet perjuangan bangsa ini (sementara belum tentu ada kata sepakat), walaupun pernyataan sikap dibuat "Atas nama bangsa Indonesia".

Kemerdekaan bangsa ini jelas adalah permainan dari segelintir orang, dan memang mustahil negara ini dibangun atas kesepakatan seluruh rakyat—tidak ada gedung yang muat menampung seluruh rakyat negara ini untuk menggelar rapat bersama. Namun, "sikap" selanjutnya setelah "pernyataan sikap yang mengatasnamakan mereka yang belum tentu setuju" justru adalah yang terpenting. Karena kemerdekaan adalah proses, begitupun juga dengan negara. Negara bukan seperti orok yang lahir karena embrio telah matang dan siap menjadi makhluk hidup. Negara adalah sebuah istana pasir yang dibangun bersama-sama: jika ada yang berniat untuk menghancurkan istana pasir tersebut, maka hancurlah istana pasir tersebut.

Lalu 66 tahun telah dilalui negara ini. Melihat angka 66, rasanya cukup adil jika ada yang berpendapat bahwa negara ini tidak lagi berdiri karena proses yang prematur. Peristiwa demi peristiwa turut membangun jiwa besar republik. Begitu juga dengan pemikiran. Yang bermula dari pemikiran seorang, bisa berkembang jadi pemikiran satu negara. Tidak perlu pernyataan tertulis "Atas nama bangsa Indonesia". Legitimasi bisa terepresentasi melalui karakter, dan karakter bangsa tecermin melalui karakter rakyat-rakyatnya.

66 tahun sudah, dan bangsa ini masih terus tumbuh. Ditempa oleh setiap hantaman godam peristiwa dan pemikiran, menjadikannya semakin dewasa saat bangsa ini terpuruk maupun bangkit setelah memetik pelajaran. Dan dengan melihat angka 66, seharusnya cukup adil jika bangsa ini disebut tidak lagi dibentuk melalui proses yang prematur.

Kemerdekaan seharusnya bukan melulu soal teks proklamasi yang penuh dengan kesederhanaan sekaligus ketidakjelasan. Penentuan nasib negara kepada naskah yang isi intinya hanya terdiri dari dua paragraf bukan mengartikan bahwa negara ini dibangun asal-asalan. Proklamasi hanyalah momentum, dan kemerdekaan yang sesungguhnya seharusnya adalah proses setelahnya.

Terjebak atau tidak, semoga kita dengan sukarela siap bergabung dalam pernyataan "Atas nama bangsa Indonesia". Dengan demikian, bapak-bapak bangsa kita yang awalnya hanya bermain asumsi bisa membuktikan bahwa mereka benar: bangsa ini butuh merdeka.

Sabtu, 09 Juli 2011

Gulita

Malam menjelma kelam. Menutupi terang dari kepastian harapan. Menampakkan hanya yang tak tampak. Menjalari rasa yang tak menentu pada hati yang gundah gulana.

Malam itu tadinya penuh harapan, layaknya bunga-bunga yang baru saja berkembang. Tumbuh menjadi sesuatu yang terus bercabang dan jumlah yang semakin tak terbilang. Namun satu menjadikannya layu, walau tidak pupus seutuhnya.

Gulita memenjara hati dan indera: seakan-akan tembok tinggi dan tebal langsung menghadang di sekeliling, membuat yang ada di dalamnya terjebak tidak bisa keluar. Buat hati, itu adalah rasa yang begitu pedih.

Dan rasa itu muncul ketika gelap berada di tengah malam! Padahal tengah malam adalah waktu yang paling menyendiri. Saat ketika sepi menguasai singgasana kalbu.

Malam itu, gulita kembali menyelimuti. Lebih pekat daripada yang biasanya tampak. Terlalu gelap, terlalu gelap.

Malam itu, gulita terlalu berkuasa. Tidak hanya pada sekeliling (yang membuat indera tidak bisa banyak berbuat), namun juga buat hati.

Seharusnya, malam itu satu cahaya harapan bisa tumbuh. Namun ada yang meniup cahaya itu, membuat gulita kembali berkuasa.

Setelah cahaya itu lenyap, yang kulakukan hanyalah duduk terdiam sambil menunggu terang kembali.

Yang Terlarang

Ini adalah kali pertama saya patah hati setelah sekian lama tidak. Kalau kemarin ada yang tanya kepada saya, apa rasanya sakit hati, akan sa...