Selasa, 06 Mei 2008

Di Balik Hujan Itu



Langit mendung sejak pagi. Menampakkan kekelaman dalam warnanya yang kelabu. Membuat suasana hati ikut murung.

Cuacanya mulai tak menentu. Hujan. Tidak. Hujan. Tidak. Ah, pilihannya hanya dua tapi sangat membingungkan. Aku pun hanya bisa diam di rumah, mengurung diri disana.

Kepastiannya baru tiba ketika petang. Ketika angin keras mulai menerjang. Hujan turun deras dengan lantang. Membuat garis perbedaan antara berkah dan musibah semakin menipis, layaknya benang yang membentang.

Hujannya deras. Hujannya lebat. Alam pun ikut mendukung. Angin ikut berhembus. Petir ikut bergemuruh. Dedaunan ikut rontok. Membuat suasana semakin mencekam.

Aku keluar rumah, membawa payung. Semilir angin berhembus tepat mengenai wajahku, membuat air hujan yang sedang turun tak henti-hentinya ikut menghantamnya. Membuat aku harus pasrah karena kebasahan. Kuyup.

Kulepas payung ini dari genggamanku. Fungsinya sudah tidak berjalan lagi dengan kondisi seperti ini. Alam menang, ciptaan manusia kalah.

Butir air hujan mengetuk-ngetuk kepalaku dengan keras. Mungkin ini teguran dari Sang Pencipta karena kesombonganku. Atau kebodohanku. Butirannya besar-besar. Terkesan padat. Hancur ketika menyentuh mukaku.

Seketika kemejaku langsung mengkerut. Menyesuaikan dengan bentuk tubuhku yang kurus ini. Rambutku langsung turun. Lendir dalam hidungku pun merengek ingin keluar. Bersin. Kedinginan. Pusing.

Kulihat sekelilingku. Semuanya sama denganku. Kehujanan. Mereka bahagia. Anak-anak kecil berlarian ceria. Orang-orang dewasa kepanikan. Siput muncul. Kodok berlompatan. Tanpa disadari, sebuah senyum kecil tersungging dari bibirku.

Aku jadi ingat masa-masa kecilku. Ketika hujan-hujanan adalah hobiku nomor satu. Tak peduli tentang konsekuensinya setelah itu. Yang penting aku bahagia, sesaat. Untuk selamanya begini.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

knapa fotonya diilangin? gak mirip salju kok, jgn dengerin omongan gw