Selasa, 16 November 2010

Tentang Seorang Sahabat

Darinya aku belajar tentang ketulusan. Bukan tentang memberi lalu tidak mendapatkan apa-apa. Namun tentang kesabaran dalam menunggu balasan atas segala apa yang telah kita beri. Kontribusi tak perlu pamrih. Tuhan pasti membalas segala amal baik yang kita kerjakan.

Mungkin sosok yang ideal itu tidak ada. Temanku pun juga begitu. Namun manusia selalu mengimpikan untuk menjadi ideal, untuk menjadi sempurna. Manusia ingin mengejar Tuhannya.

Temanku juga mengajarkan aku bahwa dunia ini punya banyak sisi untuk ditelisik, punya banyak sudut untuk dijelajahi, punya banyak panorama untuk dinikmati. Dunia ini tercipta salah satunya untuk dikagumi. Terlalu sayang untuk dilewatkan, untuk disia-siakan. Karena hidup ini cuma sekali.

Hasrat menggebu-gebu itu mungkin ada. Namun hasrat butuh dikendalikan. Kebulatan tekad mungkin bisa saja menghentikannya, tapi--tetap saja--sulit. Betapa salut aku akan kebulatan tekadnya. Demi tujuan yang dirasa lebih baik, demi tujuan yang dirasa lebih mulia. Membuat perubahan tidak selalu harus dilakukan dengan cara berkoar-koar soal perubahan.

Hidup memaksa pelakunya untuk memilih. Untuk tidak hanya bergerak di tempat. Untuk selalu maju dan menentukan sikap. Sikap ditagih dalam tempo yang makin lama dirasa makin cepat. Hidup berubah menjadi seperti lintah darat yang doyan menagih utang. Makin lama, makin sering datang. Makin besar pula tagihannya. Penyesuaian menjadi keharusan. Jika tidak, kita tersingkir. Keluarlah kita dari arena persaingan kehidupan.

Hidup mungkin hanya soal pilihan. Dan kita hanya perlu menjadi bijak untuk dapat menentukan pilihan yang terbaik. Dan bijak cukup diraih dengan membiarkan mata tetap melihat setiap sudut, telinga tetap mendengar setiap bisikan, dan mulut tetap berceloteh kepada setiap insan. Tak perlu pilih-pilih, tak perlu pura-pura buta, tuli, atau bisu.

Sesaat, aku menghela napas panjang. Memikirkan ulang semuanya. Ke belakang dan ke depan. Jatah masing-masing manusia di dunia pasti telah diatur oleh Tuhan dengan sangat bijak.

Jumat, 22 Oktober 2010

Kabar Darimu

Kadang aku cuma berpikir cara agar dapat bisa menanyai kabarmu dengan leluasa, tanpa canggung sedikitpun, tanpa ragu setitikpun.

Dangkal mungkin, tapi bagiku itu berarti banyak. Selama ini aku berusaha untuk menempuh banyak cara, banyak jalan untuk mencapainya. Setiap kali berhasil menjalaninya, aku senang. Senang luar biasa. Namun, di balik luapan rasa senang yang membuncah itu, terselip rasa kuatir yang mungkin sedikit tak beralasan. Bagaimana jika cara itu sudah kucoba semua? Bagaimana jika pilihan jalan yang tersedia sudah habis? Aku benar-benar kuatir hal itu benar terjadi.

Selama ini aku coba segala cara kebanyakan tanpa pikir panjang. Kadang setelahnya aku menyesal, tak mampu memanfaatkan kesempatan dengan sebaik mungkin. Aku tak bisa menyalahi diriku, aku selalu berhasil dibuat tak berdaya di depanmu. Kau terlalu hebat dalam mengacaukan pikiranku.

Kadang aku juga berkesempatan mendapat jalan itu dengan tidak sengaja. Secara tidak direncanakan, aku mendapatkannya. Mungkin ini adalah hadiah dari Tuhan. Tuhan memang baik. Mahapemurah. Aku saja yang bodoh, tak mampu memanfaatkan hadiah dari Tuhan Yang Mahapemurah tersebut.

Semua itu kulakukan cuma untuk satu hal: mengetahui kabarmu. Dangkal memang, tapi bagiku itu penting.

Minggu, 26 September 2010

Menunggu

Malam yang mulai kelam ini tak membuat perutku berhenti meronta-ronta. Gerakan ini bagaikan bentuk protes darinya kepadaku. Memang, sudah terlalu lama sejak terakhir kali dia diisi.

Langsung saja kupergi keluar. Mencari makan di malam hari bukanlah hal yang mudah. Kebanyakan rumah makan sudah tutup. Begitupun juga dengan warung nasi yang menjamur ketika siang hari. Di malam hari, penjualnya lebih memilih tutupmereka lebih memilih untuk menonton drama korea di teve, bersantai bersama keluarga dan kerabat, atau untuk sekedar tidur.

Baru setelah berjalan kaki cukup jauh, kutemukan akhirnya sebuah pedagang kaki lima penjual nasi goreng. Aroma bumbunya yang sedaplah yang menuntunku hingga akhirnya kutemukan ia.

Langsung kuhampiri penjualnya, seorang bapak setengah baya berkumis a la Hitler.

"Pak, minta nasi goreng satu, makan di sini," ujarku.

Aku mencari tempat duduk. Hanya ada satu orang selainku di situ. Wanita. Ia hanya diam saja. Mungkin masih menunggu pesanannya datang. Aku duduk di kursi tak jauh darinya.

Tak lama kemudian, pesanan nasi gorengku datang. Namun wanita yang menunggu pesanan selainku belum mendapatkan makanannya. Aneh, padahal dia datang duluan.

Namun aku tak begitu peduli. Tanpa memikirkan wanita itu dan pesanannya lebih jauh lagi, langsung kulahap nasi gorengku dengan liar. Perutku memang sudah lapar bukan main.

Sampai suapan sendok terakhirku pun, pesanan makanan wanita itu masih juga belum datang. Dan tidak kelihatan si bapak penjual nasi goreng sedang menyiapkan nasi goreng pesanan si wanita itu. Ini semakin aneh. Tapi, ah, buat apa kupedulikan. Kenal dengan wanita itu saja tidak. Lantas buat apa aku memikirkan nasi gorengnya?

Setelah membayar nasi gorengku, aku bergegas pulang.

*

Keesokan harinya, aku makan di warung nasi goreng itu lagi. Waktunya malam hari juga, jamnya pun tak jauh berbeda dengan ketika aku pertama kali ke sana.

Sedikit kaget aku ketika menemukan wanita yang sama masih ada di tukang nasi goreng itu. Apa yang sedang ia lakukan?

Kejadiannya pun sama. Sampai nasi goreng pesananku habis kulahap, si wanita tetap dalam pose yang sama, terdiam, tak berbicara sepatah kata pun, seakan sedang menunggu sesuatu.

*

Ternyata kejadian itu berulang di saat-saat seterusnya. Wanita itu selalu kutemui di setiap kedatanganku di pedagang nasi goreng itu. Dan bapak penjual nasi goreng itu akhirnya bercerita kepadaku,

"Wanita itu memang selalu di sini. Di setiap malam, sampai matahari pagi mulai mengintip keindahan dunia. Dia tidak pernah memesan nasi goreng, hanya terkadang saja dia meminta minum segelas air putih hangat. Dia juga tak pernah membayar, karena memang dia tak pernah memesan apapun. Aku juga tak pernah mengusirnya. Toh, para pengunjungku tak ada yang merasa terganggu dengan kehadirannya."

Lalu buat apa dia di sana?

"Yang dia lakukan cuma menunggu. Katanya dia punya janji dengan kekasihnya untuk bertemu di warung nasi goreng ini. Hanya saja, kekasihnya tak pernah datang. Entah wanita itu ditipu, atau malah kekasihnya terkena musibah. Bisa kecelakaan yang bikin hilang ingatan, atau bahkan dia sudah mati dibunuh perampok. Yang jelas, kekasihnya tak pernah datang. Dan wanita itu tetap setia menunggu. Menunggu terus, sampai kekasihnya datang."

Minggu, 19 September 2010

Coretanku Kukirimkan ke Pulau Dewata, Agar Dibaca

Aku mencoret "Hari Ini Aku Bunuh Diri" pada selembar kertas buram.

Diisi

Balon tak akan melayang jika tak diisi udara.
Celengan tak ada gunanya jika belum diisi recehan.
Akuarium tak ada ikannya jika belum diisi air.
Perpustakaan baru belum dibilang mencerdaskan jika belum diisi buku.
Sekolah buat apa jika tidak diisi murid yang haus ilmu.
Sangkar tak akan indah dipandang jika belum diisi burung.
Lemari bakal jarang dibuka jika belum diisi baju.
Mesin cuci tak akan dinyalakan jika belum diisi cucian.
Kotak amal akan menangis jika tak terisi, sama sekali.
Kandang kosong akan bertanya-tanya siapa yang bakal mengisinya.
Sel tahanan sama sekali tidak seram jika tidak ada orang di dalamnya.
Rumah sakit bakal lesu jika tidak diisi orang sakit kritis yang butuh pertolongan.
Bioskop bakal bangkrut jika tidak diisi penonton.
Dan kursi pemerintah--tentunya--mutlak harus diisi oleh seseorang peduli dengan rakyatnya sendiri, secara keseluruhan!

Hati ini akan sepi jika belum diisi cinta. Apakah cinta ini adalah kamu?

Coretan di Pagi Hari

Batin ini mengadu pada yang punya.

Kenapa aku dipaksa berkhianat?

Minggu, 05 September 2010

Skenario Kehidupan

Ada yang tahu rasanya punya kalbu yang terkungkung?

Ada rasa, namun tak dapat dibagi. Ada cinta yang hanya jadi prasasti hati.

Dunia panggung sandiwara! Dan kau adalah aktornya! Aktor mana yang bisa ikut menentukan jalannya skenario?

Oh, oke. Mungkin seorang aktor bisa mendiskusikan hal tersebut dengan sang sutradara, namun menentukan jalannya skenario--tetaplah--bukan tugas seorang aktor--sebenarnya.

Lalu, jika dunia ini adalah panggung sandiwara dan kau adalah aktornya, lantas siapakah sang sutradara?

Oh, tentu saja Tuhan pasti Mahakuasa dan dalam skenario film, sutradaralah yang punya kuasa. Dan kau adalah aktornya, dan kau merasa perlu untuk mendiskusikan skenarionya dengan sang sutradara.

Untungnya Tuhan mendengar doa setiap hamba-Nya.

Yang Terlarang

Ini adalah kali pertama saya patah hati setelah sekian lama tidak. Kalau kemarin ada yang tanya kepada saya, apa rasanya sakit hati, akan sa...